
Karena dewa iblis telah meninggalkan tempat tersebut, Ravettha langsung membuat sebuah titik portal yang terhubung dengan dimensi miliknya.
Ia juga memilih pilihan 'Tidak ada satu makhluk yang diperbolehkan untuk memasuki portal miliknya' menggunakan sistem yang ada di dimensinya.
"Kuakui kau pandai bersilat lidah. Sekarang giliranku!" Ucap Heilox.
"Baiklah, semoga kau tidak merusak rencananya." Ucap Ravettha dengan tersenyum.
"Memangnya kau sudah tahu rencana yang akan kulakukan?" Tanya Heilox dengan nada yang merendahkan.
"Tentu saja aku tahu. Kau berniat untuk menghancurkan seluruh rencana yang dibuat oleh kedua temanmu itu, bukan? Sayangnya Kenesis dan Ortiz sudah mati sejak beberapa abad yang lalu." Ucap Ravettha.
"Mereka mati secepat itu? Yang benar saja!" Ucap Heilox dengan ekspresi wajah yang tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong?" Tanya Ravettha dengan menghela napas.
"Baiklah! Karena keadaannya sudah seperti ini... Itu tidak berarti aku akan mengubah rencanaku!" Ucap Heilox dengan semangat yang membara.
Ravettha langsung melepas kendali dan menyerahkannya kepada Heilox.
"Terimakasih, utusanku! Fufufu! Ini akan semakin mudah! Dan tentunya aku akan membalaskan dendam lamaku dengan cara yang berbeda dari biasanya! Tunggulah aku, kawan lamaku! Aku akan memberikan kejutan yang bagus untuk kalian!" Ucap Heilox dengan tersenyum senang.
Ia berjalan menuju Asrama Cornwall Iverness.
Sesampainya disana, ia melihat dua anak muda yang sedang mendiskusikan sesuatu.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Dalton yang sedang berdiri dengan santainya di dekat dinding.
"Benar! Scott juga belum kembali, padahal biasanya dia tidak tertarik dengan panggilan dari gurunya. Apa yang terjadi kepadamu?" Tanya Ranson dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ravettha!" Ucap Ranson yang tidak sabar dengan jawaban dari Ravettha.
"Anak-anak ini... Pasti teman dekat utusanku! Bagus!" Pikir Heilox dengan menyembunyikan rasa senangnya.
"Ravettha! Kau tidak apa-apa? Kenapa bengong saja?" Tanya Ranson yang khawatir.
"Ssst! Ada yang..." Bisik Dalton kepada Ranson.
Sebelum ia menyelesaikan perkataannya, ia dan Ranson justru langsung diserang oleh Heilox dengan menggunakan tangan kosong.
Ia juga menyentuhkan telunjuknya tepat di dahi Ranson dan Dalton.
__ADS_1
Dengan seketika, sentuhan itu langsung mengeluarkan simbol khusus yang hampir menutupi seluruh wajah mereka.
Simbol tersebut berfungsi sebagai media perantara yang dapat digunakan untuk melakukan fungsi yang lain, seperti boneka hidup, dan masih banyak lagi.
Setelah selesai melakukannya, Heilox akhirnya memiliki kendali penuh yang akan menjadi kunci utama dalam rencananya.
"Sambutlah tuan kalian ini! Mulai sekarang kalian menjadi budakku! Dan aku yang akan mendominasi seluruh alam semesta ini!" Ucap Heilox dengan penuh keyakinan.
"Baik, tuan." Ucap Ranson dan Dalton yang telah dibawah kendali Heilox.
Mereka berdua langsung berlutut dihadapan tuannya tanpa melakukan pemberontakan.
Tanpa disadari Heilox, terdapat seseorang yang telah mendengar pembicaraan serta ambisi dan tujuannya.
Sayangnya, yang ia lihat bukanlah wujud asli Heilox, tetapi Ravettha karena Heilox meminjam tubuhnya untuk sementara waktu.
"Apa?! Ini tidak bisa dipercaya! Ravettha tiba-tiba datang entah darimana dan juga memiliki aura yang sangat menakutkan! Aku bertaruh bahwa dia sangat kuat sekarang! Tetapi, dari mana kekuatan sebesar itu?" Pikir Nathan yang sekejap merinding ketakutan dengan bersembunyi di balik tembok yang lumayan jauh dari Ravettha berada dan sekali-kali mengintip keadaan yang sebenarnya terjadi.
