
“Tempat ini... Apakah pelatihan ini sama dengan ‘Mirror Attack Skill’?” Pikir Ravettha yang menyadari bahwa ia dan para seniornya sedang mengikuti pelatihan yang sama.
“JLEB!”
Sesosok manusia muncul di hadapan Ravettha dan berdiri dengan senyum jahatnya.
Sosok itu adalah bayangan Ravettha dengan kekuatan yang lebih kuat dan tentunya jahat.
“Hei, lemah! Jangan bengong terus! Kau ini bodoh, ya?” Tanya bayangan Ravettha dengan menusuk jantung Ravettha dan menyerap sebagian kekuatannya saat Ravettha asli sedang terkejut karena melihat sosoknya yang memiliki aura hitam yang kuat.
Ravettha akhirnya terbangun dari lamunannya setelah tekena tusukan di tubuhnya tersebut.
Ia menatap mata sosok bayangannya dengan tatapan yang tajam dan hanya bisa membisu tanpa mengucapkan satu katapun.
Ia langsung terjatuh tidak berdaya dengan lumuran darah yang terus mengalir.
“Hahahaha! Lihatlah! Kau yang sok pintar, jenius, cerdas, kuat itu jatuh tak berdaya seperti ini? Lihat ini dan perhatikan baik-baik! Seluruh kekuatanmu sekarang jadi milikku! Kau tahu? Aku sangat membenci dirimu yang seperti itu! Kenapa kau tidak tetap lemah dan tidak berdaya saja sejak dulu? Huh! Dasar menyebalkan! Kalau begitu, aku akan membunuhmu dan menggantikanmu hidup di dunia nyata!” Ucap sosok bayangan Ravettha dengan mencabik seluruh tubuh Ravettha asli menjadi potongan yang kecil seperti saat berburu mangsa.
“Argh!!! Ini sama sekali tidak menyenangkan! Aku butuh mangsa yang lebih kuat untuk membuatku semakin kuat!” Ucap sosok bayangan dengan melemparkan pisau yang ia gunakan untuk mencabik tubuh Ravettha asli.
Di saat sosok bayang tersebut sedang merasakan kesal dan dipenuhi hawa nafsu untuk membunuh mangsanya, tubuh Ravettha yang asli justru tersambung kembali melalui sebagian kekuatannya dan kekuatan curiannya.
Tubuh tersebut langsung menyatu dengan sangat cepat termasuk jiwa dan nyawanya.
Setelah kembali tersambung, ia menggunakan ‘Phantom Curse Magic’ untuk memanipulasi dirinya sebagai arwah yang bergentayangan karena dendam yang belum terbalaskan.
Setelah bangkit kembali, ia langsung mengumpulkan kekuatannya kembali.
“Sudah selesai bicaranya?” Tanya arwah Ravettha yang sedang mengitari tubuh sosok bayangan tersebut.
Saat ia mengitari tubuh sosok bayangan tersebut, ia juga memanfaatkan kesempatannya untuk menyerap seluruh kekuatannya dalam jumlah yang sangat besar.
Karena sudah puas menyerap kekuatan tersebut, ia kembali merubah wujudnya menjadi manusia kembali.
“Sudah. Eh? K-Kau kan sudah kucabik-cabik sampai mati kenapa masih bisa berbicara?” Tanya sosok bayangan dengan sangat terkejut karena ia belum pernah melihat arwah bergentayangan berubah menjadi manusia kembali.
“Kau berisik sekali, ya? Sangat tidak berguna!” Ucap Ravettha dengan mengambil nyawa dan jiwanya secara paksa.
__ADS_1
“T-T-Tidak akan kubiarkan kau menang semudah itu!” Lirih sosok bayangan tersebut.
“Yah. Terimakasih atas bantuanmu! Kau sangat membantuku.” Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Sosok bayangan yang telah diambil jiwa dan arwahnya membuat seluruh tubuhnya menjadi asap hitam.
“Yah... Padahal jika bayangan ini bisa kugunakan, mungkin aku bisa mengambil sampelnya atau kugunakan seluruhnya untuk bahan penelitianku. Tidak masalah! Karena bayangan yang ini telah membantuku untuk mengamati seluruh sistem kerja yang ada disini, maka aku membebaskanmu kali ini. Lalu... Apa mereka juga bisa kugunakan kali ini? Mariku lihat!” Pikir Ravettha dengan melirik ke sekelilingnya.
Para bayangan Ravettha kembali bermunculan dengan keingiinan membunuh yang sangat besar.
“Wah, wah, wah! Aku kedatangan banyak tamu nih! Selamat datang dan... Mari bermain bersama!” Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Para bayangan tersebut langsung menyerang Ravettha dari segala arah dan disertai bantuan hujan kekuatan dari cermin yang melayang di tempat sebelumnya.
