Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Latihan Kedua


__ADS_3

Di dalam istana terdapat Raja Kourtnef yang sedang mengamati perkembangan para muridnya secara sembunyi-sembunyi.


"Apa kabar, Yang Mulia Raja Kourtnef? Saat di pertemuan tadi, kau bahkan tidak menyapaku! Itu membuatku sangat merindukanmu!" Ucap Raja Willought yang berdiri di samping Raja Kourtnef.


"Kau sedang mengamati mereka, ya?" Tanya Raja Willought dengan melirik ke arah para murid.


Tidak sepatah katapun yang keluar dari Raja Kourtnef baik itu hanya untuk menyapanya atau menjawab pertanyaannya.


Raja Kourtnef yang selalu membenci perilaku dari Raja Willought membuatnya untuk selalu mengabaikan dan menghindarinya sebisa mungkin.


"Kau tetap saja dingin. Kau tahu? Itu sangat menyebalkan bagiku! Ah! Bagaimana, ya? Kuberikan sedikit saran, sebaiknya kau tidak mengikuti lomba di bulan depan." Ucap Raja Willought dengan tersenyum licik.


Raja Kourtnef yang selalu mengetahui perbuatan yang akan dilakukan oleh rekannya tersebut memilih untuk tidak mendengarkan saran dari Raja Willought.


"Kau kesini hanya untuk memberikan rencana busukmu itu?" Tanya Raja Kourtnef dengan tatapan tajamnya yang menusuk dan menyeramkan.


Sorotan matanya memancarkan cahaya merah yang menandakan kemarahan.


Hal tersebut berhasil membuat Raja Willought merinding, tetapi ia berusaha menyembunyikan rasa takutnya kepada Raja terkuat di antara mereka bertujuh, yaitu Raja Kourtnef sang Raja Kebanggan dan juga Penguasa Lembah Kematian.


"K-Kau pikir aku akan ketakutan dan tunduk kepadamu? Itu tidak akan pernah terjadi!" Ucap Raja Willought dengan nada yang naik turun.


"Pft! Hahahaha! Bagus! Hari ini kau telah melepaskan rasa bosanku! Lagipula aku juga tidak butuh budak baru yang bodoh sepertimu!" Ucap Raja Kourtnef yang sangat menusuk perasaan Raja Willought.


"Grrr! Jika saja kau bukan raja terkuat atau yang berpengaruh, aku sudah memakan dan menyiksamu! Teruslah seperti itu! Aku akan menghancurkannya dan semua milikmu akan jadi milikku! Hahaha!" Pikir Raja Willought dengan menahan tawanya.


"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Oh ya! Katakan padanya untuk tidak melupakan janjinya!" Ucap Raja Kourtnef yang memberikan sebuah kode kepada Raja Willought.


"Terserah kau mau bilang apa! Kuanggap tidak mendengar apapun darimu!" Ucap Raja Willought dengan dipenuhi rasa amarah dan dendam yang menyatu.


"Bisa gila aku jika terlalu dekat dengannya!" Pikir Raja Willought yang sangat benci dengan Raja Kourtnef.


"Teruslah membenciku, Willought. Itu akan sangat baik bagimu kedepannya!" Ucap Raja Kourtnef dengan tersenyum licik.


Ia langsung memalingkan wajahnya dan berfokus untuk melihat perkembangan para muridnya.


"Huh! Sial! Mereka sudah cepat selesai saja! Padahal sangat menyenangkan melihat mereka berkembang bersamaan dan menjadi yang terkuat dan terhebat!" Ucap Raja Kourtnef yang kesal karena telah diganggu oleh kedatangan Raja Willought.


"Baiklah! Aku akan memberikan latihan yang sangat keras bagi mereka mulai besok pagi! Tidak akan ada yang bisa mengalahkanku jika mereka malas karena aku sangat mengerti kelebihan dan kekurangan mereka! Lihat saja! Mereka akan takjub dengan hasil didikanku!" Pikir Raja Kourtnef.


Sementara itu, Ravettha dan seluruh para murid dibangunkan dari pingsan dan juga saling menyembuhkan dirinya.


"Kau terlihat berpengalaman padahal kau anak yang masih sangat muda! Apa kau pernah berlatih sendiri atau berlatih dengan guru lain sebelumnya?" Tanya Rai yang diam-diam mengamati kelebihan Ravettha.


"Itu benar." Ucap Ravettha dengan mengangguk setuju.

__ADS_1


"Sudah kuduga! Ingat ini, saat kau mempunyai lawan, berapapun jumlah mereka kau tidak boleh ragu ataupun ketakutan di dalam dirimu! Dan juga, kau harus pintar untuk membedakan mana lawanmu yang sebenarnya!" Ucap Rai dengan tegas.


Ravettha yang terkejut melihatnya langsung memberikan rasa terimakasihnya karena telah diberikan nasehat yang sangat penting baginya.


"Terimakasih banyak! Aku sangat senang menerimanya dan aku akan mengingatnya selalu!" Ucap Ravettha dengan penuh keyakinan.


"Kuharap juga begitu!" Ucap Rai.


"Karena kita sudah latihan, kita harus segera tidur sebelum pukul 8 malam!" Ucap Rai dengan merapihkan seluruh perlengkapannya.


"Baik!" Ucap para muridnya yang langsung merapihkan peralatannya dan pergi menuju kamarnya masing-masing.


Setibanya di kamar, Ravettha yang belum mengganti pakaiannya tersebut langsung berbaring di kasurnya dan berencana untuk tidur.


