
"Dengar Foilaxt! Kita sudah dipihak yang sama. Berapa banyak pun kartu as yang kau simpan, aku tetap akan memburunya." Ucap Falext dengan sorot mata sinisnya mengeluarkan sebuah jaminan.
Jaminan itu ia pasang tepat di jantung Foilaxt karena baginya, tubuh yang dipakai sanderanya ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan nilai yang seharusnya dibayar.
Meskipun Foilaxt merasa bersalah atas perbuatannya, ia lebih tidak berdaya saat mengetahui masa hidupnya hanya sedikit.
"Fal...! Falext? Kau menjadikan jantungku sebagai jaminan? Apa kau sudah gila? Apa artinya kerjasama ini jika kau masih ingin mengungkit itu?" Tanya Foilaxt yang tidak bersedia menuruti perintah Falext.
"Tentu saja sangat berarti. Aku yakin kau tidak akan melakukan hal ceroboh kedepannya, bukan?" Tanya Falext dengan menyeringai kecil.
Ia berbalik badan dan melempar sebuah bola hitam bermata satu tertutup di tengahnya.
Sebelum Foilaxt menangkapnya, ia merasakan firasat buruk jika melepaskan pemberian sekutunya kali ini.
Tanpa berpikir panjang, kedua lengannya langsung tergerak dan akhirnya menangkapnya.
"Tugasmu telah kuberikan di dalamnya. Lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan, senior!" Ucap Falext melambaikan tangan tanpa menoleh ke lawan bicaranya sekalipun.
"Kau sudah menepati janjimu. Sekarang kau sudah benar-benar berubah. Aku ragu bisa menebak dirimu kali ini." Gumam Foilaxt menatap punggung dan dua bahu juniornya.
Pertemuan yang telah direncanakannya justru berbanding terbalik.
Di saat seperti ini, ia hanya bisa bertindak tanpa pemberontakan.
"Failoxt! Tugas pertamamu perbaiki chip induk layar hologramku!" Bunyi sebuah pesan dari bola pemberian Falext.
Hanya dengan sebuah mata, Falext langsung memberikan respon terbaiknya, mulai memperbaiki, dan menyelesaikan tugas demi tugasnya.
Di saat yang sama, Ravettha mencari lokasi Heilbey melalui 'Bitrole' miliknya.
"Bagus! Selagi informasi diambil, Falext mengamankannya, aku bisa leluasa menyelesaikan 'Itascaria Fragment' ini!" Pikir Ravettha tetap berada di sekitar sahabatnya.
"Rasakan ini!" Ucap Sorayna yang kesal pada tengkorak hidup beramai-ramai ingin mendapati dirinya.
Selain tidak menyembunyikan aura pemikatnya, Sorayna juga melupakan satu hal penting bagi klannya, yaitu tidak menggunakan status bangsawan sebagai permainan.
"Pelayan baruku! Mau kubantu?" Tanya Kalvetno terus memperhatikan sahabatnya kali ini.
Di matanya, ia melihat kesalahan yang tidak disadari sahabatnya meskipun pada awalnya ia hanya ingin membuat Sorayna berada di dalam tekanan.
Ia melakukannya karena ia tahu dengan begitu mereka berdua bisa sejajar posisinya.
__ADS_1
"Boleh. Eh...?!" Ucap Sorayna secara spontan.
"DOOMMM!!!"
Ledakan diluncurkan dan disusul oleh serangan kedua.
Sebuah tebasan pedang 360° searah jarum jam dari Kalvetno menghancurkan inti sihir yang telah dirakit bersama kumpulan tulang rangka manusia.
Tulang-belulang itu jatuh berserakan.
"Payah! Aku menantikan sampah ini bangkit, setidaknya murka saja itu sudah bagus!" Ucap Kalvetno menghembuskan napas kesalnya.
Ia melirik Sorayna yang mulai membara api kemarahan.
Mengetahui akan hal tersebut, dengan tangguhnya ia berusaha tenang menghadapi sahabatnya ini.
"Mau kemana kau? Barusan memanggilku dengan sebutan apa?! Coba ulangi lagi!" Ucap Sorayna yang sudah siap menahan sahabatnya sejauh mungkin.
"Pelayan baruku. Itu panggilanmu mulai sekarang." Ucap Kalvetno dengan menahan tawanya karena tidak tahan kebodohan sahabatnya.
"Mati saja kau!" Teriak Sorayna begitu jengkelnya dengan perbuatan Kalvetno.
Saat salah satu tangannya ingin memberikan cambukan sebagai hukuman, Kalvetno justru mengelak satu langkah.
"Guru! Serahkan bocah tengik itu padaku! Seenaknya bersembunyi dan memohon pada guru!" Ucap Sorayna menunjuk-nunjuk Kalvetno yang bersembunyi di belakang tubuh Pak Victor.
