
Raja Kourtnef yang terlihat sangat bersungguh-sungguh saat menanyakan hal tersebut membuat Ravettha menjadi sedikit ragu dengan apa yang barusan ia dengar.
“Tunggu! Kau barusan meminta apa yang kuinginkan untuk membalas budimu?” Tanya Ravettha dengan sangat tidak percaya dengan perkataan mantan gurunya.
“Ya, itu benar! Kau bisa meminta apapun dariku. Aku tahu kau tidak akan percaya sepenuhnya kepadaku, tetapi aku akan berusaha membuatmu percaya lagi kepadaku.” Ucap Raja Kourtnef dengan melepaskan tangan dan menjauhkan pedang yang ia pegang dari tubuh Ravettha.
“Berhentilah mengemis seperti itu dan lakukan seperti yang biasa kau lakukan. Jujur saja, sebenarnya agak memalukan bagi seorang raja meminta kepercayaan dari mantan muridnya dengan cara seperti itu.” Ucap Ravettha dengan menatap Raja Kourtnef.
“A-Apa? Apa itu artinya kau t-tidak m-membenciku?” Tanya Raja Kourtnef dengan terbata-bata.
Terlihat sangat jelas bahwa Raja Kourtnef memiliki harapan yang tinggi jika asumsinya disetujui.
“Daripada membencimu, kau lebih cocok dan sangat berguna di kedepannya. Begini saja, kita buat kesepakatan tambahan. Kau bisa menganggapku sebagai muridmu dan terhindar dari segala kerugian yang akan datang dengan syarat kau harus membantuku untuk mencarikan tiga barang yang ada di kertas ini. Semua keputusan kita berdua berada ditanganmu.” Ucap Ravettha dengan memberikan selembar kertas yang dilipat membentuk amplop dan diberikan tanda penerima yang bertuliskan nama lengkap Raja Kourtnef.
“Hanya mencarikan tiga barang yang ada di daftar ini kan?” Tanya Raja Kourtnef dengan membuka daftar isi amplop tersebut.
“Ya. Apa kau keberatan?” Tanya Ravettha dengan mengujii respon dari Raja Kourtnef.
“Keberatan? Tentu saja tidak! Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menyelesaikanya dengan sangat cepat.” Ucap Raja Kourtnef dengan penuh keyakinan.
“Kuharap juga begitu.’ Ucap Ravettha dengan membuka pintu portalnya.
Tanpa ragunya, Ia mengizinkan Raja Kourtnef keluar dari dimensi tersebut.
Karena Raja Kourtnef telah keluar dari pintu tersebut, Ravettha memutuskan untuk kembali ke ruang pelatihan rahasianya.
“Master! Ternyata anda sudah kembali! Apakah ada yang terluka?” Tanya Layla dengan sedikit khawatir.
“Tidak. Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong, terimakasih atas bantuannya, partner-partnerku! Dan terimakasih juga kepada para pasukanku atas kerjasamanya.” Ucap Ravettha dengan sangat senang kepada seluruh teman-temannya.
__ADS_1
“Baiklah! Mulai saat ini kita punya misi penting! Aku yakin pasukan pertamaku sudah bekerja keras untuk berlatih meningkatkan kemampuan, bakat, pengetahuan, dan kekuatannya. Oleh karena itu, aku akan terjun langsung ke lapangan untuk menguji apa yang telah kalian pelajari. Aku tidak peduli jika kalian gagal maupun berhasil! Semuanya akan dipindahkan ke dimensi yang baru setelah mengalami pengujian. Bagi pasukan kedua, kalian akan dilatih oleh para partner kepercayaanku. Dengarkan seluruh intruksi yang mereka berikan karena mereka sangat memahami kalian. Waktunya bekerja!” Ucap Ravettha dengan sangat tegas.
Para pasukan pertama maupun kedua menjadi sangat kagum dengan kewibawaan yang dibawakan oleh Ravettha sebagai pemimpin tertingginya.
Karena terlalu kagum, mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa diam di tempat demi kepatuhan yang dibuat oleh pemimpin tertingginya.
Sementara itu, ketujuh partner Ravettha sedang berdiri di belakang majikannya dengan menutupi rasa senangnya dengan berbagai cara.
“Master! Anda sangat keren! Anda bahkan berhasil mempersuasifkan mereka untuk mendengar ajakan dan perintah anda!” Ucap Nicholas dengan mata yang berbinar-binar saat menatap masternya.
“Ini bukan apa-apa, tetapi terimakasih, Nicholas.” Ucap Ravettha dengan mengelus kepala Nicholas dengan penuh perhatian.
