Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pelurusan Kesalahpahaman


__ADS_3

“TAP! TAP! TAP!”


Langkah kaki begitu terdengar jelas mendekati Ravettha yang tidak lain adalah Pak Victor.


Wajahnya yang berasap-asap layaknya pipa asap kereta uap.


“Kamu membuatku khawatir akan pertanyaan pamanmu!” Ucap Pak Victor dengan menegur muridnya.


”Guru! Kurasa anda tahu bagaimana bekerja sesuai profesi anda, jadi tolong hilangkan keterikatan itu jika kita ingin berhasil.” Ucap Ravettha yang merasa kesal karena dirinya yang mengingatkan gurunya bukan sebaliknya.


“Haaah! Kau mulai lagi mengabaikannya!” Ucap Pak Victor dengan menghela napas.


“Yang kumaksud kita itu guru, saya, Vicenzo, Kalvetno, Sorayna, dan Levord.” Ucap Ravettha yang ingin memeriksa berapa sisa percobaannya.


Sementara kepala Pak Victor menjadi tambah sakit, Levord datang dengan membawa hasil pengamatannya.


Ia begitu gembira meskipun ia harus mengorbankan peserta yang telah terjangkit penyakit.


“Lihat ini, teman-teman! Sampel ini membuktikan kebenaran perkataan Vicenzo!” Ucap Levord dengan menyerahkan sekotak sampel yang teriris rapih di dalamnya.


“Hanya kau yang terpikirkan mengambil sampel di saat seperti ini, Levord!” Ucap Sorayna yang tidak tahu harus senang atau sedih.


“Kuanggap itu pujian.” Ucap Levord dengan memfokuskan perhatiannya.


“Vicenzo! Memangnya kau bicara apa sebelumnya?” Tanya Kalvetno.


Ia benar-benar berpikir keras meskipun dirinya tidak mampu.


Dilihatnya Vicenzo yang tampak masih ceria dan berseri-seri.


“Menanyakan mengapa begitu ingin mengoleksi benda jebakan seperti butir salju.” Ucap Vicenzo.


“Jika kau tidak mengatakannya pada kami lebih cepat, mungkin kita telah jadi seperti ini!” Ucap Levord dengan menunjukkan sampel utuh.


Sebuah sampel berasal dari tubuh korban dimana dirinya memucat kehilangan banyak darah di suhu yang menurun drastis.


Kepucatan yang berlebihan itu menyebabkan para peserta lain menganggap dan membiarkannya perlahan meninggal di tempat.


“Apa yang dilakukan anak muda itu? Ingin mengulitinya?” Tanya satu peserta yang berada dekat dengan jangkauan Levord.


“Kurasa bukan? Jika ya, mengapa dia menaruhnya di kotak bagus-bagus layaknya benda bersejarah?” Tanya peserta lain mencampuri percakapan.


“CTAK!”


Sebuah tongkat mendarat tepat di samping kanan Kalvetno.


Tubuh yang tegap dengan setelan jas menarik seluruh perhatian musuhnya.


Ia melihat waktu di arloji antik dari saku jasnya.

__ADS_1


Keempat murid Pak Victor terus bertanya-tanya mengenai asal-usul pria tersebut, sedangkan Pak Victor sendiri merasa nostalgia dengan pertemuan mereka.


“BRAK!”


Lingkungan sekitarnya yang terhubung dengan alam terbatasi oleh dinding kedap suara.


Mengetahui Levord terpisah dari rekan-rekannya, Pak Victor sebagai guru, insting melindunginya sedikit terganggu.


“Tidak! Tidak ada yang boleh menyakiti murid-muridku!” Pikir Pak Victor yang terkejut mengetahui sedikit rencana lawannya.


“Hancurkan dinding itu, Poerign!” Ucap Sorayna dengan memanggil pelayannya.


“Dengan senang hati, Nona!” Ucap Poerign.


Keberaniannya menyulut persiapan dirinya.


Ia mengambil kotak kayu yang panjang, membukanya, dan memilih senjata yang telah lama dikenalnya.


“Kamu masih terjaga kesehatannya! Maka tidak ada alasan untuk kita ragu mengalahkannya, Heirz!” Ucap Poerign dengan tersenyum kecil.


Poerign menggengamnya dan mengambil napas terdalam.


Listrik dari pedangnya mulai tercipta dan mempengaruhi keadaan sekitar.


Muatan listrik terkumpul, lalu membentuk lapisan pedang yang baru.


Ia menebasnya dengan penuh ketenangan hingga menghasilkan energi listrik terbarukan.


Permukaan dan bagian selubung inti berhasil dihancurkan.


Yang masih tersisa adalah bagian inti.


“Ergh! Perlindungan ekstra ya? Berarti aku yang melakukan ini sebagai gantinya!” Ucap Poerign dengan bersikeras mendapatkan hasil yang sempurna.


