
"Pria tua ini adalah tuannya Chassity, bukan? Atau ia sedang menyembunyikan tujuan sebenarnya?" Pikir Ravettha.
"Tidak baik membicarakan keburukan, nak. Mari masuk dahulu, akan kusiapkan teh untukmu." Ucap Tuan Zhulfarias.
"Tidak perlu." Ucap Ravettha.
"Tidak masalah. Calon muridku tidak boleh kelaparan. Tidak bagus untuk mengembangkan bakat tersembunyimu dengan perut kosong." Ucap Tuan Zhulfarias.
"Aku tidak lapar dan haus. Bisa saja pria tua ini memasukkan racun kedalam hidangannya. Lagipula, jika dia ingin mendapatkan seorang murid, ia tidak akan memintaku untuk mendatanginya karena guru yang akan mendatangi muridnya, kecuali muridnya yang ingin berguru padanya." Pikir Ravettha.
"Satu-satunya cara yang bisa digunakan adalah berpura-pura tidak tahu. Menyebalkan! Tapi apa boleh buat?" Pikir Ravettha.
Ia mencari tahu siapa sosok sebenarnya Tuan Zhulfarias ini dengan menggunakan 'Eye Sighting' miliknya.
Ia melihat keseluruhan yang dimiliki oleh Tuan Zhulfarias, baik itu dari segi kekuatan, kehidupannya, kekuasaannya, kemampuannya, dll.
Seketika Ravettha menjadi sedikit terkejut lalu tersenyum senang.
"Jadi... Orang ini adalah keturunan dari dewi Zivilia? Dewi yang menciptakan Pulau Aishwarya ini. Menakjubkan! Aku yakin banyak hal yang bisa kupelajari darinya." Pikir Ravettha yang tiba-tiba bersemangat.
"Tunggu sebentar. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepada anda." Ucap Ravettha kepada Tuan Zhulfarias.
"Ya. Aku mengerti rasa ingin tahumu. Mari kita berbicara dan menikmati teh yang hangat ini!" Ucap Tuan Zhulfarias dengan tersenyum senang karena ia telah menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Ravettha.
Ravettha memasuki rumahnya dan duduk di hadapan Tuan Zhulfarias dengan empat mata.
"Apa yang ingin kau tanyakan? Siapa aku? Kenapa aku mengundangmu? Aku akan menjawabnya sekarang." Ucap Tuan Zhulfarias dengan tegas.
Saat Ravettha mendengar hal tersebut, ia langsung tersenyum kecil karena Tuan Zhulfarias berhasil menebak sedikit dari pikirannya.
"Namaku adalah Zhulfarias Moelgard Ucarious. Aku hanyalah seorang pria tua yang membutuhkan seorang ahli waris kemampuanku kepada orang yang benar-benar akan membuat perubahan ke arah yang lebih baik dari yang sekarang. Orang itu adalah kau, nak. Kau memiliki sesuatu yang sangat istimewa dari seluruh orang lainnya. Mungkin kau tidak menyadarinya, tetapi suatu saat kau akan menyadari dengan sendirinya. Kau harus menggunakannya dengan sangat baik." Ucap Tuan Zhulfarias dengan sangat serius.
Saat Ravettha mendengarnya, ia merasa bahwa Tuan Zhulfarias dapat dipercaya.
Ia melihat melalui pikiran dan hatinya yang tulus untuk menurunkan pengetahuannya kepada Ravettha.
"Baiklah. Lalu apa yang harus kupelajari, guru?" Tanya Ravettha.
__ADS_1
"Haha. Aku suka semangat belajarmu. Tidak salah aku memilihmu. Bagus! Hari ini kau harus belajar memfokuskan dan mengendalikan pikiranmu sebaik mungkin dengan begitu, kau akan mahir saat menggunakan kemampuan yang tingkatnya lebih besar dari ini. Semangat! Kutunggu hingga siang hari, jika kau selesai aku akan memberikan pelajaran selanjutnya!" Ucap Tuan Zhulfarias.
"Baik, guru." Ucap Ravettha.
Rufino yang berada di dekatnya hanya mengamati dan menjaga Ravettha saat bermeditasi dari gangguan luar.
Sementara itu, Ravettha memulai memfokuskan pikirannya dengan berusaha tenang dan perlahan-lahan mengendalikan pikirannya supaya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Semenit telah berlalu, ia telah berhasil menenangkan dan mengendalikan pikirannya yang selalu meningkat.
Tuan Zhulfarias yang penasaran akan perkembangan murid barunya itu bersembunyi diam-diam dan mengamati perkembangan Ravettha.
Ia yang terus-menerus memperhatikannya dengan seksama dibuat takjub dengan muridnya itu.
"Hm... Wajar saja dia berkembang cepat! Anak ini masih memiliki kekurangan yang harus diasah hingga menjadi kelebihan yang sangat hebat sebelum aku pergi! Aku sangat penasaran, seberapa cepat ia akan meningkatkan semua pembelajaran dariku itu! Haha! Mari kita lihat!" Pikir Tuan Zhulfarias yang menjadi semangat untuk mengajari Ravettha.
