
Seluruh perhatian mulai berpusat pada hasil jawaban Pak Victor.
Meskipun Ravettha juga termasuk di dalamnya, bukan berarti ia mengetahui semua hal yang disembunyikan oleh gurunya.
“Paman mengumpulkan murid-murid seperti ini, apa akan ada kelas percobaan?” Pikir Ravettha dengan melirik pamannya untuk beberapa detik, lalu kembali ke pandangan depannya.
Di saat ia ingin memanggil Falext dari Ruang Pelatihan Rahasianya, orang yang dituju ternyata tiba lebih cepat dari yang seharusnya.
Hal itu juga memudahkannya agar tidak perlu menyibukkan diri pada teknologi miliknya.
“Master! Saya rasa anda akan menyukai berita ini!” Ucap Falext dengan tergirang-girang melebihi Ravettha, sang Majikannya sendiri.
Ia yang sangat senang dan mengharapkan perhatian penuh dari majikannya langsung menjelaskan kepentingannya tanpa adanya rasa cemas.
“Anda telah memasuki ‘Submission 2’! Di bagian ini, anda harus menyelesaikan 1 ujian langsung tingkatan tinggi!” Ucap Falext dengan meloncat-loncat kegirangan di punggung majikannya.
“Oh ya? Bagus kalau begitu? Ngomong-ngomong, kau terlihat begitu senang. Apa karena...?!” Tanya Ravettha dengan menggoda bawahannya.
Pertanyaan yang masih belum dilengkapi membuatnya ingin tertawa lepas, tetapi itu tidak mungkin dilakukan jika kesadaran akan lingkungan sekitarnya meningkat.
Hanya satu hal yang bisa ia lakukan, yaitu tersenyum lebar.
“Ravettha! Temui saya setelah kelas kita berakhir!” Ucap Pak Victor.
“Baik.” Ucap Ravettha dengan mengangguk kecil.
Ia tahu ada hal yang tidak disukai oleh pamannya, maka dari itu, tidak satupun dari para murid gurunya yang berani mengeluarkan sepatah kata meskipun hanya sekadar pertanyaan mendasar.
“Alasan yang sungguh kuno dan sangat umum dikatakan! Sebaiknya kalian cari tujuan, niat, dan alasan yang lebih berbeda! Aku akan membantu kalian mencari jawabannya. Untuk itu, kalian harus melaksanakan semua tugas dariku! Apa semua itu sudah jelas?” Tanya Pak Victor dengan berjalan kesana kemari, memperhatikan anak muridnya, dan membuat situasi yang menantang.
Hanya membutuhkan lima detik, ternyata telah berhasil membuat para anak muridnya berani mengalahkan ketakutannya.
Satu per satu mengangkat tangan kanannya dan langsung mengajukan pertanyaan dengan suara lantang.
“Apa sekarang sudah jadi tugas pertama?” Tanya Levord yang menatap gurunya seantuasias mungkin.
__ADS_1
“HA-HA! Tentu saja sudah, muridku!” Ucap Pak Victor dengan menunjukkan kelas yang sebenarnya tepat di hadapan kelima muridnya.
“Tunggu sebentar! Tugasnya yang mana, pak?” Tanya Kalvetno yang mendapati ketukan sepatu gurunya sejauh 13 cm dari sepatu miliknya sendiri.
Awalnya ia sangat fokus pada perkataan gurunya hingga pada saat ditampilkan kelas yang sebenarnya, ia langsung kehilangan fokus dan melupakan apa yang sudah ia resap.
Suara ketukan sepatu gurunya pun semakin memudar.
Pandangannya ke arah samping yang begitu menarik perhatiannya langsung dihancurkan oleh gurunya sendiri.
“Ada yang tahu apa saja tugas pertamanya?” Tanya Pak Victor dengan memasang wajah senangnya.
Kelima muridnya sangat yakin jika ekspresi itu menunjukkan sinyal bahaya yang mungkin tidak bisa mereka hindari.
Dibandingkan mendapatkan pembuktian sinyal yang lebih mengerikan, sebagai empat angkatan murid baru lainnya, mereka lebih baik menjawab pertanyaan gurunya itu secepatnya.
“Cari tujuan, niat, dan alasan yang lebih berbeda!” Ucap Levord, Sorayna, Ravettha, dan Vicenzo secara bersamaan.
Pengulangan perintah tugas dari gurunya membuat Kalvetno menahan rasa malunya, sedangkan Pak Victor justru menyadari semangat diri yang baru dari masing-masing muridnya.
“Patut diakui! Kemampuannya telah beradaptasi.” Pikir Pak Victor dengan menghalangi siapapun yang membaca pikirannya.
