
"KRUKK! KRREEUKKK!"
Suara raungan perut seseorang terdengar lumayan besar dan hal tersebut membuat Sorayna sebagai pelakunya menjadi malu atas tidak kesopanan dirinya.
"Ini perut apa perut?! Seingatku baru tadi pagi makan!" Pikir Sorayna dengan berpura-pura tidak tahu dengan kejadian memalukan tersebut dan mencoba senatural mungkin.
Ia langsung membuka buku daftar kegiatan sehari-harinya yang biasa ia pakai.
Di dalamnya terdapat daftar waktu dan nama kegiatan yang bermacam-macam sesuai dengan apa yang telah dirinya lakukan saat itu.
Saat ia membuka di halaman terakhir yang menunjukkan hari ini, ia benar-benar terkejut bahwa tidak ada kegiatan yang bernama 'Makan Pagi' atau yang biasa disebut dengan 'Sarapan'.
Satu persatu ia periksa kembali di daftar kegiatan hari ini, tetapi hasilnya tetap nihil.
Ia langsung membuka ke halaman sebelumnya, dilihatnya terdapat kegiatan 'Makan Malam' pada pukul setengah 8 sore, lalu ia tertidur pulas di kamarnya.
"Oh! Sial! Pantas saja aku kelaparan! Aku bahkan belum makan sejak pagi tadi dan sekarang sudah pukul 9 pagi!" Pikir Sorayna dengan melemparkan buku daftar kegiatan sehari-harinya ke lantai.
Sebenarnya keempat temannya telah mengetahui hal tersebut saat dirinya sedang sibuk memeriksa buku daftar kegiatannya, tetapi mereka bersepakat untuk tidak mengungkit hal tersebut demi menghindari hal yang merugikan mereka berlima.
"KRUUKRUUKKKK"
"Ah! Sialan! Kalian semua temani aku pergi!" Ucap Sorayna dengan sangat kesal karena ia gagal berpura-pura tidak tahu tentang kejadian memalukannya.
"Kemana? Bukankah di luar sangat berbahaya?" Tanya Kalvetno dengan penasaran karena jalan pikirannya sangat bertolak belakang dengan Sorayna.
"Ke pusat perbelanjaan. Berbahaya atau tidak itu tergantung dirimu! Pastinya kau akan tetap berada di zona nyaman tanpa perkembangan jika kau tetap pada pendirianmu!" Ucap Sorayna dengan sedikit kesal karena dirinya merasakan penolakan dari salah satu temannya.
Ia langsung membuat sebuah portal menuju pusat perbelanjaan.
"Perkataanmu ada benarnya, Sorayna. Perhatikan juga langkahmu jika kita tidak ingin terjebak bersama di perangkap yang sama." Ucap Ravettha yang sedang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Apa kau juga menolak keinginanku, Vett?" Tanya Sorayna dengan ekspresi yang mulai sedih.
"Tidak sepenuhnya. Kau hanya harus ingat bahwa aku hanya memberikanmu saran dan juga kau tidak harus melakukan apa yang kukatakan barusan." Ucap Ravettha dengan menarik tangan Sorayna untuk memasuki portal.
Mereka berlima memasuki portal tersebut dan tiba tepat di sebuah wilayah yang disebut 'Pusat Perbelanjaan Tscaxius'.
Berbagai toko berjajar di sepanjang jalan dengan beraneka macam jenisnya.
Terlihat banyak sekali pembeli dan pedagang yang sangat bersemangat melakukan masing-masing aktivitasnya.
Karena padatnya pengunjung, hal tersebut membuat 'Pusat Perbelanjaan Tscaxius' menjadi tempat yang paling sibuk setelah perkantoran dan sekolah-sekolah.
Levord dan Kalvetno langsung tertarik dengan makanan dan minuman yang dijajakan di depan matanya.
"Vett! Vicenzo! Aku yakin disini adalah tempat terbaik dengan hidangan-hidangannya yang lezat!" Ucap Sorayna dengan menggandeng tangan Ravettha dan berjalan masuk ke dalam sebuah restoran yang bernama 'Oderia's Restaurant'.
"Kau melihatnya dari segi pembeli atau cita rasanya? Pembeli yang ramai belum tentu rasanya lezat dan begitupun sebaliknya." Ucap Kalvetno yang baru saja muncul dari belakang punggung Sorayna dan disusul oleh Levord.
Mereka berdua masih sibuk memakan makanannya masing-masing.
