
Portal Lartson dihubungkan dengan lokasi keberadaan Falext.
Di saat yang bersamaan, Lartson dibuat kebingungan dengan langkah pertamanya dalam menjalankan tugas.
"Loh? Kenapa lokasinya berubah-ubah? Dia masih di Ruang Pelatihan Rahasia milik master, bukan?" Pikir Lartson tanpa menunggu lama hanya untuk berpikir karena ia langsung menetapkan tujuannya.
Pintu portal terbuka dan Lartson memasukinya.
Dalam hitungan detik, portal tertutup sehingga dirinya dapat menyelesaikan tugas.
"Lartson!" Teriak Tuan Glendy dari kejauhan.
Nada suara yang menyebalkan sangat tidak asing bagi Lartson.
"Itu kau? Aku terharu kau datang meminta bantuan dariku. Sungguh disayangkan, master baru saja memberikan tugas. Aku pergi dulu!" Ucap Lartson dengan bangga sekaligus senang akan kepercayaan masternya.
"CTAK!"
"Dasar iblis bodoh! Ini bukan saatnya kau pamer! Kami butuh kau selesaikan masalah." Ucap Tuan Glendy berusaha sebisa mungkin menyadarkan Lartson.
"Terakhir kali sudah kau urus, bukan?" Tanya Lartson mulai kembali serius menghadapi perkataan rekannya.
"Kau lihat saja sendiri." Ucap Tuan Glendy dengan jari telunjuk yang mengarah ke Falext dan satu anggota asing.
Lartson merasa ada hal penting yang lebih darurat daripada sebuah tugas dari majikannya.
Secepat mungkin, dirinya langsung teleport menuju sumber masalah.
Hanya ada satu bola yang tersisa, sedangkan enam bola lainnya telah tersusun melingkar di dalam chip induk.
"Bola apa ini?" Tanya Lartson semakin tidak mengerti apa yang telah terjadi selama dirinya keluar sebentar.
"Roh Elemen. Enam bola yang kau lihat mewakili api, air, cahaya, kegelapan, alam, dan udara. Kau memiliki roh campurannya, tidakkah kau mengetahuinya?" Tanya Foilaxt menatap tidak percaya pada pemahaman yang dimiliki sekutunya ini.
"Tidak perlu kau katakan, aku sudah pasti akan melakukannya lebih dahulu. Lagipula, siapa kau seenaknya berpihak pada kami tanpa pemberontakan?" Tanya Lartson memandang lawan bicaranya dengan penuh ketidakpedulian.
Sekali menjentikkan jarinya, apa yang disebut 'Roh Elemen Campuran' langsung muncul sesuai permintaan kecil yang dibutuhkan.
Tanpa mengatakan lebih banyak, ia berjalan menuju Falext, menyampaikan surat seperti yang telah diperintahkan, lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan rekannya.
"Tolong jangan kecewakan master kita. Kau paling tau apa yang akan terjadi, bukan?" Bisik Lartson dengan menyelipkan surat majikannya ke dalam jaket biru tua Falext.
__ADS_1
Falext yang tidak tau motif Lartson hanya bisa mencari tahunya melalui sepucuk surat yang ada di tangannya.
Rasa penasaran memuncak justru tergantikan dengan ketakutan tidak berujung selama setahun lebih.
"Falext! Lartson mengucapkan hal penting? Apa dirinya membawa semacam pesan dari master? Hanya dirinya yang bisa menggantikan kita selama hologram pusat ini rusak." Ucap Leonardo merasakan bahaya yang mengancam dari surat tersebut.
"Ya. Master ingin kita secepatnya terhubung satu sama lain." Ucap Falext menyerahkan surat yang telah dibacanya ke lima rekannya.
Tuan Glendy, Nicholas, Leonardo, Layla, dan Rufino pun ingin membacanya.
Mereka berlima tanpa sadar justru berusaha memahami maksud dari majikannya.
"Aku mengawasi kalian." Bunyi pesan Ravettha di dalam suratnya.
Dibandingkan rasa penasaran yang membara itu, kelima bawahannya menjadi senang dan bersemangat untuk sementara waktu.
"Master memang yang terbaik! Anda tidak perlu khawatir karena kami akan membereskannya untuk anda, master." Ucap Tuan Glendy, Nicholas, Leonardo, Layla, dan Rufino.
Sementara Falext menulis surat sesuai persetujuan kelima rekannya, ia juga memanggil Lartson kembali untuk mengantarkan suratnya.
Baik dirinya atau pun Lartson, tidak ada yang mau mendapatkan hukuman dari majikannya.
