Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Lartson's Clueless Game Was Begun


__ADS_3

Terdengar pesan masuk dari jendela pesan.


Ravettha langsung membuka dan membaca pesan tersebut.


"Selamat! Anda berhasil membunuh sekumpulan kelelawar yang berjumlah 100 ekor. Anda mendapatkan julukan 'Pembunuh Predator Malam'. Anda juga mendapatkan 250 poin, skill 'Night Watch', dan skill 'Devil advocacy'." Isi pesan tersebut.


"Hm... Keberuntungan berpihak padaku. Skill ini akan sangat membantu untuk mengalahkannya." Pikir Ravettha dengan sedikit tersenyum.


Ia melihat jam pasir yang melayang di atasnya.


Lima menit telah berlalu, ia harus mencari benda tersebut dan mengalahkannya.


Ia memasukkan pedang yang ia gunakan saat membunuh kelelawar tersebut kedalam tas penyimpanannya.


Ia berlari kembali dan menuju tempat tersebut berada.


Ia merasa ruangan tersebut tidak ada habisnya.


"Dimana tempat itu berada? Aku yakin sudah dekat!" Pikir Ravettha.


Ia melanjutkan pencariannya kembali.


Sudah 10 menit berlalu, tetapi ia terjebak di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan kaca.


Ia melihat sekelilingnya, tidak ada satu pun yang aneh.


Sebuah duri yang dilapisi racun telah diluncurkan oleh seseorang yang bersembunyi di balik bayangan dengan sangat cepat.


Ravettha yang merasa curiga dengan tempat tersebut menyadari ada serangan tersembunyi dari belakang tubuhnya.


Ravettha yang melihat pergerakan duri beracun tersebut, langsung menghancurkan diri beracun itu dengan pelindung sihirnya.


Karena pelindung sihir miliknya istimewa, ia bisa menggabungkan kekuatannya dan menyerap hasil pantulan yang diberikan oleh kekuatan musuh untuk diolah menjadi sumber tenaga cadangan yang baru dan menghasilkan 1.000 kali lipat dari kekuatan aslinya.


"Ho... Kau berhasil menghindari serangan dariku, ya?" Tanya anak perempuan tersebut.


"Kakak sungguh menarik! Bahkan kakak juga dapat menemukan ruangan dimana aku menyembunyikannya dengan baik." Ucap anak perempuan tersebut.


"Karena kakak telah bersusah payah kemari..." Ucap anak perempuan tersebut, kemudian ia berlari secepat kilat menuju Ravettha dan mengeluarkan serangan selanjutnya.


"Maka aku yang akan membuat kakak menjadi koleksi mainanku. Hahaha." Ucap anak perempuan tersebut dengan senyuman liciknya.


Anak perempuan itu menyerang dari berbagai arah dengan kekuatannya yang sangat besar.


Walaupun ia sudah menggunakan 'Dark Magic', dan 'Electro Storms', tetapi ia tetap tidak bisa menyentuh sedikitpun tubuh Ravettha.


"Cih, kenapa susah sekali mendekatinya? Menyebalkan!" Ucap anak perempuan tersebut.


Ravettha yang hanya berdiam diri di tempat tersebut, langsung mengeluarkan Demon Sword miliknya dan membuat rencana.


Ia melirik ke arah anak perempuan tersebut dan lirikannya dibalas oleh anak perempuan tersebut.


Anak perempuan tersebut menjadi kebingungan dan membuatnya berdelusi.


Saat anak perempuan tersebut berdelusi, Ravettha menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil benda bercahaya yang berada tepat di depannya.


Ia mengambil benda tersebut, benda itu berupa bola yang menyimpan berbagai makhluk yang masih hidup di dalamnya.


Mereka semua terjebak disana.


Ravettha membuka bola tersebut dengan menusuknya menggunakan Demon Sword miliknya.

__ADS_1


"Krak!"


Bunyi tusukan pedang yang ia tancapkan dengan sangat kuat, tetapi tidak melukai makhluk yang ada di dalamnya.


Akhirnya mereka semua bisa keluar termasuk Tuan Naga, Nicholas, dan Leonardo.


