Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Benih Kumpulan Kekuatan


__ADS_3

"Ternyata Gervais masih belum selesai pekerjaannya. Wielmsiestor, Indereit, Aedoglas, dan Nomiculfon! Mari kita mulai persiapannya!" Ucap Yang Mulia sekaligus majikan dari kelima anak buahnya.


"Sesuai perintah anda, Yang Mulia! Kami menyerahkan diri kami, bersatu, dan mewujudkan benih unggul terakhir kami, Ravettha Toftrelnd Seinoray." Ucap Wielmsiestor, Indereit, Aedoglas, dan Nomiculfon secara bersamaan.


Para keempat bawahan ini menyerahkan seluruh kesadaran, kekuatan, kemampuan, kecerdasan mereka dan menyimpannya di dalam wadah milik Yang Mulia.


Wadah itu dan apa yang disebut permulaan dari persiapan akan segera dicerna oleh Ravettha.


Perbedaan kekuatan yang sangat jauh sama sekali bukan suatu cara bagi Ravettha untuk memperoleh kendali atas tubuhnya sendiri.


"Terlahir dengan banyak masalah bukanlah salahku dan satu hal yang harus kupegang teguh, kematianku tidak akan membawa masalah!" Pikir Ravettha yang beristirahat dengan tenang ternyata harus mengolah ulang 23% kesadaran yang telah diterimanya.


Antara dirinya, keempat majikan, dan satu jiwa bergelar 'Yang Mulia' memiliki persamaan, yaitu mempertaruhkan sedikit untuk hal terbaik.


"Wahai diriku di kehidupan ketiga! Kamu masih harus berjuang meraihnya. Pertanyaan sekaligus percakapan terakhirku adalah... Pilih hidup atau mati!" Ucap Yang Mulia memberikan penekanan suara di akhir kalimatnya.


"Anda harus hidup, Nona Ravettha!" Ucap Aedoglas mempertahankan potensi yang telah ia lihat di dalam diri Ravettha.


"Kami telah menjual diri kami hanya untuk anda, maka bangkitlah dan lakukan apa yang harus kau lakukan, Ravettha!" Ucap Wielmsiestor memberitahu kebenaran yang mungkin dilewatkan.


"Berterimakasihlah pada dirimu sendiri karena kau pantas menerimanya, Ravettha!" Ucap Nomiculfon bersikap senetral mungkin.


"Kuharap anda mampu menggunakannya secara maksimal, Nona." Ucap Indereit tersenyum bangga.


Mendapati lima pesan berharga dari orang asing justru membuat Ravettha tidak boleh menangis, meskipun ia menginginkannya.


Di samping itu, perasaan berharga yang telah diberikan oleh keempat bawahan dan satu atasan ternyata membantu dirinya kembali semangat, bangkit, dan memperjuangkan tujuan hidupnya.


"Hidup. Aku akan bertahan dan tetap berdiri hingga akhir!" Ucap Ravettha tersenyum senang dengan pengalaman tidak terhingga yang ia temui selama ini.


"Bagus! Ingatlah, kau tidak bisa menarik perkataanmu, diriku di kehidupan ketiga!" Ucap Yang Mulia telah memutuskan keputusan terakhirnya.


Kumpulan kekuatan yang terdapat di dalam tubuh Alvina Blyhte Latoya di kehidupan pertama, Neance di kehidupan kedua, dan terakhir Ravettha Toftrelnd Seinoray akhirnya dapat disatukan.


Meskipun tubuh Alvina dan Neance tidak lagi memiliki wujud, kekuatan mereka selama masa hidupnya tetap terisi penuh untuk kebangkitan Ravettha.

__ADS_1


"Bersiaplah, Ravettha! Semakin tinggi persentase yang kau dapatkan, semakin cepat kau harus menyerapnya!" Ucap Nomiculfon membantu mengumpulkan 45% kekuatan dari tiga kehidupan Ravettha di dalam satu ruang.


"HAP!"


"Oh! Cara menyerapnya seperti makan cemilan, ya?" Tanya Ravettha mengolah kembali kekuatan dan kesadaran yang telah diserapnya.


Dirinya yang tidak memiliki masalah dengan penyerapan tersebut diharuskan berusaha lebih keras lagi.


2.400 kali cambukan menyerang dari lapisan terluar tubuh hingga ke inti roh.


Bagi Yang Mulia dan keempat bawahannya, ujian seperti ini sangat bagus sebagai pertahanan utama inti roh Ravettha.


"Tidak bisa kusangkal bagian mengerikannya ada di ujian inti roh. Akan sangat berbahaya jika suatu saat diriku bertemu lawan-lawan kuat dan mereka memakan rohku. Sekalipun tidak menyenangkan, tetap saja aku adalah pemegang kendali atas hidupku!" Pikir Ravettha menahan suaranya agar tidak ada satupun yang keluar dari mulutnya.


