Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Permainan Di Babak Pertama


__ADS_3

"Bagus! Aku sangat suka melihat semangat mereka!" Ucap Raja Kourtnef dengan bangga.


"Pelayan! Ambilkan buku penilaian kinerja para murid di ruang kerjaku!" Ucap Raja Kourtnef kepada pelayan yang berada disekitarnya.


"Baik, Yang Mulia." Ucap pelayan tersebut.


Tanpa membutuhkan waktu yang lama, pelayan tersebut kembali dengan membawakan barang yang diminta oleh Raja Kourtnef.


"Ini barang yang anda minta, Yang Mulia." Ucap pelayan tersebut.


"Bagus! Mari kita mulai penilaiannya!" Ucap Raja Kourtnef dengan sangat bersemangat untuk menilai perkembangan para muridnya dari hari pertama hingga kedua melalui berbagai aspek.


Sementara itu, para murid masih sibuk dengan pelatihannya.


Ada yang sudah menyelesaikannya dan juga ada yang belum dengan waktu yang berbeda-beda.


Mereka yang belum selesai adalah Sharon, dan Vene.


Waktu telah berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa seluruh murid telah menyelesaikan tugasnya bersamaan dengan Raja Kourtnef yang telah selesai melakukan penilaiannya.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Raja Kourtnef.


"Sudah, guru!" Ucap para murid secara bersamaan.


"Bagus! Sebagai penutup di latihan kedua kita, kuberi kesempatan kepada lima orang yang tertarik untuk mencoba bertarung denganku. Mudah saja! Kalian hanya harus menyentuhku minimal hanya tergores." Ucap Raja Kourtnef dengan sangat berharap ada yang tertarik.


"Saya, guru!" Ucap Ravettha tanpa adanya keraguan.


"Bagus! Siapa lagi? Sisa empat orang lagi!" Ucap Raja Kourtnef.


"Saya, guru!" Ucap Sarah, Upton, Rai secara bersamaan.


"Bagus! Satu orang lagi!" Ucap Raja Kourtnef.


"S-Saya pak!" Ucap Vene.


Raja Kourtnef yang senang akan hal tersebut langsung membuat tiga buah lingkaran besar sebagai penilaian terakhir di hari kedua.

__ADS_1


"Ini hanyalah permainan di babak pertama! Disini terdapat tiga buah lingkaran terbagi menjadi lingkaran luar, tengah, dan dalam. Apabila peserta melewati masing-masing lingkaran akan berkurang 20 poin! Setiap peserta hanya memiliki 60 poin! Apa kalian sudah mengerti tentang peraturannya?" Tanya Raja Kourtnef.


"Ya, guru!" Ucap kelima peserta secara bersamaan.


Para murid yang tidak mengikuti permainan tersebut memilih untuk melihat dan mengamati pertarungan tersebut.


Sarah dan Upton langsung menyerang dengan bersamaan dari arah yang berlawanan.


Sarah mengeluarkan elemen apinya yang berbentuk bola api, sedangkan Upton menggunakan elemen anginnya yang berbentuk pusaran badai.


Sayangnya hal itu tidak dapat menghentikan Raja Kourtnef yang memiliki kemampuan untuk memprediksi gerakan lawannya.


"Sial! Bola apiku bahkan tidak dapat menyentuhnya sedikitpun!" Ucap Sarah.


"Pusaran badai anginku juga tidak dapat mendekatinya!" Ucap Upton dengan sedikit bingung.


"Sarah! Pinjamkan kekuatan elemen apimu sedikit padaku! Aku akan mengalihkan perhatiannya, lalu kalian serang dengan menggunakan kekuatan fisik! Kita masih memiliki kemungkinan yang besar untuk menang!" Ucap Rai dengan menggunakan telepatinya.


"Hoo...! Mau mengalihkan perhatian, ya? Boleh juga tuh idenya, sayang sekali kau yang akan kalah duluan!" Ucap Raja Kourtnef dengan melempar Rai hingga melewati batas lingkaran ketiga yang merupakan lingkaran terluar.


"A-Apa? Guru sangat kuat sekali hingga bisa melemparnya keluar! Bahkan langsung membuatnya kehabisan poin!" Ucap Marigold yang terkejut karena Rai tidak bisa bergerak sedikitpun.


Vene yang kebingungan sehingga menurunkan pelindungnya harus berakhir sama seperti Rai.


"Sial! Dia bahkan mengeliminasi muridnya seperti menyingkirkan para sampah!" Ucap Upton yang masih terkejut dengan kekuatan yang dimiliki gurunya tersebut.


Mereka berdua langsung menyerang bersamaan hingga kekuatannya menurun drastis tanpa keberhasilan sedikitpun.


