
"Tentu saja mereka pasti siap! Aku setuju dengan ide mempertahankan apa yang kita miliki. Bagaimana menurut kalian? Nicholas akan memandu divisi perhubungan sosial politik kita agar dapat membangkitkan semangat para warga dan pasukan yang telah dinaungi." Ucap Falext mempercayakan strategi pertamanya pada Nicholas.
"Aku dan timku bisa melakukannya. Satu pertanyaan dariku, apabila terjadi pertentangan oleh sepersekian massa, bisakah kami menggunakan pendekatan?" Tanya Nicholas penasaran dengan izin cara dirinya bekerja di dalam situasi yang terbilang cukup baru.
"Silahkan lakukan itu, Nicholas. Perlu diingat sebisa mungkin para warga dan pasukan yang telah kita naungi disini harus memihak kita secara alami. Apabila menemui para pemberontak saat kita ambil alih dunia baru, eksekusi saja mereka di tempat! Berdamai dengan tentram untuk mereka akan memakan waktu yang lama jika kita ingin menguasai keseluruhan dalam waktu singkat." Ucap Ravettha mengangguk setuju dengan cara partnernya ini bekerja.
Tidak ada yang takut, terdengar kejam, atau menganggapnya buruk saat majikannya mengatakan saran untuk segera mengeksekusi di tempat.
Hal tersebut juga sejalan dengan keinginan Falext, Nicholas, Leonardo, Lartson, Tuan Glendy, Layla, dan Rufino karena ketujuh partnernya ini sangat suka mengeksekusi mati musuhnya.
"Baik! Bagaimana yang ini? Leonardo memandu perindustrian sumber daya, baik itu pangan, bahan bakar, dan komoditas perdagangan. Lartson dan Tuan Glendy berfokus pada riset penelitian dan pengembangan teknologi, desain, sistem, serta eksperimen." Ucap Falext memperhatikan potensi peningkatan yang akan mereka peroleh bersamaan saat Nicholas menjalankan tugasnya.
"Ya, itu pilihan bagus! Ah! Aku sudah tidak sabar memperluas jangkauan perindustrian kami di segala kawasan!" Ucap Leonardo benar-benar bahagia memikirkan grafik imbalan dan sumber pemasukan yang akan mereka peroleh bersama.
"Kami setuju mengemban misi ini. Pengerahan energi, tenaga, pikiran, waktu, dan biaya produksi sangat setimpal dengan yang pantas kita dapatkan." Ucap Tuan Glendy sangat yakin mampu bertindak sesuai perkataannya.
"Begitu dunia kita menjadi pertama kali yang maju, para musuh akan mengantri untuk mempoles dirinya sedemikian rupa hingga tampak seperti kita! Sungguh menyenangkan menikmatinya!" Ucap Lartson tertawa gembira menantikan suatu hari di masa depan akan menjadi milik mereka bersama.
Ia sama sekali tidak peduli dengan cara yang sangat mungkin para musuhnya lakukan untuk menjatuhkan dirinya, keenam rekannya, dan seorang masternya.
Hanya satu hal yang menjadikannya berani berpikiran seperti itu, yaitu apapun hambatannya, mereka harus disingkirkan dan tetap bergerak hingga ke puncak.
"Aku! Aku! Aku juga ingin tugas berat yang dapat membuatku berharga!" Ucap Layla sangat bersemangat menginginkan tugas baru.
"Pastinya! Tugasmu adalah memandu pembangunan infrastruktur. Dedikasi seperti ini sudah berat bagimu karena akan banyak proyek di masa depan. Selanjutnya, Rufino! Kau telah menunjukkan kemampuanmu hingga membuat para murid, pasukan, dan bawahanmu memiliki keterampilan mumpuni. Pandulah mereka dan lahirkan generasi muda hebat di masa depan!" Ucap Falext berhasil mengatur strategi pertamanya.
"Yoohooo! Pembangunan adalah bagian diriku. Akan kupastikan kerajaan yang kita bangun menjadi termegah, istimewa, dan tidak terlupakan sepanjang masa!" Ucap Layla sama sekali tidak takut jika dirinya dan timnya harus mengalami perubahan drastis ataupun kegagalan yang menghantuinya.
"Tentu saja aku mengambil peran ini! Melihat para muridku menjadi sukses berkali-kali lipat di atasku adalah sebuah kehormatan terbesar untukku sebagai pemandu hidup mereka." Ucap Rufino tanpa sadar mengeluarkan air matanya karena terharu setelah mengingat jutaan muridnya telah mengalahkan tingkatan miliknya sendiri.
Menyadari diskusi ini cukup sampai sini, Ravettha mencari alasan yang tepat untuk mengakhirinya.
Ia melihat pukul 11:49 di jam tangannya dan dengan semangat langsung mengajak ketujuh partnernya makan siang bersama.
"Baiklah, para partnerku! Aku sampai terkagum menyaksikan semangat berkorban kalian. Sekarang, mari kita beristirahat dan makan siang bersama!" Ucap Ravettha ikut bangga mengingat dirinya telah bersusah payah merekrut ketujuh partnernya hingga menjadi pencapaian tidak terhingga nilainya.
__ADS_1
"Woah! Makan siang bersama? Aku harus jadi yang pertama duduk di sebelah master!" Ucap Lartson dengan kedua mata yang berapi-api.
"Apa?! Gak bisa! Tempat itu milikku!" Ucap Nicholas dan Rufino secara bersamaan.
