Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Pemakan Target Hidup-Hidup


__ADS_3

"Maksudmu buku peninggalan sejarah para tetua kerajaan?" Tanya Rencouff memeriksa sebuah buku yang telah diperhatikan lebih sering oleh Ravettha.


"Tunggu! Para tetua kerajaan sudah mati?!" Tanya Ravettha begitu terkejut dan tidak menyangka keterampilan sosok melegenda itu lenyap terlalu cepat.


Mendengar pertanyaan dasar yang tabu bagi sekitarnya, Rencouff langsung menutup mulut rekannya secara paksa.


Sementara tubuh Ravettha tidak bisa bergerak selama 8 menit, para pengunjung dan pustakawan ternyata mendengar sesuatu yang sudah seharusnya mereka hilangkan.


"Apa kau mendengar seseorang baru saja mengatakan sosok itu?" Tanya satu pengunjung dengan sesama kelompoknya.


"Huh? Dengar apa? Kau tidak sakit, bukan?" Tanya pengunjung lain di kelompok yang sama.


"Tentu saja tidak! Makhluk macam apa yang tidak bisa membedakan normal atau tidak? Ah! Sudahlah! Aku tidak punya selera lagi berada di tempat yang sama denganmu!" Ucap satu pengunjung dengan sesama kelompoknya berencana untuk meninggalkan kenalan yang menyebalkan ini.


"Oh, hei! Jangan marah dan tinggalkan aku begitu saja dong? Nanti aku tersesat, loh!" Ucap pengunjung lain di kelompok yang sama berusaha mengejar kenalannya sekaligus membujuknya.


Semakin lama mereka beradu mulut, semakin cepat suasana ramai menjadi kembali tenang.


Terlihat dengan jelas di kedua mata Rencouff bahwa dirinya dan satu rekannya ini sudah cukup bebas dalam bertindak.


"Kau berhasil menghentikanku di saat aku lengah. Kau berpengalaman! Bagaimana caramu mempelajarinya?" Tanya Ravettha mulai melupakan kemarahannya.


"Insting manusia saat bertahan hidup. Sekarang kau tidak perlu mempelajari tumpukan buku yang telah kupilih." Ucap Rencouff berjalan menuju sebuah rak yang paling jarang tersentuh oleh pengunjung lain.


"Mengapa tidak perlu?" Tanya Ravettha kebingungan dan terus ingin mempertanyakan banyak hal.


Rencouff tahu bahwa pengetahuan dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan beragam ilmu yang tersedia.


Oleh karena itu, ia menyerahkan sebuah buku besar yang berjudul 'Great Modish for Daytonbert'.


Hanya dengan ukuran bukunya, hal itu membuat Ravettha kagum akan isi di setiap halamannya.


Tanpa disadari, halaman yang telah dibukanya mengeluarkan cahaya tidak kasat mata dan terserap dengan cepat.


"Dengan begini, kita seimbang. Kau mengajariku kemampuan yang sulit kukembangkan dan kau mendapatkan seluruh rahasia intisari di dunia ini, Ravettha. Aku tidak berharap banyak padamu, setidaknya kau tidak menyalahgunakan yang telah kau miliki." Pikir Rencouff diam-diam memperhatikan rekannya menyerap 'Great Modish for Daytonbert'.


Menit demi menit berlalu hingga 24 menit untuk menyelesaikannya.


Waktu yang terlalu lama bagi keduanya itu membuat Ravettha harus membangunkan rekannya secepat mungkin.


"Rencouff! Apa kau tidak ingin bangun?" Tanya Ravettha dengan memperhatikan tingkah Rencouff saat tidur.


Tidak ada satupun balasan yang sesuai keinginannya.


Ia menjadi semakin benci mengandalkan hidupnya di tangan orang lain langsung membawa Rencouff menuju tempat pertemuan Pak Chayton.


"Benar ini ruangannya?" Gumam Ravettha mencoba untuk memasuki dan bertanya pada seseorang.

__ADS_1


"SWOSH! PRANG!"


Sekilas dirinya melihat benda melayang di ujung matanya, sayangnya ia ragu jika pelakunya adalah mata-mata ataupun musuh.


"CRACK!"


Pintu kayu usang terbuka dan Pak Cheidon keluar dari ruangannya.


Kali ini ia tidak merasakan tatapan jengkel seperti pertemuan pertamanya.


"Kau tidak mencari diriku sekalian?" Tanya Pak Cheidon dengan menghela napas kecewa.


"Sepertinya kami tertinggal kelas dan anda penggantinya?" Tanya Ravettha menjatuhkan tubuh Rencouff yang masih tertidur.


