
"Aloysius! Bawa dia ketengah studion lalu alihkan perhatiannya dengan menggunakan kekuatanmu! Ornella! Berikan luka fisik padanya setelah Aloysius mengeluarkan kekuatannya!" Ucap Gavrill dengan memperhitungkan segala kemungkinan dan resiko yang didapatkan jika mengambil tindakan tersebut.
"Baik! Biarkan aku membunuhnya!" Ucap Aloysius dengan mengeluarkan kemampuan 'Acid Fog', sebuah kemampuan yang dapat mengeluarkan kabut yang mengandung zat asam yang sangat tinggi.
Apabila kabut tersebut berhasil menyentuh tubuh target maka kabut tersebut akan merusakkan jaringan-jaringan sel tubuh.
Sedangkan apabila terhirup, target yang terjebak di dalamnya akan langsung kejang-kejang dan akhirnya mati ditempat dalam waktu kurang dari lima detik.
Begitupun dengan Ornella, ia langsung mengeluarkan kemampuan 'Black Hole' miliknya untuk diubah menjadi beragam jenis ukuran bola 'Blackhole' sehingga dapat memberikan luka fisik yang fatal.
"Master! Cepat gunakan aku untuk membuat 'Wind Blade Storm'!" Ucap 'Demon Sword'.
"Oh! Teknik itu!" Gumam Ravettha yang baru saja teringat dengan salah satu teknik yang pernah dipelajari sebelumnya.
"Benar! Ayo kita praktekkan teknik itu sekarang! Anda masih mengingatnya, bukan?" Tanya 'Demon Sword'.
"Tentu saja. Teknik itu akan sangat berguna pada saat seperti ini." Ucap Ravettha dengan menerapkan teknik yang telah dipelajarinya saat berguru pada Tuan Zhulfarias.
Ia mengayunkan sekali 'Demon Sword' miliknya searah jarum jam.
Ayunan pedang tersebut akhirnya berhasil menghasilkan sebuah badai angin topan yang dapat menetralisir kabut zat asam tersebut.
"Bagus! Anda berhasil menerapkannya, master!" Ucap 'Demon Sword' dengan memberikan sebuah apresiasi kepada masternya.
"Ya, terimakasih. Sayangnya kita belum menyelesaikan pekerjaan kita disini." Ucap Ravettha dengan melirik satu persatu bola 'Blackhole' yang dikeluarkan oleh Ornella dengan cepat.
Karena bola-bola 'Black Hole' tersebut saling berdatangan dan memecah belah di sekitarnya, Ravettha langsung membuat 'Light Hole' untuk memakan dan menyerap seluruh serpihan masing-masing kekuatan 'Black Hole'.
Selagi menunggu 'Light Hole' menyelesaikan pekerjaannya, ia langsung mengaktifkan mode 'Invisible' miliknya.
"Kemana target kita? Apa dia menghilang untuk bersembunyi?" Tanya Marsden dengan memperhatikan sekitarnya.
"Dia ada di belakangmu." Ucap Fanefaust dengan menatap mata Ravettha.
Melalui tatapan matanya, ia melihat peluang keberhasilan dalam menghadapi musuhnya.
"Twilla, Noreen, dan Earlene! Pergi dan lindungi Tuan Besar! Marsden, Lettice, dan Aloysius! Buat pertahanan cadangan sekarang juga! Jangan biarkan musuh kita melewati pertahanan kita! Aku, Ornella, Urshen, Zordy, dan Gavriil akan maju ke garis depan!" Ucap Fanefaust dengan sangat cermat terhadap peluang keberhasilannya.
__ADS_1
Ia dengan kemampuan 'The Delusion' miliknya langsung membuat sebuah dimensi khayalan yang dapat mengecoh pikiran Ravettha.
"Tempat ini...?" Gumam Ravettha dengan mengambil 'Demon Sword' miliknya sebagai alat perlindungan dan berencana keluar dari dimensi khayalan tersebut.
Sayangnya, Ravettha gagal mengambil maupun menghubungi 'Demon Sword' miliknya.
Dimensi yang awalnya hampa dan dipenuhi warna hitam menjadi berubah.
"Selamat datang di Dimensi Imajinasiku! Kali ini aku akan mengajakmu berkeliling untuk melihat segala koleksi yang ada disini." Ucap Fanefaust dengan menggunakan topeng dan satu set pakaian pelawak.
"Siapa kau? Apa kau juga merupakan bawahan dia?" Tanya Ravettha dengan mencoba kembali upaya yang telah ia lakukan sebelumnya.
"Kau mau menyerangku dan kabur lagi?" Tanya Fanefaust dengan wajah yang selalu tersenyum lebar.
Ia berjalan mendekati Ravettha dengan sebuah sabit maut di belakang tubuhnya.
