
Levord berhasil mengeluarkan isi pikirannya.
Seharusnya ia tidak melanjutkan percakapan yang dikeluarkan oleh Sorayna karena hanya akan membuat rumit.
“Bagaimana dengan kalian berdua, hm?” Tanya Pak Victor dengan menyeringai lebar.
Tidak hanya Ravettha dan Vicenzo saja, Levord, Kalvetno, dan Sorayna pun ikut merinding mendengarnya.
Ingin menjawab saja tidak bisa hingga di detik terakhir, yakin atau tidak mereka berlima harus membuat keputusan secepat mungkin.
Satu-satunya cara yang terpikirkan hanyalah menghindari akal licik gurunya termasuk tumpukan tugas di hari pertama.
“Kenapa tidak lari, Vett?” Tanya Sorayna yang merasa ada suatu hal tertinggal di belakang sendirian.
Ia tidak menyangka bahwa seorang sahabat perempuannya ini justru ikut mematung dengan tatapan pandangannya yang lurus ke depan.
“Tunjukkan tugasnya!” Ucap Ravettha.
“A-Apa? Kau tidak...!” Ucap Sorayna yang terkejut hingga tidak dapat melanjutkan perkataannya sendiri.
Vicenzo yang berada paling dekat dengan jangkauannya, lalu Levord menghampiri Ravettha untuk mendengar kembali perintahnya.
“PROK! PROK! PROK!”
Suara tepuk tangan mengeras dan terus menggaung.
Di sela-sela suara itu, muncul dua garis lingkaran hijau bersamaan rasa penasaran dan kewaspadaan yang meningkat.
Masing-masing garis hanya dapat mencangkup satu bagian, satu bagian ‘Defence Zone’, dan yang lainnya adalah ‘Offence Zone’.
“Satu bertahan, tiga labil, dan satu menyerang. Kalian tahu apa arti dua lingkaran ini?” Tanya Pak Victor dengan mengangkat kedua alisnya.
“Anda ingin membuktikan jika keraguan akan berakibat besarnya celah?” Tanya Vicenzo.
Mendengar pertanyaan yang diberikan Vicenzo, keempat murid lainnya langsung bersiaga.
“Perhatikan ini lalu kalian simpulkan!” Ucap Pak Victor dengan menekan suaranya agar dapat diingat dengan baik oleh murid-muridnya.
Dua buah pedang keluar dan melayang di belakang tubuhnya.
Kilauan mata pedang yang memancarkan keindahannya langsung menghilang dari jangkauan penglihatan.
Melesat dengan cepat di udara, tidak ada satupun murid yang melihat ataupun merasakan energi pedang gurunya dari sudut manapun.
“CRAK! DOOM!”
“Kejutan!” Teriak Pak Victor.
Ravettha seorang di dalam lingkaran ‘Defence Zone’, Kalvetno di lingkaran ‘Offence Zone’, dan sisanya di luar lingkaran mendapatkan kejutannya tersendiri.
Dua pedang yang berbeda berupaya mengeksekusi dua murid, dan sebuah septagon menjatuhkan dirinya dengan terjun bebas untuk tiga murid lainnya.
__ADS_1
Tujuannya hanyalah satu, desak lima murid atau lenyapkan tiga properti.
“Guru! Tidak ada tugas tertulis, tapi banyak tugas uji nyawa!” Teriak Kalvetno dengan membuat ****** beliung, lalu mencoba keluar dari lingkaran.
Langkahnya benar-benar sesuai perhitungan cepatnya.
“Makanlah dengan perlahan dan patuhi perintahku!” Ucap Kalvetno yang berbicara sendiri meskipun dirinya tidak berharap pedang pencabut nyawa itu mendengar perkataannya.
“SPLASH!”
Darah bercucuran dan menetes deras dari tangannya.
Ingin merasakan rasa sakit akan pendarahan juga tidak bisa, tidak ada benda satupun untuk perlawanan ataupun bertahan, pikirannya mulai tercampur dan lari kesana kemari.
Telapak tangan kirinya menghilang dari pandangannya, lebih tepatnya lepas dari kerangka tubuhnya.
Rasa tidak percaya dan terkejut yang begitu besar membuat dirinya dan keempat sahabatnya merespon dengan caranya sendiri.
Kemarahan, muak, dan kecewa terpadu menjadi satu, lebih mendominasi daripada rasa belas kasihan.
“B-Bu-Bukankah i-ini... Pft!” Gumam Kalvetno dengan menatapi dengan penuh perhatian darahnya yang masih mengalir deras.
Ia langsung menoleh dan menawarkan ajakan tanpa mengkhawatirkan kondisinya di ujung tanduk kematian.
“Hei, Sorayna! Mau kusisakan darah segar ini? Aku punya banyak loh!” Teriak Kalvetno yang mungkin ini adalah suara terakhir kalinya ia berbicara dengan musuhnya.