Perputaran listrik dihasilkan dari perubahan bentuk lapisan pedangnya.


Ia mengendalikan sepenuhnya atas besarnya tingkat kekuatan energi listriknya.


Perubahan bentuk yang baru memudahkan dirinya sebagai pemandu ke tempat tujuan.


“Silahkan Tuan dan Nona sekalian memasuki pusaran listrik dengan menekan tombol perintah ini!” Ucap Poeriign dengan menyerahkan sebuah alat yang saling terhubung satu sama lain pada majikannya.


“Hanya perlu menekannya, bukan?” Tanya Pak Victor yang memastikan cara kerja alat asing di telinganya.


“Itu benar, Tuan...? Nama anda?” Tanya Poerign.


Baginya, sangat penting untuk mengetahui nama rekan-rekan majikannya.


“Namaku tidak penting sekarang!” Ucap Pak Victor dengan tegas.

__ADS_1


“Guru! Guru! Apa ada cara lain mengeluarkannya dari pembatas ini?” Tanya Ravettha dan Kalvetno membujuk Pak Victor secepat mungkin.


“Serahkan saja pada alat percobaan ini! Kita akan coba berapa kali, tentunya dengan cara yang berbeda!” Ucap Sorayna yang percaya pada kemampuan kelompoknya.


Rasa kepercayaan akan keberhasilan yang tinggi mengakar kuat pada diri masing-masing.


Mereka mencoba lagi dan lagi tanpa peduli seberapa banyak kegagalan yang menghampirinya.


Lain halnya dengan kerja sama antar anggota kelompok, Levord terus mempertahankan kontak matanya pada lawan bicara.


Sebagai lawan bicara sekaligus musuh yang harus dihentikan, Waldon de Birtsen merasa dihormati akan sikap yang dilakukan oleh sanderanya.


Dengan senangnya ia duduk tepat di hadapan Levord.


“Ini pertama kalinya kita berjumpa ya? Kalau begitu kuucapkan senang bertemu denganmu, Tuan Muda Aieraelf.” Ucap Waldon yang tersenyum bangga.


“Sudah cukup basa-basinya! Aku tidak mengira yang kutemui di tempat yang sama buruknya dengan penakut sepertimu.” Ucap Levord yang membalas senyuman Waldon.


“Kau tidak berubah ya?” Tanya Waldon dengan mendorong tubuh Levord hingga tersudut di dinding yang dibuatnya sendiri.


Dorongannya yang begitu penuh akan ledakan amarah terasa sangat jelas di mata Levord.


“Kau pikir kau berhak mengubah sikapku padamu?” Tanya Levord dengan membiarkan dirinya diserang sekali lagi.


Tangannya begitu pandai digerakkan dan mengatur segala posisinya.


Ia mengambil kunci yang disembunyikan oleh Waldon karena ia tahu bahwa lawannya sangat tidak menginginkan dirinya menyentuh kunci ini, ‘Ends Violence of Keyword’.


“BRUK!”


Waldon mencekik sekuat tenaga musuh di depannya.


Ia benar-benar tidak peduli apa akibat dari perbuatannya ataupun apa yang telah dilakukannya pada seorang kenalan yang telah ia kenal begitu dalam.


“Tentu saja aku berhak! Sejak aku dijatuhkan dari tingkat itu, kau bahkan tidak menoleh padaku meskipun hanya untuk mengucapkan satu huruf. Kau meninggalkanku dan menghilang ke dalam jurang yang tidak bisa aku raih. Setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal, namamu telah menghilang dari kamus keluarga! Ini adalah kesempatan kita bersatu dan kau tidak ingin melewatinya, bukan?” Tanya Waldon yang menatap tidak percaya pada apa yang telah dilihat dan didengar oleh mata kepalanya sendiri.


“Pft!”


Sepertinya Levord tidak lagi dapat menahan rasa haru akan pertemuannya kali ini.


Tangannya mencengkeram kembali asal tangan Waldon, lebih tepatnya di bagian bahu kiri.


Ia yakin tanpa harus bersikeras bicara padanya, Waldon akan mengerti dengan sendirinya.


Lemparan tubuh yang jauh membuat Waldon terbanting hingga terasa ke tulang rusuknya.


Itu tidak mengapa baginya karena yang sakit fisik yang ia rasakan kali ini masih tidak sepadan dengan yang sebenarnya ia rasakan.


“Itu untuk menyadarkanmu karena ini bukanlah mimpi. Oh! Haruskah kutambahkan ‘Kakak’ di akhir kalimat?” Tanya Levord dengan berpura-pura kebingungan.

__ADS_1


Ia dapat dengan mudahnya menemukan titik ketakutan dan kesedihan dari Waldon, kakak keduanya, tetapi ia sadar bukan cara dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya yang terbaik khususnya untuk diri sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2