Wajah murungnya begitu tampak jelas di mata kedua sahabat yang berdiri di sebelah sisi kiri dan kanannya.
“Sepertinya kali ini kau beruntung dia tidak melihatmu, ya? Hm....” Ucap Sorayna dengan menghentikan Kalvetno menambah tugas rumahnya.
Kali ini ia menekankan suara manisnya dan berubah menjadi begitu dingin.
“Tentu saja tidak! Atas dasar apa dia mengikuti perintah yang berbanding terbalik dengan sifatnya?” Tanya Kalvetno mulai mengungkapkan kekesalannya setiap kali bertemu “Musuh” yang harus dihindarinya.
“Ehm! Begitu ya? Dengan kata lain, kau ingin aku melakukan itu lagi?” Tanya Sorayna dengan mengembalikan suara buatannya menjadi asli, yang pastinya familiar di telinga Kalvetno.
Pangkal lidah tergigit, gigi Levord mulai menggertak, dan tubuhnya membeku.
Dirinya melirik ke sebelah kirinya, ternyata pendengarannya tidaklah salah, justru ia heran bagaimana bisa dia secepat itu menukar posisinya dengan Vicenzo yang misterius itu.
__ADS_1
“Oh, sialan! Aku ingin secepatnya tidur di neraka!” Pikir Kalvetno dengan mengalihkan pandangannya ke gurunya langsung.
“Perhatikan baik-baik apa yang ada di depan kalian! Lalu, beri bapak apa yang kalian pikirkan!” Ucap Pak Victor dengan menyempurnakan persiapan mengajarnya.
Terdapat 6 patung berukuran sedang, disetai tanda masing-masing sebuah simbol dari enam elemen utama.
Mereka tidak lain adalah elemen api, tanah, es, galaksi, listrik, dan kegelapan.
Jika diperhatikan, semuanya tampak tidak ada yang menarik, seperti biasa, ataupun indah dipandang.
Lebih tepatnya, “Membosankan”, sebuah kata yang sangat sesuai bagi kelima murid Pak Victor.
Sebagai guru, Pak Victor sangat memahami keadaan murid-muridnya karena baginya sendiri, patung hanyalah benda kuno yang telah termakan waktu.
Semakin mendalami ilmu di bidangnya, ia justru semakin tertarik menjelajahi tantangan yang begitu banyak di dunia, termasuk ajaran yang ingin ia turunkan pada kelima murid barunya.
“Bapak tidak bercanda, bukan?” Tanya Levord yang mulai tidak percaya pada penglihatannya sendiri.
Ia telah menjadi murid yang paling bersemangat justru mengharuskannya agar tidak terjebak pada masalah apapun itu, baik yang besar, kecil, rumit, ataupun mudah.
Sementara dirinya merasakan ketidakpuasan, Sorayna bangkit dari posisinya dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikirannya.
Tujuan terselubungnya hanya satu, ia tidak ingin kalah sedikitpun dari Kalvetno, sahabat terlama sekaligus musuh bebuyutannya.
Dikatakan “Musuh bebuyutan” karena sudah sejak keturunan pertama ras Vampir mendapatkan perlakuan yang berakibat fatal dari para ras Hellvil, keturunan ras terburuk yang pernah ia temui dibandingkan yang sebelumnya.
“Hei, semuanya! Jangan menatapku dengan pandangan lesu begitu! Cobalah kalian buka mata selebar mungkin dan perhatikan simbol di 6 kepala patung! Bukankah itu elemen utama?” Tanya Sorayna dengan penuh keberanian.
Tidak ada kata “Salah” di antara tindakan ataupun hal yang dilakukannya, dengan begitu ia tidak mengenal ketakutan akan kegagalan.
Itu adalah hal yang paling mudah ia temui dibandingkan mendapatkannya dari pendidikan formal.
“Ya? Maksudmu kita akan pelajari ke-6 simbol itu?” Tanya Kalvetno dengan mencoba mendominasi perhatian gurunya.
“Memangnya apa lagi? Bukankah sistem Pak Victor lebih cenderung ke praktek lapangan?” Tanya Sorayna dengan mengangkat kedua bahunya sekaligus memutar kedua bola matanya.
__ADS_1
“Ah, kau benar juga! Sejauh ini, guru kan tidak memberi kita tugas kertas. Dengan begitu, kita tidak menulis ataupun menyalin buku tebal-tebal kan? Bagaimana aku tidak menyadari ini?” Tanya Levord dengan terkejut dan mengakui pengamatan sahabatnya.
BERSAMBUNG