
Setelah memasukkan jiwa dan nyawa orang tersebut, Ravettha melihat tubuh pria bertopeng yang telah hancur tanpa sisa.
"Sayang sekali anda langsung kehilangan nyawa karena menyelamatkan anak kecil yang tidak memiliki hubungan baik. Tidak masalah! Lagipula anda telah melakukan pekerjaan dengan baik. Aku tidak akan melupakan kerja keras anda." Ucap Ravettha dengan berdiri di tempat kematian pria bertopeng tersebut.
"Karena aku telah mengumpulkan ketiga buku tersebut, kalau begitu aku harus pergi menuju kediaman guru. Semoga guru masih ada di tempat, sehingga aku bisa melaporkan tugas yang telah selesai dilakukan." Pikir Ravettha.
Sementara itu, Rufino hanya duduk diam sejenak di atas pundak Ravettha.
"Ayo kita segera kembali, Rufino!" Ucap Ravettha yang telah siap untuk kembali dan melaporkan tugasnya kepada gurunya.
Rufino yang mendengarnya langsung mengangguk setuju dan mengikuti langkah Ravettha dengan cepat.
Tiga menit kemudian, ia telah tiba di kediaman gurunya.
Setibanya disana, ia melihat gurunya yang sedang membaca sesuatu dan menikmati secangkir teh hangat di halaman rumahnya.
"Guru!" Ucap Ravettha dengan menghampiri gurunya.
"Oh, kau sudah berhasil mengumpulkanya, ya?" Tanya Tuan Zhulfarias.
"Tentu saja! Ini ketiga buku yang anda cari!" Ucap Ravettha dengan memberikan ketiga buku tersebut kepada gurunya.
"Kerja bagus, muridku! Baiklah! Karena kau sudah mengumpulkannya, kita akan memulai pelajaran selanjutnya." Ucap Tuan Zhulfarias yang langsung berdiri dari kursinya.
"Baik!" Ucap Ravettha yang kembali bersemangat.
"Ikuti langkahku! Kita akan pergi berburu sesuatu. Jadi, kau harus mendengarkan perkataanku. Mengerti?" Tanya Tuan Zhulfarias dengan melangkahkan kakinya menuju sebuah halaman luas di dekat rumahnya.
"Ya, guru." Ucap Ravettha.
Ia menantikan sebuah pemburuan yang menakjubkan, seperti berburu tanaman obat, buku, elemen sihir, artefak, peri, dll.
"Hm... Kira-kira akan berburu apa, ya?" Pikir Ravettha dengan sangat bersemangat.
Saat gurunya melihat Ravettha, ia sedikit terkejut karena Ravettha lebih bersemangat dari yang sebelumnya ia lihat.
"Dia sungguh bersemangat! Mari kita lihat! Apakah muridku ini dapat berhasil di pelajaran ini?" Pikir Tuan Zhulfarias dengan tersenyum senang.
Ia dan Ravettha tiba di depan sebuah pintu gerbang yang dipenuhi oleh tumbuhan indah yang merambat.
Hal itu membuat pintu gerbang tersebut terlihat sangat indah bagi Ravettha.
Ia dan gurunya memasuki sebuah halaman luas yang ditumbuhi dengan berbagai tanaman obat di sekitarnya.
Di tengah halaman tersebut, terdapat sebuah altar yang luas dan besar dan dikelilingi oleh lima buah altar yang ukurannya lebih kecil dari altar utama.
Lima buah altar yang berukuran kecil akan terhubung dengan altar utama sebagai tempat penyaluran kekuatan dari pemiliknya.
__ADS_1
Altar tersebut biasanya digunakan oleh Tuan Zhulfarias sebagai tempat pelatihan meditasi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Tuan Zhulfarias pun melangkahkan kakinya untuk menaiki altar utama tersebut.
Sementara itu, Ravettha sibuk dengan mengamati tanaman obat yang ada disana.
"Baiklah, muridku. Kemarilah!" Ucap Tuan Zhulfarias yang telah berdiri di altar utama.
Ravettha yang mendengar hal tersebut langsung menghampiri gurunya.
"Baik." Ucap Ravettha dengan berlari ke arah gurunya.
"Duduklah disini! Akan kuajarkan bagaimana cara menciptakan 'Kekuatan Lima Bintang'." Ucap Tuan Zhulfarias.
"'Kekuatan Lima Bintang' adalah sebuah kemampuan yang sangat langka. Kemampuan ini dapat menghasilkan kekuatan yang setara dengan seluruh dewa dan dewi penguasa seluruh alam. Itu hanya dapat digunakan sepenuhnya apabila penggunanya bisa melakukan dan telah mempelajari kemampuan tersebut." Ucap Tuan Zhulfarias.
"Tanda-tanda keberhasilannya dalam mewujudkan 'Kekuatan Lima Bintang' ini adalah kemunculannya lima bintang yang terdapat di kelima altar kecil yang mengelilingi altar utama." Ucap Tuan Zhulfarias.
"Bagi yang dapat mengendalikannya hingga ke tingkat tertinggi akan ditandai dengan kelima bintang tersebut berubah menjadi lima peri bintang. Semoga beruntung muridku!" Ucap Tuan Zhulfarias.
"Baiklah." Ucap Ravettha yang tertarik untuk mempelajarinya.
Ravettha langsung duduk di altar utama tersebut dan mengikuti petunjuk dari gurunya.
