
Sesuai perkiraan Ravettha, sosok yang bersembunyi memiliki kaitannya dengan cerita yang ia baca di buku 'Rare of Mith'.
"A-Apa? Aku tidak bisa melihat sosok aslinya? Jangan-jangan suara itu hanyalah sebagian dari manipulasi yang dilakukan oleh seseorang! Jika aku tidak bisa melihat sosok asli, dan penjelasan detail tentangnya, itu artinya ia sangat kuat! Mungkin setingkat dewa? Atau bisa lebih! Lalu siapa dia? Jika kurang lebih setingkat dewa iblis... Mungkin saja dia adalah salah satu dari pendahulu iblis yang terkuat?" Pikir Ravettha.
"Apa kau Heilox?" Tanya Ravettha yang penasaran.
"Pft! Hahahaha! Aduh! Hahahaha! Kalau kau sungguh penasaran, ikuti instruksi di pesan itu! Cepatlah karena waktunya hanya kuberi setengah jam!" Ucap suara seseorang.
"Ding~! Ikuti peta ini dan cari kunci 'Sagaz'! Batas waktu hanya 30 menit! Jika terlambat kau akan mati!" Bunyi pesan tersebut.
"Huh! Menyebalkan! Mari kita lihat apakah orang itu akan berbohong!" Pikir Ravettha.
Ia langsung menghilangkan diri sekaligus seluruh jejaknya dan langsung pergi mencari petunjuk tentang iblis terkuat yang ia pernah baca sebelumnya dan kunci 'Sagaz'.
"Apa maksud dari orang itu? Apakah dia menyuruhku hanya untuk memanfaatkanku? Jika dia hanya memanfaatkanku..." Pikir Ravettha yang tersenyum senang dengan mengaktifkan kemampuan 'Eye Sight' miliknya untuk mencari kunci 'Sagaz'.
"Ketemu! Kunci itu berada di dalam bola!" Pikir Ravettha dengan melihat dari luar gua.
"BLUB! BRULUBB! BLUB!"
Terdapat banyak gelembung air yang timbul ketika Ravettha memasuki gua tersebut.
Gelembung-gelembung air tersebut semakin lama semakin besar dan banyak hingga memenuhi gua.
Gelembung-gelembung tersebut langsung menunjukkan kepada Ravettha tentang dirinya sendiri.
"Apa ini? Gelembung ingatan? Tunggu! Kurasa bukan!" Ucap Ravettha dengan tangan hampir menyentuh gelembung air tersebut.
Karena Ravettha sangat mencurigai gelembung tersebut, ia langsung berhati-hati dalam bertindak.
"Persetan dengannya! Aku harus cepat mengambil kunci itu, lalu keluar dari tempat ini!" Pikir Ravettha dengan melirik ke arah kunci tersebut berada.
"Apa kunci itu yang kau incar?" Tanya seorang kakek tua yang muncul tepat dihadapannya dengan tersenyum ramah.
"Apakah anda penjaga gua ini?" Tanya Ravettha.
"Jika iya kenapa? Kalau bukan kenapa?" Tanya kakek tersebut yang masih tersenyum ramah.
"Kakek ini... Dia sangat kuat! Jika aku melawannya, maka aku akan mati dengan konyol! Peluang keselamatannya sangat sedikit, kemungkinan terbesarnya aku akan mengulang kembali dari lantai awal!" Pikir Ravettha.
__ADS_1
Ravettha langsung memanggil 'Demon Sword' miliknya.
"Demon Sword! Kemarilah dan pinjamkan aku kekuatan pedangmu!" Ucap Ravettha dengan mengeluarkan 'Demon Sword'.
"Kukira kau sudah melupakanku, humph!" Ucap 'Demon Sword' yang sedikit kesal.
"Kau kenal pria tua itu? Dia terlihat kuat, tetapi kekuatannya masih jauh dibawahku. Kau mau menghabisinya?" Tanya 'Demon Sword'.
"Cepat pinjamkan kekuatan pedangmu! Biarkan aku yang mengurusnya." Ucap Ravettha kepada 'Demon Sword' miliknya.
"Yah, mau bagaimana lagi?" Tanya 'Demon Sword' dengan pasrah meminjamkan sebagian kekuatannya kepada Ravettha.
Ravettha langsung melemparkan beberapa kerikil ke arah gelembung air untuk menguji dan mengalihkan perhatian kakek tersebut.
Saat kerikil pertama berhasil mengenai gelembung air yang paling besar, gelembung air tersebut justru berubah menjadi sebuah monster.
