
Setelah semuanya siap, ia pun langsung keluar dari dimensi miliknya.
Ia keluar dengan darah yang menodai tangan dan sedikit bajunya.
Ia melihat terdapat tawanannya yang telah kabur, seorang pria dewasa, dan adik barunya tersebut.
Pandangannya langsung tertuju kepada adik barunya tersebut.
Ia pun menjadi sangat bersemangat untuk memberikan hadihnya.
"Adikku...! Akhirnya kita bertemu di waktu yang tepat! Aku telah membawakan banyak hadiah untukmu yang belum sempat kuberikan kepadamu! Terimalah! Jangan lupa untuk membuka hadiahnya!" Ucap Roosevelt yang memberikan seluruh hadiahnya dengan sangat senang dan penuh harapan di wajahnya.
Ia memberikan seluruh hadiah tersebut tanpa rasa khawatir akan penolakan dari adik barunya tersebut.
"Ini untukku?" Tanya Ravettha yang sama sekali tidak menduganya.
"Benar! Untuk siapa lagi jika bukan untuk adikku tersayang yang manis dan baik ini!" Ucap Roosevelt dengan sangat senang dan langsung merangkul Ravettha.
"Woah! Kakak sangat baik sekali! Aku sangat senang! Terimakasih banyak kakak!" Ucap Ravettha yang ikut senang.
Ia pun langsung memeluk kakak angkat barunya itu.
Tuan Ananta, Eleanor, dan Lartson menjadi penuh terheran-heran.
"Hei bocah, kenapa kau...?" Tanya Tuan Ananta yang belum menyelesaikan perkataannya karena langsung dipotong oleh Ravettha.
Mengetahui hal tersebut, Ravettha menyuruh Tuan Ananta, Lartson dan Eleanor untuk diam dan tidak ikut campur.
"Kalian cukup diam saja dan tidak perlu ikut campur! Mengerti?" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya kepada mereka bertiga dan melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam yang penuh makna.
Lartson dan Eleanor hanya diam dan mengikuti perintah dari Ravettha.
"Kenapa dia jadi semakin aneh? Apa karena dia punya rencana lain?" Pikir Tuan Ananta yang menaruh curiga kepada Ravettha.
Karena sedikit penasaran, Ravettha langsung membukanya walaupun ia telah tahu apa isi hadiah di dalamnya tersebut.
Saat ia membukanya, terdapat sebuah kartu kecil bertuliskan namanya sendiri, yaitu Roosevelt Norftord Starthearn.
Kartu tersebut terlihat sangat sederhana, tetapi memiliki penuh kenangan masa lalu milik Roosevelt di mata Ravettha.
__ADS_1
Di hadiah yang kedua adalah sebuah kotak besar yang berisikan organ tubuh, daging yang sudah dipotong-potong, darah yang masih segar, dan juga kumpulan tulang yang sudah terpisah dari rangka tubuhnya.
Ravettha, Lartson, Eleanor, dan Tuan Ananta sama sekali tidak takut, merinding, jijik, ataupun muntah setelah melihat isi hadiah kedua tersebut karena mereka sudah terbiasa melihat hal tersebut.
"Kakak ini... Sangat serius untuk menjadi kakakku ternyata! Mengharukan sekali dia hingga membawa hadiah yang sangat khusus yang sangat berguna!" Pikir Ravettha dengan sedikit tersenyum.
"Aku menghargai hadiah dari kakak. Aku sangat senang sekali! Terimakasih banyak kakak!" Ucap Ravettha dengan tersenyum.
"Justru aku yang sangat senang karena kau mau menerima hadiah dariku." Ucap Roosevelt dengan tersenyum senang.
"Oh ya! Apa kakak ingin ketempatku dan tinggal bersamaku?" Tanya Ravettha dengan menguji kakaknya.
"Tentu saja! Apa yang tidak bisa dilakukan kakaknya jika untuk menuruti adiknya yang manis ini?" Ucap Roosevelt dengan mencubit pipi Ravettha walaupun tangannya masih dinodai darah yang masih basah.
"Tapi sebelum itu... Kakak tidak boleh terlihat habis membunuh atau orang akan salah paham!" Ucap Ravettha dengan menggunakan sihirnya untuk mengganti pakaian Roosevelt dan membersihkan dirinya dari darah tersebut.
Bekas darah yang telah terkumpul dari tubuh Roosevelt dapat dimanfaatkan oleh Ravettha dengan cara mengubahnya menjadi darah segar kembali melalui kemampuan 'Change Of Blood'.
Kemampuan tersebut adalah sebuah kemampuan yang tidak terlalu langka.