"Tuan Naga! Nicholas! Leonardo! Aku sangat merindukan kalian. Ini salahku karena membiarkan kalian tertangkap." Ucap Ravettha dengan mengeluarkan sedikit air matanya dan menyesali perbuatannya.


"Kau tidak perlu menangis seperti itu, nak. Keputusan yang telah kau ambil itu sudah benar. Aku yakin kau bisa mengalahkan anak itu." Ucap Tuan Naga kepada Ravettha.


"Benar." Ucap Nicholas dan Leonardo secara bersamaan.


"Terimakasih semuanya." Ucap Ravettha dengan senang dan mengusap air matanya.


"Ugh... Kita sudah bebas!" Ucap salah satu dari yang telah tertangkap.


"Benar! Kita bebas!" Ucap yang lainnya.


Mereka sangat senang karena akhirnya dapat bebas setelah sekian lamanya, bahkan ada yang terkurung sampai beribu-ribu tahun.


Sementara itu, anak perempuan tersebut melihat jantung miliknya yang sedang ditusuk sampai rusak dan penuh darah, lalu dimakan oleh Ravettha di tangan kirinya.


Sementara di tangan kanannya yang sudah memegang rahasia yang merupakan kunci kelemahannya.


Ia menjadi sangat ketakutan, seluruh tubuhnya seakan terbakar di dalam magma gunung berapi aktif miliknya.


Tubuhnya meronta-ronta dan meminta ampun kepada seseorang yang berada di depannya, yaitu Ravettha.


"Argh! Tolong... Siapa saja... Selamatkan aku! Uhuk uhuk." Ucap anak perempuan tersebut dengan penuh rintihan, tangisan, lalu mengeluarkan darah hitam dari hidung dan mulutnya.


Ia melihat wilayah miliknya dipenuhi oleh banyak orang yang pernah menjadi koleksi mainannya.


Ia berubah dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh aura kebencian, kemarahan, dan penyesalan.


Ia membuat kedua belati hitam dibalik badannya.


Kemudian ia terdiam sejenak ditempat dan berlari ke arah Ravettha lebih cepat dari serangan yang pertama.


Ia juga menggunakan seluruh darahnya untuk membunuh Ravettha.


"Mati kau! Dan jadilah koleksi terbaruku! Hahaha." Ucap anak perempuan tersebut dengan tertawa jahat.


Ravettha sama sekali tidak menunjukkan rasa terkejutnya dan menangkis seluruh kekuatan anak perempuan tersebut.


"Aku mengerti perasaanmu, tetapi ini bukanlah caranya. Jadi berhentilah, dan biarkan semua yang telah menjadi koleksi mainanmu dan kami keluar dengan selamat." Ucap Ravettha.


"Tidak akan! Sampai saat aku sudah mendapatkanmu, maka aku akan mengabulkannya!" Ucap anak perempuan tersebut dengan penuh amarah.


"Kau hanya mencari alasan saja, bukan?" Tanya Ravettha dengan tersenyum licik.


"B-B-Bagaimana kau menebaknya?" Tanya anak perempuan tersebut.


"Itu tidak ada urusannya denganmu." Ucap Ravettha dengan tersenyum licik.


"Blood of the Earth!" Ucap Ravettha.


Ia mengambil seluruh magma dan lahar yang ada di tempat tersebut dan berencana menyerang ke arah anak perempuan tersebut.


Anak perempuan tersebut sangat terkejut dengan apa yang telah ia lihat.


"Aku kagum dengan kakak! Maukah kakak menerimaku menjadi teman dan pengikut kakak juga?" Tanya anak perempuan tersebut dengan sangat serius.

__ADS_1


"Kau tidak akan mendapatkan apapun dariku jika mengikutiku. Mereka juga sama." Ucap Ravettha dengan serius.


"Tidak. Justru akan menyenangkan bila menjadi teman sekaligus pengikut kakak. Saya akan dengan senang hati akan memberikan apapun yang kakak inginkan." Ucap anak perempuan tersebut.


"Namamu Lartson Emely Greenace?" Tanya Ravettha.


Anak perempuan tersebut hanya mengangguk kegirangan.


