Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Situasi Rentan Tidak Stabil


__ADS_3

"Berkunjung." Ucap Ravettha tersenyum kecil karena berhasil mengetahui reaksi lawan bicaranya.


Sebagai ayah yang telah mendengarkan jawaban anaknya, ia langsung mempersiapkan segala kebutuhan bagi Ravettha.


Pelayan dan anggota kerajaan disekitarnya telah diberikan perintah.


"Tunggu apa lagi kalian?! Cepat siapkan keperluan putriku! Dia akan tinggal disini mulai sekarang!" Ucap Rubeus memerintah kepala pelayan dan bawahannya.


"Aku tidak masalah jika dia diakui kembali sebagai anak kita. Aku ingin tahu apakah ini tidak terlalu cepat?" Tanya Lucretia penasaran akan keputusan sang Raja.


"Apa pedulinya aku mengenai cepat atau lambat? Anakku adalah anakku. Setiap anak pantas mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Kau tidak setuju, buat saja aturan sendiri dan pergi dari istana ini!" Ucap Rubeus dengan menunjukkan ekspresi dingin dan terkesan tidak berperasaan.


"Ho! Ternyata aku tak perlu turun tangan lagi." Pikir Ravettha tersenyum ramah karena segala bentuk mata-mata telah disingkirkan.


"DING!"


"Apa yang anda lakukan disini? Target dunia akan segera dimulai." Bunyi notifikasi sistem hologram sama sekali tidak mengerti pemikiran penggunanya.


"Aku tau itu. Pertunjukannya akan segera dimulai, sayang sekali jika kau terus berbicara." Bunyi pesan yang Ravettha tulis tanpa disadari para bangsawan di sekitar.


Baru satu langkah ia berjalan mengikuti ayah kandungnya, para petarung tingkat tinggi dan seluruh pemilik kemampuan bela diri berguguran di tempat.


Tidak ada satupun penduduk yang mampu melihat asal serangan.


Situasi yang tidak stabil inilah berubah menjadi keuntungan tersendiri bagi pasukan khusus Ravettha.


"Dimana kepala pelayan kita? Penjaga juga tidak datang menghadap. Apa mereka melupakan tugasnya?" Tanya Rubeus mencoba paksa dirinya berpikir mengenai asal keanehan.


"Sayang, lebih baik kita mencari tempat aman. Aku akan membawa keempat anak kita. Berjanjilah padaku kau tetap hidup demi kami, ya?" Tanya Lucretia memastikan suaminya mendengar kesepakatan yang mereka buat.


Tidak ada jawaban dari Rubeus dan itu membuat Lucretia merasa tidak perlu menunggu lagi keputusan suaminya.


Ia tetap memenuhi perkataannya, mencari keempat putra putri, dan membawanya ke markas besar.


"Bunda! Kami tidak melihat kakak pertama. Dia tidak merencanakan hal ini, bukan?" Tanya Millicent ketakutan karena membayangkan kekuasaan, kerajaan, dan kekuatan yang telah ia miliki dirampas oleh orang lain.


"Jangan bicara sembarangan, adik ketiga! Kakak pertama telah membenci kita, tetapi ia tidak mungkin menjatuhkan posisinya sendiri. Dia tidak sebodoh itu!" Ucap Ginevra menyadari kehadiran sosok asing yang terasa cukup familiar di kedua matanya.


"PROK! PROK! PROK!"

__ADS_1


"Aku tidak menyangka adik keduaku ini memihakku!" Ucap Severus bertepuk tangan tiga kali dengan tersenyum senang.


"Apa maksudmu, putraku?" Tanya Lucretia penasaran mengenai perkataan anaknya ini.


"Kita lihat saja siapa yang korbannya dan siapa yang pemangsanya. Benar begitu, adik keempatku?" Tanya Severus melemparkan pedangnya untuk ditangkap adik terkecilnya.


Ravettha yang mendapati pertanyaan kakak kandung pertamanya ini akhirnya mulai mengerti apa yang telah terjadi selama dirinya tidak ada disini.


Ia membiarkan pedang itu jatuh di samping tubuhnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"18 detik, 37 detik, 5 detik, dan 1 menit 24 detik. Hanya tinggal hitungan waktu saja!" Pikir Ravettha menatap Ginevra, Lucretia, Millicent, dan Severus secara berurutan.


"Adikku! Mau sampai kapan kau melamun seperti patung disana?" Teriak Severus yang sudah cukup jauh berlari mengikuti ibu dan adik-adiknya.


"ARGH!!! BRUK!"


"P-Putri manisku?!" Teriak Lucretia sekaligus terkejut secara histeris.


"I-Ibunda...!" Lirih Ginevra dengan tubuh yang begitu lemas dan tidak berdaya.


"Apa bunda melihat arah serangannya?" Tanya Ravettha berjalan santai menghampiri Lucretia dan Severus.


