
Keputusan yang berhasil mereka tetapkan adalah pencarian penyebab kematian putra mahkota, pencarian penyebab hilangnya 'Project F-078', pengangkatan putra mahkota yang baru, penghukuman kepada pembunuh putra mahkota dan pencuri 'Project F-078'.
"Baiklah! Karena keputusan telah ditetapkan, maka sekarang adalah saatnya untuk mengerahkan seluruh hal tersebut kepada para ahli!" Ucap Ratu Ophelia dengan melirik ke arah para penyelidik.
Seluruh peserta rapat yang hadir menyetujui seluruh ketetapan tersebut.
Mereka yang telah menghadiri rapat tersebut memutuskan untuk pulang ke kediamannya dan melakukan aktivitas lainnya.
Sementara itu, diantara para peserta rapat terdapat seorang mata-mata yang telah menyamar.
"Hoo... Kemanapun kalian mencarinya, kalian tidak akan bisa mengetahui seluruh kebenaran tersebut! Aku yakin bahwa kalian akan menyerah sebentar lagi!" Pikir seorang mata-mata dengan bersikap tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.
Mata-mata tersebut juga memutuskan untuk kembali ke tempat persembunyiannya yang sangat tepat untuk mengamati pergerakan mereka.
Ia bersembunyi dengan cara duduk di atas Jam Menara Quloft.
Karena ia sangat pintar bersembunyi, tidak ada yang bisa mengetahui keberadaan maupun identitas aslinya.
Dengan penglihatan jarak jauh tanpa batasnya, ia bisa mengamati seluruh penduduk termasuk para utusan Ratu Ophelia.
Tidak lupa juga ia telah menyiapkan selembar kertas sebagai laporan, pena, senjata, dan makanan sebagai penghilang rasa bosan saat menunggu targetnya.
"Benar! Aku sudah sangat lama tidak bermain-main bersama mereka! Aku sangat penasaran, apakah mereka akan mati walaupun ditembak dengan panah yang sangat kecil ini?" Ucap sang Mata-Mata dengan melempar dan menangkap panah tersebut kembali ke udara.
"Akh! Aku sudah tidak sabar untuk melihat mereka ketakutan setengah mati dan memohon ampun kepadaku! Hahahaha!" Ucap sang Mata-Mata dengan tawa jahatnya.
Tidak menunggu waktu lama, para target sang Mata-Mata telah bergerak dan memperlihatkan dirinya tanpa perlindungan yang kuat.
Perlindungan mereka hanya sebatas ksatria dan penyihir lemah yang tidak berdaya di hadapan sang Mata-Mata tersebut.
"Oh, mereka masih saja kembali ke rumah itu? Sayang sekali disana sudah tidak ada lagi harapan. Benar-benar manusia yang bodoh! Bagaimana jika ku mulai saja eksperimennya?" Tanya sang Mata-Mata dengan tersenyum licik.
Dengan penuh perhitungannya, ia membidikkan panah yang ada ditangannya dengan sangat tepat.
Panah tersebut berhasil mengenai jantung target yang sudah dilapisi oleh sihir pelindung.
Sang Mata-Mata terus membidikkan panah tersebut keseluruh utusan Ratu Ophelia dengan sangat cepat.
Walaupun sudah dilindungi dan diperingati oleh penyihir yang berada dipadukan tersebut, mereka tidak bisa melakukan perlawanan dan memilih jalan keputus asaan.
"Ini sangat menyenangkan!" Ucap sang Mata-Mata dengan tersenyum puas.
__ADS_1
"KRAUK!"
Ia langsung mengambil seluruh jantung hasil perburuannya dan langsung memakannya dengan lahap.
"Hei, Apakah kalian lihat jantung yang melayang di udara dan juga mayat para ksatria?" Tanya salah satu penduduk yang langsung ketakutan hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Aku juga lihat! Kenapa dunia ini menjadi semakin gila setelah teror itu?" Tanya salah satu penduduk yang lainnya dengan gemetar ketakutan dan kebingungan yang tergambar dengan jelas di wajahnya.
"Entahlah! Yang penting kita harus pergi dari sini secepatnya!" Ucap salah satu penduduk dengan sangat panik.
"Hoo... Kalian ingin langsung pergi? Tidak bisa! Kalian juga harus jadi santapanku!" Ucap sang Mata-Mata dengan membidik seluruh penduduk yang berada di sekitar kejadian.
"KRAUK!"
"Nyam, nyam, nyam! Ayo katakan siapa lagi yang ingin kutolong?" Tanya sang Mata-Mata dengan menggunakan kemampuan 'Fear Voice'.
Kemampuan tersebut dapat digunakan dengan cara mengubah ketakutan para target untuk menjadi peringatan terakhir kepada para targetnya.
