
Disana sudah ada ayah dan pamannya yang menunggu untuk sarapan bersama.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama.
Setelah sarapan bersama, paman pergi bekerja dan ayah mengantarkanku ke sekolah.
Sekolah akademi ini tidak jauh dari tempat tinggalku.
Selama di perjalanan, ayah memberikannya nasihat kepadaku.
"Nak, kamu selama di akademi jangan membuat ulah. Ingat, kamu harus belajar dan berlatih dengan giat. Patuhi perkataan guru-gurumu dan laksanakan semua tugas yang mereka berikan." Ucap ayah.
"Baik, ayah." Ucap Ravettha.
Mereka berdua akhirnya berada di depan gerbang akademi.
"Ayo, ayah akan mengantarmu sampai ke kelas!" Ucap ayah dengan menarik tanganku.
Ayah terlihat sangat senang karena putri satu-satunya akan bersekolah dan hal itu membuatku senang.
Sekolah Akademi Percy Thaddeus memiliki 9 tingkat kelas dasar.
Semakin naik tingkat, maka pembelajaran kelas akan semakin sulit dan banyak sekali tugas maupun misi yang harus dilakukan.
Setelah naik tingkat ke-9, maka akan naik ke tingkat 1 kelas menengah.
Di kelas menengah, terdapat 6 tingkat kelas.
Sementara itu, terdapat 12 tingkat kelas atas.
Sekolah akademi ini memiliki 20 jurusan yang terbagi dalam 6 kategori, yaitu bagian Elementalist, Mantra Sihir, Pertahanan, Pertarungan, Penelitian, dan Penyembuhan.
Bagian Elementalist terdiri dari jurusan element api, air, udara, petir, tanah, cahaya, dan kegelapan.
Bagian mantra sihir terdiri dari jurusan mantra sihir asli, mantra sihir bayangan, mantra sihir buatan, dan mantra sihir alam.
Bagian pertahanan terdiri dari jurusan pertahanan internal, dan eksternal.
Bagian pertarungan terdiri dari jurusan jarak jauh dan jarak dekat.
Bagian penelitian terdiri dari jurusan makhluk hidup, tumbuhan, dan hewan.
Bagian penyembuhan terdiri dari jurusan perawat, dan kedokteran.
Suasana sekolah sangat ramai, banyak anak murid yang bercanda gurau dengan temannya, ada yang mencari kelasnya, ada yang sedang sarapan, dan masih banyak lagi.
Ravettha menjadi sangat bersemangat untuk memulai kehidupannya di sekolah bersama teman-temannya.
"Perhatian! Bagi murid-murid yang telah mendaftar, dipersilahkan untuk memasuki aula sekolah untuk melaksanakan pengujian agar bisa mendapatkan penempatan kelas." Ucap salah satu pengawas ujian.
"Dimohon bagi para orang tua murid-murid baru yang telah mendaftar diharapkan segera meninggalkan tempat." Ucap salah satu pengawas.
"Semoga berhasil. Ayah akan merindukanmu." Ucap ayah dengan memeluk anaknya.
__ADS_1
"Jika kau butuh uang, ayah sudah menyiapkan uang sakumu di dalam tasmu. Jangan ragu untuk memakainya." Ucap ayah dengan membelai kepala anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih, ayah. Aku akan sangat merindukanmu." Ucap Ravettha yang membalas pelukan ayahnya.
"Dah, ayah." Ucap Ravettha.
Ayahnya segera meninggalkan sekolah anaknya, sementara ia menuju aula.
Seluruh murid-murid baru menuju aula.
Ia menyadari bahwa aula yang dikatakan oleh pengawas itu berada di bagian Utara lapangan sekolahnya.
Untuk memastikan kebenarannya, ia bertanya kepada seseorang murid yang sama sepertinya.
"Permisi, apakah anda mengetahui dimana lokasi aula?" Tanya Ravettha.
"Apa kau tidak melihatnya? Dasar bodoh, tempat itu berada di bagian Utara lapangan ini. Aku jadi terlambat karena kau tahu!" Ucap seorang anak lelaki.
Saat ia berbicara dengan anak laki-laki itu, ia melihat wujud asli dan semua skill yang dimiliki anak laki-laki tersebut.
Ia mengira hanya salah lihat saja lalu memperhatikan gaya bicaranya.
"Pft. Master, bukankah Anda bisa memintaku untuk mencarikan lokasinya? Kenapa anda bertanya kepadanya?" Tanya Sistem Falext yang tiba-tiba muncul.
"Berhenti tertawa. Aku hanya memastikannya saja. Siapa nama anak yang tadi itu?" Tanya Ravettha.
"Nama anak itu adalah Levord Vanschtexion Aieraelf. Ini adalah datanya, master." Ucap Falext dengan menunjukkan data yang diperintahkan.
"Terimakasih." Ucap Ravettha.