Karena ia sangat ketakutan, ia memberanikan diri untuk cepat berlari jauh dari pandangan Heilox.
Keberuntungan berpihak kepadanya, ia berhasil menjauh dan mencari tempat perlindungan yang aman untuk membuat rencana selanjutnya.
Sementara itu, Heilox sedang sibuk dengan rencananya.
Ia terlihat sangat bersemangat dan penuh keberanian untuk mendapatkan kemenangannya.
"Bangunlah para budakku! Tugas kalian berdua adalah menyebarkan ini ke seluruh penjuru dunia iblis! Aku tunggu hingga malam tiba! Kuharap kalian tidak mengecewakanku!" Ucap Heilox dengan memberikan dua buah batu yang berwarna putih berkilau kepada kedua budak barunya.
"Baik, tuan." Ucap Ranson dan Dalton dengan kembali berdiri.
Mereka berdua langsung melaksanakan perintah majikannya dengan penuh kepatuhan.
Di lain tempat, Nathan yang telah menemukan rencana untuk menghentikan Ravettha justru terhambat karena kedatangan tamu, yaitu Irene dan Blacky.
"Jadi dia, ya?" Tanya Irene kepada Blacky yang datang dengan menggendong peliharaannya.
"Ya." Ucap Blacky dengan menjilati tangannya.
Tanpa diberikan perintah, Blacky langsung mengeluarkan sebuah lubang yang sangat dalam di bawah pijakan Nathan untuk menangkapnya.
Lubang tersebut bernama 'Sykes', sebuah lubang pemakan darah kehidupan dan kematian bagi yang memasukinya.
__ADS_1
"Ternyata lubangnya tidak terlalu dalam. Baguslah!" Pikir Nathan dengan bersiap-siap untuk menapakkan kakinya di dasar lubang.
Sayangnya Nathan tidak mengetahui bahwa semakin jatuh kedalam, maka semakin sakit akibat efek yang ditimbulkan dari lubang tersebut.
Efek tersebut mengakibatkan umur kehidupan dan kematian yang semakin sedikit.
"KRUSSSHHHH!!!"
Sebelum jatuh ke dasar lubang, ia menggunakan kemampuannya untuk menahan tubuhnya sehingga tidak mengarah semakin ke dasar.
Dengan penuh kesabaran, ia juga menahan rasa sakit yang ditimbulkan karena duri-duri tajam.
"Sungguh diluar dugaanku bahwa di dalamnya terdapat banyak duri! Tunggu! Jika ini adalah pertengahan lubang, itu artinya duri yang sesungguhnya ada di bagian dasar! Ah! Sial! Aku baru menyadarinya sekarang! Aku harus keluar dari tempat ini secepatnya!" Gumam Nathan dengan mengeluarkan kemampuan elemen anginnya.
Dengan kemampuan tersebut, ia bisa terbang secepat kilat dan menebus seluruh celah yang ada tanpa mengkhawatirkan apapun.
Setelah keluar dari lubang tersebut, ia langsung menapakkan kembali kakinya di tanah.
Sayangnya, hal tersebut membuat lubang 'Sykes' marah dan langsung menarik seluruh tubuh Nathan secara paksa dengan menggunakan lidah duri.
Lidah duri adalah kumpulan duri yang dapat dibentuk sendiri oleh lubang 'Sykes'.
"BRAK!"
Dengan spontannya, Nathan langsung melesatkan tubuhnya untuk menghindari lidah duri yang berasal dari lubang tersebut.
Sayangnya, hal tersebut membuat Nathan semakin kesal karena lidah tersebut selalu mengikuti kemanapun mangsanya pergi.
Ia berlari mengelilingi Irene dan Blacky dengan harapan untuk dapat menyeret mereka ke dalam lubang bersama.
"Blacky! Cepat menjauh!" Ucap Irene dengan mengeluarkan sihir pelindungnya dan juga memotong lidah 'Sykes'.
"Tidak! Aku tidak rela jika aku sendirian yang selamat! Nona harus ikut selamat denganku!" Ucap Blacky dengan menggunakan sihirnya.
Ia berubah menjadi seekor kucing yang besar, tepatnya seperti macan hitam dengan mata yang berubah menjadi warna emas.
Ia langsung menangkap majikannya dan membawanya keluar dari jebakan tersebut.
"Kau tidak bisa pergi! Kau harus ikut ke neraka bersamaku!" Ucap Nathan dengan mengeluarkan rantai yang berwarna merah menyala dari tangannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1