“Ah! Aku juga mau dielus seperti Nicholas!” Ucap Lartson dengan cemburu dan meraih tangan masternya untuk mendapatkan perhatiannya.
“BLETAK!”
“Jaga perilaku dan mulutmu, Lartson. Ingat kau bukan anak kecil! Mengerti?” Tanya Leornado dengan tatapan yang hendak membunuh jika ada yang melanggar aturan.
“Aduh! Sakit tau! Kau cepat beradaptasi dengan perubahan, ya? Melihatmu dengan memasang tatapan seperti itu saja sudah membuatku takut, apalagi dengan master.” Ucap Lartson dengan memeriksa bekas pukulan di kepalanya.
“Kalau tidak mau kupukul lagi, cepat bantu aku mengurusi pekerjaan baru kita! Lihat! Nicholas dan yang lainnya saja sudah mulai bekerja!” Ucap Leonardo dengan menarik tangan Lartson secara paksa.
“Iya, iya. Ini aku juga mau mulai.” Ucap Lartson dengan mengikuti Leonardo karena tujuannya dekat dengannya.
“Hoho! Mereka sangat semangat, ya? Senangnya! Kalau begitu, aku juga harus mulai mengurus mereka.” Gumam Ravettha setelah melihat keakraban di antara para partner dengan pasukan-pasukannya.
“Baiklah! Mulai darimu! Kemarilah dan lawan aku!” Ucap Ravettha dengan menguji satu persatu anggota pasukan pertamanya.
“Baik!” Ucap peserta ujian pertama.
__ADS_1
Ia maju dengan keyakinan bahwa dirinya mampu untuk memenangkan ujian.
“Terimalah seranganku!” Ucap peserta pertama dengan mengeluarkan ‘Blue Electricity Fire’.
‘Blue Electricity Fire’ adalah salah satu jenis kekuatan yang berasal dari campuran ‘Electric Storm’ dan ‘Blue Fire’.
Karena ‘Blue Electricity Fire’ merupakan kekuatan campuran, hal tersebut akan menguntungkan penggunanya untuk mengalahkan para musuhnya dengan kekuatan yang sangat besar tersebut.
“Cukup mengesankan! Sayangnya kau terlihat ragu saat melontarkan seranganmu sehingga menghasilkan kekuatan yang mudah dipresiksi. Jadi, jangan pernah ragu ataupun takut walaupun yang kau serang adalah orang tercintamu! Jangan salah paham, aku adalah pemimpinmu yang akan selalu memberikan perintah maupun saran demi kebaikan kalian semua.” Ucap Ravetha dengan sedikit menghindari serangan tersebut dan mendekatkan dirinya untuk memberikan saran dan penilaian.
Peserta yang sedang melakukan pengujian bersama pemimpinnya tersebut menjadi senang karena ia bisa mengetahui letak kesalahannya dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk meningkatkan seluruh kemampuannya.
“Tidak peduli seberapa menyedihkannya diriku di masa lalu karena melalui itu, aku bisa bertemu dengan orang yang tepat serta menyerap pelajaran darinya dan masa lalu.” Pikir peserta pertama dengan kembali mengeluarkan kekuatan keduanya dengan saran dan penilaian yang baru saja diberikan oleh pemimipinnya.
“BOOMMM!”
Serangan tersebut berhasil mengenai tepat sasaran dengan memanfaatkan ‘Future Eyes’ milik peserta pertama tersebut.
“Hm... ‘Iverno’ dan ‘Future Eyes’, ya? Apa hanya ini saja yang telah kau pelajari?” Tanya Ravettha dengan menyerap seluruh kekuatan yang telah ditujukan kepadanya.
“Tentu saja tidak! Tidak akan kubiarkan waktuku terbuang sia-sia tanpa berbuat apa-apa!” Ucap peserta pertama tersebut.
“Bagus! Kau lulus! Tanda tangani kertas itu dan masuklah ke dalam portal yang telah disediakan. Jangan lupa patuhi perintah yang telah kubuat melalui Rufino!” Ucap Ravettha dengan tangan yang menunjuk ke arah portal dan Rufino.
“Huwa!!! Kupikir anda telah melupakanku, Yang Mulia!” Ucap Rufino dengan menahan air matanya keluar.
“Tidak mungkin aku melupakanmu. Jika kau mau menangis, kau bisa menangis di sisiku dan mengeluarkan kesedihanmu saat mereka semua tidak ada yang melihatmu.” Ucap Ravettha dengan mengulurkan tangannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1