Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pelajaran Pertama


__ADS_3

Ia mulai memperkenalkan dirinya sendiri.


"Perkenalkan namaku Sorayna Eucaston Geoverra. Jangan sungkan untuk berteman denganku. Mohon bantuannya." Ucap Sorayna.


Lalu ia memilih tempat duduknya dan berkata, "Aku mau duduk disini!"


"Baiklah, hari ini bapak akan menjelaskan pelajaran kita di hari pertama, tetapi sebelum itu, apakah di antara kalian ada yang mengetahui tentang penhertian sihir?" Tanya pak Zorandh.


"Pengertian sihir... Aku pernah membacanya di buku yang diberikan sekolah kemarin sore." Pikir Ravettha.


"Saya, pak." Ucap Ravettha.


"Silahkan." Ucap pak Zorandh.


"Sihir adalah suatu kemampuan yang timbul di dalam diri seseorang baik secara pasif maupun aktif. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan, baik dalam pengobatan, pertahanan diri, bentuk penyerangan, dll." Ucap Ravettha.


"Benar." Ucap pak Zorandh.


"Anak itu tidak seburuk yang kubayangkan ternyata." Pikir pak Zorandh dengan tersenyum.


"Apakah ada lagi yang bisa menjawab selain Ravettha?" Tanya pak Zorandh.


Tiba-tiba sekelas menjadi hening kembali, tidak ada yang berani menjawab.


"Sepertinya belum ada yang tahu, ya?" Pikir pak Zorandh.


"Baiklah, anak-anak. Bapak akan menjelaskannya." Ucap pak Zorandh.


"Sihir dibagi menjadi dua jenis, yaitu sihir cahaya dan sihir kegelapan. Melalui sihir cahaya dan kegelapan dapat digunakan untuk suatu kebutuhan yang bersifat positif dan negatif. Ilmu sihir harus digunakan untuk hal-hal yang bersifat positif dan hindari ilmu sihir yang bersifat negatif." Ucap pak Zorandh.


Setelah pak Zorandh menjelaskan panjang lebar.


"Karena bapak sudah menjelaskannya, bapak akan memberikan tugas kepada kalian, tugasnya adalah secara individu memanggil sesuatu menggunakan mantra sihir yang sudah bapak ajarkan, lalu buatlah kontrak dengannya." Ucap pak Zorandh.


"Penilaian tergantung seberapa tinggi tingkat hasil pemanggilan. Bapak tunggu paling lambat minggu depan saat pelajaran bapak. Jangan lupa kerjakan tugasnya! Semoga beruntung, anak-anak." Ucap pak Zorandh.


"Baik, pak." Ucap seluruh murid serentak.


"Apakah diantara kalian punya pertanyaan yang ingin ditanyakan?" Tanya pak Zorandh.


Kelas menjadi hening seperti biasa, antara anak yang takut bertanya atau tidak memahami apa yang telah diajarkan atau memang sudah paham hanya diam.


"Pak. Saya mau bertanya." Ucap Ravettha.


"Saya ingin tahu apa saja contoh sihir cahaya dan sihir kegelapan. Bisakah bapak menjelaskannya?" Tanya Ravettha.


"Bagus! Kukira bapak sedang mengajar patung, ternyata ada juga yang merespon walaupun hanya satu orang." Ucap pak Zorandh yang menunjukkan ekspresi kesalnya.


"Karena waktu sudah mau habis, bapak akan memberikan tugas yang kedua sebagai tugas berkelompok, yaitu mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh... Ra-Rachel? Siapa namamu tadi, nak?" Tanya pak Zorandh kepada Ravettha.

__ADS_1


"Ravettha, pak." Ucap Ravettha.


"Iya. Jadi tugas kalian ada dua, tugas pertama dan kedua dikumpul minggu depan saat pembelajaran bapak. Jika tidak mengerjakannya, kalian sudah tahu, bukan?" Tanya pak Zorandh yang menatap tajam dengan penuh amarah kepada seluruh murid.


"Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya." Ucap pak Zorandh.


Pak Zorandh segera meninggalkan kelas dan melanjutkan mengajar di kelas lain.


"KRING!"


Bunyi bel berbunyi dengan keras dari luar yang menandakan waktu istirahat tiba.


"Yey! Waktu istirahat tiba. Ayo kita ke kantin kawan!" Ucap seseorang kepada temannya.


"Tentu. Ayo cepat sebelum kehabisan menunya!" Ucap seseorang kepada temannya itu.


"Levo! Mau ke kantin bersama?" Tanya Ravettha.


"Tentu." Ucap Levord.