"Urghh! Aku tidak boleh kalah!" Ucap Sarah dengan mencoba bangkit.


"Kau mau mencoba bangkit dengan tubuh yang seperti ini? Apa kau mau menyerah? Atau butuh bantuan?" Tanya Raja Kourtnef dengan tersenyum ramah.


Di balik tubuh Raja Kourtnef, telah disiapkan banyak jebakan dari Ravettha.


Lima puluh sayatan pisau langsung mengenai tubuh Raja Kourtnef dengan sangat akurat.


"Dari mana datangnya...?" Tanya Raja Kourtnef yang belum menyelesaikan perkataannya karena langsung diserang oleh Ravettha dengan kemampuan 'Bom Air Mata'.

__ADS_1


"BLARRR!!!"


Kemampuan tersebut akan melukai bahkan menghancurkan tubuh lawan tergantung dari besar kapasitas 'Bom Air Mata' yang dikeluarkan.


'Bom Air Mata' tersebut berhasil mengenai Raja Kourtnef, tetapi tidak dapat menjatuhkannya hingga benar-benar kekurangan energi melainkan ha tersebut membuatnya menjadi marah besar.


Raja Kourtnef melemparkan seluruh pesertanya dengan ledakan dari dalam tubuhnya hingga jatuh seperti Rai.


Sayangnya itu tidak berlaku pada Ravettha yang telah mengetahui celah kelebihan dan kelemahannya.


"Siapa yang melemparkan mainan tadi?" Tanya Raja Kourtnef dengan tatapan yang penuh amarah.


"Hoo...! Ternyata kau yang berhasil menyentuhku dengan kemampuanmu itu! Bagus, bagus, bagus! Bagaimana kalau yang ini?" Tanya Raja Kourtnef dengan memberikan sebuah tinjuan yang sangat kuat seperti batu besar.


Ravettha hanya menggunakan satu kali jentikkan jarinya justru berhasil melempar Raja Kourtnef dengan sangat kuat dan mengambil 100% dari kekuatannya yang telah dikeluarkan olehnya serta menyerap pengetahuan yang telah dipelajarinya sejak ia kecil hingga menjadi raja.


Tentunya hal tersebut sama sekali tidak diketahui oleh Raja Kourtnef karena yang ia rasakan hanyalah sayatan pisau yang semakin meluas.


"Hei, apakah kau malu dengan muridmu yang kuat?" Tanya sisi gelap Raja Kourtnef dengan senyuman liciknya.


"Tentu saja tidak! Akan lebih bagus jika dia lebih berkembang dan kuat dariku untuk menjalankan kewajibannya!" Ucap sisi baik Raja Kourtnef yang merupakan sisi yang dipakainya saat ini.


"Oh ya? Kau masih saja polos dan naif! Lihatlah anak itu! Dia terlihat imut dan manis saat dipandang, tetapi kau tidak tahu sifat buruknya! Dia bahkan lebih kejam dan brutal daripadamu!" Ucap sisi gelap Raja Kourtnef dengan tersenyum licik.


Ucapan sisi gelapnya tersebut sangatlah meyakinkan, tetapi sisi baiknya tetaplah berada dengan keputusannya tanpa mendengarkan sisi gelapnya.


"Huh! Tetaplah kau keras kepala! Suatu saat kau akan memohon kepadaku dan menggantikannya walaupun hanya sementara." Ucap sisi gelapnya Raja Kourtnef dengan tersenyum licik.


"Selama seluruh muridku tidak mengkhianatiku, aku rela untuk berbagi kekuatan maupun pengetahuan kepada mereka. Lagipula aku juga tidak memerlukan tambahan murid." Ucap sisi baiknya Raja Kourtnef dengan tegas dan penuh percaya diri.


"Hm... Kalau mereka mengkhianatimu? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya sisi gelapnya Raja Kourtnef dengan tersenyum licik.


"Kau tidak perlu tahu apa yang akan kulakukan karena kau cukup berdiam disini selamanya!" Ucap sisi baiknya Raja Kourtnef.


"Oh ya? Kau sudah yakin jika kau sama sekali tidak membutuhkanku dan mencoba untuk menghapus ingatan itu?" Tanya sisi gelapnya Raja Kourtnef dengan tersenyum licik.


"Berisik! Kenapa kau selalu datang disaat aku seperti ini? Kau hanya selalu memberikan saran konyol dan sadis!" Ucap sisi baiknya Raja Kourtnef.

__ADS_1


"Karena dirimu yang sebenarnya adalah aku!" Ucap sisi gelapnya yang mulai menyelimuti diri Raja Kourtnef yang asli untuk menyerang kembali muridnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2