
Ravettha melanjutkan perjalanannya.
Ia menelusuri Pulau Arvoist bersama Nicholas.
Sementara sang Naga tetap mengikuti perjalanan mereka dengan bersembunyi.
Tibalah mereka disuatu tempat yang sangat luas, kering, dan tandus.
Tempat itu adalah Padang Pasir Daltuft.
"Kenapa ia pergi kemari? Apa ia mencari kematian yang sia-sia? Dia tidak bodoh, bukan? Tempat ini dikenal dengan lingkungan yang kejam dan menakutkan untuk anak kecil sepertinya." Pikir sang Naga yang mengikuti Ravettha.
"Aku harap kau memberikan pertunjukkan sesuatu yang menakjubkan. Jadi, jangan kecewakan aku, nak." Pikir sang Naga.
“Apakah nona merasakan kepanasan? Jika ya, maka saya akan menyejukkan dan mendinginkan tubuh anda, nona.” Ucap Nicholas.
“Tidak perlu. Aku tidak kepanasan. Bagaimana denganmu? Apa kau memiliki kemampuan pengendali es?” Tanya Ravettha.
“Tentu saja. Saya bahkan mampu mengendalikan api, air, dan es. Jika anda membutuhkan bantuanku, saya akan dengan senang hati memberikannya.” Ucap Nicholas.
“Terimakasih banyak. Mohon bantuannya.” Ucap Ravettha dengan senang.
Seketika wajah Nicholas memerah karena malu setelah mendengar perkataan Ravettha.
“Mukanya menjadi lucu dan imut saat memerah. Hehe. Mirip seperti bayi burung yang imut.” Pikir Ravettha dengan membayangkan wajah bayi burung yang pernah ia temui saat ia masih kecil.
“Ini pertama kalinya aku bisa berguna. Kalau begitu, aku akan berusaha untuk menjadi lebih berguna bagi Nona Ravettha. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitinya!” Pikir Nicholas dengan penuh semangat.
Angin tiba-tiba bertiup kencang dan menyapu permukaan padang pasir tersebut.
Ravettha mengeluarkan sihir pelindungnya untuk melindungi pasir yang menerjang bagaikan badai sekligus melindungi Nicholas.
“Seharusnya aku yang melindunginya bukan sebaliknya!” Gumam Nicholas.
Gumaman Nicholas tersebut terdengar oleh Ravettha.
“Tidak perlu berkecil hati, kau sudah sangat penting bagiku. Kau harus mengingat ini, kau itu kuat jadi percayakan pada kemampuanmu dan berpikir jernihlah. Mengerti?” Tanya Ravettha.
Hati Nicholas merasa tersentuh dan terharu karena masih ada yang mendukung dirinya untuk maju dan berkembang.
“Saya mengerti. Terimakasih banyak, nona.” Ucap Nicholas dengan sangat senang.
“Saya akan mengembangkannya dan menjadi sangat kuat untuk bisa melindungi anda. Anda merupakan satu-satunya malaikat dalam hidupku.” Pikir Nicholas.
Sesuatu tiba-tiba muncul dari kumpulan pasir di padang pasir tersebut.
Kumpulan pasir tersebut membentuk sebuah golem raksasa.
Golem raksasa tersebut terlihat sangat marah.
“Siapa yang mengganggu waktu tidurku dan memasuki wilayahku tanpa izin?” Tanya golem raksasa tersebut dengan penuh amarah.
Lalu ia melirik ke arah Ravettha dan Nicholas.
“Jadi kalian yang mengganggu waktu tidurku dan memasuki wilayahku tanpa izin?” Tanya golem raksasa tersebut.
“Apakah anda Raja Fedracius, sang Raja Padang Pasir yang menguasai wilayah ini?” Tanya Ravettha dengan sopan.
__ADS_1
“Benar sekali. Tidak kusangka kau masih memiliki etika!” Ucap Raja Fedracius.
“Langsung ke intinya saja, karena kalian sudah melanggar aturan maka kalian harus menerima hukumannya!” Ucap Raja Fedracius.
“Tidak bisa begitu. Saya sudah datang jauh-jauh untuk mencari keperluan kami, tetapi anda ingin memberikan hukuman kepada kami.” Ucap Ravettha.
“Beraninya kau membantah perintahku! Kau akan mendapatkan hukuman mati!” Ucap Raja Fedracius.
“Hm... Bagaimana, ya? Aku tidak yakin itu akan berhasil. Satu hal yang pasti, aku akan merebutnya dengan cepat.” Ucap Ravettha dengan tersenyum licik.
Mendengar perkataannya tersebut, Nicholas, Raja Fedracius, dan sang Naga yang sedang bersembunyi saat mengikuti Ravettha menjadi merinding tanpa alasan.
"K-Kenapa denganku? Kenapa tubuhku tiba-tiba merinding?" Tanya sang Naga.
“Apa maksudmu?!” Tanya Raja Fedracius dengan penuh amarah dan merasa kesal.
“Lupakan saja." Ucap Ravettha.
Raja Fedracius memanggil pasukannya dengan jumlah yang sedikit, yaitu berjumlah tiga orang.
"Sungguh diluar perkiraan." Ucap Ravettha dengan sedikit terkejut.
Ketiga bawahan Raja tersebut langsung menyerang Ravettha dengan cepat dan mereka bekerjasama dengan sangat baik di saat yang bersamaan.
