Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Penetralan Energi Majikan


__ADS_3

Pertanyaan Pak Victor yang begitu menusuk ternyata tidak didengarkan oleh kelima muridnya.


Satu bara api membangkitkan nyawa api lainnya, seperti itulah yang dilakukan Ravettha.


“Tetap sesuai formasi! Ini tidak berakhir cepat, tapi kita akan mempercepat prosesnya!” Ucap Ravettha dengan mengirimkan pesan singkat dari layar hologramnya.


“Ini terdengar perintah yang mutlak diikuti, bukankah mereka butuh kendali atas diri mereka sendiri?” Pikir Ravettha dengan menghampiri Sorayna.


Ia terus berjalan maju, sedangkan keempat sahabatnya masih memahami pesan darinya.


Langkah pertama menuruni anak tangga dan langkah kedua disertai dukungan.


“Sekarang saatnya!” Teriak Kalvetno dengan bersemangat.


“Itu benar!” Ucap Levord dan Vicenzo secara bersamaan.


Air danau berdarah itu dikumpulkan hingga memadat seperti bola air.


Vicenzo dengan gravitasi terendahnya menggunakan kesempatan itu dengan melakukan penyerangan terbuka jarak jauh.


Sasaran target yang seharusnya mengenai Pak Victor justru memantul ke sudut yang saling berhubungan satu sama lain.


Dari depan ke kanan, ke atas, ke kiri, ke bawah, lalu bergantian arah kesana kemari berulang kali.


Keduanya tidak ada yang menyadari bagaimana bisa terpantul sedemikian rapih dengan mengandalkan air danau darah.


“Guru, mengapa anda menanyakan dua hal yang jelas berbeda? Anda ingin kami mempertanyakan ulang apa yang kami inginkan, tetapi bukankah anda yang seharusnya mempertanyakan diri sendiri mengapa membiarkan kami menang dengan cara ini?” Tanya Levord dengan menyentuh pundak gurunya dan memastikan bahwa di hadapannya hanyalah tiruan.


“Sederhana saja! Jika kalian berpikir bisa memutar ulang keadaan, maka lakukanlah! Siapa yang akan menunggu di akhir?” Tanya Pak Victor mencengkeram erat lengan kanan, menjatuhkan badan lawan, dan memelintirnya hingga tersedatnya pernapasan Levord, salah satu muridnya.


Teknik miliknya sangat berguna di saat seperti ini.


Di saat yang sama, bola darah yang terpantul itu selesai di titik yang salah.


“I-Ini sangat t-tidak masuk akal! Kita telah melapisi septagon itu dengan merubah ruang dalamnya dan mengisinya dengan ruang hampa agar cairan darah bisa masuk ke dalamnya, d-dan s-se-sekarang gagal total?” Tanya Kalvetno yang menyangkal keadaan yang sebenarnya terjadi.


Vicenzo, Sorayna, dan Kalvetno tidak tahu harus mengatakan apa lagi karena kartu as mereka justru terbuang sia-sia.

__ADS_1


Ravettha berdiri di dekat Levord dengan sorot mata dinginnya, jari telunjuknya menyentuh punggung telapak tangan gurunya, lalu pergi dengan menarik tubuh Levord sesantainya.


“Ayo kita pergi, Levord!” Ucap Ravettha tanpa bersuara sedikitpun karena dari pandangan matanya saja sudah menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.


Lima langkah yang cukup lebar telah dilakukan.


Garis lingkaran sihir yang telah rusak keduanya berfungsi 4 kali lipat dari yang sebelumnya.


‘Defence Zone’ dan ‘Offence Zone’ berkombinasi, lalu jatuh mengeksekusi pemiliknya sendiri tanpa memandang bulu.


Kedua belah mata pedang yang begitu menakutkan berubah menjadi tidak terhingga jumlahnya.


Mereka menunggu di luar garis lingkaran kombinasi dengan tujuan memberikan salam penutup akan pertunjukan sang Majikan.


“CRAT! SPLASSHHH!”


“Air mancur yang unik, apa giliran kalian sudah selesai?” Tanya Pak Victor dengan membersihkan payung kesayangannya.


Ia keluar dengan berkepala dingin, tidak terlihat seperti sedang terdesak, dan kefokusannya tidak pada satu titik, melainkan mencangkup yang lebih luas.


Satu tangan kosong, tanpa rapalan sihir, dan juga tanpa senjata karena dirinya hanya mengandalkan lambaian tangan yang turun melandai dengan tenang sama seperti perdamaian.


