
Pria tinggi bertubuh besar yang tidak dikenali tersebut menggunakan seragam kepolisian dengan atribut yang lengkap di tubuhnya.
Hal tersebut juga membuat dirinya tampak lebih menakutkan di mata para penjahat kelas menengah dan atas.
“Siapa lagi orang ini? Apa dia juga merupakan utusan kerajaan? Bagaimanapun juga mereka akan sangat berguna nantinya!” Pikir Pak Victor dengan melirik ke arah pria tersebut.
“Saya adalah Grissham Adenblert, polisi khusus di wilayah ini. Dapatkah anda sekalian berkenan meluangkan waktu sebentar? Kami hanya ingin melakukan pengintrogasian. Maaf. Sepertinya permintaan saya terlalu banyak apabila meminta anak-anak murid dari sekolah anda ini untuk ikut diintrogasi.” Ucap Grissham yang mulai sedikit gugup pada saat membicarakan permintaan terakhirnya.
“Ternyata hanya anak buah!” Pikir Pak Victor dengan menyutujui pengintrogasian tersebut.
“Oh, tidak masalah! Aku dan anak-anak murid menyetujui adanya pengintrogasian ini. Kau menyelesaikan misimu dan aku mendapatkan pertukaran informasi. Kita sama-sama akan diuntungkan.” Ucap Pak Victor dengan memanggil Sorayna,Kalvetno, dan Levord agar segera merespon panggilannya.
“Huh! Setelah melukai kami, kau memainkan peranmu lagi sebagai guru yang baik hati? Jangan bermimpi bahwa kami akan tunduk padamu!” Pikir Sorayna dengan menatap tajam ke arah Pak Victor.
“Anda benar! Ini tidak akan menjadi introgasi yang menakutkan, jadi kalian tenang saja.” Ucap Grissham dengan membujuk Sorayna, Kalvetno, dan Levord secara lebih ramah dan bersahabat.
“Ikuti saya dan kita akan menemui tempatnya!” Ucap Grissham dengan mulai memandu Pak Victor, Sorayna, Kalvetno, dan Levord yang berperan sebagai saksi mata.
Mereka berempat berjalan di belakang dan mengikuti panduan dan arahan Grissham.
Tempat pengintegrasian tersebut tidak jauh dari tempat kejadian perkara.
Terdapat banyak pegawai di berbagai bidang-bidangnya yang berkaitan dengan pengidentifikasian unsur-unsur kejadian perkara tersebut.
Tibalah mereka berlima di depan sebuah tenda yang lebih besar dibandingkan empat tenda yang lainnya.
"Pak! Saya telah membawa empat saksi mata yang saya temukan saat sedang berpatroli. Mereka adalah Victor Karl Gilderoy, seorang guru dari Sekolah Akademi Percy Thadeus, dan ketiga murid tingkat 1 Sekolah Akademi Percy Thadeus yang bernama Sorayna Eucaston Geoverra, Kalvetno Heinry Dalfatch, dan Levord Vanschtexion Aieralef." Ucap Grissham dengan memberikan hormat kepada atasannya.
"Kau tepat waktu kali ini! Detektif itu sudah tiba di tempat dan siap bertugas, jadi cepatlah temui dia!" Ucap atasan Grissham yang tidak lain bernama Brian Allard Hamilton.
__ADS_1
"Kudengar kau baru saja memanggil namaku. Apa sudah ada petunjuk yang kalian dapatkan?" Tanya seorang detektif yang muncul dari balik tirai pintu tenda.
Detektif tersebut bernama Hugo Dheyton.
Ia adalah detektif terkenal di seluruh wilayah Tscaxius karena telah berhasil memecahkan masalah-masalah yang terdapat di dalam negerinya.
Ia langsung mengeluarkan alat-alat yang biasa ia pakai, yaitu lup, buku tulis, dan pena.
"Daripada petunjuk, kami mendapatkan sumber informasinya." Ucap Pak Brian dengan melirik ke arah Pak Victor, Sorayna, Kalvetno, dan Levord.
"Anda bisa melihat dokumen-dokumen ini, Pak Hugo." Ucap Grissham dengan menyerahkan empat dokumen yang bersifat personal.
"Ya, terima kasih." Ucap Pak Hugo dengan mengambil dokumen-dokumen tersebut dan membacanya dengan sekali lihat di setiap lembarnya.
"Kalau begitu, aku akan pergi memeriksa anak buahku. Semoga berhasil, Hugo!" Ucap Pak Brian dengan melambaikan tangannya dan pergi keluar dari tempat pengintrogasian menuju tempat kejadian perkara dimana para anak buahnya telah berkumpul disana.
"Kau juga semoga berhasil, Brian!" Ucap Pak Hugo dengan membalas dukungan yang telah diberikan untuknya.
