
Basa-basi jelas bukan gaya kesukaan bagi keduanya sehingga secepat mungkin percakapan dibuat berdasarkan kepentingan.
Di balik sifatnya yang seperti itu, suasana hati Tuan Jeufton yang baik ternyata langsung mengajak tamunya makan siang bersama.
"Baiklah, Nona Ravettha. Aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Apa anda bersedia?" Tanya Tuan Jeufton mengikuti nada bicara tamunya.
"Oh tentu! Sebelum itu, hamba harus mengambil ransel akademi di atas sana." Ucap Ravettha dengan menunjukkan tas ransel merahnya.
"Silahkan, silahkan! Kau bisa mengambilnya sekarang." Ucap Tuan Jeufton begitu bersemangat melayani tamunya.
Ravettha tahu dan sadar bahwa pertemuan ini berjalan sangat lancar sehingga dengan cepatnya langsung mengambil dan meminum ramuan anti racun dari dalam ranselnya.
Meskipun ranselnya hanyalah ransel biasa, ransel ini dapat dihubungkan dengan tas penyimpanan dan karena itulah Ravettha menyukainya.
Tanpa berlama-lama mengambil ranselnya, ia pergi menyusul langkah Tuan Jeufton yang telah mulai memandu jalan menuju ruang makan khusus miliknya.
Para pelayan datang dengan segera menyajikan menu hidangannya.
Beragam hidangan telah disajikan.
Mulai dari keindahan, rasa, dan teksturnya tidak dapat diragukan lagi.
"Koki anda handal, tuan! Hamba jadi penasaran apa yang ingin kita diskusikan bersama." Ucap Ravettha mengiris daging panggang rusanya dan dilumeri saus papermint.
"Tentu saja aku harus memilih yang handal! Selain menjadi pekerja, mereka sudah kuanggap keluarga sendiri." Ucap Tuan Jeufton yang telah duluan makan hidangan pertamanya.
"Ho, menarik! Anda memilihnya juga karena kegagalan itu mahal, bukan?" Tanya Ravettha menganggukkan kepalanya sesekali.
"Tepat sekali, nona! Jika boleh tau, mengapa nona tiba-tiba datang kemari?" Tanya Tuan Jeufton mencondongkan badannya kedepan.
Ravettha yang telah mempelajari bahasa tubuh juga ikut merasakan keseriusan pada lawan bicaranya.
Hal itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kedua belah pihak.
"Langsung saja! Kapal bisnis anda terperangkap disini selama 1 bulan. Perdagangan ekonomi anda berada di ambang batas. Kesejahteraan keluarga anda diharuskan bertahan selama mungkin. Bagaimana jika kita membuat keputusan, Tuan Jeufton?" Tanya Ravettha yang berniat mengakhiri makan siangnya, begitupun dengan tuan rumah.
"Apa kesepakatannya?" Tanya Tuan Jeufton terkejut dengan pemikiran cermelang yang tidak pernah ia dapatkan akhir-akhir ini.
"Mudah saja! Hamba akan mengutus seorang yang dapat memecahkan masalah anda. Anda hanya perlu membayar jasanya sesuai apapun permintaannya!" Ucap Ravettha yang memberikan kebebasan pada pihaknya.
__ADS_1
"Kapan aku bisa menyelesaikan masalah ini, Nona Ravettha?" Tanya Tuan Jeufton meminta kejelasan atas keraguannya.
"Sekarang juga! Dia sudah tiba di hadapan anda, tuan." Ucap Ravettha memperkenalkan Vicenzo yang berdiri tepat di samping kanannya.
Wajah Vicenzo tampak lebih dingin dibandingkan sebelumnya.
Ia bertanya-tanya dan terlihat ada yang ingin dibicarakannya empat mata dengan partnernya.
"Bisakah kumulai sekarang?" Tanya Vicenzo kepada Tuan Jeufton.
"Tentu saja, Tuan...?" Tanya Tuan Jeufton yang belum mengetahui nama utusan Ravettha.
"Namaku tidaklah penting! Kau lebih membutuhkan pemecah masalahnya, bukan?" Tanya Vicenzo langsung membalikkan badan dan bergerak turun dari kapal tersebut.
Ia mencari tahu penyebabnya sekaligus solusi karena ia juga tidak ingin terlalu lama partnernya berurusan dengan tuan rumah.
Sementara ia menjelajahi tugasnya, Ravettha duduk diam dan memperhatikan kondisi di sekelilingnya.
Tidak jarang ia justru mengumpulkan informasi yang harus dilengkapinya.
"CRACK!!!"
