
"Sorayna! Bangun! Kau akan kehilangan kesempatan berharga jika kau tidur terus!" Ucap Kalvetno dengan menggunakan kemampuan telepatinya sedangkan salah satu tangannya menarik paksa Sorayna agar bangun sebelum pak guru mengetahui tindakannya.
"Huh...? Apa aku bisa keluar sekarang? Hore!" Gumam Sorayna yang baru saja membuka matanya setelah mendengar suara yang tidak asing baginya.
Ia langsung bangun dan berlari secepat kilat keluar kelasnya dan tentunya melebihi kecepatan lari Kalvetno.
Melihat hal tersebut, Levord pun ikut berlari menyeimbangi kecepatan lari Sorayna.
"Kenapa aku yang ditinggal sendirian sekarang? Dasar Sorayna tidak tahu terimakasih! Akan kubuat kau membayar semua hutangmu!" Teriak Kalvetno dengan sangat kesal dan lari terbirit-birit.
Ia berlari menyusul ketiga temannya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Pak! Mereka diperbolehkan keluar, sedangkan kami tidak! Seharusnya bapak tidak pilih kasih, dong!" Ucap para murid lainnya secara serempak.
"PLAK!!!"
Sebuah penggaris yang terbentuk dari lilitan akar tumbuhan dipukulkan ke papan tulis dan menghasilkan suara pukulan yang keras.
Keringat dingin langsung terasa di seluruh tubuh para murid-murid di kelas tersebut.
Aura pak guru tersebut semakin besar dan menakutkan yang membuat seluruh anggota kelas gemetar ketakutan.
Sangat terlihat jelas bahwa ia sedang menahan amarahnya yang sudah seperti bom waktu.
"Kelas sampai sini saja. Bersenang-senanglah karena kalian aman!" Ucap pak guru tersebut dengan mengambil buku mengajar miliknya lalu melangkahkan kakinya keluar dengan ekspresi yang kembali datar tanpa emosi.
Hampir tidak ada yang bisa menebak makna dari perkataan maupun perasaan yang sedang dialaminya baik itu rekannya atau murid-muridnya.
"Apa? Kita akan? Aman dari ledakan yang tadi itu, kan?" Tanya seorang siswa dengan tidak percaya pada apa yang baru saja gurunya sampaikan.
"Kurasa begitu. Setidaknya kita aman dari bahaya untuk saat ini." Ucap siswa lainnya dengan menghembuskan napas lega.
"Em... Anu... Sepertinya bukan itu yang dimaksud pak g-guru...!" Ucap seorang siswi yang memakai penutup di kedua matanya.
Ia bernama Adelhert Xoperia.
__ADS_1
Ia memakai penutup di kedua matanya dikarenakan kecelakaan yang menimpanya pada saat pergi menuju desa ayahnya berada.
"Hei, anak buta! Memangnya apa lagi jika bukan kita aman dari bahaya di luar sana? Haah?" Tanya seorang siswi dengan penuh emosi karena dirinya merasa tersinggung setelah ikut membuat pak gurunya marah.
"Ternyata mereka sama saja...!" Pikir Adelhert dengan wajah yang mulai cemberut.
"Apa maksudmu pak guru mengakhiri kelas hari ini karena banyak anak yang melanggar kriterianya dalam mengajar?" Tanya ketua kelas yang baru datang setelah menyerahkan tugas-tugas seluruh murid ke ruang guru.
"I-Itu b-benar!" Ucap Adelhert dengan mengangguk setuju dan wajahnya yang mulai kembali senang karena ia merasa ada teman yang sepemikiran dengan dirinya.
"Haduh...! Tugas kita jadi semakin tambah banyak! Hukuman apa lagi yang akan kita dapatkan Minggu depan saat jam pelajarannya tiba?" Tanya seorang siswa dengan terlihat murung.
Adelhert memutuskan untuk meninggalkan pembicaraan tersebut saat yang lainnya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"BZRRT!"
Sebuah batu orange yang merupakan alat komunikasi seorang agen rahasia bernama Namiya Odeiricth berbunyi.
Tepat saat ia membuka isi pesan yang telah disampaikan kepadanya, ia melihat seorang siswi berambut cyan dan berwarna ungu muncul dari sebuah ruang kelas dan hal tersebut membuat dirinya terkejut atas kerahasiaan misinya.
"Seharusnya kau tidak perlu membuatnya pingsan, bukan? Itu sama sekali termasuk hal yang ceroboh, loh!" Ucap sebuah suara yang berasal dari alat komunikasi Namiya.
