
"Berhenti, Tunjukkan kartu ID kalian!" Ucap penjaga tembok.
Mereka pun menunjukkan kartu ID mereka dan berhasil memasuki tembok pusat Tscaxius.
Setelah melewati tembok pusat, mereka langsung disambut dengan keramaian penduduk di dalamnya yang sibuk beraktivitas, seperti berdagang, sekolah, bekerja, pelatihan, bermain, dll.
Selama di perjalanan pulang, tuan putri kecil tidak menangis lagi.
"Dia tidak menangis? Cara itu benar-benar ampuh, ya?" Tanya kakak si Ahli Sihir.
"Tepat sekali." Ucap sahabat si Ahli Sihir.
Akhirnya mereka sampai di rumah si Ahli Sihir dan kakaknya.
Rumah mereka sangat besar dan luas.
Disana juga terdapat taman, dan perpustakaan.
"Silahkan masuk. Anggap saja seperti rumah sendiri." Ucap si Ahli Sihir.
"Baiklah." Ucap sahabat si Ahli Sihir.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu, kecuali si Ahli Sihir yang sedang menuangkan teh kepada tamunya dan menyuguhkan beberapa cemilan.
Sementara, tuan putri kecil digendong oleh kakak si Ahli Sihir.
"Silahkan diminum teh nya. Ini adalah teh daun Hiotxan." Ucap si Ahli Sihir.
"Terimakasih." Ucap sahabat si Ahli Sihir.
"Jadi... Bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, adikku?" Tanya kakak si Ahli Sihir.
Si Ahli Sihir itu kemudian duduk dan menceritakan semua yang terjadi pada kakak dan sahabatnya.
Setelah si Ahli Sihir itu menceritakan, sahabatnya bertanya, "Siapa nama bayi itu? Apakah kedua orang tuanya sudah memberinya nama?"
"Belum." Ucap si Ahli Sihir.
"Bagaimana dengan nama Ravettha Toftrelnd Seinoray? Nama belakang orang tuanya diberikan kepada bayi itu dan diletakkan di nama tengah?" Tanya kakak si Ahli Sihir.
"Nama yang bagus, kak." Ucap sahabat dan si Ahli Sihir secara bersamaan.
"Baiklah." Ucap kakak si Ahli Sihir.
"Siapa yang akan menjaga bayi ini? Bagaimana keputusan kalian?" Tanya sahabat si Ahli Sihir.
"Aku bisa saat ada waktu luang dari jam kerjaku." Ucap sahabat si Ahli Sihir.
"Aku juga begitu." Ucap kakak si Ahli Sihir.
"Baiklah biar aku saja yang tangani. Aku punya waktu jika bersamaan dengan melakukan pekerjaanku. Victor, apa saja yang dibutuhkan bayi ini? Bisakah kau memberitahukannya kepadaku?" Tanya si Ahli Sihir.
__ADS_1
"Tentu saja. Dengan senang hati." Ucap sahabat si Ahli Sihir.
Setelah memberitahukan kepada si Ahli Sihir, sahabatnya tiba-tiba dipanggil oleh kepala sekolah yang merupakan atasannya di pekerjaannya.
Ia pun meminta izin untuk mengundurkan diri dari rumah sahabatnya itu.
"Terimakasih atas kemurahan hatinya. Aku ingin sekali berlama-lama disini, tetapi atasan saya memanggilku. Saya izin mengundurkan diri. Kapan-kapan saya akan berkunjung lagi kesini." Ucap sahabat si Ahli Sihir dengan sopan.
"Ya, Silahkan. Tidak perlu sungkan-sungkan." Ucap kakak si Ahli Sihir.
Sahabat si Ahli Sihir itu segera mengundurkan diri dan pergi ke tempat kerjanya.
"Jadi seperti itu ya cara merawatnya? Kau terlihat sangat serius sekali." Ucap kakak si Ahli Sihir.
"Iya. Itu benar kak. Ini merupakan tanggung jawabku karena aku yang terlibat besar di dalamnya." Ucap si Ahli Sihir.
"Baiklah. Apa kau ingat apa yang pernah kukatakan sebelumnya saat kita mau pergi ke dekat hutan Haurgeulis?" Tanya kakak si Ahli Sihir.
"Ya. Aku ingat." Ucap si Ahli Sihir.
"Bagus. Jadi jangan membebani dirimu sendiri. Kakak akan selalu membantu dan berada di sisimu." Ucap kakak si Ahli Sihir.