Setelah memikirkan hal tersebut, Tuan Zhulfarias menghampiri Ravettha yang sedang bermeditasi.
Ia mencoba untuk menguji tingkat pemikiran Ravettha dengan berbagai gangguan mulai dari gangguan kecil hingga besar.
Ia juga mencoba untuk menyingkirkan dan menembus pertahanan milik Rufino yang selalu menjaga Ravettha.
Sedangkan gangguan besar berasal dari kekuatan Tuan Zhulfarias yang sengaja mengacaukan pikiran Ravettha melalui segala kemampuannya.
"Anak ini boleh juga! Bagus! Bagus!" Pikir Tuan Zhulfarias dengan bangga.
"Baiklah. Kita sudahi pelajaran pertama dan melanjutkan ke pelajaran kedua." Ucap Tuan Zhulfarias kepada Ravettha.
Ravettha yang mendengar hal tersebut langsung menghentikan pembelajaran pertamanya dan berencana memulai pembelajaran keduanya.
"Baik, guru. Apa yang akan saya pelajari?" Tanya Ravettha.
"Tangkap ini!" Ucap Tuan Zhulfarias yang melemparkan pedang kayu kepada Ravettha.
Ravettha secara spontan langsung menangkapnya dengan cepat sebelum menyentuh tanah.
"Serang boneka itu sebanyak 10.000 kali!" Ucap Tuan Zhulfarias yang telah menyiapkan tempat latihan sebelum mengamati perkembangan Ravettha.
__ADS_1
"Baik." Ucap Ravettha.
Ia langsung pergi keluar rumah gurunya dan memulai latihannya di halaman yang telah disiapkan.
Disana ia melihat banyak sekali boneka yang siap untuk menyerangnya dengan tatapan dan aura yang siap untuk membunuhnya.
Ia menggenggam pedang kayu tersebut dan langsung menyiapkan penyerangannya.
"Maksud dari perintahnya adalah untuk membuatku memahami dan melatih membuat segala macam gaya pedang dengan keinginan dan menghasilkan segala macam gaya pedang tingkat tinggi baik itu dalam segi penyerangan, penangkisan, dll." Pikir Ravettha.
"Menarik! Jika aku lulus pelajaran ini, aku bisa mengaplikasikannya pada 'Demon Sword' milikku. Aku harus belatih dengan lebih giat lagi!" Pikir Ravettha yang menjadi semakin semangat setelah memikirkannya.
Ia memulai serangannya dengan berbagai cara sehingga menghasilkan berbagai macam gaya pedang tingkat tinggi.
Ia juga menghasilkan gaya pedang yang memiliki daya jangkauan yang jauh dan luas dalam sekali mengayunkan pedangnya, gaya pedang yang sangat halus, tajam, hingga tidak terlihat oleh musuh.
Dalam pelatihan pengayunan 10.000 kali, ia berhasil menghasilkan 5.000 macam gaya pedang, seperti 'Blade Stabbing', 'Blast Puncture', 'Storm Blazed', dll.
"Anak ini cepat sekali bersemangat, ya? Lumayan, dia mampu membuat 5.000 macam gaya pedang tingkat tinggi. Latihan yang tingkat tinggi dan memiliki kemungkinan berhasil yang kurang dari 1%. Ini akan bagus untuk mempercepat perkembangannya." Pikir Tuan Zhulfarias.
"Ravettha! Kau masih harus meningkatkan kemampuanmu!" Ucap Tuan Zhulfarias.
"Tentu." Ucap Ravettha yang sangat senang karena ia menyadari masih banyak yang kurang darinya.
"Kuakui muridku lumayan hebat! Tingkatkan lagi! Dan jangan pernah menyerah!" Ucap Tuan Zhulfarias.
"Baik, guru." Ucap Ravettha yang menjadi sangat senang.
"Saya sudah selesai menyerang bonekanya, guru. Lalu pembelajaran apa yang selanjutnya?" Tanya Ravettha.
"Bagus! Kita lanjutkan ke pelajaran ketiga. Kutugaskan kau untuk mengumpulkan semua buku yang telah dicuri oleh orang asing. Jumlah buku tersebut hanya ada tiga buah yang berjudul 'Prediction Future Of Aishwarya', 'Historic Of Nether World', 'Historic In Aishwarya Island'. Ketiga buku tersebut telah dicuri sehari yang lalu sebelum kedatanganmu. Jadi berhati-hatilah! Dan kembali dengan selamat!" Ucap Tuan Zhulfarias.
"Baik, guru. Saya akan pergi mencarinya." Ucap Ravettha.
"Ya. Jangan mengecewakanku, nak!" Ucap Tuan Zhulfarias.
Mendengar hal itu Ravettha hanya terdiam sejenak tanpa berkata apapun.
__ADS_1
BERSAMBUNG