Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Stadion Pertandingan


__ADS_3

"Bagaimana?" Tanya Raja Leighton yang masih menunggu jawaban dari Ravettha dengan sabar.


"Baiklah." Ucap Ravettha dengan menyambut uluran tangan Raja Leighton.


"Tidak kusangka kau bisa menjadi penurut juga, ya?" Tanya Raja Leighton dengan tersenyum ramah.


Ravettha tidak menjawab pertanyaan tersebut dan memilih untuk langsung menemui tujuannya.


"Sangat mudah ditebak...!" Pikir Ravettha dengan bersikap sebagai seorang sandera.


Ketiga raja lainnya pun langsung mengawal sanderanya sehingga Ravettha tidak bisa melarikan diri.


Mereka pergi menuju sebuah tempat, yaitu Grosvenor untuk menyerahkan sandera kepada Dewa Iblis.


Sesampainya disana, mereka berlima melihat Dewa Iblis yang sedang bosan menunggu serta Ratu Quinasy yang sedang duduk di kursi pengadilan sebagai saksi sedangkan Raja Kourtnef, dan Raja Haxley sebagai pelaku.


"Selamat datang, Raja Leighton, Raja Osmond, Raja Yulius, Raja Willought, dan tamu kita! Silahkan duduk!" Ucap Dewa Iblis dengan sekali bertepuk tangan karena rasa kebosanannya telah menghilang.


"Bagus! Karena semuanya sudah disini... Aku akan menguji dirimu, nak! Jika kau berhasil kau akan dibebaskan dari hukuman matimu." Ucap Dewa Iblis yang sudah tidak sabar.


"Padahal anda tidak perlu mengatakan bahwa ada keuntungannya dari ujian itu karena dari dulu anda tidak pernah berniat untuk menghukumku dan mengganti rugi kehancuran yang telah kubuat, bukan begitu Yang Mulia Dalord Carlisle?" Tanya Ravettha dengan melirik ke arah Dewa Iblis.


"Hei, Raja Kourtnef! Apa kau juga yang mengajarinya cara berbicara seperti itu?" Tanya Dewa Iblis.


"Dia sudah seperti itu sebelum saya bertemu dengannya, Yang Mulia." Ucap Raja Kourtnef yang sudah tidak bisa berbohong di hadapan Dewa Iblis.


"Anak yang cerdas! Aku jadi tambah penasaran bagaimana kau bisa sampai kemari." Ucap Dewa Iblis dengan meneleportasikan seluruh orang yang terdapat di dalam Grosvenor dan para rakyat yang masih hidup di dunia iblis sebagai penonton dan Ravettha sebagai satu-satunya peserta yang akan diuji kemampuannya.


Setelah berteleportasi, Ravettha masih berada di balik pintu masuk diperintahkan untuk segera memasuki stadion pertandingan.


"Ding~!"

__ADS_1


Sebuah notifikasi pesan berbunyi dan ditujukan untuknya.


Ia pun langsung membaca isi pesan tersebut.


"Pakaian dan alat-alat perang tingkat 1 telah digunakan! Catatan: Anda tidak bisa meningkatkan semua fasilitas yang baru saja diberikan melalui sistem karena anda harus mendapatkannya sendiri. Ini adalah kesempatan terakhir anda untuk mendapatkan pengakuan Dewa Iblis, keenam Raja dan seorang Ratu! Jika anda berhasil, anda dapat keluar dari Tower Oltorn ini dan mendapatkan beberapa keuntungan yang telah dijanjikan sebelumnya. Jika sebaliknya, anda akan menjadi anggota dari Pasukan Perang Wyatt." Bunyi isi pesan tersebut.


"Mendapatkannya sendiri? Maksudnya aku yang harus meningkatkan dengan menggunakan kekuatanku? Hm... Bahkan sistem itu memberikan satu set alat perang yang sangat lengkap walaupun tidak ada sepercik pun kekuatan didalamnya, tetapi ini masih berguna daripada sama sekali tidak diberikan. Haruskah aku bersyukur dan merasa senang sekarang? Tidak! Aku harus segera keluar dari tempat ini dan kembali pulang ke rumah! Aku pasti akan langsung dihukum oleh ayah dan Pak Zorandh karena sama sekali belum mengerjakan tugas! Kuharap semuanya belum berubah saat aku kembali...!" Pikir Ravettha yang telah merasa sangat siap untuk menyelesaikan misi terakhirnya di Tower Oltorn.


Ia langsung membuka pintu masuk menuju tengah stadion yang juga merupakan tempat berlangsungnya pengujian.


Seluruh penjuru dengan seketika memandang ke arah Ravettha dengan tatapan yang menghina, jijik, dan dipenuhi kebencian.