Si Ahli Sihir itu terharu mendengarnya, lalu ia memeluk kakaknya dan berkata, "Terimakasih, kak."
Mereka berdua merawat tuan putri itu dengan baik dan secara hati-hati.
Dan merawatnya seperti anaknya sendiri.
Tiga tahun kemudian, tuan putri kecil sudah bisa merangkak, berjalan, berlari, berbicara, membaca, menulis, dan menggunakan sihir dengan sangat baik dan lancar lebih cepat daripada anak-anak yang lainnya.
Ia selalu menghabiskan waktunya untuk belajar berbagai hal yang bisa ia lakukan disana.
Ia juga tidak pernah dilarang untuk keluar seperti bermain dengan temannya, atau pergi berlatih di alam terbuka oleh ayahnya (si Ahli Sihir) dan pamannya (kakak si Ahli Sihir).
Selama itu tidak menggangu tugas belajarnya, ia masih diperbolehkan.
Ravettha hanya menggunakan sesekali untuk bermain dengan temannya.
Biasanya ia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan, baik itu di rumahnya atau di perpustakaan pusat Tscaxius.
Perpustakaan itu digunakan untuk pengunjung yang merupakan seluruh penduduk Tscaxius dari berbagai daerah termasuk bagian pusat.
Di perpustakaan pusat Tscaxius itu sangat luas dan besar serta banyak sekali koleksi buku yang lengkap terdapat didalamnya.
Itu yang membuatnya menyukai perpustakaan daripada bermain dengan temannya.
Saat ia sedang berada di rumahnya, ayahnya memanggilnya.
"Ravettha!" Ucap si Ahli Sihir.
Suara itu berasal dari ruangan kantor ayahnya.
__ADS_1
Ravettha segera lari menuju ruangan tersebut.
"Ya, ayah. Ada apa?" Tanya Ravettha.
"Ayah hanya ingin memangilmu karena ingin memberikan kabar untukmu. Mulai besok kau harus sekolah di Akademi Percy Thaddeus!" Ucap si Ahli Sihir.
"Baik, ayah." Ucap Ravettha.
"Di Akademi Percy Thaddeus akan ada program asrama mulai tahun ini jadi kau mau ikut program ini?" Tanya si Ahli Sihir.
"Mau, ayah." Ucap Ravettha dengan senang.
"Bagus. Anak ayah sudah besar, ya?" Tanya ayah.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan keperluanku. Aku izin undur diri." Ucap Ravettha.
"Baiklah. Kau boleh pergi. Pakaian seragammu sudah ayah siapkan." Ucap ayah.
"Terimakasih, ayah." Ucap Ravettha.
Ia segera mengambil seragamnya, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menuju kamarnya untuk menyiapkan keperluannya.
Saat ia di kamarnya, ia berpikir, "Aku yakin disana akan ada banyak buku pengetahuan. Aku tidak sabar menunggu hari besok."
Ia segera menyiapkan semuanya tanpa ada yang tertinggal.
Lalu ia mempelajari semua peraturan yang ada di sekolah barunya dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sekolahnya itu.
Saat ia mencari informasi sekolahnya itu, dari buku dan sihirnya, ia berpikir, "Ini menarik... Semua fasilitas dan prasarananya sangat lengkap dan juga murid yang mendaftar tahun ini juga sangatlah banyak. Kalau begitu, aku harus berlatih lagi agar besok bisa lulus ujian penerimaan murid."
Ia langsung memulai pelatihannya di taman sampai sore.
Setelah selesai pelatihan, ia melihat pamannya pulang dari bekerja.
"Keponakanku rajin, ya? Sedang latihan sendiri?" Tanya paman.
"Iya, paman. Paman kelihatan lelah bagaimana jika paman beristirahat dahulu?" Tanya Ravettha.
"Tentu. Kudengar, besok kau akan mulai sekolah, ya?" Tanya paman.
"Iya." Ucap Ravettha.
"Bagaimana perasaanmu saat mengetahui kau akan sekolah?" Tanya paman.
"Aku sangat senang, paman." Ucap Ravettha dengan sangat senang.
Mereka berdua masuk ke rumah, sementara ayahnya melihat dari kaca jendela ruang kantornya.
Ia melihat wajah anaknya senang, dan mendengar percakapan mereka berdua.
Itu membuat dirinya senang karena ambisi yang ada pada anaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG