Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Membangun Rumah Baru


__ADS_3

Vicenzo benar-benar menyaksikan ayahnya merestui pernikahannya dengan Ravettha.


Mengingat dirinya masih ingin memberikan sebuah hadiah yang belum ditunjukkan, ia langsung mengeluarkannya dalam waktu yang singkat.


Permukaan tanah yang telah jatuh hingga mendekati lapisan magma dihentikan sementara menggunakan kekuatan naga biru.


"Ini saatmu menjadi berguna, Tuan Naga!" Ucap Vicenzo mencabut segel duplikasi yang ia buat saat penyerangan awal.


"BWOOSHHH!!! SPLASH!"


Energi di dalam tubuh naga biru berubah menjadi berjuta-juta liter air hingga menutupi tanah yang terjatuh.


Danau terluas dan terdalam berhasil diciptakan oleh Vicenzo dan naga biru.


Sebuah panggung bersinar, lengkap dengan atribut dekorasinya, dan menampilkan permintaan yang ingin diutarakan Vicenzo.


"Akankah kamu tinggal di sisiku dan hidup bersama dengan generasi kita?" Bunyi permintaan yang tertulis jelas saat balon-balon merangkai setiap hurufnya sesuai rencana.


Begitu huruf terakhir telah ditampilkan, Vicenzo menekuk satu lututnya, mengeluarkan sebuah cincin pernikahan milik istrinya, dan berharap dirinya diterima tanpa penolakan sedikitpun.


Ia sungguh mengetahui bahwa persentase cinta istrinya masih 91%.


"91% sebenarnya sudah cukup, tetapi untuk 100% akan berarti istriku akan bersedia dan berkomitmen dengan hubungan kita." Pikir Vicenzo menatap istrinya dengan senyuman hangat.


"Mengesankan!" Ucap Ravettha terkagum-kagum mengetahui keseriusan suaminya.


"Bagaimana, istriku?" Tanya Vicenzo telah menyiapkan diri jika harus mendapati penolakan.


"Bagaimana apanya?! Keselamatanmu juga penting dan bahkan kamu tidak perlu berlutut jika nyawamu saja terancam!" Ucap Ravettha melewati tubuh suaminya dan menangkap sebuah jarum.


Ia sungguh beruntung telah memakai sarung tangan yang bisa digunakan untuk bekerja dan juga berperang.


Dari kejauhan terdapat putri Dieco dengan wajah penuh amarahnya.


"Jadi kau yang ada di hatinya? Baguslah! Sekarang hanya perlu menyingkirkanmu dan mengambil harta milik kalian berdua! Ayah! Kita pasti akan kaya! HAHAHAHA!" Ucap putri Dieco membesarkan tubuhnya agar suaranya pun terdengar hingga ke telinga musuhnya.


"Ya, kaya akan kematian. Itu yang kau maksud, bukan?" Tanya Ravettha menyeringai.


Hanya dengan sentuhan jari telunjuk yang mengarah setengah ke kakinya, ruang cermin dan satu 'Death Eye Leverage' membuat pertunjukan gratis tetap dilanjutkan.


"Bermainlah sampai puas dan jangan lupa tidur siang ya!" Ucap Ravettha tersenyum senang karena kalimat terakhir untuk musuhnya ini terus terekam dengan jelas di ingatan putri Dieco.


"Dimana ini? Tidak ada pintu, kunci, gembok pun tidak ada?! B-Brengsek! Aku tidak akan menyerahkan nyawaku. Ayah! Apa kamu mendengarku?" Tanya putri Dieco semakin kesal dan berharap ayahnya segera menjawab pertanyaannya.


"Aku disini putriku! Tetap disini untukmu." Ucap Dieco terbelenggu rantai merah dan dikelilingi 'Death Lover Bloom'.


Sedetik telah berjalan, 'Death Eye Leverage' bangkit secara perlahan dengan memperbanyak wujud ayahnya hingga memenuhi setiap pantulan bayangan di cermin.


Respon yang cepat membuat putri Dieco memecahkan setiap cermin.


"Hosh! Sampai kapan cermin ini terus tumbuh lagi? Jebakan ini dan menangkap ayah pasti telah menguras tenaganya. Aku yakin sebentar lagi akan melemah dan itulah saatku menghabisimu!" Ucap putri Dieco terengah-engah dalam menghancurkan puluhan cermin di sekitarnya.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak menyadari apa yang menantinya selama ini.


