
“Apa hanya aku yang melihat ada seseorang terbang di udara?” Tanya seorang peserta yang tidak sengaja melihat Ravettha.
“Mana? Aku tidak melihat siapapun kecuali orang itu!” Ucap salah satu anggota di kelompok yang sama.
Jari telunjuknya mengarah pada seorang peserta bernama Jeff Werlough.
Ia adalah peserta yang sama saat tertabrak oleh Sorayna.
“Apa yang ingin mereka lakukan di atas sana?” Tanya seorang peserta dengan kebingungan.
Ia tidak melihat ada apapun di langit termasuk awan sebagai tujuan dua lawannya.
Sementara dirinya tidak ingin terlalu dalam memikirkan di luar kemampuannya, Demon Sword merasakan ada yang mengikuti dirinya dan majikannya.
“Master! Ada seseorang mengikuti kita, apa aku diizinkan menghalanginya?” Tanya Demon Sword pada Ravettha.
“Tidak. Terus berjalan lurus ke atas!” Ucap Ravettha tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
“Baik, master!” Ucap Demon Sword berusaha menghilangkan kecemasannya dan tetap fokus mencapai titik tujuan.
Langit sama sekali tidak menunjukkan suatu tempat yang dimaksud majikannya, sedangkan dirinya merasakan dengan jelas sinyal bahaya semakin menguat.
Rasanya semakin tidak mengerti sendiri apa yang sebenarnya dimaksud oleh majikannya.
Sedikit demi sedikit ia menghapus kebingungannya dan cara itu tidak berhasil.
“Master...! Musuh anda terdeteksi kurang dari 5 meter dan anda belum memerintahkanku tugas yang lain selain mengantar anda ke langit sesuai perintah anda! Apa yang harus saya lakukan untuk melindungi anda, master?” Tanya Demon Sword.
“Pendeteksianmu juga adalah kemampuanmu, oleh karena itu aku mempercayaimu dalam tugas ini. Meskipun perintahku hanyalah mengantarku ke langit, kamu telah membantuku menarik perhatian musuh di belakang kita.” Ucap Ravettha yang bersiap melompat dan memberikan beberapa sentuhan pada rencana miliknya.
Penjelasan akan hal yang telah membingungkan Demon Sword akhirnya terpenuhi.
Ia tidak lagi merasakan akan keraguan dalam bertindak dan memutuskan.
Energi yang terkumpul di satu titik mengalir deras ke titik lainnya dengan maksimal.
Dirinya dengan penuh semangat baru berbagi tugas dan mengerjakannya dengan sebaik sekaligus setepat mungkin.
Kedua mata Ravettha melihat masing-masing titik letak pertemuan antara satu awan dengan awan lainnya.
Ia dan Demon Sword menghindari butir-butiran salju dengan melawan arus, mengumpulkannya di satu titik, dan menyelesaikan urusannya.
“Hei, nak! Apa yang ingin kau lakukan disana? Salju itu akan membahayakanmu, jadi menjauhlah!” Teriak Jeff yang terhenti 10 m dari kumpulan awan.
__ADS_1
Wajahnya benar-benar khawatir dengan anggota kelompok lain, seperti Ravettha.
Hal itu semakin menakutkan setelah melihat kumpulan awan besar dengan derasnya hujan salju.
Ia tidak tahu apa yang harus dirasakan olehnya, baik itu bangga atau menyesal telah ceroboh dalam bertindak.
Para peserta juga menyaksikan hal yang serupa dimana hujan salju hanya turun di satu titik tertentu.
“Demon Sword! Persiapkan dirimu!” Ucap Ravettha dengan mengeluarkan sebilah pedang biasa, lalu menggesekkannya.
Tidak perlu menggunakan banyak cara dalam menggesek kedua permukaan, mereka berhasil menghasilkan api kecil dan diperbesar oleh pemanggilan elemen angin.
Api itu membesar dan Ravettha langsung membakar ruang persiapan yang telah dibuat olehnya untuk mengumpulkan para awan.
Perlahan-lahan salju mulai berhenti diproduksi.
Menyadari akan hal tersebut, para peserta yang berada di daratan menyerbu dan saling mendesak agar dapat unggul dalam melenyapkan ‘Bubbling Escalade’.
“SCRING!”
Pisau listrik milik Jeff yang mengarah ke Ravettha langsung ditangkis oleh pecahan Demon Sword.
Ia tidak bisa membiarkan majikannya tersakiti dan kecewa sedikitpun.