Sedangkan Levord telah membeli satu buah waffle yang berukuran besar dengan berisikan 3 sendok es vanilla di dalamnya, madu, beberapa buah blueberry, anggur merah, potongan buah kiwi, dan lemon di atasnya.
"Diam! Semua orang punya hak untuk mengikuti masing-masing seleranya! Ngomong-ngomong kau sedang makan es apa? Kau beli dimana?" Tanya Sorayna dengan sangat penasaran sekaligus sedang mencoba menurunkan nada suaranya dengan harapan Kalvetno mau memberi tahu tempat membelinya.
"Haduh...! Ini Gelato! Ge-la-to bukan es krim! Kau mau kubelikan?" Tanya Kalvetno yang mulai kesal lalu tersenyum ramah saat menawarkan bantuan.
"Tidak perlu! Cepat beri tahu tempatnya saja!" Ucap Sorayna yang mulai menyadari maksud dibalik senyuman ramah Kalvetno.
"Sorayna! Lihat papan jadwal itu! Restoran yang kau impikan akan segera tutup! Berikan saja aku 30 keping emas dan aku akan membelikannya untukmu!" Ucap Kalvetno dengan menyembunyikan senyum liciknya.
"Baiklah. Ini uangnya! Cepat belikan dua mangkuk gelato dengan 3 rasa, blueberry, vanilla, dan strawberry! Jangan kembali jika kau salah membelinya!" Ucap Sorayna dengan tatapan yang ingin membunuh seseorang.
__ADS_1
Kalvetno yang telah mengambil uang tersebut langsung menghampiri pedagang Gelato dan melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan tatapan yang diberikan oleh Sorayna.
"Ah! Sialan! Kenapa semua orang memakan makanannya, sih?" Ucap Sorayna yang telah terlanjur marah karena situasi terhadap dirinya.
"Kalian temani aku makan di dalam, mau kan? Aku traktir deh kali ini." Ucap Sorayna dengan membujuk ketiga temannya.
"Ya, baiklah. Aku jadi berhutang kepadamu." Ucap Ravettha, sedangkan Cedric hanya mengangguk setuju dengan perkataan Ravettha dan ia selalu berjalan di belakang Ravettha.
Menurutnya, selama Cedric tidak mengusiknya maka Cedric bukan jadi masalah yang besar untuk saat ini.
"Kalian makan saja dahulu. Aku ingin menghabiskan waffleku sekaligus menunggu Kalvetno selesai membeli makanannya. Lagipula aku dan Kalvetno tidak akan diizinkan memasuki restoran itu jika membawa makanan dari luar. Coba baca papan pengumuman di dekat pintu itu." Ucap Levord dengan menunjuk ke sebuah papan pengumuman yang berdiri tegak di dekat pintu masuk.
"Oh! Kau benar! Aku akan pesankan hidangan untuk kalian berdua, jadi cepatlah selesaikan urusan kalian!" Ucap Sorayna dengan menarik tangan Ravettha sehingga dirinya tidak terpisah.
Dua orang penjaga berdiri di depan pintu demi membukakan pintu bagi para pengunjung restorannya.
Meja-meja berbentuk lingkaran tersusun rapih dengan dikelilingi kursi-kursi yang berpaduan dengan tema restoran tersebut.
Tepat! Tema restoran tersebut adalah 'Italian Modern'.
Para pramusaji berkeliling mengantarkan pesanan hidangan yang telah dipesan oleh para pembelinya dengan sangat hati-hati.
Senyuman, canda tawa, rasa suka, kepuasan, dan kebahagian terukir dengan jelas di dalam para penikmatnya.
Kebanyakan dari mereka berasal dari golongan atas.
Dibandingkan rasa kagum pada pemandangan yang sedang Ravettha lihat, ia lebih merasakan seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh.
Ia sangat tahu bahwa apabila ia mencarinya sekarang justru hanya akan menimbulkan masalah sehingga ia memutuskan untuk berpura-pura mengabaikannya dan bersikap seolah seperti biasanya supaya orang tersebut datang dengan sendirinya pada saat yang tepat.
"Sayang! Aku akan selalu melindungimu walaupun aku harus berada di dalam lubang kegelapan!" Pikir Cedric dengan menatap seseorang yang telah memperhatikan Ravettha dari jauh.
__ADS_1
Ravettha yang berhasil mengetahui jalan pikiran Cedric membuatnya sedikit tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya mengikuti iringan tangan Sorayna yang selalu menggenggamnya.
BERSAMBUNG