
"Nicholas! Lepaskan aku sekarang juga!" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
"Tidak bisa!" Ucap Nicholas dengan menggunakan telepatinya.
"Di bawah permukaan padang pasir ini terdapat harta karun tersembunyi. Itulah mengapa aku pergi kemari. Jika kau bersedia, kau bisa mengikutiku masuk kesana dan berpetualang. Bagaimana?" Tanya Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
"Tapi itu berbahaya! Huh. Baiklah. Saya mengikuti anda kesana." Ucap Nicholas.
"Bagus. Kalau begitu, kita harus masuk kedalam!" Ucap Ravettha dengan senang.
Nicholas membatalkan tangan es miliknya dan pergi memasuki permukaan padang pasir tersebut.
Padang pasir tersebut menarik mereka berdua kedalamnya dengan cepat.
Mereka berdua pun masuk ke tempat asing yang lembab dan tidak terawat.
Sementara itu, di Kerajaan Daltufier milik Raja Fedracius, ketiga bawahan sedang menghadap dan melaporkan yang terjadi kepada rajanya.
"Lapor, Yang Mulia. Mereka sudah mati karena terisap oleh Pasir Soviecyt." Ucap salah satu bawahan Raja Fedracius dengan berlutut.
"Baguslah. Aku harap mereka mati dimakannya." Ucap Raja Fedracius.
Ketiga bawahan tersebut hanya diam dan berlutut di tempat.
"Dimana ini?" Tanya Nicholas.
"Entahlah. Awasi langkahmu, Nicholas!" Ucap Ravettha.
"Kau juga, nona." Ucap Nicholas.
Mereka berdua berjalan di tempat asing tersebut.
Di sepanjang perjalanan mereka melihat banyak serangga dan sisa tulang belulang yang berserakan.
Tibalah mereka di depan tiga gerbang yang sudah berlumutan.
Ketiga gerbang tersebut sejajar satu sama lain yang seakan menyuruh untuk memilih satu dari ketiga gerbang tersebut.
"Nona! Sebenarnya apa yang anda cari sampai menginginkan datang kesini?" Tanya Nicholas.
"Lihat saja apa yang akan terjadi." Ucap Ravettha.
Nicholas merasa sangat penasaran dengan apa yang dicari oleh Ravettha.
"Diantara ketiga gerbang ini terdapat jebakan. Dibalik jebakan akan ada sesuatu yang kita cari. Itu artinya kita harus memasuki gerbang yang terdapat jebakan." Ucap Ravettha dengan tegas.
"Bagaimana kalau anda mati dalam jebakan tersebut, nona? Apakah anda tidak takut kehilangan nyawa anda?" Tanya Nicholas dengan khawatir.
"Tentu saja aku tidak takut mati dan kau juga tidak akan mati. Kau tidak perlu khawatir berlebihan." Ucap Ravettha.
Nicholas merasa tidak yakin dengan keputusan yang telah ia buat.
Ia memilih untuk mengikuti Nona Ravettha karena ia tidak punya tempat untuk melarikan diri dan juga ia sudah memutuskan untuk melindungi Nona Ravettha.
"Aku sudah memutuskannya. Aku akan ikut denganmu." Ucap Nicholas dengan tegas.
Ravettha sedikit tersenyum karena Nicholas sudah mempercayainya.
"Saya penasaran bagaimana anda bisa mengetahuinya? Anda juga tidak menggunakan kemampuan apapun." Ucap Nicholas.
__ADS_1
"Firasatku mengatakan seperti itu." Ucap Ravettha dengan berbohong.
"Dia benar-benar tidak mengetahuinya? Baguslah. Maafkan aku karena telah membohongimu." Pikir Ravettha.
Ravettha mengeluarkan Demon Sword miliknya untuk melindungi mereka berdua dari bahaya yang akan datang.
"Demon Sword!" Ucap Ravettha.
Demon Sword tersebut langsung memenuhi panggilan Ravettha tersebut.
"Ya, master?" Tanya Demon Sword.
"Pinjamkan aku pedangmu!" Ucap Ravettha.
"Baik, master." Ucap Demon Sword.
Demon Sword pun memperkuat dirinya dalam wujud pedang terkuatnya.
"Terimakasih." Ucap Ravettha.
"Anda tidak perlu berterimakasih karena telah menggunakanku. Seluruh milik saya adalah milik anda sepenuhnya." Ucap Demon Sword.
"Baiklah." Ucap Ravettha.
Sementara itu, Nicholas sedang berpikir sangat keras supaya tidak salah memilih gerbang yang akan dimasuki.
"Nona! Bagaimana yang gerbang ketiga?" Tanya Nicholas.
"Yah. Aku setuju denganmu. Lagipula jebakannya tidak sepenuhnya mengerikan. Tunggu apa lagi? Ayo masuk, Nicholas!" Ucap Ravettha.
"Baik, nona." Ucap Nicholas.
Saat mereka telah memasuki gerbang tersebut, mereka melihat ruangan lumayan gelap.
Hanya terdapat dua obor sebagai penerang di dekat pintu masuk gerbang yang telah dilewati.
Lima belas langkah telah kami lewati dan belum terjadi sesuatu yang membahayakan.
"Nona! Dimana jebakannya?" Tanya Nicholas.
"Entahlah. Jika jebakan belum muncul disini, itu berarti kita harus lebih waspada. Mungkin saja jebakannya bukan jebakan yang biasa." Ucap Ravettha.