Sementara Ravettha dengan memperhatikan para peserta berlomba-lomba meraih poin, percobaan ruang persiapan miliknya sudah hampir sempurna.
Otot-otot di punggung, terutama di bagian pangkal sayapnya telah siap untuk menyerang targetnya.
“Master! Berhati-hatilah padanya! Aura dia memiliki kemiripan dengan keturunan aura kegelapan!” Ucap Demon Sword yang cukup yakin akan apa yang ia rasakan.
Ravettha tidak menjawab ataupun bertanya lebih dalam pada pedangnya, ia hanya perlu menyaring informasi yang telah ia dapatkan.
“Siapa anggota yang kau maksud, Jeff?” Tanya Ravettha yang memperhatikan ada perubahan pola di sekitarnya.
Rangsangan syarafnya memerintahkan tubuh untuk terus waspada dan bersikap dengan kepala dingin.
Jeff terbang mendekati Ravettha untuk mengatakan suatu hal yang terasa sangat penting baginya.
“Dengar! Aku akan menganggap tidak ada kejadian disini dan bertindak seolah salju itu menghilang karena sistem ini. Jadi, jauhkan sahabat perempuanmu, Sorayna, dari pandanganku! Mengerti?” Tanya Jeff dengan penuh keseriusan pada setiap perkataan dan tindakan selanjutnya.
“Apa itu peringatan darimu?” Tanya Ravettha yang tetap memperhatikan kontak mata pada lawan bicara.
Pertanyaan Ravettha tidak dijawab dengan cepat, melainkan terlambat lebih lama.
__ADS_1
Jeff hampir kehilangan kata untuk kesepakatannya dan hanya menjawabnya dengan tidak yakin.
“Ya?!” Ucap Jeff yang kemudian terdiam menanyai diri sendiri akan perkataan yang telah diucapkannya.
“Kalau begitu, dengan senang hati kau menerima kebijakan dariku!” Ucap Ravettha dengan menjentikkan jarinya sebagai sinyal waktunya penyelesaian tugas.
Demon Sword juga tahu bahwa dirinya akan melakukan sesuai perintah majikannya sehingga secepat mungkin ia mengulur waktu untuk pintu teleportasi dan bersiap menjalankan tugasnya.
Tubuh Jeff terhenti dan tidak bisa merespon apapun dari luar tubuhnya.
Ia hanya bisa menunggu pertolongan dari anggota kelompoknya di tempat secara terpaksa.
Ravettha melangkahkan satu kakinya ke udara dan langsung mengaktifkan ‘Frosteps’ miliknya.
‘Frosteps’ yang telah aktif terhubung dengan langkah pengguna kemanapun dan bagaimana cara menggunakannya.
Ia melompat ke atas lagi dan salah satu tangannya menggenggam ‘Demon Sword’.
Percepatan langkah semakin meningkat dan sudah saatnya mereka berdua menyelesaikan misi ‘Fragment 1’.
Kekuatan penuh teralirkan dari lengan atas ke pedangnya sendiri.
Tebasan yang begitu terayun lembut menghasilkan kerusakan hebat pada sistem produksi awan di ‘Itascaria Fragment 1’
Ruang persiapan yang telah diatur transparan olehnya hanya bisa terlihat adanya kristal raksasa yang memadat di udara.
Ia yang tahu bahwa kerusakan itu langsung berteleportasi bersama pedang kesayangannya.
Jeff terlambat diselamatkan, sementara anggotanya justru menyaksikan kematiannya, tetapi tidak dengan penyebabnya.
“Ravettha!” Ucap Sorayna yang senang mendapati keberhasilan sahabatnya sendiri.
Ia berlari dan ingin segera memeluk sahabatnya, tetapi ia diharuskan mengurungkan niatnya karena satu orang, yaitu Vicenzo sendiri.
“Sayang!” Ucap Vicenzo yang menyingkirkan Sorayna dari jalannya.
Wajahnya begitu gembira berkali lipat karena dirinya merasa diperhatikan melalui ucapan dan kembali dengan selamat tanpa terluka.
Ia sangat yakin bahwa Ravettha tidak mempedulikan dan membunuh Jeff setelah melihat apa yang terjadi selama di udara.
Ravettha kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa meskipun dirinya ingin melepaskan pelukan Cedric, partnernya sendiri.
Kedua telinganya mulai memerah dan sebisa mungkin ia terhindar dari masalah baru yang tidak bisa diperhitungkannya.
__ADS_1
“Aku yang seharusnya pertama kali memeluknya bukan kau!” Ucap Sorayna yang tidak terima mendapati kekalahan.
BERSAMBUNG