
"Bayangan kedua ingin melapor!" Ucap bayangan kedua yang telah berhasil memasuki kediaman Ghoustord.
"Ya, silahkan!" Ucap Ravettha asli dengan memperhatikan seluruh keadaan yang terjadi di sekitar bayangan kedua.
"Disini terdapat bau anyir yang sangat menyengat walaupun sudah ditutupi oleh pewangi alami yang kemungkinan berasal dari ruangan itu." Ucap bayangan kedua.
"Segera gunakan 'Eye Sight' milikmu untuk melihat seluruh kondisi di dalam ruangan, lalu laporkan lagi kepadaku!" Ucap Ravettha asli dengan mengutak-atik keyboard hologramnya.
Bayangan kedua langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Ravettha asli.
Saat ia melihatnya, ia menemukan hal yang sangat menarik sekaligus menakjubkan.
Ia akhirnya menyadari bahwa ruangan yang ia lihat adalah ruangan penghukuman.
Banyak manusia yang menjadi tawanan yang akan segera dihukum bahkan terdapat tawanan yang telah kehilangan anggota tubuhnya.
"Lapor! Ada pemimpin yang berada di depan pintu ruangan penghukuman!" Ucap bayangan pertama dengan terburu-buru.
"Baik! Bayangan kedua segera sembunyi di tempat yang aman!" Ucap Ravettha asli.
Bayangan kedua yang mendengarnya langsung bersembunyi di suatu tempat.
Ia memutuskan untuk bersembunyi di balik atap ruangan tersebut.
Pemimpin yang dimaksud oleh bayangan pertama adalah majikan dari pelayan yang telah dibunuh oleh bayangan pertama.
"Hm... Ternyata ada tikus masuk kemari, ya?" Ucap Tuan muda dengan menarik kerah baju Upton dan Scott tanpa adanya rasa bersalah.
Upton dan Scott telah dipenuhi lumuran darah yang terdapat di tubuhnya.
"Tunggu! Itu kan Upton dan Scott! Jangan bilang jika mereka telah kalah dan menjadi tawanan orang itu!" Pikir Ravettha asli yang sedang mengamati seluruh keadaan.
"Ck! Dimana dia sekarang? Seharusnya ini tugasnya! Ah sudahlah!" Gumam Tuan muda dengan sangat kesal sehingga ia melemparkan Upton dan Scott ke lantai yang penuh dengan tengkorak dan tulang manusia.
"Urghh!"
Upton dan Scott langsung merintih sekaligus menahan rasa sakit yang mereka alami karena terkena tulang-tulang manusia yang tajam.
Sementara itu, Ravettha asli dan bayangan keduanya mengamati seluruh kelebihan, kelemahan, kemampuan, besarnya kekuatan, kecerdasan, dan identitas Tuan muda tersebut.
Tuan muda tersebut langsung mengangkat tubuh Upton dan mengarahkannya ke tempat persembunyian bayangan kedua.
__ADS_1
Dengan spontannya, bayangan kedua langsung menyamarkan dirinya sehingga tidak terlihat.
"BRAK!!!"
Tempat persembunyian bayangan kedua akhirnya terbongkar, tetapi tidak dengan keberadaan bayangan kedua.
"Hoo... Lagi-lagi tikus selalu saja bersembunyi di tempat yang kotor." Ucap Tuan muda dengan memancing amarah bayangan kedua.
"Jangan terpancing dengan perkataannya! Bersikaplah tenang dan berpikiran jernih, Ravettha!" Pikir Ravettha asli dengan meredakan amarahnya.
Ia langsung menghapus kedua bayangannya karena tugas mereka telah selesai.
"Hei! Aku tidak suka bermain petak umpet karena aku berbeda dengannya, jadi tunjukkanlah dirimu dan jangan terus bersembunyi seperti tikus yang pengecut! Kuberi waktu tiga detik..." Ucap Tuan muda yang belum selesai mengucapkan perkataannya.
"Kenapa? Padahal anda tahu bahwa anda tidak perlu mengancam dengan itu dan anda juga tahu bahwa saya akan datang dengan sendirinya, bukan?" Tanya Ravettha asli dengan tersenyum senang.
"Sebuah kehormatan telah bertemu anda, Yang Mulia Haxley." Ucap Ravettha dengan tersenyum ramah.
"PROK! PROK! PROK!"
Raja Haxley langsung bertepuk tangan dengan tersenyum bangga.
"Ternyata kau pintar menganalisis, ya? Padahal ini adalah pertemuan pertama kita secara langsung, tetapi kau langsung dapat menebak gaya berpikirku dan namaku." Ucap Raja Haxley.
