Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Kesalahan Hasil Pijakan


__ADS_3

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Bukankah kita akan memasuki pertengahan mainannya?" Tanya Kalvetno dengan tertawa kecil.


Kali ini dirinya yang menarik kerah baju Levord tanpa berpikir panjang.


Mengetahui majikannya telah dibawa pergi, tombak spiral dan calon bawahan baru mengikuti langkah kaki tuannya menuju persegi A2.


"BRUGH!"


Kalvetno yang sangat terburu-buru mengambil tindakan justru membuat sahabatnya tersebut menghantam dinding pembatas jalannya permainan.


Melihat hal tersebut terjadi pada majikannya, dua bawahannya menjadi panik dan diselimuti rasa bersalah.


"Tuan...! Ini salah k-...!" Ucap kedua bawahan secara bersamaan, meskipun perkataan mereka harus diberhentikan oleh majikannya langsung.


"Berhentilah membuat keributan saat ini!" Ucap Levord dengan menjauhkan dirinya dari dinding pembatas yang sangat siap menyakitinya kapan saja.


Ia yang baru saja menegakkan tubuhnya, ternyata langsung tertimpa oleh dua orang di sekitarnya.


"BRAK!"


Sesuatu yang pastinya lebih berat dari dirinya ataupun Kalvetno datang dengan tiba-tiba dari atas tubuh keduanya.


Kedua bawahan Levord dengan paniknya langsung menyelamatkan sang Majikan dengan penuh kecerobohan.


Mereka berdua yang masih saling tidak mengerti kekurangannya masing-masing, tanpa disadari melakukan pelanggaran untuk yang kedua kalinya.


Di saat yang bersamaan, Levord menyadari bahwa persegi yang dipijaknya dan yang lainnya kembali meluas.


Ia menoleh ke samping sekaligus menyuruh Kalvetno agar segera bangun.


"Kalvetno! Cepatlah menyingkir dari tubuhku!" Ucap Levord dengan sedikit kesal.


Dibandingkan dengan mendapatkan respon persetujuan, ia justru mendengar hal yang tidak masuk akal bagi dirinya sendiri.


"Siapa kau?" Tanya Kalvetno yang berusaha bangkit dan menjauh dari sosok yang baru ditemuinya.


"Urgh...! Sudah giliranku, ya?" Tanya sosok yang baru saja ditemui.


Sorot matanya yang terlampau tajam dan dingin memandang ke arah Levord dan Kalvetno.


Ia mengulurkan kedua tangannya tanpa memberikan senyuman hangat ataupun perkenalan diri yang singkat.


Rambut putihnya yang acak-acakan kembali dibiarkan seperti semula.

__ADS_1


Tubuhnya lebih besar dan kokoh sempurna seperti orang dewasa terlatih pada umumnya.


Sementara Levord dan Kalvetno menatapnya dengan pandangan yang penuh kecurigaan, sosok tersebut memulai inti pembicaraannya.


"Kalvetno, dan Levord! Apa kalian pernah berpikir untuk kembali ke B2?" Tanya sosok tersebut dengan melirik ke arah dua pelawak.


Lirikannya yang sama-sama dipenuhi aura kebencian akhirnya meredam karena pertanyaan Kalvetno.


"K-Kau?! Kau Vicenzo yang kami kenal, kan?!" Teriak Kalvetno secara histeris.


Ia benar-benar tidak dapat menyangkal bahwa yang berada di depannya adalah Vicenzo yang asli.


"Lebih tepatnya inilah wujud dewasaku." Ucap Vicenzo dengan menghembuskan napasnya karena ia sudah tidak punya pilihan, selain memberikan sedikit pengertian.


"Aku tidak tahu apa masalah terberatmu. Apa sekarang bisa kita bahas itu setelah semua ini berakhir?" Tanya Kalvetno dengan menghitung berapa persegi yang harus mereka lewati.


"Daripada itu, kalian berdua belum menjawab pertanyaanku!" Ucap Vicenzo dengan merangkul Levord dan Kalvetno agar lebih dekat dengannya.


"Tidak." Ucap Levord dan Kalvetno secara bersamaan.


Mendengar hal tersebut, Vicenzo langsung tersenyum kecil.


Jari telunjuknya mengarahkan yang lainnya untuk memperhatikan apa yang menarik perhatiannya.


"Apa kau bermaksud...?" Tanya Levord dengan menatap ke arah lawan bicaranya.


"Seharusnya itu jadi ideku!" Ucap Kalvetno dengan sangat bersemangat.


Ia menarik dan menggenggam kedua tangan Levord, memberikan senyuman hangatnya, dan memutar tubuh sahabatnya tersebut dengan cepat sehingga Levord tidak memiliki rencana lain.