Mereka sungguh siap menyingkirkan satu rekan agar dapat memenangkan pertandingan yang sengit.
Hal itu terjadi karena hanya ada 2 tempat yang bisa dijangkau jika ingin duduk paling terdekat dengan majikannya.
"BZERTTT!!!"
Panggilan masuk muncul dengan jelas di layar hologram Ravettha.
Tidak ada yang tahu mengapa kali ini Ravettha tidak ingin menerima panggilannya.
"Aneh! Apa saat kuangkat panggilannya akan ada gempa?" Gumam Ravettha kebingungan menatapi layar hologram.
"Ada apa, master?" Tanya Falext mengamati majikannya diam menatapi sebuah layar hologram di hadapannya.
"Aku harus mengangkat panggilan ini. Tenang saja, aku akan segera kembali." Ucap Ravettha akhirnya memutuskan untuk menghadapi langsung panggilan tersebut.
"TAP!"
"Sayang!!! Kapan kamu akan kembali? Lihatlah gurumu mengamuk dalam lima detik lagi!" Ucap Vicenzo menunjukkan Pak Chayton berjalan kesana-kemari demi menunggu laporan dari muridnya.
"Iya, iyaaa! Berikan saja berkasnya dan caramu berbicara telah kusesuaikan, Cedric! Kamu hanya perlu membiarkan mulutmu berbicara dengan sendirinya." Ucap Ravettha memberikan laporan misinya, mematikan layar hologramnya, dan menghapus jejak lokasinya.
Ia yang telah melakukan semua itu langsung kembali makan siang bersama ketujuh partnernya.
Baginya, kegiatan seperti ini lebih utama daripada memperhatikan kondisi Vicenzo di lain tempat.
Sementara Ravettha menikmati isi percakapan berat dengan ketujuh partnernya, Vicenzo diharuskan menghadapi seorang pengawas yang harus ia hindari.
"Sudah kau bawa kemari laporannya?" Tanya Pak Chayton menatap tajam ke arah Vicenzo.
"Tentunya! Ini laporan yang berhasil kudapatkan, guru." Ucap Vicenzo menyerahkan sebuah berkas yang berisi kumpulan data pengamatan Ravettha.
__ADS_1
"Ravettha, apa kau mengenal Yang Mulia Gervais?" Tanya Pak Chayton memastikan hubungan raja tersebut dengan data yang didapatkan muridnya.
"Yang Mulia Gervais? Tidak mengenalnya, guru." Ucap Vicenzo bertanya-tanya mengapa Pak Chayton menanyakan hal seperti ini.
"Baiklah! Bergegaslah tidur sebelum guru piket datang, muridku." Ucap Pak Chayton memberikan saran sekaligus aturan yang berlaku di asrama.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Vicenzo keluar dari ruangan dan memutuskan untuk segera beristirahat.
Ia sama sekali tidak ingin tugas dari kekasihnya kacau hanya karena tidak istirahat dengan cukup.
"Hai, anak baru! Kau Ravettha, bukan? Aku teman sekamarmu sekarang. Namaku Kiehl. Senang berkenalan denganmu, Ravettha!" Ucap Kiehl tertawa riang hingga tanpa sadar dirinya telah membangunkan temannya di kamar sebelah.
"Kau itu laki, mengapa menyamar berlebihan?" Tanya Vicenzo menjadi bingung dengan sikap teman barunya ini.
"Wowowow! Kau bahkan bisa melihatnya secara jelas! Apa kau jurusan penyihir?" Tanya Kiehl terkejut dan tidak percaya seseorang baru saja mematahkan penyamarannya.
"Aku baru tiba disini pagi tadi, jadi belum memilih jurusan. Bagaimana denganmu, Kiehl?" Tanya Vicenzo dengan berhati-hati dalam percakapan yang mereka buat.
"Sama sekali belum. Hahahaha! Besok saja kita pikirkan! Tidur adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Hoam!!!" Ucap Kiehl menjatuhkan dirinya ke atas kasur.
Sangat terlihat dengan jelas ia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur dimanapun ia berada.
Vicenzo yang mengetahui teman barunya ini langsung mengabaikannya begitu saja dan mulai mengirimkan surat kepada kekasihnya.
"Ini terlalu menakutkan, sayang! Aku jadi berterimakasih kepadamu karena topeng penyamaran, laporan, dan pengaturannya. Disini telah larut malam. Perhatikan kesehatan tubuhmu, Ravettha ku sayang! Begitu aku menemuimu, jangan sampai diriku melihatmu terluka ya? Dari seorang partner hidup yang kamu benci." Bunyi surat tulisan tangan Vicenzo.
Ia sangat suka melakukannya dari yang paling sederhana karena dirinya tahu, seluruh hal yang telah dilakukannya akan berkesan di hati kekasihnya.
Tidak lupa dengan pengemasannya, ia memasukkan surat itu ke dalam amplop merah dan mengirimnya melalui alat komunikasi mereka.
"Hm... Tidak sabar menunggu balasannya!" Gumam Vicenzo menjatuhkan tubuhnya dan berguling-guling di kasur Ravettha.
"HATCHI!"
"Sialan itu! Apa lagi yang dia bicarakan? Sepertinya akan menjadi rumit." Pikir Ravettha secara spontan menghancurkan meja makannya dalam satu kali pukulan.
__ADS_1
BERSAMBUNG