Bantuan hujan kekuatan tersebut terdiri dari berbagai elemen, teknik, kekuatan, senjata yang berasal dari pemilik tubuh asli.
Para bayangan dan kekuatan yang berasal dari cermin tersebut tidak berhenti menyerang Ravettha.
Walaupun ia sedikit merasa kesal karena tidak ada habisnya, ia tetap saja tidak mau menyerah.
“Ini bukan apa-apa!” Pikir Ravettha dengan memecahkan seluruh cermin tersebut hingga rusak dan hanya menyisakan keping-kepingan kaca yang telah retak.
‘Gargantuan Monsters’ adalah penjaga yang bisa melindungi sekaligus bertarung demi penciptanya.
Banyak orang yang menyebutnya sebagai monster berdarah dingin karena kekejamannya dalam membunuh dan kekuatannya yang setara dengan seratus raja terkuat dari berbagai aspeknya.
Karena hanya membunuh para bayangan yang kekuatannya berbanding jauh dengan ‘Gargantuan Monsters’ menjadikannya tidak perlu membuang-buang tenaga.
“Baiklah, ‘Gargantuan Monsters’! Kuizinkan kalian untuk membunuh seluruh bayangan yang telah kutandai ini!” Ucap Ravettha dengan menandai seluruh bayangan yang dapat dibunuh oleh ‘Gargantuan Monsters’.
Para ‘Gargantuan Monsters’ langsung membunuh seluruh bayangan sesuai perintah yang telah diberikan oleh Ravettha.
Tidak perlu waktu yang lama, para bawahan Ravettha berhasil membunuh para bayangan tanpa tersisa sedikitpun.
“Terimakasih banyak atas bantuan kalian, ‘Gargantuan Monsters’!” Ucap Ravettha.
Kelima ‘Gargantuan Monsters’ tersebut menganggukkan kepalanya dan menghilang karena tugasnya telah selesai.
__ADS_1
Karena Ravettha telah berhasil menyelesaikan pelatihannya, ia langsung keluar dari dimensi tersebut.
Setelah keluar dari dimensi tersebut, disana ia melihat tujuh murid yang telah keluar dari dimensi tersebut.
Mereka adalah Thom, Cathy, Vene, Luzell, Scott, Rai dan Dalton.
“Selamat, kawan! Kau telah berhasil melewati dimensi itu.” Ucap Dalton dengan menghampiri Ravettha.
“Terimakasih banyak, senior!” Ucap Ravettha.
“Kau tidak perlu memanggil kami dengan panggilan itu, cukup panggil kami dengan Dalton dan Scott saja, ya?” Tanya Dalton untuk memastikannya lebih lanjut.
“Baiklah.” Ucap Ravettha.
“Hm... Melihat kau berhasil melewati dua dimensi, sepertinya itu bukan masalah bagimu.” Ucap Scott yang datang menghampiri dan mengamati Ravettha.
“Ehm...” Ucap Ravetta yang kebingungan dengan perkataan yang akan ia lakukan selanjutnya.
“Oh ya, Dalton dan Scott! Bagaimana dengan...” Ucap Ravettha yang belum menyelesaikan perkataannya karena ia menerima panggilan gurunya.
“Ravettha! Kau dipanggil oleh guru! Cepat temui dia sebelum ia marah!” Ucap Thom dengan menakut-nakuti Ravettha.
“Hoo... Dia sedang menakut-nakutiku, ya? Tidak masalah jika aku mengikuti permainannya. Apabila dia ternyata menipuku juga... Hehehe! Aku juga akan menjahilinya hingga ia mengaku salah atas perbuatannya!” Pikir Ravettha dengan menahan tawanya karena memikirkan rencana untuk menjahilinya kembali.
“Apa? Guru memanggilku? Dimana guru berada sekarang?” Tanya Ravettha dengan berpura-pura panik.
“Ia sedang duduk disana.” Ucap Thom dengan menunjuk ke arah gurunya.
“Baiklah, terimakasih!” Ucap Ravettha yang langsung berlari menuju tempat gurunya.
“Hehe, anak baru sangat mudah dijahili karena ia belum mengetahui kebiasaan, peraturan, dan kegiatan yang ada disini secara lebih mendalam.” Ucap Thom dengan tertawa kecil.
“Jadi... Yang tadi itu hanya tipuan?” Tanya Dalton yang masih mengunyah makanan kesukaannya.
“Tidak. Lebih tepatnya hanya setengah saja.” Ucap Thom.
“Kau mungkin benar. Bagaimana jika dia mengetahui bahwa kau sedang menjahilinya?” Tanya Scott.
__ADS_1
“Tidak masalah jika dia mengetahuinya. Jadi tenang saja!” Ucap Thom.
BERSAMBUNG