"Suara siapa ini? Kenapa ada suara yang terdengar di kepalaku? Arghhh!" Ucap seorang penduduk yang langsung merasakan kesakitan pada seluruh organ tubuhnya.
Penduduk tersebut langsung mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Para penduduk lainnya juga mengalami hal yang sama bahkan menyebar ke seluruh penduduk di 'Wynciouft Land' kecuali sebuah titik yang berada dibawah perlindungan Tuan Ananta.
"Tidak sama sekali. Kenapa?" Ucap Roosevelt.
Ravettha hanya diam sejenak dan berusaha memahami keadaan sekitarnya.
"Aku merasakan ada sebuah energi hitam yang jahat. Energi itu melingkupi seluruh wilayah disekitar kita. Untungnya aku sempat memasang perlindungan." Ucap Tuan Ananta.
"Saya rasa ada yang sengaja melakukannya!" Ucap Eleanor.
"Aku sependapat denganmu!" Ucap Tuan Ananta.
Ravettha yang telah mencoba untuk mengamati keadaanya tersebut menyadari sesuatu.
Seluruh energi hitam yang menurut banyak orang jahat berasal dari seseorang.
Yang lebih membuatnya terkejut adalah identitas dari cahaya ungu yang pernah ia temui.
"Kent? Dia melakukannya karena nafsunya atau untuk menutupi kebenaran?" Pikir Ravettha.
__ADS_1
"Semuanya! Aku akan keluar sebentar dan memeriksa keadaan!" Ucap Ravettha kepada Tuan Ananta, Roosevelt, dan Eleanor.
"Tidak boleh! Adikku, diluar sangat berbahaya!" Ucap Roosevelt yang melarang adiknya dengan sangat tegas.
"Benar! Mungkin ini terdengar tidak menyenangkan, tetapi sekuat apapun anda jika berhadapan dengan orang itu, saya takut anda terluka." Ucap Eleanor dengan khawatir.
"Hm... Bagaimana jika kita keluar bersamaan? Tenang saja! Sihir pelindungku itu sangatlah kuat, jadi kalian tidak perlu khawatir!" Ucap Tuan Ananta.
Ravettha, Roosevelt, dan Eleanor menyetujui hal tersebut.
Mereka berempat keluar dari tempat peristirahatan dan menuju tempat kejadian tersebut.
Saat mereka berjalan keluar, mereka melihat banyak mayat yang seluruh organnya telah keluar berceceran, darah yang selalu mengalir tanpa henti, dan tulang yang berserakan.
Pemandangan tersebut sama sekali tidak membuat mereka berempat jijik ataupun benci melainkan terfokus ke arah pelaku yang telah membuatnya menjadi 'Daratan Kematian'.
Tidak ada satupun yang masih hidup termasuk para bangsawan dan Ratu Ophelia kecuali mereka berempat dan sang Pelaku.
"Hei, semuanya! Lihat! Masih ada orang di atas jam menara itu!" Ucap Roosevelt dengan tangan yang menunjuk ke arah sang Pelaku.
"Ayo kita dekati dia! Mungkin kita bisa mengetahui penyebab semua kekacauan ini!" Ucap Tuan Ananta.
Sang Mata-Mata yang menyadari kehadiran mereka berempat tersebut langsung menghampirinya tanpa disuruh.
Kali ini, ia menampakkan dirinya walaupun identitas aslinya masih dirahasiakan.
"Hai semuanya! Aku bawa banyak hadiah nih! Oh ya! Aku ingin memberi tahu kepada kalian yang sebentar lagi akan menaiki lantai selanjutnya. Kalian tahu? Kalian sangat beruntung karena masih bisa kubebaskan dari semua ini. Berterimakasihlah kepadaku!" Ucap sang Mata-Mata dengan tersenyum puas tanpa rasa bersalah.
Ditubuhnya masih dilumuri darah segar.
"Siapa kau? Apa yang kau katakan? Kau pasti yang telah membunuh mereka semua, bukan?" Tanya Roosevelt.
"Tenang dong! Kau sangat tidak sabaran sekali, ya? Kau kan sang pembunuh putra mahkota! Kenapa kau yang memarahiku? Harusnya kau senang karena sudah kubantu menyingkirkan serangga-serangga ini!" Ucap sang Mata-Mata.
"Ternyata benar kau yang membunuhnya! Lalu, apa maumu? Nyawa kami juga?" Tanya Eleanor.
"Oh, tidak! Aku kesini untuk memberikan hadiah saja kepada kalian. Ini, ambil masing-masing satu!" Ucap sang Mata-Mata dengan memberikan kotak hadiah kepada mereka berempat.
"PLAK!"
Tuan Ananta langsung menampar wajah sang Mata-Mata tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak akan menerima bantuan ataupun hadiahmu!" Ucap Tuan Ananta dengan tatapan yang penuh amarah.
BERSAMBUNG