“Bagaimana mungkin kau bisa mengirimnya kemari sedangkan kau saja tidak bisa keluar dari lingkaran bodoh itu?” Tanya Sorayna dengan memfokuskan dirinya pada bahaya yang tampak di depan mata.
Ia tahu bahwa perkataan Sorayna justru begitu tepat dalam situasi mendesak seperti ini, tapi baginya, tidak ada hal yang tidak mungkin selama bisa memilikinya.
“Hm... Tampaknya kalian begitu yakin?” Ucap Pak Victor mengelilingi anak muridnya.
“TAP!”
Satu langkah memecahkan rencana tersembunyi murid-muridnya.
Kiriman paket dari Kalvetno ke Ravettha justru berakhir sia-sia.
“Kata siapa kami yakin, guru?” Tanya Ravettha dengan mengangguk dan tersenyum kecil.
Pecahan tabung terkirim dengan sempurna ke tempatnya, darah yang mulai berjatuhan ke tanah dibalikkan kembali seperti sedia kala.
Tebasan pedang yang mengganggu jalannya hanya menjadi cemilan penutup.
Ia membuka layar hologram miliknya, pergi melihat profil toko tetangga, dan meminjamnya.
Lebih tepatnya, Cedric, partner kerja samanya lebih sesuai dikatakan sebagai tetangga.
“Koleksimu unik, kupinjam ya?” Tanya Ravettha kepada Vicenzo.
Awalnya Vicenzo berpikir jika partner kerjanya hanya meminjam salah satu benda “Usang” miliknya, tetapi ia salah besar.
__ADS_1
Ravettha telah meminjam kemampuan ‘Box Triad’ darinya, peninggalan berharga yang pernah ia dapatkan dengan penuh makna.
“Tidak masalah. Kamu akan segera mengingatnya cepat atau lambat, sayang!” Pikir Vicenzo yang fokus memusnahkan septagon di hadapannya.
Sorayna akhirnya menerima paket menu santapan makan siangnya dengan selamat.
Ia langsung meminumnya dengan menikmati setiap sensasi dan kesegaran rasanya.
“Tidak mengecewakan! Oh, sampai mana kita tadi?” Tanya Sorayna dengan melirik ke arah Pak Victor di tengah lapangan.
“Sudah selesai minumnya? Bisa bantu aku membuka pembatas lingkaran itu?” Tanya Levord yang tidak ingin diganggu oleh bagian Vicenzo.
“Lupakan itu, Levord!” Ucap Sorayna dengan melangkah maju mendekati gurunya sendiri.
Layaknya tanpa persiapan dan menyerahkan diri pada keadaan, tidak sedikitpun tetesan air mata dan harapan terlihat dari dirinya.
Tetap terus berjalan maju, badannya tegap seperti yang diajarkan ayahnya semasa kecil, pandangan matanya lurus ke depan.
“TAP! BWOOSHHH!”
Langkah terakhir menjadi hal yang disukainya, ia menggunakannya untuk memberikan sambutan kekalahan.
“Halo, guru!” Ucap Sorayna yang melompat begitu senang ke tempat yang menjadi pijakan gurunya sendiri.
Dibandingkan mengelak dan menghindar, Pak Victor membalas senyumannya dan memberikan kalimat dinginnya.
“Justru aku yang terlalu yakin, benar begitu lanjutannya?” Tanya Pak Victor.
Suara getaran semakin besar disertai kuatnya pengaruh kombinasi dua pedang dan septagon ingin memukul mundur kelima murid.
“Bagaimana jika kuganti dengan tentu saja? Menarik, bukan?” Tanya Sorayna dengan mengakhiri percakapannya.
Halaman rumput hijau yang rapih justru menjadi danau darah.
Levord dengan elemen listriknya memanfaatkan muatan listrik di dalam darah dan mengambil alih danau itu.
Ravettha dan Vicenzo menggunakan sepasang ‘Box Triad’ di genggamannya, sedangkan Kalvetno mendapatkan uluran dari musuh sekaligus sahabatnya sendiri.
“Siap memulainya?” Tanya Sorayna dengan memastikan persetujuan keempat sahabatnya.
“Kenapa bertanya lagi?” Tanya Kalvetno dan Levord secara bersamaan.
Danau yang hanya berawal genangan, berubah fungsi menjadi berkali lipat dari yang sebelumnya.
Dua garis lingkaran milik Pak Victor terjebak dan mengalami kerusakan pendeteksian.
Banyaknya darah yang berkumpul di titik acak membuat banyak kesalahan dan penurunan fungsi eksekusi menjadi sangat minim.
“Kutanyakan sekali lagi, kalian bisa membedakan hal menarik dan membosankan?” Tanya Pak Victor.
BERSAMBUNG
__ADS_1