"Bagus! Duduk bersila dan badan yang tegak lurus! Kepala jangan menunduk! Tenangkan diri, pikiran, dan dengarkan! Kau hanya perlu fokus! Lakukan seperti di pelajaran sebelumnya! Jika bisa, lebih ditingkatkan lebih baik!" Ucap Tuan Zhulfarias yang berdiri di luar altar utama.
Ia mulai memfokuskan pikirannya dan menutup matanya untuk menenangkan dirinya.
Sebuah cahaya kecil tiba-tiba muncul di pikirannya.
Cahaya tersebut semakin besar dan besar lagi, lalu memecah menjadi beberapa bagian dan membesar kembali.
Tidak terasa sudah banyak cahaya yang terkumpul di pikirannya tersebar di berbagai tempat.
Hal itu terlihat sangat indah dan menakjubkan baginya.
Ravettha menjadi sangat senang dan melanjutkan pemfokusan pikirannya.
Lima menit kemudian, ia berhasil menciptakan lima peri bintang dengan sekaligus dan sangat cepat untuk ukurannya.
Waktu yang biasanya diperlukan oleh para pendahulu termasuk Tuan Zhulfarias adalah sebulan.
"A-Aku... Tidak salah lihat, bukan?" Tanya Tuan Zhulfarias yang sangat terkejut karena melihat sesuatu yang sangat sulit dilakukan orang lain.
"Ini terasa sangat nyata!" Ucap Tuan Zhulfarias yang menghampiri dan berusaha menyentuh kelima peri bintang tersebut.
Kelima peri bintang tersebut memiliki paras yang rupawan.
__ADS_1
Mereka telah diciptakan kembali oleh Ravettha dengan kemampuan yang lebih tinggi dari yang biasanya.
Sebagian besar dari lima peri bintang tersebut memiliki kemampuan dan kekuatan bawaan yang sangat besar sejak diciptakan oleh pemiliknya.
Kemampuan tersebut juga dapat digunakan untuk hal apapun yang diinginkan oleh pemiliknya.
Tuan Zhulfarias menjadi tercengang dan berpikir keras tentang bagaimana bisa muridnya melakukan hal yang lebih hebat darinya.
Ia juga menjadi bangga atas keberhasilan muridnya yang sudah melakukan pelatihan darinya dengan baik.
"Bagaimana muridku bisa melakukannya? Seumur hidupku, yang kutahu adalah keberhasilan tersebut berasal dari kemampuan bakat asli pemiliknya. Apakah muridku benar-benar berbakat?" Pikir Tuan Zhulfarias.
Ia berencana untuk membangunkan Ravettha dari meditasinya.
"Muridku, bangun dan lihatlah apa yang berhasil kau ciptakan." Ucap Tuan Zhulfarias.
Ravettha yang mendengarnya langsung membuka matanya perlahan-lahan.
Ia melihat ke depan, terdapat gurunya yang terlihat sangat senang walaupun ia tidak tahu mengapa gurunya menjadi sangat senang.
Ia melihat ke sekelilingnya, dilihatnya terdapat lima peri yang berada di masing-masing altar kecil tersebut.
Kelima peri tersebut juga terlihat sangat senang.
Ia pun menoleh ke arah gurunya dan bertanya sesuatu.
"Apakah mereka lima peri bintang yang dimaksud guru?" Tanya Ravettha yang semakin penasaran dengan yang ia lihat.
"Benar sekali! Beruntungnya kau mendapatkan kelima peri bintang yang lebih hebat dari para pendahulu termasuk guru." Ucap Tuan Zhulfarias dengan sangat senang.
"Selamat! Kau berhasil menyelesaikan tugas dan pelatihan yang diberikan olehku. Sekarang, terimalah ini." Ucap Tuan Zhulfarias dengan memberikan sebuah kotak kecil kepada Ravettha.
Ravettha menjadi sedikit ragu, tetapi tangan Tuan Zhulfarias langsung meraih tangan Ravettha dan memberikan hadiahnya kepada muridnya dengan tersenyum senang dan dihiasi kebanggaan kepada muridnya.
"Terimakasih, guru." Ucap Ravettha yang senang karena ia telah mempelajari banyak hal dari gurunya tersebut.
"Bagus! Gunakanlah kapanpun kau menginginkannya. Jangan lupa kejarlah seluruh ilmu yang ada di dunia ini selagi kau masih memiliki nyawa! Kau harus ingat! Guru akan mendukungmu dan akan menuntunmu ke jalan yang benar. Guru akan pergi dahulu. Jaga dirimu baik-baik! Selamat tinggal, murid kebangganku!" Ucap Tuan Zhulfarias dengan mengusap kepala Ravettha, lalu melambaikan tangannya dengan pelan dan senyuman terakhirnya yang ia perlihatkan.
Tubuhnya perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya.
Tanpa disadari air mata Ravettha tiba-tiba mengalir deras.
Ia tidak tahu mengapa dia menangis, hanya satu yang rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan.
"Aku senang bisa belajar banyak dari anda. Aku tidak akan melupakan semua pelajaran yang anda berikan. Aku akan menjaga hadiah pemberian anda dengan baik. Aku tidak akan melupakan anda, guru. Guruku, Tuan Zhulfarias Moelgard Ucarious." Pikir Ravettha dengan mengusap semua air matanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1