
“DING!”
“3 pesan belum dibaca!” Bunyi sebuah notifikasi masuk.
Kalvetno membuka pesan dari hologram miliknya lebih cepat dari Sorayna.
Sama halnya dengan pesan yang belum terbaca, ‘Ligeam Root’ belum menyerang mereka berdua.
Ketiga pesan yang dibagikan setelah para peserta menginjakkan kakinya di ‘Fragment 2’ menjadi permainan “Kalah atau dikalahkan”.
“Tim 1001 memperoleh hukuman! Victor Karl Gilderoy, Levord Vanschtexion Aieraelf, Kalvetno Heinry Dalfatch, Sorayna Eucaston Geoverra, Ravettha Toftrelnd Seinoray, Vicenzo Cedric Gervais, dan Waldon de Birtsen adalah 7 pemilik inti ‘Ligeam Root’!” Bunyi pesan pertama.
Ia yang tidak mengerti mengapa hukuman begitu berat ini jatuh ke kelompoknya langsung menekan tombol “Lanjutkan” tanpa berdiskusi dengan keenam rekannya.
“KLIK!”
Pesan kedua yang ia dapatkan ternyata lebih menyeramkan dari keadaan sekitarnya.
Hanya dengan bertuliskan di layar hologram, pesan itu berbunyi, “Pilihan pertama, yaitu jadilah mangsa dan mengandalkan kemampuan bertahan hidup. Pilihan kedua, yaitu jadilah pemangsa dan temukan jalan altenatif.”
Tidak hanya Kalvetno saja yang diharuskan memilih satu respon untuk meningkatkan sedikit waktu kematiannya.
Sorayna benar-benar marah karena merasa dipermainkan semenjak masuk ke ‘Itascaria Fragment’ bersama keempat sahabat dan satu gurunya.
Ia sudah tidak mau tanggung jawab jika gurunya tidak meluluskannya di akademi dan mendapatkan peringatan dari rajanya untuk ke-8 kali.
Levord memandang layar hologramnya dan melihat ke sekitarnya, sedangkan kakaknya justru bersiul dan duduk bersila di permukaan tanah.
“Kau memilih di antara mereka?” Tanya Levord dengan kembali memandang layar hologram.
Tidak ada emosi kemarahan ataupun rasa ketidakadilan yang menimpa mereka.
Bagi mereka berdua, ini bukan tentang adil atau tidak, tetapi bagaimana sikap yang dibutuhkan agar mencapai keberhasilan.
“Tidak sama sekali.” Ucap Waldon.
Ia begitu santainya menanggapi amarah yang tidak beraturan dari para peserta di sekelilingnya.
Mata mereka berapi-api dan sangat ingin menyerang jarak dekat.
“Kalian sudah baca pesan terakhirnya?” Tanya Pak Victor yang ikut bergabung dalam percakapan antara kakak beradik.
Levord dan Waldon menggelengkan kepalanya bersamaan.
Kekompakan mereka berdua yang selaras satu sama lain membuat ketujuh anggota Tim 1001 harus memotong waktunya.
Sebuah pohon besar akan bermutasi dengan cara yang lebih cepat.
Pada umumnya, kecepatan bermutasi akan berdampak pada revolusi yang mereka buat dan salah satu penyebabnya berasal dari seberapa banyak jumlah inti ‘Ligeam Root’.
__ADS_1
“Apa lagi yang kalian tunggu? Musnahkan ‘Ligeam Root’ sekarang juga!” Ucap seseorang dengan menggunakan pengeras suara milik rekan kelompoknya.
Ia sungguh menaruh perhatian pada sebuah anggapan yang berbunyi, “Semua orang akan sukses!”.
Para anggota kelompoknya menjadi sangat antusias dan diikuti oleh para peserta lainnya.
Senjata mereka yang cenderung berkuantitas menambah keyakinan diri sendiri bahwa hanya kelompok merekalah yang akan memenangkan ‘Fragment 2’ ini dan mencapai puncak misi.
Tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan kesedihan.
“Hoho! Sepertinya ini akan menarik?” Tanya Ravettha dengan tersenyum kecil.
Vicenzo menyaksikan senyuman itu dari samping meskipun ia tahu ada besar kemungkinan itu akan membuat partnernya bahagia.
Ia menerima dengan penuh lapang dada dan mendukungnya dari samping.
Alasannya sungguh tidak berarti dalam situasi seperti ini.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menggantikan posisi sejajarku dengannya!” Ucap Vicenzo yang mematik apinya sendiri.
“Pesan ketiga telah terbuka!” Bunyi notifikasi yang muncul tiba-tiba tanpa mengenal keadaan ataupun waktu.
“Terus tumbuh dan berkembanglah, wahai unsur dari segala kehidupan!” Bunyi pesan ketiga.