Ruangan menjadi sepi dan hanya tersisa dirinya, Pak Victor, Sorayna, Kalvetno, dan Levord.
Ia langsung mempersilahkan keempat sumber informasinya duduk senyaman mungkin di tempat yang mereka inginkan.
Untuk memberikan kenyamanan dalam mengekspresikan pendapat, Pak Hugo juga telah mempersiapkan satu sekat di sepertiga ruangan tersebut sebagai pemisah antara tempat pengintrogasian dan tempat tunggu.
Ia memanggil satu orang yang dijadikan sumber informasi pertamanya, sedangkan yang lainnya menunggu di ruang tunggu.
"Baiklah! Kita mulai saja!" Ucap Pak Hugo dengan bertepuk tangan sekali sebagai bentuk kepeduliannya terhadap para sumber informasinya.
"Sorayna Eucaston Geoverra, menurut data yang ada disini, kau adalah salah satu teman dan juga sahabatnya dari Ravettha Toftrelnd Seinoray. Pastinya kau telah mengenal seluk beluk temanmu itu. Sekarang pertanyaannya adalah apa sifat, kepribadian, watak atau apapun itu yang paling menonjol di dalam diri Ravettha?" Tanya Pak Hugo dengan duduk tepat di hadapan Sorayna dan memberikan sorot tatapan mata yang tajam hingga membuat Sorayna gugup dan hampir kehilangan kata-kata.
__ADS_1
"M-Mengapa pertanyaannya yang keluar ini? K-Kami berdua baru saling mengenal sejak kemarin pagi tepat saat ujian penerimaan murid baru dan k-kau baru saja bertanya kepadaku tentang dirinya? Yang benar saja! Aku adalah musuh yang berubah menjadi temannya!" Ucap Sorayna dengan ketidak percayaan atas pertanyaan yang telah diajukan kepadanya karena ia berpikir bahwa Pak Hugo memfitnahnya tanpa alasan dan bukti yang kuat.
Pak Hugo masih saja menatap sumber informasinya dengan sangat tajam dan hal tersebutlah yang membuat Sorayna membencinya.
"Bukankah kau memiliki 'Enemy Kingdom Infirmities Book', salah satu benda pusaka yang diturunkan oleh para pendahulunya? Kau tahu bahwa kau bisa menggunakannya kapanpun kau mau, bukan? Mengapa tidak mencobanya?" Tanya Pak Hugo dengan penuh penasaran.
"Aku memanglah pemegang buku itu dan penerus para pendahuluku, tetapi aku tidak sejahat itu hanya untuk menusuknya dari belakang! Ia adalah teman sekaligus sahabat berhargaku!" Ucap Sorayna yang menjadi kesal karena Pak Hugo mengungkit masalah rahasianya.
"Kau mulai tidak jujur dengan dirimu sendiri, nak. Sekarang pertanyaan terakhir dariku. Apa yang kau lakukan saat ledakan itu terjadi?" Tanya Pak Hugo dengan menyembunyikan senyum kecilnya.
"Ah! Benar-benar menyebalkan! Aku berada di kelasku." Ucap Sorayna dengan mencoba keluar dari ruangan pengintrogasian.
Tepat saat Sorayna keluar dari ruangan tersebut, Pak Hugo membuat sebuah catatan kecil di buku tulisnya dengan cepat.
Hal-hal yang ditulisnya berisikan hasil analisis yang telah ia dapatkan dari sumber informasi pertamanya.
"Mari kita lihat informasi kedua yang akan kita dapatkan!" Pikir Pak Hugo yang telah selesai menulis catatannya lalu meletakkan buku tulis dan tinta penanya di meja bersamaan dengan kedatangan Pak Victor.
Pak Victor yang telah disediakan kursi duduk memutuskan untuk duduk disana dan memulai pengintrogasiannya.
"Victor Karl Gilderoy, apakah menurutmu mereka akan selamat?" Tanya Pak Hugo dengan sedikit tersenyum.
Bukannya mendapatkan respon jawaban, Pak Victor menangis tersedu-sedu dan berkali-kali mengusap air matanya dengan sapu tangan miliknya.
Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk memberikan jawaban kepada Pak Hugo setelah merasa sudah cukup menangis dan menyesali perbuatannya.
"R-Ravettha! W-Walaupun kau bukanlah anakku, tetapi kau sudah seperti adik kecil yang kumiliki. Seharusnya aku mendengarkan permintaan terakhirnya dan mengosongkan jadwalku untuk menghabiskan waktuku dengannya!" Ucap Pak Victor yang tidak bisa menahan lagi cucuran air matanya yang telah tertampung banyak di sekitar kelopak matanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1