"Pelayan berjas hitam yang tidak sengaja menabrakmu? Ya, dia milikku." Ucap Raja Haxley.
"Saya penasaran tentang reaksi anda jika melihat ini." Ucap Ravettha dengan mengeluarkan arwah yang telah terpisah dari tubuh pelayan Raja Haxley.
"K-K-Kau...!" Ucap Raja Haxley yang terkejut karena melihat kemampuan Ravettha yang dapat mengambil arwah tersebut dan menggenggamnya.
"Apa kau berniat untuk melaporkanku kepada gurumu?" Tanya Raja Haxley.
"Menurut anda?" Tanya Ravettha kembali dengan berpura-pura tidak tahu.
"Pft! Hahahaha! Baru kali ini aku menemukan anak manis yang kritis dan analitis! Kau tahu? Orang-orang di luar sana bahkan tidak ada yang berani menatapku selain para raja, ratu, dan dewa saja. Kau yang hanya manusia tak berdaya ini justru lebih pemberani daripada manusia yang pura-pura mati dibelakangmu. Aku jadi penasaran, apa kau kemari untuk menyelamatkan mereka atau justru ingin mengalahkanku?" Tanya Raja Haxley.
Ravettha hanya diam dan mendengarkan seluruh perkataan Raja Haxley dengan seksama.
"Jadi... Anda hanya ingin mendapatkan pengakuan dewa lagi?" Tanya Ravettha dengan membaca seluruh maksud yang tersirat dari perkataan Raja Haxley sebelumnya.
"Anak pintar! Tetapi aku paling membenci jika seseorang telah berhasil membaca rencana masa depanku!" Ucap Raja Haxley dengan mencekik leher Ravettha.
__ADS_1
"Oh ya? Apa anda juga tidak membenci pelayan kesayanganmu yang telah mati? Biar kuberitahu sedikit rahasia. Pelayan kesayanganmu itu pernah membaca pikiran dan seluruh rencanamu dengan menggunakan kemampuan pikirannya." Ucap Ravettha.
"Tidak mungkin!" Ucap Raja Haxley dengan menolak pernyataan yang telah dikatakan oleh Ravettha.
"Sudah kuduga anda tidak mengetahuinya. Kalau begitu, aku akan pergi saja untuk menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Ravettha dengan berjalan pergi.
"Tunggu! Kata siapa kau kuizinkan pergi?" Tanya Raja Haxley yang mulai marah.
"Sudah mau dimulai, ya?" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang.
Ravettha langsung merasakan sebuah keajaiban dari sekelilingnya.
"Akhirnya aku bisa melihat kemampuan 'Soul Leader' dari pengguna aslinya!" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang.
"Bangunlah, para prajuritku! Kalahkan dia!" Ucap Raja Haxley dengan membangunkan seluruh prajuritnya dengan menggunakan kemampuan 'Soul Leader' miliknya.
Prajurit yang dimaksud adalah para arwah yang dapat berubah wujud sesuai situasi.
Sebagian besar para prajuritnya bertubuh besar dan memiliki kekuatan tempur yang kuat seperti benteng pertahanan.
Sisanya adalah para prajurit yang memiliki tubuh sedang dan kecil, tetapi memiliki kelincahan, kecerdasan, dan ketangkasan dalam bertarung.
Para prajurit tersebut juga memakai baju jirah besi khusus untuk bertarung tanpa memperhambat pergerakan.
Satu persatu prajurit datang dengan kekuatan untuk mengalahkan Ravettha.
Bahkan mereka juga menyusun strategi dengan cara bekerja sama untuk mencapai tujuannya.
Sementara itu, Ravettha juga membuat rencana jangka panjangnya untuk mengalahkan para prajurit dan pemimpinnya.
"Berhenti!" Ucap Scott yang langsung bangun karena ia sudah tidak tahan dengan apa yang dialaminya dan juga keadaan sekitarnya yang mengganggu pemulihannya.
Karena tidak ada yang mendengarkan perkataannya, ia menjadi sangat kesal.
"Kubilang berhenti!" Ucap Scott yang sangat marah dengan mengeluarkan aura yang telah disembunyikannya sejak kecil.
Aura tersebut berhasil membuat seluruh pihak berhenti bertarung dan diam seperti patung tanpa bergerak sedikitpun.
"Anak itu menganggu saja! Tetapi, kekuatan apa itu? Aku yang sudah hidup beribu-ribu tahun lamanya belum pernah melihatnya!" Pikir Raja Haxley yang juga ikut menjadi diam seperti patung.
"Scott!" Pikir Ravettha yang terharu dengan kehadiran dan kebangkitan seniornya.
__ADS_1
BERSAMBUNG