
"Tinggal yang terakhir! Yaitu peluru ini! Dalam meneliti atau menciptakan sesuatu, aku tidak boleh takut dengan resiko tertingginya walaupun itu akan merenggut nyawa!" Ucap Ravettha dengan mencoba untuk tidak menghindari wilayah yang akan dijadikan bahan percobaannya.
"Aku tahu ini akan terdengar bodoh karena telah membuang nyawa, tetapi tidak ada salahnya jika aku mencoba!" Pikir Ravettha dengan sangat penasaran.
Ia langsung melemparkan sebuah peluru tersebut ke tanah yang sedang dipijaknya.
"DOR!!!"
Sebuah ledakan yang sangat besar dan kuat telah dirasakan oleh tubuh Ravettha.
Sayangnya ia juga tidak merasakan sakit apapun.
Yang ia rasakan hanyalah jiwa dan raganya masih menyatu dengan sempurna tanpa luka sedikitpun.
Saat ia melihat apa penyebab ia masih hidup, ternyata hal tersebut terjadi karena dirinya yang memakai pelindung tubuh.
"Kapan aku mengaktifkannya?" Tanya Ravettha yang menyadari sekelilingnya telah hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan debu-debu yang berterbangan.
"Hah? Yang benar saja! Apa ini nyata?" Tanya Ravettha dengan mengamati apa yang telah dilihatnya.
"Tidak! Ini bukan khayalan! Ini sangat nyata!" Ucap Ravettha yang terkejut.
"Hm... Sejujurnya pasukanku akan bertambah kuat jika menggunakan bantuan ini di masa depan! Baiklah! Aku akan memproduksinya lebih banyak lagi setelah mengumpulkan bahan bakarnya!" Pikir Ravettha.
Ia langsung memanggil Layla untuk membuka portal keluarnya.
Layla langsung menjalankan perintah dari Ravettha.
"Master! Bagaimana hasilnya?" Tanya Lartson dengan sangat penasaran.
"Mengesankan!" Ucap Ravettha.
"Aku juga mau melihatnya!" Ucap Lartson dengan sangat bersemangat.
"Tidak bisa! Kau akan terluka dan merepotkan master!" Ucap Leonardo dengan tegas.
"Peringatan: Anda harus segera keluar dari ruangan dan segera bangun! Annie sedang mencoba untuk membangunkanmu!" Bunyi pesan peringatan di ruang pelatihan khusus untuk Ravettha.
"Baiklah! Kalau begitu kita lanjutkan perbincangan kita di lain waktu! Aku pergi dahulu!" Ucap Ravettha dengan melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Ia langsung membuka matanya dan duduk tegak di atas kasurnya.
Disana ada Annie yang telah berhasil membangunkan Ravettha.
"Nona! Ayo cepat bangun! Ini sudah hampir waktunya makan malam dan anda masih berada di atas kasur! Mari saya kenakan pakaian ini dan menata rambut anda!" Ucap Annie dengan sangat panik.
Ravettha langsung bangun dari kasurnya dan dengan cepatnya Annie melaksanakan tugasnya.
"Jujur saja aku bahkan belum sempat latihan dengan Tuan Glendy! Oh tidak!!! Waktu yang seharusnya dipakai untuk latihan terbuang sia-sia!" Pikir Ravettha dengan kesal.
Lima menit kemudian, Ravettha telah siap untuk menghadiri makan malam pertamanya bersama para senior.
Ia pun pergi menuju ruang makan dan tiba dengan tepat waktu.
"Huh! Untungnya aku tepat waktu!" Pikir Ravettha dengan napas yang terengah-engah.
Para senior lainnya ada yang memandanginya dengan tatapan sinis dan ada juga yang sibuk dengan urusannya sendiri.
"Hoi! Kau mau sampai kapan berdiri disana?" Tanya Upton yang memandanginya dengan tatapan sinisnya.
Ravettha yang mulai mendapatkan cukup udara dalam bernapasnya langsung memutuskan untuk duduk di kursi ruang makannya.
Ia justru nyaman saja saat duduk disana bersama para seniornya yang memiliki berbagai macam kepribadiannya.
Setelah semuanya berkumpul, para pelayan datang untuk menyajikan hidangan yang telah dimasak oleh koki terbaik di asramanya.
"Selera makannya selalu naik setelah memakan hidangan favoritku ini!" Ucap Marigold dengan sangat senang dan menghabiskan makanannya dengan sangat cepat.
