
Setelah Ravettha mandi dan mengganti seluruh pakaiannya yang telah disiapkan oleh Annie, ia langsung bertanya tentang letak perpustakaan.
"Annie, apakah kau tahu dimana letak perpustakaan? Aku ingin mengerjakan semua tugas ini." Ucap Ravettha dengan membawa seluruh tugas yang telah diberikan kepadanya.
"Tentu saja aku tahu! Aku sudah disini sejak lima tahun yang lalu. Mari saya antarkan anda!" Ucap Annie.
Ravettha hanya mengangguk setuju dan pergi bersama Annie ke perpustakaan yang tidak jauh dari asramanya.
Nama asramanya adalah Cornwall Iverness.
"Kita sudah sampai di depan 'Perpustakaan Asrama Cornwall Iverness'! Ini adalah perpustakaan terlengkap khususnya bagi para murid." Ucap Annie.
"Benarkah?" Tanya Ravettha dengan mata yang berbinar-binar.
"Tentu saja! Rumor di dunia ini tidak pernah salah loh!" Ucap Annie.
"Jadi kau mempercayai seluruh rumor yang beredar?" Tanya Ravettha dengan mengujinya.
"Ah, bukan begitu! Aku hanya suka menyerap informasi daripada membicarakannya dengan orang lain. Karena anda adalah majikan ku, maka saya akan melayani anda dengan tulus." Ucap Annie.
"Lebih baik kau buktikan perkataanmu." Ucap Ravettha dengan melirik ke arah pintu perpustakaan.
Ia sangat tertarik untuk segera memasukinya sehingga menyentuh pintu dan membukanya.
Saat Ravettha telah membukanya, ia melihat surga buku dan juga menjadi daftar tempat favorit terbarunya.
"Selamat datang di perpustakaan ka..." Ucap penjaga perpustakaan yang belum menyelesaikan sambutannya.
"Asyik! Buku! Buku! Buku!!!" Ucap Ravettha dengan berlari menuju kumpulan buku yang sudah tersusun rapih dan mencari-cari buku yang dibutuhkannya dengan sangat senang.
Ia sudah tidak peduli dengan kalimat-kalimat sambutan dari penjaga perpustakaan karena ia hanya peduli dengan buku bacaannya.
Penjaga perpustakaan melihat pengunjung barunya yang sangat bersemangat untuk segera membaca buku yang ada disana ikut menjadi sangat senang.
"Wah...! Aku sungguh terharu setelah melihat ada anak yang sudah tidak sabar untuk menambah ilmu di perpustakaan ini! Senangnya...!" Ucap penjaga perpustakaan kepada Annie.
"Aku khawatir, apa tidak masalah dengan keamanan Nona Ravettha?" Tanya Annie yang telah melihat tingkah laku Ravettha.
__ADS_1
"Tidak. Dia akan baik-baik saja jika disini. Lihatlah, dia sangat menyukai buku, bukan?" Tanya penjaga perpustakaan yang telah mengamati Ravettha.
"Ah! Benar juga! Terimakasih ya, Zeilux! Aku titipkan sebentar Nona Ravettha kepadamu! Aku akan kembali sebentar lagi!" Ucap Annie dengan berlari kencang menuju kamar Ravettha.
Penjaga perpustakaan hanya mengangguk setuju kepada Annie karena menurutnya Ravettha sangat mudah untuk dijaga.
Nama penjaga perpustakaan itu adalah Zeilux Vandes Houston.
Tuan Zeilux adalah seorang cendikiawan yang memilih untuk menjadi karyawan perpustakaan di bawah kekuasaan Raja Kourtnef.
Ia melakukannya karena ia ingin membalaskan budinya karena telah membiayai sekolahnya kepada Raja Kourtnef.
Ia tidak pernah merasakan keberatan pada tanggung jawabnya, justru ia sangat suka dan menikmati apa yang telah ia raih di usia mudanya.
Sementara itu, Ravettha sudah menemukan seluruh buku yang berisi jawaban dari semua soal-soalnya.
Ia langsung mengerjakannya dengan teliti, fokus, dan cepat.
Lima belas menit kemudian, ia telah selesai mengerjakannya.
"Akhirnya sudah selesai! Hehe! Sekarang waktunya aku untuk membaca buku yang ada disini!" Pikir Ravettha dengan sangat bersemangat.
Tanpa disadari, buku-buku yang telah ditumpuknya tersebut menjulang tinggi hingga menggangu pemandangan para pengunjung termasuk Tuan Zeilux.
Karena sangat mengganggu dan terlihat berantakan, Tuan Zeilux langsung menghampiri Ravettha untuk segera menegurnya.
"TEP!"