"Baiklah, nona." Ucap Nicholas.
"Hati-hati, master. Ada sesuatu yang sedang mendekat kemari." Ucap Demon Sword.
"Baiklah." Ucap Ravettha dengan setuju.
Sebuah bayangan hitam tiba-tiba muncul dari segala arah.
Bayangan tersebut menyerupai ular kobra raksasa yang sangat besar dan terlihat menyeramkan.
Karena terlihat menyeramkan, ia mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang cantik, anggun, dan berkelas dengan gaun yang serba hitam serta rambut dan matanya yang berwarna merah darah.
"Selamat datang di Stanley. Saya adalah penjaga gerbang ketiga, Leonardo Dilavesia." Ucap Leonardo.
Ia berjalan mendekati Ravettha dengan anggun dan berkelas.
"Karena kalian sudah memilih gerbang ini, maka kalian harus menjawab sebuah pertanyaan yang kuberikan. Aku akan memberikan tiga kali kesempatan menjawab pertanyaan tersebut." Ucap Leonardo.
__ADS_1
"Jika sudah melewati batas kesempatan dan masih belum mengetahui jawabannya, maka kalian akan mendapatkan hukuman dariku. Jika kalian menang, aku akan mengikuti kemanapun kalian pergi, terutama Nona Ravettha." Ucap Leonardo dengan melirik ke arah Ravettha dengan tersenyum licik.
"Nona! Bagaimana ini? Kenapa dia sangat menyeramkan? Aku khawatir jika kita akan kalah." Ucap Nicholas kepada Ravettha.
"Tidak. Kau salah burung poenix! Masterku pasti akan berhasil menjawab pertanyaan yang sulit dari pria itu. Aku yakin hal itu!" Ucap Demon Sword kepada Nicholas.
"Kuberitahu ya, aku bukanlah pria! Aku wanita!" Ucap Leonardo yang kesal karena ada yang menganggapnya sebagai pria.
"Apa pertanyaannya?" Tanya Ravettha dengan serius.
"Pertanyaannya adalah sebutkan satu kata kunci dari siapakah pemilik gerbang ketiga, Stanley?" Tanya Leonardo.
Semuanya sedang berpikir kecuali Leonardo.
"Saat pertama kali bertemu, ia terlihat sangat kuat. Ia berkata bahwa ia adalah penjaga di gerbang ini. Jika menjadi pemilik, itu artinya lebih kuat dari penjaga gerbang. Akan tetapi, di tempat yang lembab dan lumayan gelap ini tidak terlihat ada kehidupan." Pikir Ravettha.
"Artinya, pemilik gerbang ini sudah tidak ada disini. Hanya terdapat tiga kemungkinan. Kesatu, pemilik tersebut mati dibunuh oleh penerusnya. Kedua, pemilik tersebut menyerahkan kekuasaan kepada penerusnya. Ketiga, pemilik tersebut pergi meninggalkan tempat ini." Pikir Ravettha.
"Jika tidak salah, aku pernah membaca dan mempelajari buku para penerus dari segala bangsa yang dirahasiakan." Pikir Ravettha.
"Benar. Jika dipikir-pikir Leonardo Dilavesia adalah keturunan ke-16 dari Raja Leonard Horowitz Stanley. Ia dilahirkan dari pasangan Martin Luther Stanley dan Laurence Fred Wilson." Pikir Ravettha.
"Aku menyerah menjawabnya, aku tidak punya bukti kuat." Ucap Nicholas.
Demon Sword hanya diam saja karena ia masih belum tahu detail apa yang telah terjadi.
Melihat hal itu, Leonardo tersenyum licik dan melirik ke arah Ravettha.
"Bagaimana? Sudah mau menyerah?" Tanya Leonardo dengan tersenyum licik.
"Kata kuncinya adalah 'pendahulumu', kan?" Tanya Ravettha.
Leonardo sebenarnya terkejut karena belum ada satu pun yang berhasil menjawab pertanyaan seperti ini.
"B-Bagaimana kau bisa menjawabnya dengan begitu mudah?" Tanya Leonardo dengan sangat penasaran.
"Saat kita pertama kali bertemu, kau telah memberikan kunci dari jawaban yang kau berikan walaupun kau tidak sadar saat mengatakannya." Ucap Ravettha.
"A-Apa? Bagaimana bisa terjadi? Ini tidak mungkin!" Ucap Leonardo.
"Karena kami telah menang, kau harus menepati kata-katamu." Ucap Ravettha dengan tersenyum.
"Bagaimana? Kami sudah boleh keluar, bukan? Jika kau tidak mau ikut tidak masalah." Ucap Ravettha.
Leonardo menatap kembali wajah Ravettha.
Dari matanya, ia melihat seorang anak yang penuh keberanian, dan berbakat sehingga ia memutuskan untuk mengikutinya dan berbagi informasi.
"Aku akan mengikutimu." Ucap Leonardo.
"Mohon bantuannya." Ucap Ravettha dengan senang.
"Ya, baiklah." Ucap Leonardo.
"Tidak ada salahnya jika aku mengikutinya. Lagipula, aku sudah bosan berada disini." Pikir Leonardo.
"Total 50% misi di lantai ketiga yang baru diselesaikan. Aku harus menyelesaikannya dengan segera." Pikir Ravettha
BERSAMBUNG
__ADS_1