Terus bergerak kesana-kemari demi menghancurkan cermin beserta mata yang menyebalkan, justru membuat sebuah jarum siap mengambil napas terakhirnya.


"JLEB!"


Jarum itu menembus ubun-ubun hingga tubuh bagian bawahnya.


Nyawa, jiwa, dan roh putri Dieco telah berada di tangan Ravettha.


"Hm? Sudah selesai? Aku ingin mendengarnya merintih kesakitan atau setidaknya teriak histeris. Mengapa dia menahan semua penderitaannya? Bagus, bagus! Kau membuatnya semakin mudah!" Ucap Ravettha langsung melahap hasil tangkapannya.


"Istriku, kamu meninggikan suaramu sebelumnya... Apa kamu membenciku?" Tanya Vicenzo merasa tidak berdaya dan kehilangan semangat.


Ia sungguh ingin mengetahui bagaimana istrinya menenangkan dirinya, meskipun ia tahu bahwa nyawanya telah diselamatkan.


"Kamu ini lucu ya? Mudah membuat kesimpulan. Aku tidak keberatan jika kamu mencari perhatianku dengan segala cara. Satu hal yang perlu kamu tau, jawabanku adalah tinggal di sisimu dan hidup bersama dengan generasi kita." Ucap Ravettha mengakhiri perkataannya dengan ciuman di bibir dan pelukan hangat.


Tanpa perlu menebak respon suaminya, ia telah mengetahui bagaimana kisah mereka tepat saat dirinya dibangkitkan kembali.


Jika ini adalah pengalaman pertamanya bersama Vicenzo, mungkin dirinya sudah mati lebih dulu karena harga dirinya jatuh pada cinta yang begitu tabu di telinga.


"Kita pulang sekarang ya, istriku?" Tanya Vicenzo menggendong istrinya dan telah siap pergi meninggalkan apa yang telah terjadi di tempat ini.


"Yang Mulia! Hamba punya satu pertanyaan!" Ucap Gervais I menghentikan kepergian majikannya, meskipun hanya sebentar.


"Katakanlah apa itu!" Ucap Ravettha mengizinkan suaminya yang menggendong dirinya kali ini.


"Bisakah hamba bekerja di tempat yang sama dengan yang lainnya?" Tanya Gervais I benar-benar berharap ia tidak dipindah tugaskan dari tempat yang lama.


"Tentu saja kau masih bekerja di tempat yang sama, Gervais! Kemampuanmu sangat disayangkan jika harus dibuang sia-sia." Ucap Ravettha menyuruh bawahannya pergi ke tempat asalnya.


"Terimakasih, terimakasih, terimakasih banyak, Yang Mulia! Hamba memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan Yang Mulia." Ucap Gervais I bersujud dan memuja kebaikan atasannya.


"Ha! Baiklah! Sekarang kita sudah bisa pergi, suamiku!" Ucap Ravettha terasa akan lelah jika harus menanggapi bawahannya yang heboh.


Vicenzo yang mendapati urusan pekerjaan istrinya telah selesai langsung membawa istri terkasihnya ini pulang ke rumah barunya.


Lebih tepatnya, rumah baru yang dibangun oleh mereka berdua di masa depan.


"Sayang! Jadilah ratuku dan ratu bagi bangsa kita, ya? Aku tetap menjadi penjaga pribadimu!" Ucap Vicenzo membujuk istrinya agar sistem pemerintahan terus berjalan lancar.


"Mengapa kamu tidak mau mengambil peran sebagai raja?" Tanya Ravettha kebingungan mendapati keputusan suaminya tanpa diberitahu alasan dibaliknya.


"Raja itu melelahkan! Kemana-mana ditawari urusan pemerintahan, aku tidak mau waktu kita bersama anak-anak berkurang. Menjadi penjaga pribadimu akan membuatku bebas dan terus berada di sisimu, istriku!" Ucap Vicenzo mencium bibir istrinya agar tidak menolak keputusan yang telah dibuat.


"Baiklah, suamiku. Karena aku menghargaimu sebagai suamiku, maka aku menyetujui permintaanmu kali ini." Ucap Ravettha merasa bersyukur memiliki suami berpandangan luas ke depan.


