
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Dalton dan Ranson yang khawatir dengan bersamaan karena melihat Ravettha yang sedang bersin.
"Ya." Ucap Ravettha dengan tersenyum.
"Dalton dan Ranson... Kalian terlalu baik kepadaku. Apa kalian juga akan seperti itu kedepannya? Mari kita lihat!" Pikir Ravettha dengan menatap kedua temannya sejenak.
"Apa ada yang sedang membicarakanku? Entahlah! Aku tidak peduli dengan hal itu. Aku akan menyelesaikan semuanya! Tentunya aku tidak sendirian." Pikir Ravettha dengan memanggil para iblis yang telah terpengaruh oleh batu yang diberikan Heilox.
"Kemarilah dan penuhi seluruh perintahku, pasukan baruku! Aku yang akan memimpin kalian mulai sekarang!" Ucap Ravettha yang hanya bisa didengar oleh para pasukannya saja.
"KRETAK! KRAK! CTAK!"
Para pasukan tersebut langsung merespon panggilannya dan bangkit, lalu berlarian menghampiri pemimpinnya.
Tidak peduli melalui jalur mana yang mereka pakai, mereka hanya terfokuskan dengan slogan 'PATUHI PEMIMPIN ATAU MATI'.
Mereka berlarian dengan sangat cepat tanpa mempedulikan apa yang telah mereka hancurkan.
Para pasukan yang berlarian menuju Ravettha sangat terlihat seperti serangga yang telah tidak berdaya karena terancam punah.
Karena para pasukan berjumlah lebih dari 700.999, membuat dunia iblis terlihat seperti lautan iblis.
Tentunya, para raja, ratu, dan dewa iblis menyadari hal tersebut.
Mereka yang menyadari akan hal tersebut langsung mencari tahu asal penyebabnya, kecuali dewa iblis yang memilih diam di tempat karena ia tahu bahwa para pionnya dapat mengatasi apa yang terjadi.
Ketujuh raja dan ratu, berencana menunda pendiskusiannya dan memilih keluar dari istana milik Raja Willought untuk melihat dan mengamati apa yang terjadi di luar.
Jika perlu, mereka tidak segan-segan untuk turun tangan dan menghentikan asal penyebabnya.
"Guru! Anda mau keluar? Aku bahkan belum selesai menjelaskan apa yang ingin kukatakan kepada anda! Aku yakin diluar akan berbahaya saat ini, jadi jangan keluar!" Ucap Scott dengan menarik lengan gurunya dan mencoba untuk mendapatkan perhatiannya.
"Berisik! Apa ada alasan lain untukku mendengarkan dan mempercayaimu setelah kau mengkhianatiku?" Tanya Raja Kourtnef dengan melepas lengan Scott dari lengannya dan langsung pergi keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Apa maksud anda, guru? Aku tidak melakukannya!" Ucap Scott dengan membela dirinya sendiri dan memakai ekspresi wajah yang sama sekali tidak bersalah.
Raja Haxley yang telah berada di luar pintu ruangan tersebut ikut mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Scott.
Ia yang sedikit terkejut dan tetap bereaksi seperti biasanya hanya diam-diam memerhatikan apa yang terjadi selanjutnya saat Scott hampir berhasil melakukan rencana liciknya.
"Hah! Tidak ada penjahat yang berani mengakui kejahatannya." Ucap Raja Kourtnef dengan memalingkan wajahnya dan berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Begitupun dengan Raja Haxley yang langsung pergi karena ia melihat pertunjukan yang membosankan dan juga menghilangkan kecurigaan yang tidak perlu.
"Ck! Sayang sekali dia melewatkan kesempatan berharganya. Yah... Walaupun begitu, aku berhasil memasukkannya ke dalam itu." Pikir Scott dengan menutupi senyum yang penuh kelicikannya.
Ia yang telah melihat punggung gurunya semakin menghilang dari pandangannya membuatnya ingin segera menyaksikan sebuah pertunjukkan yang sangat menarik baginya.
"Joeyladh, Irene, dan Blacky! Apa kalian mau menemaniku menyaksikan sebuah pertunjukkan?" Tanya Scott dengan tatapan yang penuh harapan.
