
Setelah keluar dari perpustakaan tersebut, Ravettha mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Festival tahunan akan diselenggarakan malam ini! Bagi peserta yang ingin mengikuti lomba, diharapkan untuk segera mendaftarkan diri!" Ucap seorang yang sedang memberikan sebuah pengumuman kepada para penduduk.
"Aku harus datang malam ini juga!" Ucap salah satu penduduk dengan bersemangat.
"Bagaimana jika kita datang bersama-sama?" Tanya salah satu penduduk lainnya.
"Tentu! Mari kita ajak yang lainnya juga! Aku yakin mereka akan senang saat kita mengajaknya!" Ucap salah satu penduduk dengan sangat bersemangat.
Ravettha yang mendengar hal tersebut menjadi tertarik untuk mengunjunginya.
"Sayang sekali, festivalnya akan dimulai saat malam hari... Kalau begitu, aku akan berkunjung ke tempat lainnya dahulu!" Pikir Ravettha dengan sangat senang karena menantikan kunjungan ke tempat-tempat yang sangat menarik.
"Tunggu..." Pikir Ravettha yang tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang yang dikenalnya melalui bau dan aura khas dari tubuhnya.
Saat ia ingin melangkahkan kakinya menuju tempat selanjutnya, seseorang menepuk pundaknya.
Orang tersebut adalah seorang pelayan yang telah mencari Ravettha karena telah meninggalkan kamarnya tanpa memberikan kabar.
Saat pelayan tersebut menepuk pundak Ravettha, Ravettha justru tidak terkejut sama sekali karena ia telah menyadari kehadirannya.
"Anda tidak berencana untuk pulang? Ini sudah waktunya makan siang!" Ucap seseorang yang menepuk pundaknya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang khawatir dan bercampur sedikit rasa kesal.
"Syukurlah kau berhasil kutemukan!" Ucap pelayan tersebut dengan rasa senang.
"Bagaimana jika tidak berhasil?" Tanya Ravettha yang mencoba untuk menguji kesetiaannya.
"Jika tidak berhasil... Berakhir sudah hidupku." Ucap pelayan tersebut dengan memegang lehernya yang masih berada di tempatnya.
"Sepertinya kau sangat takut dihukum mati daripada membuat kesalahan, ya?" Tanya Ravettha yang sedang mengujinya kembali.
"B-Bagaimana anda bisa tahu dalam sekali dengar?" Tanya pelayan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca dan juga dipenuhi rasa penasaran.
"Kan kau yang memberitahuku tadi." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang karena telah berhasil menguji pelayan tersebut.
"Anda benar. Mari kutunjukkan jalan menuju ke rumah!" Ucap pelayan tersebut.
"Baiklah." Ucap Ravettha.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar milik Ravettha.
Selama diperjalanan, ia melihat pemandangan yang indah walaupun hanya sekilas.
Terdapat banyak bunga yang khusus hidupnya di daerah bersalju, seperti bunga Krustesia, bunga Krystle, dan bunga Alphinoftle.
Bunga-bunga tersebut bermekaran dan berukuran besar.
"Menakjubkan! Pemandangan disini ternyata sangat indah walaupun diselimuti salju yang dingin!" Ucap Ravettha dengan sangat senang.
__ADS_1
"Anda benar!" Ucap pelayan tersebut.
"Oh ya! Aku belum mengetahui namamu! Siapa namamu?" Tanya Ravettha kepada pelayan tersebut.
"Namaku? Namaku tidaklah penting." Ucap pelayan tersebut dengan tatapan yang menjadi sangat dingin.
"Kenapa dia? Aku kan tidak bersalah karena hanya bertanya namanya! Apa mungkin... Ia memiliki masa lalu yang buruk dengan hal tersebut?" Pikir Ravettha yang menjadi curiga.
Sebelum Ravettha mencari tahu hal tersebut, tanpa disadari ia telah tiba di depan pintu kamarnya.
"Saya akan menyiapkan makan siangnya. Anda bisa beristirahat sejenak." Ucap pelayan tersebut.
Ravettha pun hanya mengangguk dan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang terdapat di dalam tas penyimpanan.
Tidak butuh waktu yang lama, ia telah disediakan menu makan siang di meja makan oleh pelayan tersebut.
Meja makan tersebut berukuran sedikit panjang dan hanya cukup untuk delapan orang.
Di atas meja tersebut telah terdapat menu makan yang sangat mahal karena seluruh bahan tersebut telah disiapkan khusus oleh pelayan tersebut, seperti dessert, cokelat panas, daging, sayuran, buah-buahan, minuman, dan cemilan.
Hidangan yang telah disiapkan terlalu banyak bagi Ravettha sehingga ia mengajak pelayan tersebut untuk memakannya bersama-sama.
"Mari makan bersama, kakak!" Ucap Ravettha dengan senang.