Leveird Vanschtexion Aieraelf adalah seorang anak dari keturunan ras naga yang berasal dari suku Aieraelf.
Suku itu termasuk suku naga yang terkuat di sepanjang sejarahnya.
Suku itu selalu menghasilkan keturunan yang jenius dan memiliki bakat terhebat dari suku-suku naga lainnya.
"Ternyata benar dugaanku." Ucap Ravettha.
"Apa yang benar, master?" Tanya Sistem Falext.
"Di data ini menyebutkan bahwa anak itu merupakan keturunan ras naga. Itu artinya apa yang aku lihat saat bertemunya bukanlah kebohongan." Ucap Ravettha.
Falext menjadi sangat penasaran apa yang telah dikatakan masternya.
"Saat aku bertanya kepada anak itu, aku melihat wujud asli anak itu. Wujud aslinya yaitu naga hitam yang memiliki aura sangat kuat walaupun ia sudah sembunyikan." Ucap Ravettha.
"Itu artinya anda memiliki kemampuan melihat wujud asli seseorang." Ucap Falext.
"Selamat, master. Anda telah menyelesaikan misi tersembunyi yaitu mendeteksi wujud asli naga. Anda mendapatkan 100 koin emas, skill tembus pandang, skill mengcopy skill orang lain, dan skill pembaca pikiran." Ucap Falext.
"Koin itu bisa digunakan untuk membeli sesuatu yang anda butuhkan. Skill akan bekerja lebih baik jika levelnya semakin besar." Ucap Falext.
"Selamat, master. Anda naik level ke level 2." Ucap Falext.
__ADS_1
"Jadi maksudmu, jika aku menyelesaikan misi maka akan mendapatkan hadiah dari misi tersebut?" Tanya Ravettha.
"Benar. Semakin sulit level misinya maka hadiah akan semakin besar." Ucap Falext.
"Menarik. Aku mau ikut." Ucap Ravettha.
"Tentu." Ucap Falext.
Ia tidak memberitahu kepada Falext tentang semua skill yang ia lihat dari anak tersebut.
"Aku tidak bisa memberi tahu kepada Falext. Jika ia adalah sebuah sistem yang dibuat khusus untukku, maka ada kemungkinan ia akan membocorkan semua data dan informasiku saat bersamanya kepada orang yang membuat sistem ini. Aku semakin penasaran siapa yang membuatnya. Aku akan mencarinya setelah lulus dari sekolah ini." Pikir Ravettha.
"Aku juga harus berhati-hati dari sistem ini. Mungkin saja sistem ini bisa membaca pikiran seseorang termasuk aku. Akan kuambil kesempatan belajar darinya sampai aku berhasil agar bisa mengetahui apa saja rencananya. Walaupun ia sudah menganggapku sebagai masternya, ada kemungkinan ia hanya berpura-pura." Pikir Ravettha.
Ia memasuki aula tersebut, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
Ia menggunakan waktunya untuk membaca buku tata tertib di sekolah ini selagi menunggu namanya dipanggil.
"Kau lihat anak laki-laki itu? Kudengar ia merupakan yang terlemah di keluarganya." Ucap salah satu murid.
"Itu benar. Ia hanya menjadi aib bagi suku Aieralef saja. Bukankah ia sangat sombong?" Tanya teman dari salah satu murid.
"Ya, kau benar. Siapa namanya?" Tanya salah satu murid.
"Kudengar namanya adalah Levord Vanschtexion Aieralef." Ucap teman dari salah satu murid
"Minggir! Kau menghalangi jalanku." Ucap Levord.
"Ah... Menyebalkan. Jangan sampai kita sekelas dengannya." Ucap salah satu murid.
Levord kemudian duduk tepat dua bangku tepat dua bangku di sebelah Ravettha.
"Jangan salah paham, aku tidak bermaksud melukaimu atau terlibat denganmu." Ucap Levord dengan nada dingin dan datar.
Ravettha hanya diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Levord.
Melihat hal itu Levord sangat kesal karena diabaikan.
"Hei, kau mengabaikannya, ya?" Tanya Levord.
"Tidak, aku mendengarkanmu. Terimakasih karena sudah memberi tahu kepadaku lokasi aula." Ucap Ravettha.
"Baiklah. Asal kau tahu saja, aku sangat tidak suka diabaikan, tetapi karena kau mengatakan terimakasih. Aku maafkan." Ucap Levord.
"Siapa namamu?" Tanya Levord.
"Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Ravettha.
"Salam kenal, Rave." Ucap Levord.
Ravettha menyadari bahwa sebenarnya Levord itu tidaklah dingin maupun sombong hanya saja pikiran mereka yang terlalu berlebihan.
"Salam kenal juga, Levo." Ucap Ravettha.
__ADS_1
Lalu mereka berdua tertawa kecil karena mendengar nama panggilannya.
BERSAMBUNG