Monster tersebut sangatlah berbeda dari yang ia lihat sebelumnya karena monster tersebut masih berbentuk gelembung raksasa yang telah dilapisi oleh sihir gelap.
"Tuan! Izinkan aku membalaskan dendammu kepada bocah tak tahu diri itu!" Ucap sesosok monster dengan wajah yang mengerikan dan dipenuhi dengan rencana jahatnya.
"Tentu, anakku. Habisi dia dan lelehkan dirinya seperti emas cair!" Ucap kakek tersebut.
"Baik, tuan!" Ucap sesosok monster dengan menyeringai lebar.
Cairan tersebut berupa ludah yang mengandung racun kematian.
"Hahahaha! Rasakan hadiahku ini! Aku memberimu secara gratis loh!" Ucap sesosok monster yang masih sibuk dengan mengeluarkan racun kematian tersebut.
Ravettha yang menyadari bahaya langsung menghindari seluruh serangan tersebut dan mengulur waktu untuk mencari celah.
"Menarik!" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang dan berlari secepat kilat untuk mengelabui kakek dan monster tersebut.
Selagi ia masih berlarian, ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan kunci 'Sagaz' tanpa diketahui oleh penjaganya.
Untungnya Ravettha berhasil mendapatkannya sebelum terlambat.
"Dasar anak menyusahkan! Padahal kau hanya menguras tenagamu untuk mengelabui kami, ya?" Tanya kakek tersebut dengan sangat marah.
"Jika iya kenapa? Kalau bukan kenapa?" Tanya Ravettha dengan meniru gaya kakek tersebut saat pertama kali bertemu.
__ADS_1
Kakek yang merasa kehabisan kata-kata menjadikannya naik darah dan sangat impulsif.
"Kau! Aku tidak peduli dengan asal-usul dirimu karena tugasku hanyalah menjaga gua ini walaupun harus membunuhmu, itu sama sekali bukan masalah bagiku!" Ucap kakek tersebut yang sangat merasa kesal.
Ia langsung membangkitkan para pasukan monsternya untuk menghabisi Ravettha.
"Ah! Aku baru ingat punya janji lain! Kalau begitu kita tunda dulu pertarungannya. Sampai jumpa!" Ucap Ravettha yang telah berdiri di luar gua.
Ia langsung pergi dengan cepat dan mengikuti isi pesan yang telah ia terima sebelumnya.
Tibalah Ravettha di tempat yang dituju oleh pesan tersebut.
Tempat itu sangatlah berbeda daripada tempat lainnya.
"Aneh! Ini kan 'Kota Phomquet'! Sebuah kota yang pernah kubaca di buku sejarah! Padahal sudah benar menurut penjelasan di buku ini, tetapi mengapa tempatnya sangat berbeda 180° dengan yang ada di dalam penjelasannya?" Tanya Ravettha dengan memperhatikan dan mencari dimana kesalahannya.
'Kota Phomquet' adalah kota yang dilindungi dan juga dijadikan situs bersejarah oleh pemerintah.
Dahulu kala, tempat ini adalah sebuah kota yang makmur dan sejahtera dengan penduduk yang mayoritas kaya raya.
Sayangnya mereka diadu domba oleh sebuah pihak yang bernama FDO.
FDO adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Benny Follo Devaintson.
Para penduduk yang telah berhasil diadu domba langsung dieksploitasi kekuatan, kekayaan, pasukan, bahan persediaan demi keuntungan pribadi.
Mereka yang melawan hanya bisa pasrah dan hanya menjadi mayat terlantarkan.
Semakin tahun bertambah, para penduduk yang selalu melawan FDO berguguran bagaikan daun kering yang jatuh dari pohonnya saat musim gugur.
Karena para penduduk yang mati dengan dipenuhi dendam dan kebencian membuat kota tersebut mati dan terbengkalai.
Tidak ada yang berani memasuki wilayah tersebut hingga tahun ke 40.582.
Saat Ravettha masih sibuk dengan bukunya, tanah yang ia pijak langsung bergetar dan dilalui oleh lava yang sangat panas.
Uap panas pun muncul dari berbagai sumber.
"Ini kan kota bukan wilayah gunung berapi!" Pikir Ravettha dengan mencari apakah ada gunung berapi yang aktif di sekelilingnya.
__ADS_1
"Selamat datang, utusanku! Kau telah berhasil memenuhi persyaratannya maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan! Aku yakin kau pasti kebingungan dengan asal lava dan uap panas itu, bukan? Hehe, itu hanyalah dekorasi tambahan untuk penyambutan kedatanganmu." Ucap seseorang melalui serpihan kekuatannya.
BERSAMBUNG