Layar hologram yang belum dimatikan ternyata sudah tidak berpengaruh.
Pesan terakhir ini telah berhasil menjawab pertanyaan mendasar ketujuh anggota Tim 1001.
“SRAT!”
Sebuah jarum pengobatan berubah fungsi dan mengarah langsung ke Vicenzo.
Jarum itu sungguh ringan hingga mudah diterbangkan seperti pesawat mainan.
“CRAK!”
“Koleksi yang bagus! Sayang sekali ini tidak pantas masuk ke dalam lemariku. Apa kukembalikan saja ya?” Tanya Vicenzo dengan menangkap jarum pengobatan yang telah berubah menjadi jarum racun tingkat rendah, lalu mematahkan rapalan kunci sihirnya hingga terpecah belah dan kehilangan fungsi.
“Coba saja!” Ucap seorang remaja putri yang tidak peduli apa yang akan terjadi kedepannya.
“Jadi itu umpan?” Tanya seseorang dari telinga kirinya.
Ia begitu yakin jika ada musuh di area amannya sehingga dengan keyakinannya, ia menyerahkan targetnya pada rekan sekelompoknya.
Sejauh ia memandang lurus ke depan, kedua telinganya digunakan dengan sangat baik, dan indra tubuh lainnya bersiap menyalakan sinyal bahaya, sayangnya ia tidak mendapati satupun dari yang ia inginkan.
Perlawanan yang seharusnya ia dapatkan justru dibayar dengan kesunyian dan kesendirian tingkat tinggi.
“Ini hanya permulaan! Mana mungkin targetku yang jelas-jelas kuat itu bersembunyi seperti tikus menjijikkan itu!” Ucap remaja putri yang telah menyerang dengan kepintarannya.
__ADS_1
Kesunyian menghampirinya hingga ke tulang rusuk.
Tidak ada tanda-tanda nyawa yang bisa dijadikannya makan malam.
Ravettha menatap satu per satu mata lawan yang berlarian menuju dirinya.
Jumlahnya yang banyak, sangat memungkinkan tingkat konsetrasi yang tinggi pula.
Ia bertepuk tangan dengan sekeras-kerasnya sebanyak 9 kali.
“JLEB! JLEB! JLEB! QUASSSSHHHHH!”
“Kita punya tambahan persediaan, kalian ingin kusisakan yang mana?” Tanya Ravettha yang mendapati 780 korban beserta organ dalam yang berserakan dimana-mana.
Mendengar akan adanya hadiah sekaligus bonus, Falext, Nicholas, Lartson, Layla, Leonardo, dan Glendy sebagai keenam bawahan setianya langsung mengaktifkan layar hologram masing-masing.
“Aku ingin tulang rusuknya! Jangan lupakan dengan paru-parunya!” Ucap Lartson yang mendominasi pertemuan tidak langsung mereka.
“Berikan padaku jantung dan daging mereka, master! Mereka sangat lezat bagiku!” Ucap Leonardo dengan matanya yang berbinar-binar dan tetesan air liurnya yang telah tumpah dari tempatnya.
“Tidak, tidak, tidak! Master harus membawakanku tulang tengkorak utuh dengan tambahan 5.000 liter darah segar!” Ucap Nicholas yang bersikukuh menginginkan persediaan untuk proyek impiannya.
“Bisakah master menyisakan organ pencernaan mereka untukku?” Tanya Glendy tersipu malu karena tidak kuat menahan rasa senangnya.
“Biarkan aku memberesi sisanya, Master!” Ucap Layla dengan matanya yang berapi-api dan dipenuhi semangat yang menggelora.
“Jangan dibuang bola matanya! Itu mahal tau!” Ucap Falext yang terkejut mendengar perkataan Layla.
“Tidak bisa~ Sisanya adalah milikku!” Ucap Layla dengan mengangguk setuju.
Sorot matanya menunjukkan sambutan hangat.
Ravettha yang mengetahui reaksi akan keenam bawahannya langsung memercayakan pada mereka.
“Vett! Kamu sedang bicara pada siapa?” Tanya Sorayna yang baru kembali dari medan perangnya.
“Enam Bawahanku. Apa ada yang salah?” Tanya Ravettha.
“Tidak juga.” Ucap Sorayna dengan menepuk-tepuk pundak sahabat perempuannya.
Isyarat itu menandakan dirinya meminta bantuan.
Ravettha menyadari ada yang salah dari sahabat satunya ini.
“Sorayna!” Ucap Ravettha dengan menggenggam tangan Sorayna.
Wajahnya yang serius langsung ditanggapi dengan disertai sedikit penasaran.
“Apa kau masih punya kristal itu? Aku belum melihat hasil koleksi itu.” Ucap Ravettha.
__ADS_1
BERSAMBUNG