Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Arahan Pak Victor


__ADS_3

Paman Elliovent berinisiatif mengajak keempat sahabat keponakannya menikmati cokelat panas dengan aneka cemilan manis yang disukai para anak-anak.


Dirinya ikut bersemangat sekaligus bangga atas kehormatannya dapat bertemu teman dekat keponakannya.


Ia benar-benar tidak menyadari bahwa sikapnya terbalik dengan adiknya.


Meskipun mereka berdua hanyalah ayah dan paman angkat, semua status sosial itu sama sekali tidak berarti besar bagi kedua pihak.


"Ellievont, adikku! Kita kedatangan tamu spesial!" Teriak Paman Elliovent dengan terburu-buru meninggalkan keempat tamunya di ruang tamu bersama keponakannya.


Tujuannya hanyalah satu, dirinya sangat ingin menyaksikan keakraban yang pernah mereka buat sama seperti keakraban dirinya bersama adiknya sejak kecil.


"Hm...? Kakak memanggilku? Siapa yang datang?" Tanya Ellievont dengan mengulangi perkataan kakaknya untuk memeriksa kembali hasil pendengarannya sekaligus mengatasi rasa lelahnya.


"SRET!"


Elliovent meluncur secepat mungkin dan menyampaikan berita terbaiknya secara langsung dari pintu kamar yang terbuka.


Wajahnya yang berseri-seri dan semangatnya yang menggelora berhasil membuat adiknya ikut merasakan hal yang sama.


"Malaikat kecil kita membawa teman-temannya! Kita sudah menantikannya, kau ingat?" Tanya Elliovent yang sangat disibukan memilah pasangan cangkir.


"Benarkah, kak?" Tanya Ellievont yang sangat terkejut mendengarnya.


"Itu benar! Mereka ada di ruang tamu! Sebelum itu, bisakah kau bantu aku berbaur dengan mereka?" Tanya Elliovent dengan tertegun malu jika memikirkan suasana yang tidak sesuai keinginannya.


"Bagus! Ini kesempatanku! Giliran kakak yang mengalah!" Ucap Ellievont dengan terburu-buru melewati kakaknya di depan pintu.


"Eh? Hei, adik!" Ucap Elliovent dengan menyeimbangkan tubuhnya dan mencegah seluruh benda yang di tangannya jatuh.


Ia yang telah ditinggalkan adiknya, tanpa mengulur waktu langsung menyelesaikan pekerjaannya di dapur.


Dengan senang hati ia menuangkan kegembiraannya pada penyelesaian tugasnya.


Sementara ia menyiapkan beberapa cemilan dan cokelat panas lebih banyak lagi, adiknya dengan penuh keramahan menerima para tamu spesialnya dan duduk santai seperti lawan bicaranya.


"Jadi, ini teman-temannya putriku?" Tanya Ellievont dengan tersenyum senang.


"Itu benar, paman!" Ucap Sorayna dan Kalvetno secara bersamaan, sedangkan Levord hanya mengangguk pelan.


Lain halnya dengan anggukan atau pernyataan, Vicenzo justru menjadi seseorang yang lebih senang di ruangannya.


Ia bahkan tidak mengindahkan Sorayna sebagai sahabat perempuan duduk di sebelah Ravettha.


"Itu kan tempat dudukku dengan Vette!" Teriak Sorayna dengan menyingkirkan Vicenzo 5 m dari dirinya.

__ADS_1


"CTAK!"


Kaki seseorang berhasil menginjak tepat di kaki kiri Vicenzo.


Ia tidak tahu siapa, tetapi hanya ada satu kemungkinan besar.


"Kau masih ingat dengan itu? Mohon kerja samanya lagi, Cedric!" Ucap Ravettha melalui telepatinya.


Mendengar sebuah pertanyaan itu, Vicenzo hanya dapat menelan ludahnya sendiri.


Ia bahkan tidak mendapatkan satupun senyuman hangat dari Ravettha sejak kedatangannya karena dirinya sangat yakin bahwa semuanya belum berakhir.


Sebuah peringatan ternyata hanyalah peringatan belaka baginya.


Di saat yang sama, kehadiran seorang tamu terdekat datang ke rumah.


"TOK! TOK! TOK!"


Suara ketukan pintu rumah semakin keras.


"Biar aku yang buka pintunya, kak!" Ucap Ellievont yang bangkit dari kursinya dan langsung menyambut tamunya.


Pintu yang baru saja terbuka tidak sampai setengah ternyata sudah cukup membuat dirinya mengetahui maksud kedatangan sahabatnya.


Meskipun wajah sahabatnya tampak tidak ada perubahan mendalam, terlihat dengan jelas bahwa detak jantungnya berdegup dengan cepat.


"Kau kemari padahal ini bukan jadwalmu. Apa keperluanmu juga keperluan mereka?" Tanya Ellievont dengan melirik ke arah putri dan teman-teman akademinya.