"Sebelum ke kantin, aku mau ajak satu orang kenalanku. Kau bisa mengajak siapapun yang kau mau." Ucap Ravettha.


"Benar juga." Ucap Levord.


"Hei, Kal! Mau ke kantin bersama?" Tanya Levord kepada temannya yang sangat misterius dan dingin, yaitu Kalvetno Heinry Dalfatch.


"B-Baiklah." Ucap Kalvetno.


"Sorayna! Mau ke kantin bersama?" Tanya Ravettha.


"Untuk apa aku pergi bersamamu, jika kau bersujud minta maaf kepadaku maka aku akan pergi kesana." Ucap Sorayna dengan penuh amarah.


"Apa maksudmu? Oh, aku tahu sekarang. Kau mau mengancamku karena aku tidak membangunkanmu tadi pagi?" Tanya Ravettha.


"Benar. Karena kau aku jadi kehilangan muka di depan guru, nilai sikapku turun karena terlambat, dan tidak disiplin bangun pagi. Ini semua salah kau!" Ucap Sorayna.


"Sudah kubangunkan, tetapi kau yang tidak mau bangun." Ucap Ravettha.


Ravettha mengingatkan serpihan ingatan milik Sorayna sebelum berangkat sekolah.


"T-Tidak mungkin. Kau sengaja mengubahnya, bukan? Dasar licik dan rendahan!" Ucap Sorayna.


"Hm... Apa aku harus melakukannya sekarang, ya? Bagaimana menurutmu, Falext?" Tanya Ravettha.


"Biarkan saya saja yang mengurusnya, master." Ucap Falext.


Sorayna sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Ravettha.


Ravettha berbalik dan meninggalkan Sorayna yang tidak tahu terimakasih itu.

__ADS_1


Falext langsung mengerjakan tugas bagiannya.


Terdapat seseorang yang memasuki sebuah dimensi.


Seseorang itu memakai pakaian yang sangat menyeramkan, yaitu baju yang serba hitam dengan jas panjang berwarna hitam dan topeng dengan wajah senyumnya yang menakutkan seperti pembunuh.


Topeng itu berwarna hitam putih dengan senyum lebarnya yang terlihat jahat.


Ia memasuki bersama Sorayna dan mulai memainkan permainan.


Sorayna memasuki dan terjebak di permainan miliknya yang ia sudah buat untuk memangsa makhluk yang lemah.


Sorayna kebingungan setengah mati di tempat yang gelap, lembab, sempit, dan bau.


"Dimana ini? Kenapa bau sekali? Menjijikkan!" Ucap Sorayna.


Sorayna tiba-tiba mendengar suara yang misterius.


Suara itu mengeluarkan ucapan, "Ayo bermain! 'Kejar dan Bunuh'. HAHAHA."


Seketika tubuhnya langsung menggigil dan berkeringat dingin.


Suara itu sangat menakutkan bagi Sorayna karena dirinya menganggap ingin dibunuh oleh seseorang yang misterius.


"Tap, Tap, Tap." Dan diikuti dengan suara, "KRIIIIETTT."


Itu adalah suara langkah kaki seseorang dan sebuah gesekan benda tajam.


"S-Siapa disana? J-Jangan mendekat!" Ucap Sorayna dengan ketakutan lalu ia lari menjauh sejauh yang ia bisa.


"Kenapa semakin aku berlari menjauh tempat ini semakin sempit, lembab, dan bau busuk saja?" Tanya Sorayna dengan kesal dan cemas akan keselamatannya.


"Kubilang jangan mendekat!" Teriak Sorayna.


Sayang sekali, suara itu semakin dan semakin mendekatinya.


Ia bersembunyi dibalik kegelapan yang penuh misteri itu.


Ia sangat ketakutan, lalu ia berharap akan ada seseorang yang menolongnya dengan segera.


Semakin ia berharap, bukannya keinginannya terwujud, ia justru didatangi oleh malaikat mautnya.


"Aku mohon selamatkan aku. Aku tidak mau mati disini. Aku ingin hidup lebih lama lagi dan mendapatkan teman sejati. Aku mohon biarkan aku hidup untuk sekali ini saja." Pikir Sorayna yang sedang berharap agar tidak mati lebih cepat.


Dibalik tubuhnya yang sedang bersembunyi agar tidak ketahuan oleh pembunuh tersebut, terdapat sebuah mata besar berwarna merah seperti darah yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.


"Ketemu!" Ucap seseorang.


Dari mata yang terbuka tersebut, keluar tangan yang sangat besar.

__ADS_1


Tangan itu menggenggam seluruh tubuh Sorayna dan melahap hidangan pembukanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2