"Woah!" Teriak Levord dengan sangat terkejut karena tindakan Kalvetno yang terlalu agresif.


Mereka berdua melompat dan diikuti dengan Vicenzo, serta dua bawahan Levord di belakangnya menuju persegi B3.


Kedua sorot mata yang tajam menyamai sebilah pedang kedua pelawak tersebut.


Gerakan mereka yang lincah dan cekatan menghasilkan tebasan minim celah.


"Yang benar saja, Levord! Ini benar-benar menakjubkan!" Teriak Kalvetno dengan menjauhi sahabatnya, meluncur di atas permukaan pedang yang tipis, dan menghindari beragam serangan pedang pelawak kedua.


"Apanya yang menakjubkan, Kalvetno?" Tanya Levord yang mulai kesal dengan perubahan mendadak terhadapnya.


Ia yang melihat lawan sebenarnya adalah dua orang yang sama akhirnya mencari cara agar tidak terpisah sendirian.

__ADS_1


Dirinya yang belum sepenuhnya yakin akan keputusannya, kembali dikejutkan dengan kedatangan Vicenzo dari arah depannya.


"Mengapa harus serius di saat seperti ini?" Tanya Vicenzo dengan mencuri 4 kartu as dan 4 kartu simbol terbaik kedua pelawak tersebut.


Ia menyelipkan setengah dari kartu curiannya dan memasukkannya ke dalam saku celana Levord.


Tidak ada tanda-tanda yang dapat dicurigai darinya, kecuali senyuman tulusnya disertai sebuah isyarat, "Nikmatilah pertunjukannya, kawan!".


Levord yang semakin kebingungan dengan maksud kedua sahabatnya langsung memilih apa yang telah menjadi bagian dari dirinya.


Tercium dengan sangat istimewa bahwa dari salah satu senjata dua pelawak tersebut mengalami kehilangan kontak.


"Kalian mencari ini?" Tanya Levord dengan mengacak-acak susunan kartu.


Wajah senang pelawak pertama berubah drastis menjadi kemarahan yang mendalam, sedangkan pelawak kedua telah mengalirkan cucuran darah merah cerah hingga akhirnya hitam membeku layaknya butiran kristal darah.


Perubahan ekspresinya justru tidak berhasil menunjukkan betapa berbahayanya mereka karena pada dasarnya, Vicenzo, Kalvetno, Levord, dan kedua anak buahnya saling mengetahui hal yang tentunya akan mengancam masing-masing nyawanya.


"Kembalikan kartu kami...!" Ucap pelawak pertama dengan sangat cemas.


Dirinya yang langsung berlari menuju Levord dengan tangannya yang meraih kartu senjatanya membuat dirinya harus merasakan kenyamanan yang telah ditunggu dirinya dan partnernya bersama-sama.


Sebuah dukungan muncul dari dalam kartu kosong tanpa penunjuk simbol tertentu.


Memiliki wajah tanpa bola mata bukanlah menjadi suatu masalah bagi Vicenzo sebagai pemanggil para bantuannya.


Ia melakukannya karena ia sangat yakin pada kemampuan dan hasil kinerja orang sekitarnya sehingga ia hanya perlu memberikan kepercayaan yang lebih masuk akal di antara kedua belah pihak.


Levord yang menyadari akan hal tersebut hanya dapat menunggu waktunya tiba.


Tepat dimana saat dukungan kartunya selesai menjalankan tugasnya, maka ia juga akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan jerih payahnya.


Tanpa disadari oleh kedua pelawak di masing-masing sisinya, perlahan-lahan kedua aksesoris wajahnya memudar dan menghilang termasuk 85% dari kekuatannya.


"Kau membuat kami berdua tertarik padamu, nak! Bersiaplah untuk menjadi tamu kami, ya?" Tanya pelawak kedua dengan memberikan sorot matanya yang tajam, sedangkan tangan kirinya menggenggam dua buah kartu, lalu tersenyum bangga.


"Levord?!" Teriak Kalvetno dengan berusaha menggenggam kedua bahu Levord.


Dirinya yang sedikit merasakan perubahan dari Levord menjadi semakin tenang.


"Apa kau ingin mengingatkan kembali untuk itu?" Tanya Levord dengan melambaikan tangannya tepat di wajah Kalvetno.


Reaksi tubuh dan napasnya yang kembali normal membuat Levord ingin memulai pembicaraannya seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan berdiri di sini saja, Levord! Kita berada dalam naungannya!" Ucap Kalvetno.


BERSAMBUNG


__ADS_2