Tanpa berkata apapun lagi, Victor langsung menerobos masuk ke dalam rumah sahabatnya.


Ia tahu meskipun sahabatnya tidak mengatakan ia menyukai atau membencinya secara langsung, akan terlihat dengan lebih baik jika dirinya tidak menanyakan hal seperti itu sejak persahabatannya dimulai.


"Huhu! Apa yang dapat kulakukan saat menghadapi situasi yang sebaliknya? Cukup sudahi pembicaraan ini! Kalian berlima ikut aku sekarang! Aku akan memberikan pengarahan sesingkat mungkin!" Ucap Victor yang luluh seketika melihat semua calon muridnya selamat.


"GLEK!"


"Psst! Dia tidak akan menanyakan itu, kan?" Bisik Sorayna yang benar-benar bingung dengan perkataan dan tindakan seseorang yang pernah ia temui di rumah sahabatnya yang lama.


"Aku yakin 98% tidak akan terjadi!" Bisik Levord dengan mengernyitkan dahinya.


"Lalu sisanya kemana?" Bisik Vicenzo.


"Kuharap itu tidak terjadi!" Bisik Kalvetno dengan merasakan firasat yang tidak baik.


"Aku bisa dengar itu! Kutunggu di tengah lapangan belakang rumah dalam waktu 3 menit dari sekarang!" Ucap Victor dengan berteleport ke lapangan belakang rumah.

__ADS_1


Di saat Victor telah berteleport, Paman Elliovent terlambat menyajikan cemilan beserta minumannya.


"Loh? Istirahat dan bersantailah dahulu! Kami tahu kalian telah bersusah payah kemari." Ucap Paman Elliovent dengan penuh keramahan.


"Terima kasih telah merepotkan Anda, tuan! Kami akan menikmatinya setelah tugas kami selesai, benarkan teman-teman?" Tanya Sorayna dengan memanggil para sahabatnya.


"Itu benar, paman!" Ucap Vicenzo, Kalvetno, dan Levord secara bersamaan.


"Kalau begitu semoga berhasil!" Ucap Elliovent mengangguk setuju.


"Ikuti aku! Ini adalah jalan tercepatnya!" Ucap Ravettha di bagian depan.


Secepat mungkin mereka berlima mengikuti arahan Ravettha.


Tepat di penghujung jalan, kelimanya melihat lapangan rumput hijau yang membentang luas.


Di samping akan hal tersebut, Pak Victor ternyata sudah menunggu kelima calon muridnya dari lebih dua menit yang lalu.


Tanpa mempedulikan waktu lagi, mereka berlima langsung baris sejajar dan berdiri dengan posisi bersiaga.


"Kurang 4 detik! Terlambat sedetik di kemudian hari akan jadi hukuman buat kalian, mengerti?" Tanya Pak Victor dengan menatap tajam ke arah lima muridnya, sedangkan tangannya menggenggam stopwatch.


Wibawa dan sifat pembawaannya kembali keluar.


Disadari atau tidak oleh kelima muridnya, itu tidak dapat menghentikan teknik sistem pembelajarannya.


"Kami mengerti!" Ucap Levord, Ravettha, Vicenzo, Kalvetno, dan Sorayna.


"Perkenalkan nama kalian berlima dan tunjukkan seberapa besar niat kalian belajar dariku! Penjelasan setiap murid kuberikan 1 menit!" Ucap Pak Victor.


Tatapan tajamnya sama sekali tidak berubah, melainkan bertambah menakutkan.


Meskipun itu adalah kebiasaan lamanya, akan tetap bermanfaat untuk kegiatan mengajarnya.


Itulah mengapa ia masih menyukai pekerjaan barunya.


Rasa gugup yang sangat mendominasi kelima muridnya, mengharuskan mereka menggunakan cara lain dalam mengatasinya.


"Namaku Levord Vanschtexion Aieralef. Pengetahuan akan berguna bagi diriku, orang lain, dan dunia. Aku akan melakukan apapun untuk mencapai impianku!" Ucap Levord dengan mengawalinya.


"Ravettha Toftrelnd Seinoray. Aku akan membuat langkah terjauh dan berani hadapi perubahan!" Ucap Ravettha.


"Vicenzo. Namaku Vicenzo Cedric Gervais. Niat? Bukankah ada kesalahan pada perintah anda?" Tanya Vicenzo dengan mempertanyakan kembali pernyataan yang telah ia dengar.


"Tidak peduli siapa namaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menjatuhkan perkembangan diriku!" Ucap Kalvetno dengan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Sebuah kehormatan dapat belajar dari anda! Langsung saja, aku akan mengambil alih semua kesuksesan itu!" Ucap Sorayna yang memperhatikan keinginan terdalamnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2