Dengan begitu, saat ada kesulitan membuat keputusan, ia bisa meminta saran suaminya.


Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, kerajaan yang mereka bangun bersama telah berdiri kokoh dan penuh kesejahteraan.

__ADS_1


Setiap warganya memiliki hak dan kewajiban hingga membantu mewujudkan keharmonisan di berbagai aspek kehidupan.


Keluarga Vicenzo dan Ravettha pun telah memiliki tiga penerus di generasi pertama.


"Cepat! Cepatlah adik kedua! Ibu sudah bangun! Khekhekhe!" Ucap Fevanya yang menggendong adik ketiganya di punggung dan memanggil adik kedua.


"Iya, iya! Ini sudah cepat! Masih mau cepat lagi? Kakak saja yang bawa jebakannya!" Ucap Cederov iri karena melihat Haycel digendong kakak pertamanya, sedangkan dirinya mendorong sebuah kado sangat besar dari ukuran tubuh mungilnya.


"Kamu marah? Mau gantian bawa Haycel? Aku yang bawa itu daripada nanti kejutan kita gagal!" Ucap Fevanya menurunkan dan memberikan adik ketiganya ke Cederov.


"HWAAA!!!"


"Duh! Kenapa dia menangis sekarang? Ibu bisa mendengarnya!" Ucap Cederov langsung panik dan mencari cara tanpa melukai adik ketiganya.


Secepat mungkin dirinya memberi susu botol dengan tambahan potongan buah di dalamnya.


Beruntungnya ia sudah mempersiapkan hal ini bersama ayah.


Haycel akhirnya berhenti menangis dan ini membuat rencana mereka berempat berjalan sesuai keinginan.


"Sssth! Diamlah! Ibu datang kemari!" Bisik Fevanya kepada dua adiknya.


"Aku tidak ingat hari ini ada kotak hadiah untukku? Siapa yang menaruhnya disini?!" Tanya Ravettha kebingungan dan berniat memanggil suaminya untuk segera diperiksa.


"Kejutan!!!" Teriak Vicenzo, Fevanya, dan Cederov secara bersamaan, sementara Haycel terus meminum susu dan merangkak mendekati ibunya.


"PLAK!"


Seloyang kue ulang tahun mendarat di wajah Ravettha.


Ia sama sekali tidak menduga jebakan seperti ini dibuat sedemikian rupa saat dirinya lengah karena berada di sekitar anggota keluarganya.


"HAHAHAHA!!! Sayang! Wajahmu, hahahaha! Anak-anak! Ayo kabur! Penjahat akan menangkapmu!" Ucap Vicenzo masih tidak dapat menghentikan tawa.


"Woah! Gawat! Ibu akan mengamuk! HAHAHAHA!" Ucap Fevanya dan Cederov meninggalkan Haycel yang duduk di kursi kamar ibunya.


"Jadi begitu ya? Kalau begitu mari kita bersenang-senang! Putra dan putriku sudah kutangkap! Sekarang tinggal kamu loh, sayang!" Ucap Ravettha menyeringai lebar di saat membersihkan wajahnya.


"Anak-anak! Selamatkan ayah!" Teriak Vicenzo melarikan diri dari bahaya yang mengancamnya.


"Tidak mau! Ayah harus memberi kami mainan baru dulu!" Ucap Fevanya dan Cederov secara bersamaan.


"Haduhhh, kalian ini! Ayah tidak punya mainan, lalu gimana cara ayah agar bisa kabur?" Tanya Vicenzo merasa tersudut dan harus siap menerima nasib.


"Tidak tau ya! Khekhe!" Ucap Fevanya yang bekerjasama dengan Cederov.


Ketakutan menghampiri Vicenzo karena tidak mampu membayangkan nyawanya jika benar-benar habis di tangan istrinya.


"Aku mendapatkanmu, sayang!" Ucap Ravettha dengan menutup jalan keluar dan langsung mencium tepat di bibir suaminya.


"Kau tidak boleh melihatnya!" Ucap Fevanya memperhatikan dengan baik-baik kedua orang tuanya, sedangkan tangannya menutup mata adik kedua.

__ADS_1


"Aku sudah lihat tau!" Ucap Cederov begitu kesal penglihatannya terhalang.


TAMAT


__ADS_2