"Tentu saja, tuan. Kami akan sangat senang apalagi pergi bersama anda, benar kan Blacky? Anda tidak perlu menatap kami seperti itu karena perintah anda adalah kewajiban tugas bagi kami." Ucap Irene dengan sangat bersemangat.
"Itu benar!" Ucap Blacky yang ikut bersemangat.
"Baiklah! Karena semuanya sudah setuju, cepatlah! Jangan sampai kita terlambat!" Ucap Scott yang paling bersemangat dari yang lainnya.
Sementara itu, para raja dan ratu dibuat heran dan ribuan pertanyaan yang ingin diajukan kepada pelakunya.
"Dia juga muridmu, bukan?" Tanya Willought dengan menunjuk ke arah Ravettha.
Raja Kourtnef hanya terdiam di tempat dan menyaksikannya dari atas langit.
"Sepertinya begitu." Ucap Raja Leighton dengan melirik ke arah Raja Kourtnef.
Dengan jelasnya, ia melihat rekan lamanya sedang menahan emosi dan mencoba untuk menggunakan logikanya sendiri.
Semakin lama, ia bisa saja terkena tekanan darah tinggi karena terlalu banyak memendam emosinya.
__ADS_1
"Anak itu! Aku yakin dia adalah penyebab semua kekacauan ini!" Ucap Raja Willought yang telah siap untuk membunuh Ravettha.
"Tunggu! Dia hanya mengambil alih dan menguasai para iblis. Bagaimana jika kita tanyakan pendapat Kourtnef terlebih dahulu? Mungkin saja dia yang lebih mengenal baik murid-muridnya?" Tanya Raja Osmond dengan melirik ke arah Raja Kourtnef yang sedang menenangkan diri.
"Kau ada benarnya juga! Jadi bagaimana menurutmu, Kourtnef?" Tanya Raja Willought yang sudah tidak sabar untuk memberikan hukuman kepada Ravettha.
"Sepertinya aku..." Ucap Raja Kourtnef yang belum selesai mengucapkan perkataannya karena Ravettha yang langsung menghampiri para raja dan ratu termasuk dirinya.
Semakin banyak Ravettha melangkahkan kakinya, maka semakin banyak para pasukan iblis yang menghilang dari pandangan dan masuk ke dalam 5 buah portal yang saling berhubungan dengan ruang pelatihan rahasianya.
"HUSHHH!!!"
Sebuah surat muncul dari telapak tangan Ravettha dan memberikannya kepada gurunya, kemudian ia menghilang dengan sangat cepat sehingga ia tidak dihadapkan dengan seribu pertanyaan yang isi sama dan saling berkaitan dari berbagai pihak.
"Kau dapat surat darinya? Jangan katakan padaku jika dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kita." Ucap Ratu Quinasy dengan sangat kesal.
"Aku mau lihat juga!" Ucap Raja Haxley dan Raja Willought secara bersamaan.
"Begini saja, aku yang akan membacakan isi suratnya." Ucap Raja Kourtnef dengan membuka surat tersebut.
"Apa kabar guru? Kuharap anda dan yang lainnya baik-baik saja. Saya ingin minta maaf karena telah menjadi anak murid yang tidak berbakti. Anda bisa menghukumku kapanpun anda mau, tetapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk itu. Anda dan lainnya pasti bertanya-tanya tentang pelaku dari semua kekacauan ini. Maaf kembali aku tidak bisa memberitahu anda sekalian." Ucap Raja Kourtnef yang membacakannya dengan sangat lantang dan jelas.
Raja Kourtnef hanya memasang ekspresi datarnya saat membaca pesan tersebut.
"Apa? Apa yang sebenarnya ia rencanakan? Apa dia menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan?" Pikir Raja Haxley dengan memasang tatapan seriusnya.
Tanpa disadarinya, Ratu Quinasy yang bisa mendengar maupun membaca pikiran orang lain tanpa harus mengaktifkan kemampuannya.
"Sepertinya kau mengenal anak perempuan itu, Haxley?" Tanya Ratu Quinasy yang telah membaca pikiran milik Raja Haxley.
"Aku hanya pernah mendengar rumornya dan sekali melihatnya saat pertemuan antar bangsawan." Ucap Raja Haxley.
"Rumor tentang kedatangannya?" Tanya Raja Leighton.
__ADS_1
"Ya, itu benar." Ucap Raja Haxley dengan menganggukkan kepalanya.
BERSAMBUNG