Mereka bertiga dikenal yang terkuat setara dengan kekuatan satu juta pasukan terkuat.
"Wajar saja dia mengeluarkan sedikit pasukan, tetapi sekali mengeluarkannya langsung yang terkuat. Menarik! Seberapa kuat mereka jika memaksimalkan kekuatannya? Aku sangat penasaran!" Pikir Ravettha.
"Apakah anda bersungguh-sungguh untuk menghukum kami?" Tanya Ravettha dengan sedikit tidak percaya.
"Tentu saja. Di wilayahku, tidak ada yang diperbolehkan untuk melanggar peraturan dariku. Jadi kau tidak akan mendapat keringanan." Ucap Raja Fedracius.
"Baik, Yang Mulia." Ucap ketiga bawahan dengan bersamaan.
Ketiga bawahan tersebut langsung melaksanakan perintah yang telah diberikan oleh rajanya.
Mereka bertiga berlari dari beberapa arah untuk menangkap Ravettha dan Nicholas.
Sebuah pasir yang dipadatkan dan membentuk lingkaran besar digunakan untuk menangkap mereka berdua.
"Nicholas! Serang mereka dengan semburan api milikmu! Cepat sebelum kita terperangkap di dalam bola pasirnya!" Ucap Ravettha.
"Baik." Ucap Nicholas.
Ia langsung menyerang ketiga bawahan tersebut dengan tiga buah percikan bola api kecil yang meluncur dengan cepat seperti kilat.
Mereka bertiga tidak menyadarinya sama sekali dan langsung menghindar secepatnya.
Akan tetapi, tiga buah percikan bola api kecil tersebut memiliki daya ledakan yang sangat kuat.
Hal itu setara dengan dua puluh buah nuklir.
Semua orang yang ada disana sangat ketakutan termasuk Raja Fedracius.
"A-Apa yang terjadi?" Tanya Raja Fedracius.
"Terdapat gangguan berupa ledakan, Yang Mulia." Ucap salah satu bawahannya.
__ADS_1
Hanya Ravettha yang merasa kagum dengan ledakan tersebut.
Lalu ia melirik ke arah Nicholas, ia terkejut karena melihat poenixnya tetap berdiri dan terbang dengan seimbang tanpa ada rasa kelelahan atau kekurangan pasokan kekuatannya.
"Nicholas! Apa kau tidak apa-apa?" Tanya Ravettha dengan sangat khawatir.
"Ya. Saya baik-baik saja." Ucap Nicholas yang tiba-tiba mengeluarkan setetes air mata.
"Nicholas! Apa kau yakin baik-baik saja? Kau mengeluarkan air mata." Ucap Ravettha dengan khawatir.
"N-N-Nona. Apakah anda akan membenciku karena saya adalah monster yang mengerikan?" Tanya Nicholas dengan terbata-bata.
"Untuk apa aku takut? Kau adalah teman bagiku. Apabila ada yang menyebutmu 'Monster', bukankah artinya mereka lebih lemah darimu? Jadi, jangan takut lagi, ya?" Tanya Ravettha dengan menenangkan Nicholas.
Nicholas terbang menuju Ravettha dan memeluknya.
"Justru aku khawatir kepadamu." Ucap Ravettha.
Nicholas kembali bahagia dan hinggap di pundak Ravettha.
"Mari kita kalahkan mereka, Nicholas!" Ucap Ravettha.
"Tentu, nona." Ucap Nicholas dengan penuh semangat.
Ketiga bawahan tersebut kembali bangkit dan menjalankan perintah dari rajanya.
"Sayang sekali kau sudah kalah, nak." Ucap salah satu bawahan tersebut.
Salah satu dari mereka membuat kumpulan golem kecil dari pasir yang berjumlah sangat banyak.
"Bangkitlah para golemku dan serang musuhmu!" Ucap salah satu bawahan yang membuat kumpulan golem kecil.
Para golem tersebut berlari menuju Ravettha dan Nicholas.
"Mereka semakin banyak!" Ucap Nicholas.
"Tidak akan kubiarkan kau menang!" Ucap salah satu bawahan Raja Fedracius yang kesal karena tidak ada satupun yang berhasil.
"Nona! Hati-hati!" Ucap Nicholas dengan berteriak.
Sebelum para golem berhasil menangkap Ravettha dan Nicholas, terdapat sesuatu yang aneh dari permukaan pasir yang Ravettha pijak.
Ia merasakan Padang pasir yang dipijaknya tersebut menarik dirinya masuk ke dalam tanah.
Tanah tersebut bernama Pasir Soviecyt.
Pasir Soviecyt adalah pasir yang muncul secara tiba-tiba dan menarik siapapun yang menginjak pasir tersebut.
Ravettha merasakan sesuatu kembali melalui 'Eye Sighting' miliknya.
"Sungguh bodoh! Dia tidak sedang berencana untuk terperangkap, bukan?" Tanya sang Naga yang mengikuti Ravettha secara diam-diam.
"Nona Ravettha!" Ucap Nicholas dengan berteriak.
Ia sangat panik melihat Ravettha masuk ke perangkapnya tersebut.
Ia langsung menarik tangan Ravettha dengan mengeluarkan sihir pengendalian es nya dan membentuknya menjadi tangan es.
__ADS_1
Tangan es tersebut berhasil menangkap Ravettha.
BERSAMBUNG