Tanpa berkata apapun, ia langsung mengayunkan sabitnya sebagai bentuk peringatan untuk yang pertama kalinya dan menghentikan usaha Ravettha yang sedang memanggil pedang 'Demon Sword'.
"Aha! Aku menemukanmu!" Pikir Ravettha dengan mengeluarkan 'Demon Sword' miliknya.
"Berhasil!" Pikir Ravettha yang langsung menggenggam pedang tersebut dan membuat kuda-kuda bertarungnya.
Saat Ravettha berusaha untuk mengayunkan pedangnya dan menangkis sabit maut milik Fanefaust, ia tiba-tiba merasakan adanya keanehan karena 'Demon Sword' biasanya langsung merespon dirinya saat digunakan.
"Kau telah memanipulasi senjataku dan semua milikku?" Tanya Ravettha dengan menatap tajam ke arah Fanefaust dan hal tersebut membuatnya sangat ingin melancarkan serangan senjatanya.
"Bingo!" Ucap Fanefaust yang berhasil mengambil nyawa dan juga jiwa Ravettha dengan cara membelah dua tubuh musuhnya.
Ia tersenyum puas dan berkata, "Kau tahu? Orang yang paling menyebalkan dan mengganggu adalah orang yang selalu memamerkan kemampuan dirinya kepada orang lain." Ucap Fanefaust dengan membersihkan sabitnya karena darah dari hasil pembelahan tersebut.
"Pft! Kau tahu? Kau juga sama menyebalkan dan mengganggu seperti yang kau bilang sebelumnya. Sejujurnya aku sama sekali tidak pernah percaya kepada pemilik sifat manipulatif dan kemampuan 'The Joker' mu itu." Bisik Ravettha di telinga kanan Fanefaust.
Fanefaust yang mendengar suara bisikan tersebut langsung menatap wajah Ravettha dan memberikan senyuman terbaiknya.
"Terimakasih atas pujiannya." Ucap Fanefaust dengan mengaktifkan dunia khayalan lainnya.
"Hm... Berubah lagi...!" Pikir Ravettha dengan memperhatikan sekitarnya.
__ADS_1
Sebuah ingatan di masa kecilnya bersama keluarga kembali diperlihatkan.
Sementara itu, Fanefaust kembali bersembunyi di balik bayangan kegelapan.
Setelah Fanefaust bersembunyi di balik kegelapan, di sekitar Ravettha menjadi lebih berat karena terdapat tekanan yang berasal entah darimana.
Tekanan yang besar tersebut membuat tubuh Ravettha juga menjadi sangat berat.
Semakin berat dirinya, semakin banyak racun yang berusaha memasuki tubuhnya.
"Menunjukkan kisah masa kecilku dan memanfaatkan kelemahanku? Atau... Dia sedang memasang sebuah jebakan yang sangat dalam. Sungguh menyenangkan sekali menjadi seorang sutradara!" Pikir Ravettha dengan menyembunyikan senyumnya.
Ia melangkahkan kakinya empat kali menuju kedepan.
Masing-masing langkah kaki tersebut memiliki satu tingkatan.
Dengan kata lain, semakin banyak langkah kakinya maka semakin besar kehancuran yang ditimbulkan khususnya seluruh rencana milik Ornella, Urshen, Zordy, Gavriil, dan Fanefaust beserta dimensi miliknya.
Sebelum mencapai langkah ketiga, mereka berempat langsung menyadari adanya kerusakan yang berdampak sangat buruk kepada mereka dan masa depannya.
"Gavriil! Ada apa ini? Kenapa terdapat guncangan yang cukup besar disini?" Tanya Urshen yang kebingungan karena seluruh rencana dan pekerjaannya menjadi hancur berantakan.
"Kenapa bertanya kepadaku? Coba tanya ke Fanefaust! Dia kan yang membuat tempat dan rencana...!" Ucap Gavriil yang kelepasan bicara.
"Sesuai dugaanku!" Ucap bayangan Ravettha di belakang tubuh Gavriil.
"...-nya." Ucap Gavriil dengan merasa sangat bersalah karena telah membuat kesalahan fatal pada rencana mereka berempat.
"Haduh!" Gumam Fanefaust dan Ornella di lain tempat.
"Semuanya! Kita ubah rencana kita! Cepat serang musuh kita secara bersamaan sebelum dia berhasil menghancurkan tempat ini!" Ucap Fanefaust dengan menggunakan telepatinya.
"Baik!" Ucap ketiga rekannya melalui telepatinya.
Sementara itu, Ravettha asli yang sedang melakukan pekerjaannya pada langkah ketiga langsung diserang oleh keempat musuhnya.
"BWOOSH!"
__ADS_1
Sebuah tombak berhasil mengarah ke dirinya dengan mengenai sasaran.
BERSAMBUNG