"Pft! Sungguh bodoh! Tanpa sadar tatapan mereka justru memberikanku banyak poin hitam! Aku bahkan belum menghitung poin hitam dan putih yang telah terkumpul sejak memasuki Tower Oltorn ini." Pikir Ravettha yang telah mengaktifkan kemampuan pemanasannya.


Para penonton yang ada disana tidaklah banyak dibandingkan penonton dari total seluruh penduduk di dunia tersebut.


Lebih tepatnya total mereka yang masih selamat dari rencana milik Ravettha yaitu 2.368.


"Senang rasanya kita dapat saling bertatap wajah dan berkumpul di saat yang kurang baik. Walaupun begitu, tepat di detik ini dan selanjutnya kita akan melihat pertandingan seorang mantan murid Kourtnef, si Penghancur Ravettha Toftrelnd Seinoray dengan sang Letnan Kolonel Linch Vilvfred! Tidak perlu menunggu waktu yang lama, kita mulai saja pertandingannya!" Ucap seorang pemandu acara yang berbicara di depan sebuah alat pengeras suara.


"Sangat cocok sekali julukannya dengan dirimu! Jika aku jadi kau, aku pasti sudah bunuh diri karena tahu hukuman yang sangat berat, tapi..." Ucap Letnan Kolonel Linch Vilvfred dengan mengeluarkan busur dan anak panahnya.


Anak panah tersebut dapat menyalurkan kekuatan yang diberikan oleh penggunanya.


Semakin sedikit daya kekuatan yang diberikan maka hasil kerusakan pada musuh akan lebih besar dan maksimal.


Hal itu disebabkan adanya 'An Ethereal Ball'.


'An Ethereal Ball' adalah sebuah partikel sihir yang sangat padat dan berbentuk bola.


'An Ethereal Ball' memiliki tiga buah lapisan, yaitu inti, selubung, dan permukaan.

__ADS_1


Di lapisan inti tersebutlah yang mengatur seluruh kegiatan dan konversi energi kekuatan.


Di lapisan selubung adalah lapisan yang bertugas untuk mengamankan konversi energi kekuatan supaya tidak terjadi kehilangan maupun gangguan teknis.


Di lapisan permukaan adalah lapisan yang bertugas untuk melindungi lapisan-lapisan sebelumnya.


Dengan cepatnya ia langsung memanah Ravettha dengan menggunakan lima buah anak panah, dan begitu pula dengan Ravettha yang menghancurkan panah tersebut dengan menggunakan 'Hagan's Barrier'.


"Kuakui kau sangat kuat dan tangguh, Tuan Linch!" Ucap Ravettha dengan berjalan mendekati Tuan Linch.


Karena Tuan Linch telah memiliki banyak pengalaman bertarung dengan berbagai cara, tentunya ia sangat mengerti jalan pikiran lawannya termasuk Ravettha.


"Maju dua langkah kedepan dan akan ada serangan 'Big Earthquake'!" Pikir Tuan Linch dengan melompat untuk menjauhi serangan yang akan mengenainya.


"Kau telah membaca jalan pikiranku ternyata... Apa kau tidak tahu itu dilarang dan melanggar privasi orang lain?" Bisik Ravettha yang berada di belakang punggung Tuan Linch dan langsung meledakkan tubuhnya dengan menggunakan 'Lazer Light'.


Saat 'Lazer Light' tersebut telah mengarah tepat di otaknya, sinar tersebut langsung meledakkan targetnya dengan sangat sempurna.


"UPS! Harusnya aku tidak meledakkan kepalanya, alat kecil itu jadi bermutasi...! Tidak masalah! Justru itu yang kuinginkan!" Gumam Ravettha dengan menunggu alat yang dimaksudnya telah sempurna bermutasi.


"Kupikir dia akan menghindari serangan lawannya, ternyata dia anak yang pemberani dan nekat!" Ucap Raja Willought yang sedang memperhatikan dengan seksama.


"Tunggu! Kenapa dia diam ditempat? Seharusnya dia cepat menghabisi benda kecil itu kan? Atau... Dia memang sengaja menunggunya untuk mendapatkan lawan yang lebih kuat dan langsung menghabisinya?" Tanya Raja Yulius yang sedang mencoba untuk membaca jalan pikiran Ravettha.


"Kurasa dia memang sengaja melakukannya." Ucap Raja Leighton.


"Hm... Aku bertaruh ini akan menjadi pertunjukan yang sangat menarik. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Raja Osmond dengan sangat yakin pada keyakinannya.


"Yah... Semoga saja begitu." Ucap Raja Yulius dan Raja Willought.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2