Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pintu Masuk Itascaria Fragment


__ADS_3

Sinyal merah kini berubah menjadi warna hitam.


Bunyi yang awalnya hanya “BIIIPPPPPPPP!”, berubah menjadi alat penghantar komunikasi.


Batu permata di telapak tangan Victor, Levord, Kalvetno, Sorayna, Ravettha, dan Vicenzo mengeluarkan sebuah pesan pemberitahuan sebagai bentuk kesiapan diri para peserta ‘Itascaria Fragment’.


“Tim 1001 telah terbentuk! Anggota Tim 1001 terdiri dari Victor Karl Gilderoy, Levord Vanschtexion Aieraelf, Kalvetno Heinry Dalfatch, Sorayna Eucaston Geoverra, Ravettha Toftrelnd Seinoray, dan Vicenzo Cedric Gervais. Pengaktifan ‘Itascaria Fragment’ telah selesai! Setiap anggota tim akan memasuki fragmen 1 secara otomatis. Mohon dipahami, tidak ada toleransi mengenai kebijakan yang kami buat. Semoga berhasil!” Bunyi pesan tersebut.


Pesan yang telah terbaca hingga kalimat terakhir langsung menghilang seketika.


Keenam tubuh mereka ditarik paksa ke pusat patung simbol yang telah terbangkitkan bersama-sama.


“Loh! Pesan itu...! WHOAAA!” Ucap Ravettha yang sungguh terkejut mengenai kata ‘Otomatis’ di pesan yang ia baca.


Ia tidak sendirian, keempat sahabat dan satu gurunya juga merasakan hal yang mengejutkan, lebih dari rasa tertusuk akan pengkhianatan.


Tubuh mereka terangkat ke atas, melayang dan terbang di udara mengikuti arus pintu masuk ‘Itascaria Fragment’ yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa.


Ayah Ravettha, Ellievont, yang datang terlambat hampir terpengaruh rasa panik akibat ketidaksiapan akan kepergian putri mahkotanya.


“Kakak! Kenapa kakak menghalangiku melihat ke jendela?” Tanya Ellievont mulai memberontak karena dirinya diperintahkan untuk menutup matanya dengan kain penghalang dan duduk di tempat yang sama selama 20 menit.


Seluruh jendela dan pintu tertutup rapat hingga tidak ada celah cahaya yang hanya sekadar masuk.


Baginya, berdiam diri di keadaan yang sama justru akan sangat membosankan dan itu tidak ada gunanya.


“Tetaplah duduk disana sebentar lagi, kau bisa kan?” Tanya Elliovent dengan berjalan mengelilingi adiknya agar tidak ada yang bisa kabur dari jangkauannya.


“Ini menyebalkan, kak! Bagaimana aku bisa bersabar, sedangkan diri sendiri tidak tahu keadaan di luar?!” Ucap Ellievont yang sungguh kesal.


Sungguh tidak biasa dari hari-hari lainnya, kakaknya begitu ketat dan terlihat menyembunyikan sesuatu.


Pikirannya mulai dimainkan, kesana kemari mencari jalan pintas keluar dari jeratan kakaknya yang tidak masuk akal.


Ia memainkan kakinya dan membuat irama dasar untuk mencapai keinginannya, tetapi ia gagal.


“PTAK!”


“Ah! Aku tidak sengaja? Pintar sekali adikku ini! Bahkan karena terlalu pintar ingin menyingkirkan kakaknya dengan begitu kejam?” Ucap Elliovent dengan menyambuk kedua kaki adiknya.


“Cih, kakak curang! Kali ini aku maafkan tindakan kakak karena firasatku sedang buruk, tapi tidak di lain waktu!” Ucap Ellievont dengan menggerutu tanpa mengkhawatirkan rasa sakit di bagian anggota tubuhnya.


“Nah! Yang begini baru adikku!” Ucap Elliovent dengan mengacak-acak rambut sekaligus merangkul adiknya.

__ADS_1


Tubuhnya mendekati telinga adiknya, dengan begitu, ia tidak perlu menghabiskan upaya untuk hal yang sebenarnya sangat sederhana.


“Tenang saja, ini tidak akan lama!” Bisik Elliovent dengan tersenyum senang.


Daripada memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, semua itu hanya akan menjadikan firasat adiknya terwujud.


Firasat selayaknya ancaman terbesar, ia menggunakan kesempatannya untuk berteman dengan ancaman itu sendiri, yang artinya ia bisa dengan leluasa melakukan apapun tanpa terpengaruh sang Ancaman itu sendiri.


Setelah Ravettha beserta rekannya memasuki ‘Itascaria Fragment’, mereka berenam dihadapkan dengan ratus ribuan peserta yang berasal dari berbagai dunia yang berbeda pula.


Hal yang diluar akal sehat mereka sangat mungkin memiliki wujudnya di dalam ‘Itascaria Fragment’ ini.


“Heey! Tunggu aku, teman-teman!” Teriak Levord yang terburu-buru mengejar kelima rekannya.


“BRUK!”


“Oh-Oh...!” Ucap Sorayna masih terbelalak kagum melihat punggung lawan yang kuat seperti baja.


“Cepat menyingkir dari pandanganku, dasar ******!” Ucap pria yang telah tertabrak oleh Sorayna.


Ia juga terlihat terburu-buru mencari sesuatu yang belum jelas kepastiannya.


Sorot matanya yang tidak menandakan adanya kehidupan sedikitpun, kecuali rasa muak membuat Sorayna dapat dengan mudah mendekati pintu tujuan pribadinya.


Tendangan keras dari samping menjatuhkan keseimbangan dirinya.


Pandangannya beralih ke lawan yang telah menyerangnya.


“Tak kan kubiarkan seseorang pun menggunakan kata itu selain diriku!” Ucap Kalvetno dengan penuh kemarahan.


Kedua matanya berapi-api dan tidak ingin padam sekalipun.


Dengan dinginnya, lawan bicara hanya melihat nama Kalvetno dari profil umumnya.


“Karpet? Apapun itu... Kita akan bertemu lagi!” Ucap sang Lawan Bicara tanpa rasa bersalah, matanya sungguh sinis, dan mulut tajamnya pergi dengan sendirinya.


Mendengar perkataannya, wajah Sorayna memerah karena tidak sanggup lagi menahan tawa.


Ingin tertawa sepuasnya, tetapi ia tidak bisa jika di depan situasi yang menarik perhatiannya.


“Tertawa semaumu! Itu akan jadi bukti bahwa aku sangat populer di kamus kebencianmu!” Ucap Kalvetno dengan meninggalkan Sorayna dan berjalan cepat ke tempat tujuan.


“FUFUFU! Akui saja kau ingin jadi pengawal pribadiku, kan?” Tanya Sorayna dengan mengikuti langkah kaki Kalvetno.

__ADS_1


“Akui saja jika kau ingin jadi pelayanku, kan?” Tanya Kalvetno yang masih fokus terus jalan ke depan.


Pertanyaan Kalvetno membuat Sorayna terdiam dan kalah bermain balas kata.


Dirinya justru semakin marah mendapati kekalahannya.


Sangat ingin menyangkal kebenaran, tetapi hal itulah yang membuat permainan rumit mereka tidak pernah selesai.


“Syukurlah kita bertemu lebih awal! Apa di jalan kalian melihat Ravettha dan satunya... Siapa namanya? Vicenzo! Ya, mereka kemana saja?” Tanya Pak Victor yang baru saja datang bersama Levord di belakangnya.


“Kami disini!” Ucap Ravettha dengan memapah Vicenzo yang begitu letih.


Jika diibaratkan, partnernya benar-benar seperti es cair di bawah sinar matahari.


“Ada apa lagi dengannya?” Tanya Pak Victor yang sama bingungnya dengan ketiga muridnya.


“Oh! Dia hanya perlu ini!” Ucap Ravettha dengan menyikut perut Vicenzo, lalu membisikkan sedikitnya satu kalimat.


“Kuharap kau tidak mengakhiri dengan cara itu!” Bisik Ravettha yang mencengkeram bahu Vicenzo.


Tidak seperti yang diharapkan dan juga diperingatkan Ravettha, Vicenzo justru tambah meleleh dan itu membuat Ravettha kehilangan alasan untuk terlibat dengannya.


“Jadi, apa kita harus mengeleminasi lautan makhluk disini?” Tanya Levord yang penuh semangat.


“Pastinya!” Ucap Pak Victor dengan melihat ke sekelilingnya yang dipenuhi beragam makhluk asing dan bernyawa banyak.


Saat semua peserta sibuk dengan urusannya masing-masing, keenam anggota tim 1001 berada dekat dengan setiap anggotanya.


Hal itu lebih memudahkannya dalam banyak hal, termasuk kolaborasi.


“Falext! Jika kau mengatakan aku memasuki ‘Submission 2’, bukankah itu berarti kau akan memanduku melalui sistem pengolahanmu?” Tanya Ravettha.


“Sungguh sangat disayangkan, master! Sangat tepat bahwa salah satu fungsiku adalah memandumu, tetapi saat ini fungsi bantuan dan pemanduku telah dinonaktifkan untuk sementara waktu.” Ucap Falext tanpa melebih ataupun menambahkan perkataannya.


Dibandingkan rasa kesal ataupun kecewa, Ravettha justru melihat kesempatan ini sebagai peluang besar bagi perkembangan dirinya.


Tidak ada emosi negatif tersimpan dengan baik saat mengetahuinya.


Ia benar-benar berterima kasih dengan pelajaran berharga yang telah ia dapatkan.


“Aku akan membalas jasa kalian dengan keberhasilan nilaiku di masa depan. Jadi, tetaplah ada sebagai salah satu sumber dayaku, Falext, Nicholas, Lartson, Layla, Leonardo, dan Glendy!” Pikir Ravettha dengan tersenyum kecil.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2