
Pria berjas putih dan seluruh pasukannya berhasil membawa Ravettha ke sebuah tempat yang disebut 'Markas'.
Banyak anggota militer berlalu-lalang demi kepentingan pertahanan dan keamanan bangsanya.
"Cepat! Jangan membuat Yang Mulia menunggu!" Ucap pria berjas putih kepada Ravettha.
"Huh? Barusan kau memanggilku?" Tanya Ravettha yang tidak percaya pada perkataan menyerupai perintah.
"Kau pikir siapa lagi yang bisa kuajak bicara?" Tanya pria berjas putih sama sekali tidak berniat menurunkan standar gaya bicaranya.
"Oh! Ternyata bukan berbicara sendiri, ya?" Tanya Ravettha justru tersenyum kecil mendengar respon pria tersebut.
Tepat saat mereka telah mendekati ruang tunggu Yang Mulia, seorang pengawal mendorong tubuh Ravettha dan pria berjas putih agar mengurangi percakapan di hadapan tamu istimewanya.
Pintu besar terbuka dan di saat yang bersamaan muncul kepingan memori Ravettha di kehidupan sebelumnya.
"Ugh! Kuyakin tubuhku tidak terluka sedikit pun. Benarkah hanya kepalaku yang sakit?" Pikir Ravettha menahan sebisa mungkin penderitaannya.
Sedikit demi sedikit, lalu terus meningkat.
'Lautan Waktu' untuk kedua kalinya terbuka.
Ravettha menjadi seseorang pribadi yang tersesat dan berperan sebagai orang asing.
"Apa ada yang ingin ditunjukkannya?" Pikir Ravettha benar-benar dibuat ragu.
"Aku adalah Lautan Waktu. Sekarang anda bisa membuka kepingan kedua. Perlu diketahui, di dalam Lautan Waktu anda hanya bisa menyaksikannya." Bunyi sebuah suara tanpa ada seorang pun yang muncul untuk bertatap langsung.
'Lautan Waktu' tidak memberikan sedetik pun untuk beristirahat, melainkan memori di kehidupan kedua telah dimulai.
Memori kehidupan itu akan terus berjalan hingga kematian Ravettha tiba.
Tidak ada pengulangan kedua, maka dari itu Ravettha memahaminya dengan teliti.
"Ketua! Lihat teman-teman! Ketua Neance kita berhasil mendapatkan gelar 'Right Hand Wealth Kingdom'!" Ucap sekumpulan pengagum Pemimpin Menteri Ekonomi Politik, Nona Cidghief Neance.
"Itu benar! Ketua kita memang yang terbaik!" Ucap serempak para sekumpulan pengagum lainnya.
Nona Neance maupun Ravettha sendiri sama-sama merasa muak menyaksikan bagian tersebut.
Meskipun begitu, tetap saja Ravettha tidak dapat melakukan apapun, kecuali menyaksikan memori kehidupan keduanya hingga habis.
"Berisik sekali! Apa mereka tidak punya hal lain untuk dikerjakan?" Pikir Nona Neance dengan mengernyitkan dahinya.
Selagi dirinya dikerumuni para pengagumnya, ia justru terlintas hal menarik baginya.
__ADS_1
"Baiklah kawanku! Mari semuanya kita rayakan perkembangan ini!" Ucap Nona Neance menjadi riang dan penuh semangat.
"Woohoo! Yeah!"
Terlihat heboh dan ramai sekali perayaan tersebut hingga berlangsung 3 jam sebelum tepat tengah malam.
Dengan penuh kenikmatan, Nona Neance akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pestanya.
Malam berlalu dengan cepat, para pelayan membersihkan apa yang menjadi tugasnya, sementara Nona Neance menggunakan kendaraan miliknya untuk tidur selama di perjalanan pulang.
"Hoam! Ternyata sejauh ini lebih dari cukup!" Ucap Nona Neance turun dari kendaraannya yang disambut oleh seorang pria berpiyama putih.
"Aku bisa mati mencemaskan dirimu jika semenit lagi belum pulang, sayang!" Ucap pria berpiyama tanpa mengatakan apapun lagi langsung menggendong wanitanya hingga ke tempat tidur.
Rambut bergelombang acak abu-abu keemasan dengan bola mata yang berwarna merah darah disertai nada suara sama persis seperti seorang pria di kehidupan Ravettha sekarang.
"Ini tidak mungkin!" Ucap Ravettha yang terkejut mengetahui tanda-tanda kemunculan rasa familiarnya.
Dirinya tidak ingin percaya dan lebih tepatnya, tidak ingin mengakui bahwa dirinya mengalami reinkarnasi.
Semakin diperhatikan, semakin menarik perhatiannya.