Kemampuan 'Change Of Blood' dapat digunakan untuk mengubah darah baik itu melalui darah milik pengguna atau darah milik orang lain untuk menjadi senjata yang memiliki kekuatan serang dan sihir yang sangat besar.
"Syukurlah kalau kakak menyukainya. Aku ingin memperkenalkan teman-temanku kepada kakak! Ini adalah Tuan Ananta dia adalah teman sekaligus seniorku. Ini adalah pelayan pribadiku. Sedangkan ini adalah partnerku." Ucap Ravettha dengan memperkenalkan Tuan Ananta, Eleanor, dan Lartson kepada kakaknya.
"Salam kenal semuanya! Aku adalah Roosevelt Norftord Starthearn." Ucap Roosevelt dengan tersenyum ramah.
Tuan Ananta bersikap tidak peduli dan sangat dingin kepada Roosevelt.
Eleanor hanya bersikap ramah kepada Roosevelt.
Lartson pun menjadi sangat protektif kepada Ravettha.
"Huh! Aku tidak akan membagi master yang sudah menjadi milikku kepada siapapun! Aku akan selalu mengawasimu! Jika kau berani menyentuhnya sedikitpun, aku akan langsung membunuhmu! Membunuhmu sama sekali bukan hal sulit!" Pikir Lartson yang sangat membenci kehadiran Roosevelt.
"Ayo kita pulang bersama! Sekarang sudah malam!" Ucap Ravettha dengan mengajak Lartson, Eleanor, Tuan Ananta, dan Roosevelt.
"Tentu!" Ucap Lartson yang langsung menggenggam tangan Ravettha dan langsung menariknya dengan cepat.
"Partner? Aku akan selalu mengawasimu! Jika kau sampai menyakiti adik kesayanganku, aku akan membuatmu sama seperti mayat itu dan memberikannya lagi untuk adikku!" Pikir Roosevelt dengan melirik tajam ke arah Lartson.
__ADS_1
Mereka semua langsung berjalan menuju tempat istirahatnya masing-masing.
"Kita akan berpisah mulai dari jalan ini. Panggil aku jika kau butuh bantuan, bocah!" Ucap Tuan Ananta dengan berjalan meninggalkan yang lainnya.
"A-Apa? Kau berani memanggil adikku dengan kata 'bocah'?" Tanya Roosevelt yang langsung dipenuhi amarah karena merasa adiknya telah dihina.
"Biarkan saja! Sifatnya memang sudah seperti itu." Ucap Ravettha yang ingin mencegah terjadinya pertengkaran yang sia-sia.
Karena sudah mengetahui hal tersebut, Tuan Ananta memutuskan untuk kembali ke ruangan pribadinya.
Sedangkan Ravettha, Lartson, Roosevelt, dan Eleanor kembali ke kamar pribadi milik Ravettha.
Eleanor langsung cepat membuka pintu dan menyiapkan segala kebutuhan Ravettha, Lartson, dan Roosevelt dengan lengkap dan teliti.
"Ini kasur anda." Ucap Eleanor kepada Lartson dan Roosevelt.
Kasur mereka berdua telah disiapkan dan berada di samping kasur milik Ravettha.
"Apakah aku dapat tidur bersama master?" Tanya Lartson dengan tatapan penuh harap kepada Ravettha.
"Aku juga ingin tidur bersama adikku!" Ucap Roosevelt dengan nada yang memaksa.
"Maaf. Kasurnya hanya cukup untuk satu orang. Jika lebih dari satu, saya khawatir kalian tidak bisa tidur dengan tenang karena terlalu sempit." Ucap Eleanor dengan tegas.
"Benar juga! Adikku tidak boleh kesakitan! Yah... Sayang sekali kita tidak bisa tidur bersama, setidaknya kita satu kamar!" Ucap Roosevelt dengan merangkul adiknya dengan erat.
"Air mandi anda sekalian sudah saya siapkan masing-masing. Mari saya bantu." Ucap Eleanor.
"Kakak dan Lartson saja dulu yang mandi. Aku masih ada urusan yang ingin dilakukan." Ucap Ravettha yang tiba-tiba ingat dengan pekerjaan yang belum selesai ia kerjakan.
"Tidak usah malu-malu! Kita kan sama perempuan! Lebih menyenangkan mandi bersama!" Ucap Roosevelt yang langsung menarik tangan Ravettha dan Lartson dengan cepat dan membawanya masuk ke kamar mandi.
"Tidak!" Ucap Ravettha yang sangat ingin menyelesaikan pekerjaannya yang telah tertunda.
Sementara itu, Lartson hanya mengikuti rencana Roosevelt untuk mandi bersama.
"Mereka bertiga cocok sekali jika menjadi adik dan kakak!" Pikir Eleanor yang tersenyum senang.
BERSAMBUNG
__ADS_1