Ravettha yang menerimanya, tersenyum kecil saat membaca keseluruhan isi surat tersebut.
"Master...!" Ucap Rufino mencoba ulang keberhasilan kinerja mereka bertujuh.
"Apa sudah terhubung?" Tanya Tuan Glendy yang penasaran akan kondisi di sekitar majikannya.
Ia benar-benar takut jika sedikit pun nyawa majikannya terancam.
"Anda semakin menawan, master!" Ucap Layla yang kagum setelah sekian lama tidak bertemu dengan majikannya.
"Ini giliranku bicara! Kalian minggir sana!" Ucap Leonardo merasa sangat kesal seluruh perhatian yang seharusnya tertuju padanya telah terbagi kepada empat rekannya.
"Lupakan saja, Leonardo. Ada yang ingin kubicarakan langsung dengan master." Ucap Falext menyelinap ke barisan terdepan sekaligus menyingkirkan pembicaraan yang tidak perlu.
Dirinya langsung berteleport tepat di hadapan majikannya.
Pakaian formal membuat dirinya menjadi sungguh elegan.
Hanya saja, sifat brutalnya lebih mirip alat penghancur.
__ADS_1
"Master membuatku khawatir. Aku membawa Foilaxt. Status sekutunya akan segera berakhir tergantung keputusan anda, master." Ucap Falext mengeluarkan Foilaxt untuk diadili.
"Yah... Tidak masalah. Pada akhirnya juga akan dibuang setelah dimanfaatkan." Ucap Foilaxt menatap senang wajah Falext.
Mengetahui kalimat terakhir milik sanderanya, Ravettha merasa tidak perlu turun tangan mengeksekusinya.
Ia hanya perlu membiarkan Falext yang melakukannya.
"Falext! Belah tubuhnya jadi 2 bagian." Ucap Ravettha kembali pergi dan berniat mengambil bayaran dari kesepakatannya bersama Rencouff.
Bilik nomor 1 menjadi begitu sunyi.
Dirinya yang membuka pintu tersebut langsung dikejutkan dengan peningkatan kepercayaan diri rekannya ini.
"Bagaimana? Aku pasti bertambah keren!" Ucap Rencouff kegirangan setelah berkali-kali memperhatikan hasil yang ditunjukkan cermin mengenai dirinya.
"Ternyata itu benar kau, Rencouff! Kuakui kau berhasil membuatku terpukau oleh pesonamu. Lalu, apa kita akan berhenti disini saja?" Tanya Ravettha menarik keluar Rencouff dari biliknya dan pergi menuju perpustakaan.
Belum sempat dirinya mendapati arahan rekannya, Rencouff langsung mengeluarkan senjata miliknya.
Di saat yang bersamaan, Lartson dan Falext menjadi terbayang-bayang akan aura pembunuh.
"Master! Anda harus berhati-hati!" Ucap Falext dan Lartson bersamaan.
"Tentu saja! Kalian tidak perlu terlalu cemas. Ah! Aku belum memperkenalkannya. Dia rekanku, Borend Couffel dan aku memanggilnya, Rencouff. Berkhianat atau tidak, kita akan tau setelah kesepakatan ini berakhir." Ucap Ravettha memberikan jawaban khusus tanpa terdengar ke telinga rekannya.
Mengetahui akan hal tersebut, kedua bawahannya hanya bisa mengawasi dan mempersiapkan seluruh kemungkinan yang bisa terjadi.
Mereka berdua memohon undur diri sekaligus melaksanakan tugas lainnya yang belum terselesaikan.
"Kuragu kau pernah menaikinya. Apa perlu kuberi tau caranya, Ravettha?" Tanya Rencouff merasa tidak percaya jika rekannya belum pernah mengendarai pedang terbang.
"Kau lebih banyak tau tentangnya. Mungkinkah kau penggemar kendaraan terbang?" Tanya Ravettha dengan mencoba pedang terbang milik rekannya ini.
"Aku tidak tau bagaimana tebakanmu benar-benar tepat. Selain konsep modelnya yang berkelas, aku lebih tertarik pada kecepatan perputaran prosesnya." Ucap Rencouff memberikan arahan menuju tempat.tujuannya.
"Kecepatan perputaran proses? Yang kau katakan adalah bersenang-senang menikmati kecepatan tingkat tinggi, bukan?" Tanya Ravettha yang memperhatikan hal dominan dari pedang terbangnya.
"HAHAHAHA! Kau menangkap maksudku, Ravettha. Sepertinya aku akan membutuhkanmu di lain waktu." Ucap Rencouff dengan mencari tahu informasi apa yang paling menarik bagi Ravettha.
BERSAMBUNG
__ADS_1