"Hoi! Kau bisa-bisa jadi gemuk karena makan terus!" Ucap Nathaniel dengan tersenyum kecil untuk mengejeknya.
"Mana ada! Kau yang akan jadi cairan lengket karena terlalu banyak tidur! Hahaha!" Ucap Marigold yang membalas ejekannya.
"Hm..." Pikir Ravettha yang sedang memakan seluruh hidangan.
Tidak ada satupun yang mengajak Ravettha berbicara ataupun berbasa-basi.
Sayangnya Ravettha sama sekali tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh para seniornya, begitupun sebaliknya.
Ravettha justru sibuk dengan perencanaan latihannya yang semakin padat di setiap harinya.
__ADS_1
Walaupun begitu, ia sangat menyukai rutinitas berlatihnya daripada memulai percakapan dengan para seniornya.
"Ah! Aku lupa jika ada junior kita disini!" Ucap Sarah dengan tersenyum licik dengan melirik ke arah Ravettha.
Tujuannya hanyalah satu, yaitu menjatuhkan harga diri murid baru yang pastinya tidak tahu apa-apa.
Ravettha yang telah memperhatikan seluruh kebiasaan, kelebihan, dan kelemahannya dengan sangat cepat saat pertemuannya yang pertama.
"Menarik juga! Karena kurangnya perhatian dari Raja Kourtnef, mereka membuat kekacauan dan menghancurkan nama baiknya sendiri. Hal itu juga membuat mereka kehilangan identitas di hadapan dewanya. Dengan kata lain, Raja Kourtnef atau Kent itu memintaku untuk menjadi murid barunya untuk memperbaiki dan membantu dalam menaikkan harga diri para muridnya dan juga untuk mendapatkan pengakuan dari dewanya kembali!" Pikir Ravettha dengan memakan makanan penutupnya.
"Hahahaha! Kau ini tidak sopan ya, Marigold? Cepat minta maaf ke juniornya yang baru itu!" Ucap Upton dengan menasehati Marigold.
"Yang benar saja! Bukankah junior baru hanya bisa mendapatkan pengertian dari para senior dengan cara menjadi budaknya? Hei Ravettha, tundukkan kepalamu dan jadilah budak baruku!" Ucap Marigold dengan tersenyum licik.
"Berhenti mengganggunya! Dia sudah kutandai, jadi dia harus menjadi bawahanku!" Ucap Rai dengan tatapan tajamnya yang membuat seluruh juniornya takut kepadanya kecuali Ravettha.
"Humph! Dasar tidak tahu malu! Coba saja kalian berebut posisi majikan kepadaku! Aku yang akan membuat kalian tunduk kepadaku dan menyelesaikan misi ini!" Pikir Ravettha dengan tersenyum licik.
Ia mulai memainkan rencana barunya untuk mengalahkan para senior yang sudah jatuh martabatnya.
"CTAK!"
Ravettha menjentikkan jarinya yang membuat lawannya terkelabui.
Melalui jentikkan jarinya, para senior merasakan sensasi yang lebih berbeda dari tatapan mata Ravettha.
Berbagai rasa yang datang sangat beragam, mulai dari kecemasan, keputus asaan, kebodohan, ketakutan, dan kesakitan yang terasa hingga jantung dan jiwanya.
Mereka seakan-akan mati tidak berdaya dan hal itu membuat mereka merintih kesakitan.
"Hei, kenapa kalian merintih kesakitan seperti orang yang akan mati saja? Bukankah kalian suka dengan permainan yang seperti ini? Ayo bangun dong! Jangan hanya tertidur dengan lemas seperti orang lemah! Aku tahu kalian itu kuat! Ah! Kalian sedang menyembunyikan kekuatan yang kalian kumpulkan itu untuk membunuhku, ya?" Tanya Ravettha dengan tersenyum ramah.
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Kau padahal sudah berhasil menarik minat para senior untuk mengakui kehebatanmu, tetapi kau justru ingin menyakitinya bahkan membunuhnya!" Ucap Rai yang bangkit kembali setelah menahan rasa sakit yang dialaminya.
"Nah, begitu dong! Senior pertama kan adalah senior terbijak dari seluruh senior disini, bukankah senior harus membersihkan nama baik yang telah tercemar di hadapan Raja Kourtnef dan dewa kalian?" Tanya Ravettha dengan tersenyum licik.
"K-K-Kau! Beraninya kau!" Ucap Rai yang menahan rasa sakitnya karena kesakitannya semakin parah sebelum Ravettha menghentikannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1