"Iya, iya. Maafkan aku senior Fella. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Namiya dengan memohon ampunan atas tindakan yang telah dibuatnya.
"Humph! Baiklah. Awasi pria yang bernama Vicenzo Cedric Gervais ini! Laporkan semua yang kau dapatkan setiap 3 jam sekali!" Ucap senior Fella.
"Baik, laksanakan! Oh, ya, senior! Bolehkah aku meminjam anak ini sebentar?" Tanya Namiya dengan mata yang penuh keseriusan terhadap permintaannya.
"Terserah yang kau inginkan saja. Yang pastinya kau wajib menaati kontrak kerjasama kita!" Ucap senior Fella dengan nada yang mengintimidasi.
"Terimakasih, senior! Aku berjanji akan memberikan hasil yang memuaskan!" Ucap Namiya dengan penuh semangat.
"Kuharap juga begitu. Semoga beruntung, junior!" Ucap senior Fella dengan menonaktifkan pesan suaranya.
"Mari kita periksa alat ini dan keberadaannya saat ini!" Pikir Namiya dengan memeriksa keberadaan Vicenzo melalui peta yang telah ia siapkan sebelum pergi menerima misi rahasianya.
__ADS_1
"Ho... Siapa tiga sinyal ini? Bisakah kau mengidentifikasi siapa mereka bertiga?" Tanya Namiya dengan tersenyum dan salah satu tangannya sedang mengendalikan kesadaran seorang tawanannya.
"Ya. Serahkan saja padaku." Ucap tawanan Namiya dengan penuh kepatuhan dan keyakinan sesuai keinginan pengendalinya.
"Bagus! Aku suka kalimat itu! Jangan kecewakan aku, ya?" Tanya Namiya dengan tersenyum licik.
Tawanannya langsung dilepaskan dan dirinya pergi menghampiri Vicenzo.
Sementara itu, Levord, Sorayna, dan Kalvetno yang sedang mengikuti Vicenzo di dalam hutan belantara menjadi bingung dan juga merasakan lelah.
"Tunggu sebentar, teman-teman! Hosh! Hosh! Sebenarnya apa tujuan kita hingga kabur seperti ini?" Tanya Sorayna yang sedang mencoba untuk mengatur napasnya agar kembali stabil setelah berlari cukup lama.
"Kami melihat Vicenzo berlari keluar dari kelas dengan wajah yang cemas. Menurutku ada suatu kejadian buruk yang terjadi dan berhubungan dengannya sehingga ia pergi memeriksanya. Akan tetapi, Kalvetno berpikir hal lain dimana yang ia pikirkan adalah kebebasan, sehingga ia dan aku bersepakat untuk menjalankan rencana ini." Ucap Levord dengan melirik ke arah Kalvetno.
"Hei, hei, kawan! Sorayna juga berpikiran yang sama denganku. Sayangnya, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga ia memilih berdiam diri dan tidur layaknya putri tidur. Salah! Sorayna bukan putri tidur, tetapi...!" Ucap Kalvetno yang berencana menjahili Sorayna.
Walaupun rencana gagal total karena sebelum menyelesaikan perkataannya, ia sudah diberikan hukuman oleh Sorayna.
"BUAGH!"
Sebuah tendangan mendarat tepat di perutnya.
"Sepertinya kau itu tipe penghindar dari risiko, ya? Apa ya hukuman yang sangat bagus untuk merubah etikamu agar dapat sedikit sopan? Berterimakasihlah pada ide cemerlang yang baru saja kudapatkan! FUFUFU!" Ucap Sorayna dengan tawa jahatnya.
"Pft! Memangnya kau siapa? Kau hanyalah teman sekaligus musuhku! Sebaiknya kau segera membayar semua hutang-hutang balas budimu kepadaku!" Ucap Kalvetno dengan menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari tendangan Sorayna tersebut.
"Coba katakan sekali lagi! Aku akan dengan sangat senang hati melemparmu hidup-hidup ke dalam neraka!" Ucap Sorayna dengan dipenuhi amarah yang hampir meledak.
"Kalau begitu, apakah kau pernah melihat isi tempat terdalamnya? Ceritakanlah padaku!" Ucap Kalvetno dengan tersenyum senang karena ia merasakan kemenangan setelah berdebat bersama Sorayna.
"Kau ini!!!" Teriak Sorayna dengan berniat memberikan hukuman yang sangat besar kepada Kalvetno.
"Sorayna! Kalvetno! Jangan lupakan tujuan utama kita! Kita harus cari tahu keberadaan Ravettha!" Ucap Levord dengan penuh ketegasan.
BERSAMBUNG
__ADS_1