"Kau masih seperti yang dulu, anak tidak tahu sopan santun! Oh hoho... Karena suasana hatiku sedang bagus, bagaimana jika kalian berdua menyelesaikan 30 rintangan itu dalam waktu 3 menit? Gagal, maka keduanya harus bersedia 2 kali lebih banyak!" Ucap Pak Cheidon dengan jari telunjuknya yang mengarah ke sebuah lapangan pelatihan.


Banyak jeruji besi, alat eksekusi mati, dan 'Lava Slime' tersedia di lapangan tersebut.


Hanya dengan satu perintah, apa yang telah disiapkan Pak Cheidon justru beroperasi dengan lancar.


Mereka sudah sangat siap untuk memakan target hidup-hidup.


"Ugh... Hoek!" 


"Apa seseorang baru saja mengocok isi perutku?" Tanya Rencouff secepat mungkin membersihkan bajunya, lalu memeriksa ke sekitarnya.


"Semoga berhasil!" Ucap Pak Cheidon dengan melambaikan tangannya.


Suaranya menjadi begitu berisik.


Lahar magma meluap-luap dengan letupan suhu terpanasnya.


"Bertahan hidup atau mati? Tentu saja kupilih mati!" Pikir Ravettha tersenyum puas pada ujian pertamanya sebagai calon kandidat Pak Cheidon.


"Perhatikan langkahmu, Ravettha!" Ucap Rencouff dengan menarik paksa tubuh rekannya ke kiri.


"SRAT!"


Percikan darah menetes tepat di wajahnya.


Ia sama sekali tidak ingin membayangkan kemalangan yang terjadi pada rekannya ini.


"R-Ravettha?" Tanya Rencouff benar-benar terkejut dan takut di saat yang bersamaan.


"Kemana pandanganmu? Mereka mengejar kita!" Ucap Ravettha dengan mengingatkan kembali bahwa tidak seharusnya Rencouff merasa bersalah pada rintangan apapun yang ia temui.


"Jadi... Kau tidak mati?" Tanya Rencouff menangkap seekor 'Lava Slime'badan memasukkannya ke dalam kursi listrik.

__ADS_1


Tidak ada satupun jawaban dari Ravettha.


Dirinya hanya berdiam diri menunggu alat pengeksekusi lainnya mencincang anggota badannya.


"Tunduklah padaku!" Ucap Ravettha yang mengaktifkan kemampuan 'Hohell Spelt' miliknya.


"BRUK!"


Alat pengeksekusi di dekatnya tidak berfungsi permanen dan berjatuhan ke tanah hitam kering.


Dari 8 alat tersebut, hanya satu senjata yang menarik perhatiannya.


"Hm... Mulai sekarang kau ikut bersamaku, 'Round Bullet'!" Ucap Ravettha yang sama sekali tidak peduli jika senjata barunya menyakiti dirinya.


"Ravettha! Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan peluru itu!" Ucap Rencouff sebisa mungkin merasa harus menghalangi tindakan berbahaya Ravettha.


Menyadari kedatangannya, Ravettha justru meminjam tubuh temannya ini untuk mencoba kegunaan senjata barunya.


Kedua kaki berdiri kokoh, bahu sejajar dengan kepala, dan satu lengan mengarah ke atas tubuhnya.


'Round Bullet' itu menyatu saat digunakan.


Di detik-detik terakhir ujiannya, Ravettha melindungi tubuh Rencouff dengan pelindung milik Falext.


"Luncurkan!" Ucap Ravettha tanpa mengundur waktu lagi.


"SWOOSSSHHH!!!"


"Lumayan! Kurasa 1 peluru sudah cukup menundukkannya." Pikir Ravettha mulai mengakui kecepatan menembak, pembelahan peluru, dan penyesuaian target 'Round Bullet' miliknya.


"Cih! Kenapa aku yang dilindungi? Aku gagal keren di depan guru angkuh itu tau!" Ucap Rencouff yang tidak rela melihat kesempatan menarik perhatian gurunya terbuang sia-sia.


"Guru angkuh? Sepertinya aku setuju pada pemikiranmu. Fufufu!" Ucap Ravettha merasakan keseruan dalam rencana jahatnya.


Meskipun dirinya belum puas bermain-main, Pak Cheidon ternyata lebih dahulu mengetahui niat buruk dari kedua murid barunya ini.


"Rencouff...! Apa hanya aku yang merasakannya?" Tanya Ravettha mendapati seluruh hawa di punggungnya tidak enak.


"Ya, aku juga...! Mari hitung mundur! Hitungan ke tiga, lari!" Ucap Rencouff bersiap-siap menghitung dan lari.


"Tiga!" Teriak Ravettha lari secepat kilat.


"Hoi! Aku bahkan belum menghitung!" Ucap Rencouff menyesali arahan yang telah dibuatnya.


Baik Ravettha dan Rencouff, keduanya tetap saja merasa ada yang tidak beres.


Mereka berdua melangkah sekali lagi dan ternyata itulah langkah terakhirnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2