"Kau terlambat, muridku! Dia sudah mengerjakan tugasnya lebih cepat." Ucap Pak Victor yang mengambil anggur kesukaannya dari keranjang buah.
Sorayna benar-benar terkejut, badannya bergetar, dan tidak terima setelah gurunya ikut melindungi musuh bebuyutannya dan Kalvetno menjulurkan lidahnya dengan maksud merendahkan.
"K-Ka-Kalvetno! Kemana arah fokusmu, bodoh?" Tanya Sorayna berteleport ke belakang tubuh sahabatnya dan langsung menggenggam lengannya.
Tanpa banyak bicara, ia membidik ke arah pemilik kekuatan 'Skull Bleed' sekaligus pembangkit para tengkorak.
Seharusnya bidikan terbaik dari gabungan Kalvetno dan Sorayna sudah bisa merusakkan setidaknya anggota tubuh.
"Salah, panggilanmu bukan 'Pelayan baru', tetapi 'Pelayan baru yang payah'! Pinjamkan alat penembaknya, biar aku yang tangani dia." Ucap Kalvetno yang meminta senjata pada Sorayna.
"Huh? Kau yang memintanya, loh? Ayo kita pergi guru!" Ucap Sorayna langsung menyetujui permintaan sahabatnya, meskipun harus dibuat terkejut terlebih dahulu.
"Ya, pergilah. Bagaimanapun kau tetap berada di atasku, Sorayna!" Gumam Kalvetno yang ingin meraih targetnya.
__ADS_1
Serangan demi serangan, perlahan dan pasti.
Vicenzo bertugas melindungi Ravettha selama pencarian rahasianya.
Mereka berdua menyadari keberadaan kapal bajak laut melayang di udara.
"Mengapa ada kapal disini? Cedric! Kau tau apa yang kumaksud, bukan?" Tanya Ravettha dengan memberikan isyarat khusus.
Satu matanya berkedip, lalu mengarah ke kapal di udara.
Petunjuk dari isyarat itu tidaklah banyak dan satu hal yang membuat Ravettha tersenyum secara tulus kepada Vicenzo adalah partnernya ternyata memiliki pikiran yang sama dengan dirinya.
Vicenzo benar-benar gembira dan langsung menggendong Ravettha dengan tiba-tiba, sedangkan dirinya menyarankan agar tidak bersuara saat tiba di tujuan.
"Perahu ini masih digunakan. Kita harus dapatkan informasinya! Kemungkinan mereka menyimpan kunci ujian di gudang lantai 3 ini." Ucap Ravettha yang baru saja tiba di gudang penyimpanan.
Pasokan sumber makanan, minuman, dan senjata masih terbilang cukup banyak untuk 4 bulan kedepan.
Para pekerja di sekitar gudang penyimpanan hanya bisa dihitung pakai jari karena jumlahnya tidaklah banyak.
Keberadaan mereka sama sekali tidak terdeteksi oleh indera perasa biasa, kecuali menggunakan sedikit sentuhan untuk memancing mereka keluar dari sarangnya.
"Biarkan aku yang turun tangan saja. Kamu tunggu disini saja, ya?" Tanya Vicenzo begitu khawatir akan keselamatan Ravettha.
"Aku percayakan padamu, Cedric. Kita akan selesaikan ini dalam satu waktu. Semoga berhasil!" Ucap Ravettha menunggu kepergian Vicenzo.
Dengan berat hati, Vicenzo akhirnya memilih segera mengalihkan perhatian lawan dan menjadi umpan.
Kepergiannya ternyata mengundang seseorang yang paling dihormati datang menemui Ravettha.
"Pengertian juga, ya!" Ucap Ogburn van Jeufton dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Akhirnya anda tiba, Tuan Jeufton!" Ucap Ravettha yang bertemu langsung dengan kapten sekaligus Raja Keabadian.
"HAHAHAHA! Kau bahkan mengetahui nama asliku, nak!" Ucap Tuan Jeufton tertawa girang dan menunjukkan seberapa bangga dirinya hingga nama aslinya diketahui oleh Ravettha hanya dalam satu percakapan.
"Sebelumnya sering dipanggil dengan nama samaran? Tampaknya identitas palsu sangat berguna bagi anda, ya?" Tanya Ravettha dengan menyimpulkan respon yang diberikan lawan bicaranya.
"Bukan sangat berguna lagi! Identitas itu lebih dari sekedar penyamaran karena kita memberikan pelayanan di dalamnya. Siapa namamu, nak? Kau sungguh menarik! Belum ada seorang pun yang berani mengajakku bicara bahkan basa-basi seperti ini selain dirimu!" Ucap Tuan Jeufton memperhatikan jawaban yang akan diberikan untuknya.
"Ravettha. Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Ravettha sejelas mungkin.
__ADS_1
BERSAMBUNG