Ia tidak menyangka sifatnya dengan Nona Neance ternyata memiliki banyak kesamaan.
"Dia sudah tidur, bukan?" Tanya Nona Neance dengan mengecilkan suara, gerakan, dan langkah kakinya.
"Oh tidak! Maafkan aku, Cedric. Kamu harus tetap tidur dulu sekarang!" Ucap Nona Neance memaksa Vicenzo tertidur lelap.
Ia turun dari kasur, berjalan mendendap-endap, dan kembali seperti biasa setelah keluar dari kamarnya, yaitu mengerjakan tugas.
Hal yang membedakan dari rutinitas biasanya adalah dirinya bekerja di ruangan ayahnya.
"Berantakan!" Pikir Nona Neance setelah membuka pintu ruang kerja ayahnya.
Dengan begitu cekatan ia mempersiapkan sentuhan rencana akhir di hari esok, meletakkan kembali sesuai keadaan semula tanpa jejak perubahan yang mencurigakan sedikitpun, dan kembali tidur.
Baru saja menaiki kasur dan memakai selimutnya, dirinya harus dikejutkan dengan pira berpiyama itu.
"Em... Tunggu!" Teriak pria berpiyama yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Huhu! Semoga jangungku tidak berhenti berdetak!" Pikir Nona Neance menutupi dirinya dengan selimut tebal, lembut, dan nyaman.
"Sayang! Sayang! Ada yang ingin ditanyakan padamu!" Ucap pria berpiyama dengan mengganggu tidur Nona Neance.
Tidak ada suara balasan sedikit pun dari lawan bicaranya.
__ADS_1
Diam-diam ia memeriksa seberapa terlelapnya Nona Neance.
"Ternyata sudah tidur, ya? Baiklah, aku akan tidur juga." Ucap pria berpiyama dengan mengelus kepala Nona Neance.
Hari berganti dan seluruh persiapan sudah lengkap.
Seharusnya pergantian hari ini diawali dengan pagi yang cerah dan sejuta energi positif lainnya, sayangnya ini adalah pengecualian.
Para pasukan perang datang menyerbu dari segala arah termasuk wilayah kerajaan.
"Dasar tidak berguna! Pertahanan kita semakin melemah dan si Brengsek itu pasti sedang bersukaria disana!" Gumam sang Raja yang teringat pada Yegluve Atredich, Panglima Jendral terhandal dan termuda di kubu musuhnya.
Tapak kaki berbunyi dan mendekati sang Raja.
Bunyi itu sungguh terdengar dengan jelas di telinga Raja dan pengawal pribadi yang berada di sisinya.
"Yang Mulia! Ada seseorang yang akan datang kemari! Yang Mulia bersembunyilah dan biarkan kami yang menghadapinya!" Ucap para pengawal pribadi sudah sangat bersedia jika ini adalah akhir kehidupannya.
"Wah, wah, wah! Mengharukan sekali kalian, ya?" Tanya sebuah suara merendahkan.
"SRET!"
Goresan kuku yang tajam terasa dengan jelas di bahu kiri dan turun ke arah jantung sang Raja.
Sebuah senyuman akhirnya terlukis sebelum kedatangan para sekutunya.
"K-kau? Yegluve Atredich!" Ucap sang Raja dimana seluruh tubuhnya bergetar hebat di tempat tersembunyi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
"Pft! HAHAHAHA! Nikmati rumah barumu, pak tua!" Ucap Yegluve sama sekali tidak peduli pada apa yang dirasakan mangsanya.
Baru saja ia ingin mengelap sisa darah bersamaan dengan memakan jantung sang Raja, seseorang datang disertai wajah riang dan penuh kegembiraan.
Tanpa takut darah, korban mangsa yang terkoyak, dan segala perabotan berantakan karena sihir tidak teratur, Cedric langsung memeluk Yegluve.
Dengan seketika penyamaran Yegluve langsung berakhir.
"HAP!"
"Yang masih segar benar-benar lezat! Ops! Sayang! Kamu yang harus menghabiskannya! Kenapa aku melakukannya tadi, duh?" Tanya Cedric secara spontan merebut gigitan kedua dan merasa menyesal meskipun sudah terlahap habis.
"Begini saja. Kamu makanlah jantungnya! Setelah kamu makan, bantu aku membersihkan mereka." Ucap Nona Neance mengacak-acak rambut Cedric.
Cedric yang mendapati hal tersebut, dengan cepatnya menarik tangan Nona Neance hingga badannya terlalu condong ke depan.
Secepat mungkin Cedric mengunyah jantung sang Raja dan mentransfer energinya ke dalam tubuh Nona Neance.
__ADS_1
"Haish!" Gumam Nona Neance tidak bisa lagi berbuat apa-apa di hadapan Cedric.
BERSAMBUNG