Tangan Tuan Zeilux menyentuh salah satu pundak Ravettha untuk melihat apa yang telah ia baca dan juga untuk menegurnya.
"A-Apa? Dia sudah membaca semua buku ini dan menghapalnya dengan cepat?" Pikir Tuan Zeilux dengan penuh keheranan dan tidak percaya.
Dengan spontannya Ravettha langsung menoleh ke arah Tuan Zeilux.
"Segera taruh buku yang telah kau baca ditempatnya lagi!" Ucap Tuan Zeilux dengan tatapan yang tidak percaya.
"B-Baik." Ucap Ravettha yang terkejut melihat tumpukan buku yang telah dibacanya.
__ADS_1
Ia langsung mengeluarkan sihirnya untuk menaruh seluruh buku yang telah ia baca sesuai tempat asalnya.
"Bagus! Kau sudah resmi menjadi pembaca di perpustakaan ini. Ini kartunya, gunakan ini saat memasuki perpustakaan." Ucap Tuan Zeilux dengan memberikan sebuah kartu tanda pengenal.
"Terimakasih." Ucap Ravettha dengan membaca kartu tanda pengenal tersebut.
"Panggil aku jika kau butuh bantuan. Namaku Zeilux Vandes Houston." Ucap Tuan Zeilux.
Ravettha hanya mengangguk setuju kepadanya.
"Nama: Ravettha Toftrelnd Seinoray. Umur: 4 tahun. Level pembaca: 3. Julukan: 'Pembaca Cepat', 'Pembaca Rajin', 'Pembaca Setia'. Hak istimewa: Mendapatkan batas waktu kunjungan yang tidak terbatas." Pikir Ravettha yang sedang membaca buku tersebut.
"Hm... Sejak kapan aku naik level pembacanya, ya? Apa mungkin karena kebanyakan membaca sehingga tidak menyadarinya? Hm... Entahlah! Aku akan pergi memberikan seluruh tugas yang sudah kuselesaikan ini, lalu berlatih sendiri dari buku yang telah kubaca!" Pikir Ravettha.
"Tuan Zeilux! Saya akan pulang dahulu." Ucap Ravettha dengan melambaikan tangannya.
"Hei, tunggu dulu! Kau disini saja sampai Annie kemari! Dia berjanji akan segera kemari!" Ucap Tuan Zeilux.
"Oh, rupanya ia keluar sebentar. Tidak masalah, aku masih bisa baca buku sebentar. Apa anda bisa menunjukkanku buku sejarah?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja bisa! Anda bisa mengambilnya di rak nomor 143. Disana banyak buku sejarah sehingga anda bisa memilihnya sendiri." Ucap Tuan Zeilux.
"Baiklah. Terimakasih. Katakan kepada Annie untuk menemuinya jika ia telah kemari." Ucap Ravettha.
"Baik. Serahkan kepadaku!" Ucap Tuan Zeilux.
Ravettha langsung pergi menuju rak yang bernomor 143.
Sesuai perkataannya, ia melihat banyak sekali buku sejarah yang tebal-tebal.
Ia pun membaca buku-buku yang ada di rak tersebut.
"Di dunia ini terdapat dewa iblis yang bertugas mengawasi, mengatur, menciptakan dan memerintah sesuai keinginannya. Para iblis yang lahir di dunia iblis sejatinya mempercayai bahwa dewa mereka sangatlah kuat dibandingkan dewa-dewa lainnya. Mereka yang berbeda kepercayaan memutuskan untuk membuat kerajaannya sendiri. Ada yang terikat dan juga ada yang tidak terikat dengan dewa menimbulkan kekuatan yang berbeda juga. Walaupun pada dasarnya sama, mereka yang terikat dengan dewa iblis justru lebih kuat daripada yang tidak terikat dengan dewanya." Pikir Ravettha yang telah menyimpulkan sejarah para iblis.
"Kekuatan mereka juga dibagi menjadi berbagai macam, tipe petarung, pembunuh, racun, pengendalian, dan penyembuh. Umumnya tipe petarung memiliki fisik dan sihir yang lebih besar daripada tipe pembunuh. Tipe racun yang disini memiliki efek yang lebih besar daripada di dimensi atau dunia lain. Tipe pengendalian memiliki berbagai kategori mulai dari pengendalian waktu, pikiran, jiwa, arwah, kematian, kehidupan, dan kekuatan. Tipe penyembuh biasanya hanya bisa digunakan untuk dirinya sendiri supaya lebih maksimal." Pikir Ravettha yang telah menyimpulkan kekuatan yang menjadi sejarah para iblis.
"Hm... Ternyata sifat dan kekuatan mereka tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Hanya saja mereka lebih tempramental." Pikir Ravettha.
__ADS_1
BERSAMBUNG