Meskipun dirinya tidak rela mengakui ibunya, pertunjukan tidak akan menarik jika dirinya hanya berdiri di belakang dan menjadi tersangka.


"Tidak ada tanda-tanda mereka menyerang! Jikalau ada, kakakmu sudah menyadari keberadaan mereka." Ucap Lucretia sungguh berharap dua keturunan tersisanya selamat dari bahaya.


"Kakak meminjamkan pedangmu padaku. Bisa kakak ajari aku menggunakannya?" Tanya Ravettha berbalik badan dan pergi mengambil pedang yang sengaja ia tinggalkan di tempat awal ia melamun.


Selama dirinya berjalan mengambil pedang, ia memperlambat jalannya.


Hanya ketika mendekati keluarganya, barulah ia mempercepat kembali langkah kakinya.


"Ibunda telah meninggalkan kita. Aku tidak mau tau lagi, kita akan bertarung melawan mereka sampai akhir!" Ucap Severus tanpa sadar air matanya mengalir deras tanpa mengenal waktu.


"Kupikir kunjunganku akan dipenuhi canda dan tawa. Sepertinya kita kedatangan tamu, kakak!" Ucap Ravettha dengan asalnya melempar pedang ke belakang tubuh Severus.


Sedikit saja terlambat, pedang itu akan memangkas paksa telinga kakak pertama.


Terlihat dengan jelas Severus tidak menyangka dirinya akan dikhianati dalam waktu kurang dari lima menit.

__ADS_1


"Jika kehilangan telinga, apa 'Keluarga' itu masih penting?" Tanya Ravettha berjalan melewati kakaknya dan pergi mengambil pedang yang tertancap.


"Tentu saja penting! Mereka adalah orang pertama yang memberi kita makna hidup! Tanpa orang-orang itu, seseorang akan buta arah dan tujuan!" Ucap Severus memberikan penekanan pada setiap perkataan.


"SRET!"


"Benar! Itu baru benar! Kau menunjukkannya dengan tepat." Ucap Ravettha menatap tajam kematian kakaknya dan pergi begitu saja.


Ia tidak peduli dengan jasad yang berguguran karena tugasnya disini belum bisa dikatakan selesai.


Nyawa, roh, dan kekuatan para korban telah diambil pasukan khususnya, sehingga mereka yang akan mengurus pembagian imbalan.


"Master! Anda kemana saja? Bahkan anda tidak ada di ruangan." Ucap Falext panik karena tidak menemukan majikannya.


"Aku berpatroli. Lagipula aku masih ada urusan disini. Bagaimana keadaan disana?" Tanya Ravettha menerima panggilan partner utamanya ini.


"Berjalan seperti yang kita harapkan, master! Ini laporannya. Bukankah setelah ini kita akan melaksanakan rencana itu, master?" Tanya Falext penasaran akan tugas terpenting yang harus dilakukan.


"Ya, kita lakukan itu segera!" Ucap Ravettha sebelum mengakhiri panggilan langsung dari Falext.


"Baik! Kami menunggu perintah anda, master!" Ucap Falext mengundurkan diri dan memberi salam kepada majikannya.


Ravettha langsung berjalan keluar, memeriksa dunia yang dipijaknya, dan pergi mencari seorang kenalan.


Ia benar-benar melihat medan perang yang dipenuhi bercak darah, daging segar, dan senjata perang yang lumayan berguna.


"Huh?! Kau disini juga, Gervais I?" Tanya Ravettha menyeringai lebar begitu dirinya menemukan tempat persembunyian kenalannya.


"Siapa kau, gadis lemah?" Tanya Gervais I menatap tajam dan tidak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk berlama-lama disini.


"Akui saja kau mau menghancurkan seluruh dunia, bukan?" Tanya Ravettha tersenyum ramah saat berbicara dengan lawan bicaranya.


"Menghancurkan? Kau dari fraksi mana? Aku yakin sudah menyelesaikan tugasku dengan teliti!" Ucap Gervais I sungguh terkejut mendengar perkataan musuh yang tidak dikenal.


"Oh ya? Baiklah! Kusarankan kau memeriksanya lebih teliti lagi, Gervais." Ucap Ravettha langsung meninggalkan kenalannya ini dengan penuh tanda tanya.


Ia pergi ke 'Ruang Pelatihan Rahasia' miliknya dan kembali memasuki ruang kerja.


Kehadiran yang disambut baik dengan rasa menghargai satu sama lain berhasil mempermudah seleksi uji coba.

__ADS_1


"Tepat juga ya kita menciptakan chip itu dan mengontrol hati mereka? Ah! Aku ingin melihat hasil rekaman selama di Ocaxius." Pikir Ravettha dengan tersenyum senang.


BERSAMBUNG


__ADS_2