
Setelah mendapatkan pesan pemberitahuan tersebut, ia langsung dikirim ke lantai tiga.
“Pemberitahuan: Misi di lantai ketiga ini adalah mengumpulkan 4 ekor Magical Beast yang tersebar di Pulau Arvoist. Hadiah dari misi ini adalah mendapatkan energi yang kembali penuh, 10.000 koin emas, 5.000 koin perak, dan pemulihan kesehatan. Anda juga akan mendapatkan 4 ekor Magical Beast yang telah anda kumpulkan.” Bunyi pesan tersaebut.
“Menarik. Hewan apa saja yang dapat kutemui, ya?” Pikir Ravettha.
Saat ini ia sedang berada di pinggiran Pulau Arvoist.
“Kenapa tempat ini sangat sepi? Hm... Kalau begitu aku akan mencarinya.” Pikir Ravettha.
Pulau ini dipenuhi oleh tumbuhan yang terlihat menarik dan indah, tetapi saat disentuh tumbuhan tersebut akan mengeluarkan racun yang mematikan.
“Tidak mungkin jika seluruh tumbuhan disini adalah tumbuhan beracun. Jika semuanya tumbuhan beracun maka tidak ada hewan yang masih hidup, kecuali mereka tidak makan.” Pikir Ravettha.
Ia memutuskan mencarinya dengan teliti.
Tibalah ia di sebuah danau yang luas.
Airnya sangat jernih sehingga Ravettha ingin mengambil persediaan air dari danau tersebut.
Saat ia sedang mengambil sedikit air, ia dikejutkan dengan kedatangan sesosok makhluk yang sangat besar.
Makhluk tersebut terlihat sangat marah dan penuh dengan tatapan yang tajam.
Ternyata sosok makhluk tersebut adalah seekor naga yang merupakan pemilik danau tersebut.
“Kenapa kau mengambil air dari wilayahku?” Tanya sang Naga.
“Maaf. Apakah air ini juga milik anda, Tuan Naga?” Tanya Ravettha dengan sopan.
“Benar.” Ucap sang Naga.
“Saya tidak tahu. Maaf. “ Ucap Ravettha.
Ia melihat sang Naga tersebut masih penuh amarah.
“Dari mana asalmu?” Tanya sang Naga.
“Saya? Saya berasal dari tempat yang kurang saya ketahui.” Ucap Ravettha.
“Kau kuizinkan untuk mengambil air dari wilayahku.” Ucap sang Naga tanpa menaruh rasa curiga kepada Ravettha.
“Apa saya tidak salah mendengar?” Tanya Ravettha.
“Ya. Kau tidak salah mendengar.” Ucap sang Naga.
"Falext! Kau bisa mendengarkanku?" Tanya Ravettha.
"Ya, master. Ada apa?" Tanya Falext.
"Apakah kau punya alat untuk menulis? Aku membutuhkannya." Ucap Ravettha.
"Tentu, master." Ucap Falext.
Dengan seketika permintaan yang ia inginkan telah terpenuhi.
Falext memberikan sebuah buku dan pena.
"Permintaan yang anda minta telah kepersiapkan, master." Ucap Falext.
Sebelum Ravettha mengambil air dari wilayah milik sang Naga tersebut, ia mengambil sebuah buku catatan miliknya dan duduk di dekat danau tersebut.
Ia melirik sebentar ke arah sang Naga tersebut.
Lalu ia menulis beberapa kemungkinan yang akan terjadi di dalam buku catatan miliknya.
“Kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, sang Naga bisa membaca pikiran. Kedua, sang Naga memiliki rencana yang disembunyikan. Ketiga, ia benar-benar ingin memberikan air dari wilayahnya dengan tulus.” Isi tulisan di buku catatan miliknya.
Ia menutup buku dan bangun dari duduknya.
__ADS_1
Lalu ia berjalan menuju danau yang terdapat sang Naga tersebut dan mengambil sedikit air untuk persediaannya.
“Terimakasih banyak, Tuan Naga.” Ucap Ravettha dengan senang.
“Ya.” Ucap sang Naga.
“Kalau begitu saya pergi dahulu. Sampai jumpa Tuan Naga.” Ucap Ravettha dengan sopan.
Ravettha meninggalkan sang Naga tersebut.
Sang Naga tersebut menatapi kepergian Ravettha.
“Master. Apakah tidak masalah anda meninggalkannya? Bukankah anda sedang melakukan misi?” Tanya Falext yang tiba-tiba saja muncul.
“Darimana saja kau, Falext? Setelah mengirimku kemari, kau langsung menghilang. Jika tidak kupanggil, kau tidak akan kemari. Jangan bilang kau juga yang membuat misi ini?” Tanya Ravettha.
“Tentu saja bukan.” Ucap Falext dengan tegas.
“Hm... Baiklah. Kau tanya apa tidak masalah aku meninggalkannya? Jangan khawatir. Dia akan datang dengan sendirinya.” Ucap Ravettha.
“Baiklah. Saya percayakan pada anda, master.” Ucap Falext.
“Lalu dimana anda akan mencari Magical Beast yang selanjutnya?” Tanya Falext.
“Kita cari saja siapa tahu akan ketemu jika beruntung.” Ucap Ravettha.
Ravettha melanjutkan perjalannya untuk menyelesaikan misinya.
Ia berjalan menyusuri Pulau Arvoist.
Sementara itu, sang Naga berubah wujud menjadi manusia seperti Ravettha.
Ia berubah menjadi seseorang gadis yang cantik dengan busana layaknya seorang prajurit.
“Bagus. Sekarang aku sudah siap.” Pikir sang Naga.
