
Ravettha yang menyadari ajakan berjabat tangan itu langsung merasakan keseriusan yang mengalir deras di antara keduanya.
Keinginan terkuat tergambar dengan jelas dari kekuatan jabat tangan mereka dan menjaga kontak mata.
"Apa di sekitar sini punya tempat latihan mandiri?" Tanya Ravettha.
"Punya, sayangnya kami belum penuhi syarat." Ucap siswa berkacamata menghembuskan napas kecewanya.
"Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Ravettha yang berusaha mencari jalan keluar bagi keduanya.
"Borend Couffel." Ucap Rencouff mengizinkan Ravettha memanggil namanya.
Secepat mungkin ia menarik tangan Rencouff dengan paksa dan berlari menuju ruang pelatihan mandiri.
Banyak para senior menggunakannya dengan lebih dan bahkan dapat mencetak 20 jam per hari.
"Berapa orang yang bisa menggunakannya untuk 1 bilik?" Tanya Ravettha tersenyum senang dan seluruh adrenalinnya terpacu.
"Hanya 1 orang! Apa kau sudah bodoh? Dari namanya juga sudah jelas kalau itu untuk 1 orang!" Ucap Rencouff kesal karena tangannya tidak dilepaskan.
Mendengar hal tersebut, Ravettha hanya terdiam sejenak.
Perhatiannya justru terfokuskan demi mencari celah untuk mereka berdua menyelinap ke dalam.
Walaupun pikirannya terbagi dua, ia tetap saja menemukan cara yang tepat.
"Kodgi! Aku menantangmu bertarung denganku sekarang juga!" Teriak seorang pria bertubuh paling besar dibandingkan murid seangkatannya.
Ravettha dan Rencouff pun ikut mendengar teriakan senior tersebut.
Dengan cepatnya, Revettha langsung memberikan isyarat pada rekannya agar menggunakan kesempatan ini.
"Cepat bergerak, Rencouff! Mereka tidak menyadari keberadaan kita!" Ucap Ravettha melalui telepatinya.
Menyadari ada yang hilang, Ravettha memeriksa keberadaan rekan disampingnya.
Ia terkejut setelah mengetahui bahwa dirinya ditinggal sendirian di semak persembunyiannya.
"Apa yang kau tunggu disana? Kau mau kita ketahuan, ya?" Tanya Rencouff masih belum mengetahui nama rekannya ini.
"Tentu saja tidak. Jika ya, maka kesepakatan kita bisa terhambat, loh!" Ucap Ravettha mengikuti jejak Rencouff.
"Ho! Kau tau juga ternyata!" Ucap Rencouff merasa tujuannya telah semakin dekat.
Kedua matanya bersinar terang ditambah dengan ekspresi wajah terkagum-kagum membuat Ravettha mengetahui di antara keduanya, ini adalah pertama kalinya mereka masuk ke area para senior.
__ADS_1
Sesegera mungkin Ravettha menyiapkan kartu identitas palsunya sebagai rencana darurat.
"Apa kita punya kartu identitas seperti mereka?" Tanya Rencouff mendadak khawatir akan penurunan nilai akademis jika mendapat masalah baru.
"PUK!"
"Tidak. Satu hal yang kita punya adalah... Melanggarnya!" Ucap Ravettha menepuk kedua bahu rekannya sekaligus tersenyum bangga.
Seketika Rencouff langsung meragukan keberhasilan yang paling diinginkan keduanya.
Tanpa mempedulikan keraguan rekannya, Ravettha menggunakan peta miliknya dan mencari bilik kosong untuk 3 orang.
"Ha?! Mengapa kita butuh 3 bilik? Bukankah kita hanya butuh 2 saja?" Tanya Rencouff menjadi semakin penasaran dengan jalan pikiran Ravettha.
"Jangan salah, Rencouff. Perhatikan baik-baik apa yang telah kau lewatkan! Senior di luar tadi sudah memiliki api dendam. Hanya sedikit umpan, kita berhasil melangkahinya. Menurutmu mengapa aku bilang satu-satunya yang kita punya adalah melanggarnya?" Tanya Ravettha memeriksa kondisi ketiga bilik yang bersampingan satu per satu.
"Karena kita sudah terlanjur melakukannya?" Tanya Rencouff mengingat kembali situasi yang dihadapinya.
"Tepat! Tidak sia-sia aku menjadikanmu teman baruku." Ucap Ravettha dengan mendorong tubuh Rencouff ke dalam bilik nomor 1.
Rencouff yang terdorong masuk ke bilik miliknya justru tidak merasakan keberadaan rekannya.
Pintu terkunci dari luar dan dirinya merasa sangat panik.
"Baik! Ayo kita mulai pelatihannya!" Ucap sebuah suara cukup familiar di telinga Rencouff.
"Ya, ini aku. Ravettha, kawanmu di kesepakatan yang kita buat sebelumnya." Ucap Ravettha tanpa memunculkan dirinya.
Hanya pelatihan yang seperti itu, Rencouff baru bisa merasakan titik kedamaian di dalam jiwanya.
Dingin, sejuk, dan sunyi.
"Rencouff! Mulai sekarang dengarkan saja perkataanku! Duduk tegak dan pejamkan mata!" Ucap Ravettha mengawasi perkembangan rekannya.
Seperti yang dikatakannya, Rencouff langsung duduk bersila khas dirinya dan memejamkan kedua matanya di lantai kayu yang berserat.
Tulang leher dan kepalanya tidak sejajar dengan tulang belakangnya.
Ravettha yang mengetahuinya langsung memberikan gangguan sebagai hukuman.
"Tegakkan leher dan kepalamu! Pertahankan postur tubuhmu!" Ucap Ravettha mengeluarkan awan hitamnya tanpa memberikan tanda bahaya.
Dirinya tidak punya tempat duduk lagi karena seluruh isi bilik nomor 1 telah menjadi target awan hitamnya, kecuali bagian atas awan.
"BZRT! BDOOMMM!!!"
__ADS_1
Layaknya belut listrik, awan hitam ini tidak berhenti dalam sekali hantaran.
"Ravettha! Kau berniat membunuhku, ya? Aku hampir mati tau!" Ucap Rencouff berusaha menghindari serangan selanjutnya.
"Sekali lagi kau bergerak, kubiarkan awan ini melenyapkanmu!" Ucap Ravettha yang kesal mendengar rekannya ini semakin berisik dan tidak mau menuruti arahannya.
Awan hitam belum sempat mengeluarkan petirnya, sedangkan percikan api langsung membesar dan siap melahap apapun yang berada di sekitarnya.
Dibandingkan ingin menyelamatkan rekannya, Ravettha justru tidak memiliki rasa bersalah atas apa yang dilakukannya.
Ia memilih duduk dan mengawasi kembali perkembangan Rencouff.
Api besar itu semakin panas dan mendominasi bilik nomor 1.
Baik Rencouff atau Ravettha, keduanya diharuskan bertahan dalam beberapa menit kedepan.
"Ravettha sialan! Aku akan menghajarmu begitu kesepakatan ini selesai! Jangan harap aku membantumu kedepannya!" Pikir Rencouff berusaha menghapus keringat bercucuran di wajahnya.
"Hm...! Masih bergerak ternyata! Bagaimana kalau yang ini? Aku penasaran bagaimana kau bebas darinya!" Pikir Ravettha dengan menyatukan ketiga bilik yang telah ia tandai.
Ruangan bilik nomor 1 menjadi 3 kali lebih luas.
Hal ini sangat sesuai untuk melihat hasil akhir usaha mereka berdua.
"Master! Lartson sangat senang dipanggil! Akhirnya ini kesempatan Lartson melayani master." Ucap Lartson yang muncul lebih cepat dari Ravettha pikir.
"Bagus! Kalau begitu dengarkan perintahku!" Ucap Ravettha dengan memanggil partnernya agar segera mendekat.
Lartson yang dipenuhi rasa semangat langsung pergi menuju majikannya.
Tubuhnya semakin mendekat dan tanpa ragu, Ravettha memerintahkan untuk mengganggu konsentrasi Rencouff dengan cara apapun yang Lartson miliki.
"Khekhekhe...! Anak muda ini pasti akan kugagalkan usahanya!" Ucap Lartson yakin dirinya mampu membanggakan di hadapan majikannya.
Tanpa banyak bicara lagi, Lartson mengubah wujudnya menjadi malapetaka bagi Rencouff.
"Apa kau tidak mampu lakukan yang mudah seperti ini saja? Aku menyesal telah berbelas kasih padamu! Anakku, ayo kita tinggalkan kakak sampahmu ini, ya? Sampah harus dibuang pada tempatnya, bukan disini!" Ucap seorang ibu dengan membujuk satu anak laki-laki berusia 4 tahun.
Mengetahui dirinya dibawa ke dalam titik terendahnya, Rencouff benar-benar murka dan tidak terima lagi dengan semua yang telah terjadi padanya.
Masa kecil begitu suram menghasilkan kekuatan terpendam yang jauh dari kata "Buruk".
Sebuah kekuatan luar biasa muncul, memancarkan auranya, dan diolah menjadi peningkatan proses latihan.
"Cukup, Lartson! Kamu sudah berhasil menjalankan tugas. Duduklah bersamaku dan lihatlah caranya menyelesaikan masalah." Ucap Ravettha menyediakan kursi awannya dan telunjuknya yang mengarah ke Rencouff.
__ADS_1
BERSAMBUNG