Seperti yang dikatakan Nomiculfon, kecepatan disini menjadi salah satu cara paling baik karena Ravettha harus menyerap seluruhnya dalam waktu singkat atau waktu yang singkat itu memberi celah untuk kekuatan energi memakan Ravettha.


Cambukan terus menerus melakukan tugasnya tanpa henti hingga mencapai batas maksimal.


Apabila batas maksimal telah dilewati, maka di saat itulah terjadinya pergantian ujian.


"Ambisi." Ucap Ravettha mengelap darahnya menggunakan sapu tangan miliknya.


"Bagus! Mengetahui kelemahan diri sendiri akan membuatmu waspada. Sekarang tunjukkan pada kami bahwa jiwamu mampu mengalahkan bisikan kesucian dan kegelapanmu!" Ucap Nomiculfon menyediakan kursi penonton beberapa jarak dari tempat ujian Ravettha.


Ujian 3.100 kali ketakutan ini hanya bisa dilalui oleh Ravettha sendiri.


Dengan kata lain, tidak peduli seberapa keras dirinya berusaha, ia harus kuat menerima hasil antara keberhasilan atau kegagalan.


"Ambisi? Apa ujiannya akan sedemikian rupa agar aku memainkan peran sebagai manusia bermasalah dan harus menyelamatkan diri dari teror?" Pikir Ravettha mencari tahu kapan dirinya akan diberikan ujian.


Baru saja ia memikirkannya, apa yang disebut teror olehnya benar-benar datang menemuinya.


Lingkungan sekitar menjadi berkabut, telah berdiri dengan tegaknya 7 buah pilar istana, dan seseorang membawa tubuhnya ke tempat tersebut.


"Pilar istana? Bukankah mereka semua berhubungan dengan Raja dan Ratu? Setidaknya para pejabat atau penguasa penting yang muncul, sayangnya mengapa disini begitu sepi?" Tanya Ravettha bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi disini.

__ADS_1


"Mahkota...! Mahkota...! Milikku!" Ucap para arwah bangkit dengan ukuran 8 kali lebih besar dari Ravettha.


Wajahnya pucat dan bahkan ada yang menghitam.


Kedelapan arwah tersebut berjubah putih dengan masing-masing sebuah mahkota pengikat.


"Mereka mengincar mahkota? Sayangnya, di kepalaku tidak ada mahkota. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?" Pikir Ravettha memeriksa mahkota di kepalanya.


Ia tidak tahu apakah ini sebuah keberuntungan atau tidak.


Hanya satu yang ia tahu secara jelas, yaitu dirinya telah menjadi target para arwah.


"Kembalikan mahkota kami, manusia!" Teriak para arwah tersebut secara bersamaan dan terburu-buru merebut mahkota keyakinannya dari Ravettha.


"Hah, kalian berisik sekali! Padahal tidak perlu berteriak, akan kuberikan juga. Benar begitu, Nomiculfon?" Tanya Ravettha sama sekali tidak peduli dengan masalah para arwah di hadapannya.


Ia menyadari ujian ini memiliki sumber energi kegelapan, yang berarti banyak energi gratis melimpah di sekitarnya.


"Bawa mereka untukku, 'Light Black Hole'!" Ucap Ravettha penasaran akan mahkota yang dikenakan kedelapan arwah.


Mengetahui permintaan penggunanya, 'Light Black Hole' menembus kabut, menetapkan lokasi, dan mengambil kedelapan mahkota sesuai perintah.


Tidak ada kesalahan dalam melaksanakan perintah, sayangnya Ravettha akhirnya mengerti mengapa para arwah itu tergila-gila dengan mahkota ilusinya.


"Terlalu kuno, tidak ada istimewa, dan kesan mahkota ini buruk. Jadi kalian menginginkan punyaku, bukan?" Tanya Ravettha menatap tajam musuhnya, sementara para arwah mengelilinginya dan sangat siap berburu.


"Menginginkan? Aku butuh dirimu untuk kembali berkuasa di masa kejayaanku!" Ucap arwah mewakili para arwah lainnya.


Amarah, dendam, dan pelampiasan ketakutan akan digantikan posisi tertingginya oleh orang lain membuat kumpulan arwah ini tidak pernah puas.


Mereka terus berselisih dan sebisa mungkin membuat pertarungan agar pihak sepemikiran dengannya merasa diuntungkan.


Tidak ada pihak manapun yang ingin dirugikan, maka dari sanalah mereka menciptakan suasana menegangkan dan menjebak siapapun yang masuk kawasannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2