"Latihan bersama itu sangat menyenangkan! Aku bisa bermain bersama mereka secara tidak langsung! Kuharap besok malam bisa berlatih lagi!" Pikir Ravettha dengan menguling-gulingkan badannya di atas kasur karena sangat senang.


Tidak lama kemudian, Ravettha langsung tertidur pulas tanpa mengganti pakaiannya yang masih kotor karena telah berlatih.


Annie yang datang dan menyadari keadaan Ravettha langsung menjadi khawatir.


"Gawat! Aku bahkan tidak mendengar suara langkah nona saat sudah pulang! Dan juga aku belum menggantikan pakaiannya yang kotor dengan yang baru! Sepertinya aku harus menunggu nona bangun!" Pikir Annie dengan sangat khawatir.


Keesokan harinya, semuanya beraktivitas sesuai jadwal yang telah ditentukan.


Ravettha membuka matanya perlahan-lahan.


Ravettha yang baru saja bangun langsung terkejut karena melihatnya.


"Ya?" Tanya Ravettha.


"Anda lupa mengganti pakaian anda kemarin malam, jadi anda harus cepat-cepat untuk mengganti pakaian anda sekarang juga!" Ucap Annie dengan menarik tangan Ravettha untuk segera bangun dari kasur.


"Baiklah. Ini jam berapa?" Tanya Ravettha dengan turun dari kasurnya.


"Jam lima. Kenapa?" Tanya Annie dengan kebingungan dan penasaran.


"Gawat!!! Aku bangun terlambat! Aku mandi dulu! Cepat siapkan pakaianku!" Ucap Ravettha yang terkejut dan langsung bersiap-siap dengan sangat cepat.


"Anda tidak sedang sakit, bukan?" Tanya Annie dengan sangat khawatir.


"Tentu saja tidak! Ini adalah pertama kalinya aku bangun kesiangan!" Ucap Ravettha yang sedang mandi dengan sangat cepat.


"Memangnya anda bangun jam berapa biasanya?" Tanya Annie dengan penasaran.


"Jam 4 pagi." Ucap Ravettha dengan memakai seluruh pakaiannya dengan cepat dan dirapihkan oleh Annie.

__ADS_1


Ia langsung datang ke tempat latihan.


"Huft! Untungnya masih belum telat, kan?" Tanya Ravettha kepada Karin yang sedang berada di dekatnya.


"Itu benar. Sejam lagi kita akan mulai latihannya." Ucap Karin.


"Apa? Sejam lagi? Aku bahkan sudah kena hukuman jika datang terlambat!" Ucap Ravettha yang tidak percaya dengan hal tersebut.


"Aku bahkan lupa untuk latihan di ruang pelatihan! Hilang sudah nyawaku...!" Pikir Ravettha dengan kecewa.


"Sudahlah! Bukan kau saja yang datang terlalu pagi. Tuh lihat! Masih banyak sekali, bukan?" Tanya Karin dengan menunjuk ke arah para murid yang sudah datang.


"Kau benar." Ucap Ravettha dengan berhenti sedih dan kembali bersemangat untuk memanfaatkan waktu luangnya.


Ia menggunakan waktunya untuk membaca sekaligus mengingat kembali pelatihan yang diberikan kemarin.


Seluruh murid hadir dengan penampilan dan persiapan terbaiknya.


Tidak lama kemudian, Raja Kourtnef datang dengan sangat bersemangat untuk melatih para muridnya.


"Hari ini kita akan latihan! Kali ini kalian harus membentuk berbagai gerakan asli dan terapan yang sesuai dari buku ini. Kalian bisa berdiskusi dan memilih satu buku dari tiga buku yang sudah disiapkan! Batas waktu berdiskusinya hanya 45 menit! Gunakan waktu kalian dengan baik karena kalian tidak akan bisa menggunakan buku itu lagi kedepannya!" Ucap Raja Kourtnef dengan mengeluarkan tiga buku utama yang memiliki salinannya.


Para murid langsung bergerak cepat untuk mendapatkan buku salinan yang dipilihnya.


Tanpa diperintah, mereka langsung menghapalkan, dan mempraktekkan seluruh isi buku yang dipinjamnya.


Mereka terlihat sangat bersemangat di mata Raja Kourtnef.


Hal tersebut membuat pelatihnya untuk segera melatihnya dan juga mengasah kemampuan masing-masing murid.


Tidak terasa waktu telah berlalu empat puluh lima menit dan telah saatnya untuk mengakhiri waktu berdiskusinya.


"Batas waktu sudah habis! Saatnya kalian mempraktekkan seluruh pengetahuan yang sudah kalian pelajari sebelumnya! Tugas hari ini adalah hasilkan 5.000 gerakan dan juga tekniknya baik itu menurut buku maupun kalian! Dengan kata lain, gunakan pikiran kalian untuk menyelesaikan tugasnya! Apakah ada yang ingin ditanyakan?" Tanya Raja Kourtnef.


"Apakah ada batas waktu juga?" Tanya Luzell.


"Ya! Tentu saja! Batas waktunya sampai waktu latihan hari ini berakhir!" Ucap Raja Kourtnef yang duduk di kursinya untuk memperhatikan seluruh perkembangan para muridnya.


Para murid langsung melaksanakan tugasnya tersebut hingga cepat selesai.


Mereka terus mencoba tanpa henti sedikitpun karena mereka tidak pernah mengenal kata 'Menyerah'.


Bagi mereka, kata tersebut sangatlah tabu dan bagi yang melakukannya akan dianggap sebagai pengecut, bodoh, lemah, dan pantas mati.


Karena kata tersebut sangat tabu, mereka tetap menaatinya dan menggantinya dengan bantuan yang dibalas.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2