“Tidak akan! Kami tidak akan menyerah hanya karena kau mengetahui jenis kelemahan terbesar kami!” Ucap Ravettha, Vicenzo, Kalvetno, Sorayna, dan Levord secara bersamaan.


Masing-masing kekuatannya mewakili satu dari enam elemen utama di simbol patung yang tidak bernyawa.


Ravettha mewakili elemen galaksi, Vicenzo sebagai elemen kegelapan, Kalvetno elemen api, Sorayna dengan elemen listriknya, dan Levord adalah elemen tanah.


Tersisa satu elemen, yaitu elemen es yang diwakili oleh Pak Victor sendiri.


Keenam perwakilan itu mengeluarkan garis terang menuju masing-masing patung sesuai simbolnya.


Mereka menyala dan kembali berfungsi hanya setiap 250 tahun lamanya.


“Patung itu hidup?” Tanya Vicenzo dengan memperhatikan setiap detail proses pembangkitannya.


“Tentu saja! Jika tidak, untuk apa kita bersusah payah melakukan yang tadi?” Tanya Pak Victor yang tersenyum tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


“Apa?!! Jadi tanganku tidak bisa dikembalikan, guru?” Tanya Kalvetno dengan meninggikan suaranya karena tidak punya cukup energi untuk mengembalikan anggota tubuhnya yang hilang.


“Yap!” Ucap Pak Victor yang masih tetap mempertahankan ketidakpeduliannya.


“Bukannya itu membanggakan karena langsung dapat dari guru?” Tanya Vicenzo penasaran akan sikap temannya yang berlebihan.


“Dia sangat malu jika kalah di depan kakaknya!” Ucap Sorayna dengan tertawa begitu senang, lalu bertepuk tangan dengan gurunya.


“Kenapa kau memberi tahunya, sialan?” Tanya Kalvetno yang meratapi pergelangan tangan kesayangannya.


“Ada yang bertanya dan tentu saja ada yang menjawab, dasar bodoh!” Ucap Sorayna yang tidak bisa menghentikan tawa jahatnya.


“Sangat mengesankan! Pertemuan pertama di kelas kali ini ternyata lebih menakjubkan! Guru suka semangat kalian. Sebagai imbalan akan kekacauan disini, kita akan pindah tempat untuk pelatihan selanjutnya!” Ucap Pak Victor dengan melirik ke halaman rumput dan bercak darah menempel di banyak tempat layaknya kerak kotoran yang menyebalkan untuk dipandang mata.


“Kenapa kita harus pindah, pak?” Tanya Ravettha yang bingung melihat tingkah laku pamannya bercucuran keringat dingin.


“Psttt! Apa kamu tidak melihat di belakang punggungku? Tolong jangan katakan padaku, jika Kakak Ellio sedang mengawasi kita!” Ucap Pak Victor melalui telepatinya.


“Paman Ellio?” Tanya Ravettha yang telah menerima permintaan pamannya.


Ia melihat ke belakang punggung Pak Victor yang biasa dipanggil Paman Karl dengan bergeser sedikit ke kiri, ternyata sesuai yang dikatakannya.


Sorot mata Paman Elliovent yang berapi-api, tangannya yang menyilang di depan dada, dan kakinya yang terbuka lebar seakan ingin segera menerkam mangsanya.


Secepat mungkin Ravettha ikut menyadari sinyal waspada, ia tidak ingin terlibat hal menjengkelkan karena masalah kecil seperti itu.


“Sudah-sudah! Sekarang kita berenam adalah tim yang sama! Kita akan memasuki ‘Itascaria Fragment’. Ini adalah tempat penyeleksian yang dibuka setiap 250 tahun sekali. Tidak ada yang tahu apa isinya dan juga tidak ada yang keluar hidup-hidup darinya. Di antara kita sudah tidak ada yang bisa mengelak ataupun menunda kepergian ini karena apapun pilihan yang kita ambil hanya akan berakhir sebagai tiket masuk paksa oleh aturan ‘Itascaria Fragment’. Sekarang buka telapak tangan kalian masing-masing dan dekatkan ke pusat ini!” Ucap Pak Victor dengan membuka telapak tangannya seperti yang telah ia katakan.


Sekeping batu permata di tengah telapak tangan dikelilingi oleh rambatan garis yang tidak jelas akhirnya.


Para batu permata itu terus berbunyi dan mengeluarkan sinyal merah.


Tidak ada tanda yang mengatakan jika sinyal itu adalah sinyal bahaya, semuanya terkendali.


Lingkungan yang telah berantakan, dikembalikan seperti sedia kala sebelum pertunjukan dimulai.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2