
"Ughh! Aku masih ngantuk! Sayang sekali jika aku melewati kunjunganku ke pusat perdagangan, dan istana. Ini akan sangat menyenangkan! Jam berapa sekarang? Apa aku juga harus mengajak mereka?" Pikir Ravettha dengan berusaha membuka matanya dan masih terbaring di kasurnya.
Ia pun langsung melirik ke arah jam di dinding kamarnya, dan juga melihat ke arah kakaknya yang masih tertidur.
Jam tersebut menunjukkan pukul tepat 4 pagi.
"Bagus! Masih ada waktu! Karena Rufino ada disini, aku akan mengajaknya saja! Lagipula kakak juga masih tidur." Pikir Ravettha yang sudah tidak sabar untuk segera mengunjungi kedua tempat tersebut.
"Oh ya! Berapa sisa waktu untuk penyelesaian misi di lantai ini?" Pikir Ravettha dengan sangat penasaran.
"Sistem!" Ucap Ravettha.
"Ya?" Bunyi pesan sistem tersebut.
"Berapa sisa waktu untuk penyelesaian misi ini?" Tanya Ravettha.
"Sisa waktu hanya 12 jam." Bunyi pesan sistem tersebut.
"A-Apa? Secepat itu?" Tanya Ravettha dengan terkejut dan tidak percaya karena waktu telah berjalan dengan cepat.
"Benar! Di lantai kedua belas ini, dalam satu hari hanya terdiri dari 16 jam. Hitungan menit dan detik masih tetap sama seperti dunia asalmu." Bunyi pesan sistem tersebut.
"Itu artinya, karena aku telah berada disini dua hari empat jam, aku telah menghabiskan 129.600 detik!" Ucap Ravettha dengan sedikit terkejut.
"Lebih tepatnya, anda telah menghabiskan waktu 129.606 detik dan masih tersisa 43.194 detik lagi. Semoga anda dapat bertahan dengan baik di lantai ini hingga waktunya habis!" Bunyi pesan sistem tersebut.
"Hm... Baiklah! Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu ini hanya untuk berdiam diri!" Pikir Ravettha yang langsung melompat dari kasurnya dan berencana untuk pergi dengan lebih cepat.
Ia merapihkan barang-barang miliknya sendiri dan memasukkannya ke dalam tas penyimpanannya.
Ia juga langsung bersiap-siap tanpa diketahui orang lain.
"Bagus! Aku sudah siap! Sekarang saatnya melakukan kunjungan ke pusat perdagangan dan istana! Tentu saja mereka tidak akan ada yang menyadari keberadaanku! Hihi!" Ucap Ravettha yang telah memakai pakaian favoritnya, yaitu sebuah dress hitam yang sangat ringan dan juga jubahnya yang berwarna hitam.
"Rufino!" Ucap Ravettha.
"Ya, Yang Mulia?" Tanya Rufino.
"Temani aku ke tempat yang menarik!" Ucap Ravettha dengan senang dan bersemangat.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Rufino.
Sebelum mereka pergi, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Roosevelt yang terlalu cepat.
"GREP!"
Roosevelt menarik tangan adiknya tersebut dari belakang.
__ADS_1
Saat Ravettha menyadari terdapat seseorang yang menarik tangannya, ia pun langsung menoleh ke arah belakangnya.
Dilihatnya terdapat kakak yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Adikku yang imut! Kau mau kemana pagi-pagi ini? Jangan tinggalkan aku!" Ucap Roosevelt dengan memeluk erat adiknya seperti takut kehilangan.
"Kakak masih ingat dengan perkataanku kemarin?" Tanya Ravettha yang sedang menguji kakaknya.
"Yang saat mandi bersama itu? 'Aku masih ada urusan yang belum selesai dikerjakan'?" Tanya Roosevelt.
"Benar sekali! Tenang saja! Aku akan pulang sebelum siang hari, jadi jangan khawatir." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
"T-Tapi!" Ucap Roosevelt dengan penuh keraguan.
"Aku pergi dahulu. Oh ya! Ambil ini, kak! Aku akan menghubungi kakak saat berada di dalam bahaya." Ucap Ravettha dengan memberikan sebuah gelang yang dapat berkomunikasi tanpa batas jarak, baik itu jarak dekat maupun jarak jauh.
"Baiklah. Janji ya bahwa kau akan menghubungiku?" Tanya Roosevelt dengan sangat meyakinkan.
"Ya. Aku berjanji." Ucap Ravettha dengan tersenyum senang.
Ia langsung pergi bersama Rufino.
"Kakakku tidak melihatmu, bukan?" Tanya Ravettha.
"Tentu saja tidak! Keberadaan kita akan menjadi terancam jika ketahuan terutama oleh orang terdekat." Ucap Rufino.
"Terimakasih, Yang Mulia." Ucap Rufino dengan sedikit malu dan wajahnya yang mulai memerah karena pujian tersebut.
Mereka pun berjalan dengan santainya dengan bantuan peta yang telah diberikan oleh Falext.
Perjalanan tersebut terasa sangatlah cepat bagi Ravettha dan Rufino karena pusat perdagangan berada 57 km dari tempatnya beristirahat.
Sesampainya di sana, tempat tersebut sudah ramai pengunjung walaupun masih sangat pagi.
Terdapat banyak macam produk yang dijual disana, baik itu pakaian, makanan, obat-obatan, hewan, dan tumbuhan.
Dipinggiran tempat tersebut, terdapat banyak sekali toko yang berbaris rapih dan sangat terawat.
Mereka juga menjual beberapa jasa dengan harga yang sesuai dengan kualitasnya.
"Ternyata mereka sangat produktif sekali, ya?" Tanya Ravettha.
Rufino hanya mengangguk setuju terhadap pendapatnya Ravettha.
Ravettha memutuskan untuk melihat-lihat seluruh produk yang terdapat disana.
Ia memulainya dengan mengunjungi toko makanan.
__ADS_1
Disana terdapat berbagai jenis makanan, mulai dari makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup.
"Hm... Mereka terlihat sangat lezat, sayangnya hanya dapat bertahan sebentar." Pikir Ravettha yang sama sekali tidak tertarik untuk membelinya.
Hanya satu jenis makanan yang menarik perhatiannya, yaitu kue pie blueberry.
"Kue itu... Mengapa sangat mirip dengan kue buatan Nyonya Keilfa?" Pikir Ravettha dengan penasaran.
"Rufino, kau pilihlah sesuai yang kau inginkan! Jangan khawatir, aku yang akan mentraktirmu. Aku akan kesana dahulu. Setelah itu, bantu aku membeli persediaan makanan untuk mereka." Ucap Ravettha dengan menunjuk ke arah kue yang sangat menarik baginya.
"Baik dan terimakasih banyak. Saya pasti akan membalas budi anda, Yang Mulia." Ucap Rufino dengan hati yang tersentuh karena kebaikan Ravettha.
Rufino mengubah wujudnya menjadi manusia sehingga dapat menyelaraskan dirinya dengan masyarakat yang ada disana.
Ia langsung memilih seluruh makanan yang ia suka dan terlihat menarik.
"Aku penasaran dengan makanan para manusia!" Pikir Rufino.
Sementara itu, Ravettha sedang bertanya kepada seorang pelayan di toko tersebut.
"Permisi... Bolehkah aku mengetahui nama kue yang di atas itu?" Tanya Ravettha dengan tangan yang menunjuk ke arah kue pie blueberry.
"Oh, tentu. Nama kue itu adalah Kue Pie Blueberry. Yang merupakan hasil perpaduan..." Ucap pelayan toko tersebut.
Pelayan tersebut belum selesai mengucapkan perkataannya, tetapi Ravettha sudah memotong perkataannya.
Pelayan tersebut hanya bisa bersabar dan tersenyum ramah kepada pengunjungnya.
"Tunggu... Apakah aku bisa melihat proses pembuatannya?" Tanya Ravettha dengan penuh harapan.
Melihat hal tersebut membuat hati pelayan tersebut tergerak untuk mengizinkannya membuat kue pie blueberry tersebut.
"Baiklah. Mari ikuti saya!" Ucap pelayan toko tersebut.
"Baik." Ucap Ravettha.
"Rufino! Kau beli saja dahulu pakai uang ini! Jangan lupa untuk membeli persediaan makanan yang banyak, ya?" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya dan juga memberikan uang kepada Rufino.
Rufino yang mendengarnya pun langsung mengerti apa yang dimaksud dan diinginkan oleh Ravettha sehingga ia langsung menyetujui dan menerima tanggung jawab untuk membeli barang persediaan tersebut.
"Baik! Saya akan melaksanakan perintah anda, Yang Mulia." Ucap Rufino dengan menggunakan telepatinya.
"Bagus! Kalau begitu, kuserahkan padamu." Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
Rufino merasa bahwa ia tidak perlu untuk mempertanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Ravettha karena ia sangat percaya sepenuhnya kepada majikannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1