"Kakak hebat sekali bisa menebak namaku dengan benar!" Ucap Lartson.


"A-Apa? Jadi namanya Lartson Emely Greenace? Pembunuh terlangka karena kecerdasannya dalam memanipulasi mangsanya?" Tanya Nicholas.


"Wah. Ternyata masih ada yang mengenaliku, ya? Aku terharu." Ucap Lartson.


"Kakak tahu? Selain pembunuh, aku adalah singa bersayap loh. Makhluk yang sudah hidup beribu-ribu tahun dan termasuk jenis terlangka." Ucap Lartson.


"Ya, dia benar." Ucap Leonardo.


Tuan Naga tiba-tiba mendekati Ravettha dan berlutut dihadapannya.


Ravettha menjadi kebingungan dengan apa yang Tuan Naga lakukan.


"Nak Ravettha, saya juga bersedia menjadi pengikut anda. Hidup saya sekarang adalah milik anda. Glendy Velt Hepworth, sang Raja Naga." Ucap Raja Glendy.


"Sebentar! Paman itu laki atau wanita, ya? Kenapa pakaiannya mirip wanita?" Tanya Nicholas yang penasaran.


Ravettha menutup mulut Nicholas dengan cepat.


"Tutup mulutmu! Sebelum kita kena hukuman olehnya!" Bisik Ravettha kepada Nicholas.


"Aku kan hanya bertanya!" Bisik Nicholas.


"Huh. Aku ini sebenarnya laki-laki, tetapi banyak juga yang mengira sebagai wanita." Ucap Tuan Glendy dengan sedikit sedih setelah mendengar perkataan yang dikatakan oleh Nicholas.


"Tunggu... Kenapa banyak sekali yang ingin jadi pengikutku? Sebenarnya bagus, tetapi tidak masalahkan? Mereka kan yang memutuskan sendiri. Jika berkhianat juga tidak merugikanku." Pikir Ravettha.


"Baiklah. Aku menerimanya. Mohon bantuannya." Ucap Ravettha kepada Lartson dan Tuan Glendy.


"Ya! Dengan senang hati, nona." Ucap Lartson dan Raja Glendy secara bersamaan.


Pesan dari jendela misi kembali berbunyi.


"Selamat! Anda berhasil mengumpulkan 4 ekor Magical Beast yang tersebar di Pulau Arvoist. Anda berhasil mendapatkan energi yang kembali penuh, 10.000 koin emas, 5.000 koin perak, dan pemulihan kesehatan. Anda juga akan mendapatkan 4 ekor Magical Beast yang telah anda kumpulkan." Bunyi pesan tersebut.


"Apakah anda ingin melanjutkan untuk menaiki lantai keempat?" Tanya sistem tersebut.


"Hm... Aku sangat menginginkan pulang ke rumah, tetapi aku harus menyelesaikan semua misi dahulu. Bukankah tidak masalah meninggalkan mereka? Seperti saat menaiki lantai ketiga."


"Kalau begitu, aku harus mencari alasan? Aku curiga kalau mereka semua bisa membaca pikiranku." Pikir Ravettha dengan melirik ke arah Nicholas, Leonardo, Raja Glendy, dan Lartson.


"Hm... Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian." Ucap Ravettha kepada mereka berempat.


"Kami mengerti perasaanmu, nak. Kau ingin pulang menuju rumahmu, bukan? Kau tidak perlu sungkan untuk membicarakannya, karena kami akan mendukung dan melakukan segala perintah anda. Kami akan ada di sisi anda, Nona Ravettha." Ucap Raja Glendy dengan tulus.


"Yang dikatakannya benar! Kami tidak akan melupakan segala kebaikan yang pernah anda berikan. Jadi, jangan sungkan untuk memberikan perintah kepada kami." Ucap Nicholas, Leonardo, dan Lartson secara bersamaan.


"Kalau begitu, aku pergi dahulu. Sampai bertemu di lain waktu. Aku akan sangat merindukan kalian." Ucap Ravettha.


"Kami juga." Ucap mereka berempat bersamaan dan melambaikan tangan kepada Ravettha.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2