Sang Naga tersebut mengikuti jejak Ravettha melalui air yang diberikannya.
Selama air itu belum diminum oleh Ravettha, ia dapat melihat segala tindakan yang sedang dilakukan oleh Ravettha.
Ia pun tiba tepat di dekat Ravettha dan menyembunyikan keberadaannya.
Ravettha merasa ada yang sedang bersembunyi menghindarinya dan mengikutinya selama perjalanan.
Ternyata keberadaan sang Naga tersebut diketahui oleh Ravettha, tetapi ia bersikap seolah tidak mengetahuinya.
"Dia... Tidak menyadarinya, kan? Semoga aku tidak ketahuan terlalu cepat." Pikir sang Naga.
Di saat yang sama, ia bertemu dengan seekor poenix.
Poenix itu tiba-tiba mendarat dengan buruk sehingga menyebabkan kedua sayapnya patah.
"Tolong..." Lirih sang Poenixoenix.
Karena Ravettha sedang berada di tempat yang sama, ia segera menuju ke tempat jatuhnya poenix tersebut.
Ia melihat kedua sayap poenix tersebut patah.
"Tuan poenix, izinkan saya menyembuhkan anda." Ucap Ravettha dengan sopan.
"B-Baiklah." Lirih sang Poenix yang sedang kesakitan menahan rasa sakitnya.
Ravettha langsung menyembuhkan sang Poenix tersebut dengan kemampuan penyembuhannya dengan sangat cepat.
Dengan seketika kedua sayap sang Poenix tersebut langsung kembali pulih beserta tubuhnya.
Sang Poenix tersebut sangat terkejut seakan ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Awalnya ia mengira bahwa ia hanya harus menunggu nasibnya karena tidak akan bisa terbang kembali, tetapi perkiraannya itu pun hilang.
__ADS_1
Sang Naga juga melihat semua tindakan yang dilakukan oleh Ravettha.
"Tunggu... Anak itu bisa menyembuhkan dengan sangat cepat? Tidak ada penyihir hebat yang dapat melakukannya seperti itu! Kecuali ia benar-benar bukan penyihir biasa!" Pikir sang Naga dengan sangat terkejut.
"Sudah kuduga, anak itu bukanlah anak biasa. Aku harus mencari tahu kembali lebih dalam tentangnya." Pikir sang Naga yang merasa tertantang dan tertarik.
Sang Poenix sangat senang karena kedua sayapnya kembali pulih.
"Terimakasih banyak. Bolehkah saya mengetahui nama anda, nona?" Tanya sang Poenix.
"Perkenalkan nama saya Ravettha Toftrelnd Seinoray. Bagaimana dengan anda, tuan Poenix?" Tanya Ravettha.
"Ehm... Sebenarnya saya tidak mempunyai nama." Ucap sang Poenix dengan sedikit sedih.
Ravettha langsung mengamati sang Poenix tersebut secara teliti.
"Apa ada yang salah?" Tanya sang Poenix.
"Maaf jika saya lancang. Saya sangat penasaran, sebenarnya anda poenix jantan atau betina?" Tanya Ravettha.
"Aku ini laki-laki tahu!!!" Ucap sang Poenix dengan kesal.
Ravettha hanya tertawa kecil melihat Poenix yang sedang kesal.
"Huft. Karena kau sudah menyembuhkanku, maka kau kumaafkan." Ucap sang Poenix.
"Bagaimana dengan nama Nicholas?" Tanya Ravettha.
"Nama yang bagus. Terimakasih karena telah memberikanku nama yang indah." Ucap Nicholas.
"Mulai sekarang dan detik ini saya bersedia menjadi pengikut anda, nona Ravettha." Ucap Nicholas dengan tatapan serius.
"Apa anda telah benar-benar yakin?" Tanya Ravettha.
"Apakah saya terlihat sedang bercanda?" Tanya Nicholas dengan tatapan serius.
"Baiklah. Kau diterima menjadi pengikutku." Ucap Ravettha dengan senang.
"Terimakasih, nona Ravettha." Ucap Nicholas dengan senang.
"Jendela misi!" Ucap Ravettha.
Dengan seketika, jendela misi tersebut langsung muncul.
"Misi di lantai ketiga ini adalah mengumpulkan 4 ekor Magical Beast yang tersebar di Pulau Arvoist. Hadiah dari misi ini adalah mendapatkan energi yang kembali penuh, 10.000 koin emas, 5.000 koin perak, dan pemulihan kesehatan. Anda juga akan mendapatkan 4 ekor Magical Beast yang telah anda kumpulkan. Saat ini anda telah mengumpulkan 1 ekor Magical Beast." Bunyi pesan di jendela misi.
"Klik."
Bunyi menekan tombol keluar dari jendela misi.
"Jika saya boleh tahu, anda ingin pergi kemana?" Tanya Nicholas.
Saat mendengar pertanyaan tersebut, Ravettha langsung tersenyum.
"Menuju tempat yang menarik." Ucap Ravettha.
Nicholas terlihat kebingungan mendengar apa yang dimaksud dari perkataan Ravettha.
"Saya tidak tahu anda akan kemana karena di tempat ini tidak ada yang menarik. Akan tetapi saya akan mengikuti anda kemanapun anda pergi." Ucap Nicholas.
"Baiklah. Ayo kita pergi!" Ucap Ravettha.
"Tentu." Ucap Nicholas.
Sementara itu, sang Naga yang mengikuti Ravettha secara diam-diam tersebut juga kebingungan dengan tujuan Ravettha.
"Kemana dia akan pergi? Aku harus mengikutinya!" Pikir sang Naga.
BERSAMBUNG
__ADS_1