"Tidak! Tarik mundur pasukan! Dia adalah tamu kita!" Ucap Tuan Jeufton melarang tindakan anak buahnya yang hampir melukai rekan kerjasamanya.
Ia sama sekali tidak ingin kedua tamunya ini terluka karena sedikit saja terluka, kerjasama mereka bisa dibatalkan, dan dirinya pun tidak akan keluar dari mimpi buruk yang melandanya.
"Tamu? Ampuni hamba, kapten. Hamba lalai mengetahui keberadaan tamu kita." Ucap para anak buah yang menghadap langsung memohon pengampunan atasannya.
"TAP!"
Vicenzo datang dan berdiri tepat di sisi Ravettha.
Ia bahkan tidak ingin berada terlalu jauh dari partnernya ini.
"Sayang, mereka tidak ada yang berani menyentuhmu, bukan?" Tanya Vicenzo yang tidak mempedulikan hal lain, kecuali keselamatan partnernya.
Berkali-kali ia memeriksa kondisi tubuh Ravettha dan hasilnya tetap sama, tidak ada sedikitpun yang menjadi kekhawatirannya.
Ravettha tersenyum dan memberikan tepuk tangan.
__ADS_1
Semangat dan energinya tersalurkan langsung kepada Vicenzo.
"Aku senang kamu baik-baik saja, sayang. Ayo kita pulang!" Ucap Vicenzo dengan menunggu persetujuan Ravettha.
"Ambil dulu milikmu, lalu kita pulang!" Ucap Ravettha mengernyitkan dahinya pada Tuan Jeufton.
Dengan sigapnya, tuan rumah memastikan hasil kerja Vicenzo dan berniat memenuhi kesepakatan yang sudah dibuat.
Ia sungguh tidak menyangka dengan apa yang barusan ia saksikan.
Hasilnya begitu rapih, tidak ada celah, dan sesuai harapannya sehingga ia rela memberikan lebih sebagai imbalannya.
"Saya tidak tahu siapa sebenarnya pasangan tuan dan nona ini, tetapi yang saya tahu, saya pasti akan membutuhkan bantuan kalian lagi. Terimalah hadiah dari kami dan katakanlah apa keinginan tuan!" Ucap Tuan Jeufton yang penuh harap dapat terus bekerjasama kedepannya.
Mengetahui akan hal tersebut, Vicenzo mulai memahami alasan di balik tindakan partnernya ini.
Ia menatap sejenak Ravettha dan berusaha mencari tahu apa yang diincar partnernya.
"Kunci kelulusan ujian lantai 3. Kau mengetahuinya, bukan?" Tanya Vicenzo yang tidak percaya pada perkataan Tuan Jeufton.
"Kunci...? Kunci kelulusan ujian lantai 3?! Oh, aku tau yang anda inginkan, tuan! Ikutlah denganku, anda harus memilih satu dari sepuluh kunci. Sembilan di antaranya adalah palsu! Berhati-hatilah, tuan!" Ucap Tuan Jeufton berjalan mundur perlahan.
Sementara Vicenzo sibuk memilih, Ravettha menyadari perilaku Tuan Jeufton yang berubah dan berbeda dari sebelumnya.
Tanpa berkata apa-apa, Ravettha langsung bertindak melalui telepati sehingga tidak satupun dari keduanya mengganggu konsentrasi Vicenzo.
"Anda sudah menggunakannya?" Tanya Ravettha dengan tersenyum kecil.
"Lebih tepatnya istri tercintaku. Kami mendapati kesepuluhnya dari pengurus 'Itascaria Fragment' ini. Sejak saat itu, istriku tergila-gila menginginkan keabadian. Takdir malang menimpa kami, istriku telah meninggalkanku, dan menyisakan kami di dalam kutukan ini." Ucap Tuan Jeufton berusaha melepaskan penderitaannya.
"Lalu, mengapa anda terlihat ketakutan?" Tanya Ravettha yang memperhatikan sekaligus memandu Vicenzo agar tidak memilih yang salah.
"Dia adalah sosok sempurna bagiku, tetapi terakhir kali aku bertemu dengannya, ia bukanlah istriku lagi. Ketakutan itu muncul saat dirinya membasmi seluruh makhluk yang dihadapannya termasuk anggota keluarganya." Ucap Tuan Jeufton kembali menguatkan tekadnya.
Mengetahui akan hal tersebut, Ravettha langsung melihat perkembangan partnernya.
Sebuah pelukan hangat yang erat berada di tubuhnya.
"Sayang! Lihat kunci ini! Sistem itu mengatakan kita berhasil menyelesaikan ujiannya. Bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Vicenzo memohon seperti anak kecil.
__ADS_1
BERSAMBUNG