Pelayan tersebut menjadi sedikit tersentuh saat Ravettha mengucapkan kata "Kakak" kepadanya.
Baginya, panggilan kakak sangat tidak sesuai dan sedikit aneh.
Pelayan tersebut yang melihat sedikit kekecewaan dari Ravettha langsung menyangkal dan berusaha membuat Ravettha menjadi senang kembali.
"Tidak! Bukan itu maksudku! Terdengar sedikit aneh saat kau memanggilku kakak." Ucap pelayan tersebut dengan ragu.
"Aku sangat senang saat anda mengkhawatirkanku! Sebagai rasa terimakasihku, aku ingin mengajak anda makan bersamaku. Tidak masalah jika anda tidak ingin dipanggil dengan panggilan 'Kakak'. Lagipula aku tidak pernah memaksa Anda untuk melakukan yang anda benci." Ucap Ravettha dengan tersenyum.
"A-A-Apa? Kupikir dia sangat arogan dan keras kepala seperti para pengunjung itu! Ternyata aku salah besar dalam menilainya! Tetapi... Mengapa dia mau berbaik hati kepada seorang pelayan sepertiku?" Pikir pelayan tersebut.
"Apa kau hanya seorang pelayan disini?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Itu benar." Ucap pelayan tersebut.
"Apa kau yang mengurusi seluruh kamar yang ada disini?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Iya." Ucap pelayan tersebut.
"Hm... Kenapa anda masih berdiri disitu? Cepat duduk dan makan bersamaku!" Ucap Ravettha dengan menarik tangan pelayan tersebut.
Pelayan tersebut yang merasa ragu untuk menurutinya.
"Karena aku telah diperintahkan oleh Tuan Calhoun dan Tuan Ananta, maka aku harus menurutinya." Pikir pelayan tersebut yang berencana untuk duduk berhadapan dengan Ravettha di meja makan tersebut.
__ADS_1
"Bagus! Selamat menikmati hidangannya!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
"Seharusnya saya yang mengatakan hal itu!" Ucap pelayan tersebut dengan tatapan tajamnya.
"Tidak masalah! Semua orang juga bisa mengatakan hal tersebut tanpa memandang status." Ucap Ravettha yang sedang mengambil sebuah garpu dan pisau untuk memakan hidangan utamanya.
"Mengapa anda mengajak saya untuk makan bersama anda?" Tanya pelayan tersebut dengan curiga.
"Kau penasaran?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja! Bagi para pelayan sepertiku, tidak pantas untuk makan bersama. Para pelayan hanya ditugaskan untuk menuruti dan melaksanakan seluruh perintah yang diberikan majikannya." Ucap pelayan tersebut.
"Benarkah?" Tanya Ravettha.
Pelayan tersebut hanya mengangguk dengan yakinnya.
"Bukankah itu sama saja dengan budak?" Tanya Ravettha dengan tatapan seriusnya.
"Tidak. Kau salah! Para majikan tidak akan menyiksa dengan hukuman yang berlebihan kepada para pelayannya. Sementara itu, budak akan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi walaupun ia telah melakukan tugasnya dengan baik." Ucap pelayan tersebut dengan sangat singkat.
"Baiklah. Aku mengerti. Silahkan lanjutkan makannya!" Ucap Ravettha dengan ramah dan tersenyum senang.
Mereka berdua memakan seluruh hidangan tersebut.
Setelah selesai memakan seluruh hidangan tersebut, dengan sigapnya pelayan tersebut langsung membersihkan seluruh sisa makanan tersebut hingga bersih.
"Tok! Tok, tok!"
Terdengar suara pintu kamar Ravettha yang diketuk oleh orang lain.
Ia pun membuka pintu tersebut dan mengecek siapa tamu yang datang tersebut.
Ternyata tamu tersebut adalah Tuan Calhoun dan Tuan Ananta.
"Silahkan masuk!" Ucap Ravettha.
Tuan Calhoun dan Tuan Ananta langsung duduk di ruang tamu.
Pelayan tersebut datang dengan membawa seteko teh dan juga beberapa cemilan.
Pelayan tersebut menyajikan teh tersebut dan memberikan gula sesuai keinginan Tuan Calhoun dan Tuan Ananta.
"Baiklah. Langsung ke intinya saja! Apa kau punya waktu malam ini?" Tanya Tuan Ananta dengan tatapan seriusnya.
"Ya, kenapa?" Tanya Ravettha.
"Kami mempunyai dua karcis yang tersisa untuk menghadiri festival tahunan. Kami pikir kedua karcis ini sangat cocok untuk kalian berdua. Apakah kalian tertarik untuk datang bersama kami?" Tanya Tuan Calhoun.
"Baiklah. Terimakasih banyak Tuan Calhoun dan Tuan Ananta." Ucap Ravettha dan pelayan tersebut secara bersamaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG