
Udara di sekitar Levord dan Kalvetno berubah menjadi angin panas.
Tidak ada pepohonan yang rindang untuk berteduh sejenak karena hanya terdapat lautan dengan kertas sebagai pengganti airnya.
Kertas-kertas tersebut terkadang menggulung seperti ombak kecil.
Levord yang merasa tidak terusik dengan udara panas di sekitarnya langsung membidik ke arah Kalvetno menggunakan tombak spiralnya.
Di saat yang sama, wajah Kalvetno menunjukkan penuh pertanyaan di dalam benaknya.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya telah memberikan kemudahan pada sosok yang mendiami tubuh Levord.
"Levord? Apa k-kau meng-...?!" Tanya Kalvetno dengan suara yang bergetar karena terlalu lama mengolah emosinya.
Seolah tidak mendengarnya, tanpa mengatakan apapun, Levord langsung melepaskan bidikannya melalui isyarat ibu jari tangannya.
"BWOSSHHH!!!"
Kalvetno sebagai teman sekaligus sahabatnya masih saja tidak percaya dan dipenuhi keheranan justru menjadi terkejut saat mengetahui dirinya selamat dari kematian.
"Eh?" Gumam Kalvetno dengan membelalakkan matanya bersamaan dengan memutar tubuhnya ke belakang secara perlahan.
Ia tidak ingin berhadapan dengan Levord jika sahabatnya yang kini telah diliputi pikiran kompleks sebagai bentuk ancaman terbesar baginya.
Dibandingkan bentuk ancaman, ia kembali dikejutkan dengan suatu suara yang ingin meminta tolong kepadanya.
"KHEKKHE...! Raih tubuhku dan selamatkan a-...!" Ucap sesosok makhluk hitam, bermata satu, dan berwarna merah di tengahnya bersamaan dengan meronta-ronta kesakitan.
"Selamatkan dirimu? Kuberikan satu saran untukmu, sahabatku, Kalvetno. Jangan pernah dengarkan keluhannya, mengerti?" Tanya Levord dengan mencabut tombak spiral dari tubuh buruannya.
Ia membiarkan tombaknya bercucuran darah, sedangkan tangannya menggenggam hasil buruannya yang hampir kehilangan nyawanya.
__ADS_1
"Levord! Aku tahu kau tidak akan membunuhku karena masalah ini, jadi lepaskanlah dia! Bukankah dia akan lebih berharga jika kita memperoleh informasi darinya?" Tanya Kalvetno dengan memeriksa tepi leher dan telinga kanannya yang masih baik-baik saja.
"Ternyata benar...!" Gumam Levord dengan melirik ke arah sahabatnya dan dengan cepatnya menatap tajam sang Buruannya.
"Dengarkan perkataanku, berapapun harganya, semua itu akan masuk ke dalam tagihanmu!" Ucap Levord dengan mencengkeram erat hingga sang Buruannya kesulitan bernapas.
Ia melangkah mundur tiga kali bersamaan dengan mengumpulkan tenaganya agar dapat melempar sang Buruan ke arah yang dituju, yaitu sisi Barat dari letak terjatuhnya Levord dan Kalvetno dari udara lepas.
"1..., 2..., Sekarang saatnya!" Ucap Levord dengan menganggukkan kepalanya kepada senjata tombaknya, lalu meluncurkan sang Buruannya dengan tenaga penuh.
Kalvetno yang masih tidak mengerti perkataan Levord, ia hanya dapat bergerak seperti orang kehilangan tujuan.
Sementara itu, tombak spiral berukuran besar mengubah bentuknya menjadi pesawat tanpa awak.
Pesawat tersebut terbang dengan membawa majikannya, serta dipenuhi kecepatan tinggi menghampiri Kalvetno yang masih tidak jelas tujuannya.
"Sekarang siapa yang melamun dengan tatapan kosong, Kalvetno?" Tanya Levord dengan tersenyum dan nada suara yang terdengar merendahkan.
"Di saat ini kau ingin lebih lambat? Makhluk bermata satu itu sudah pasti akan kabur jika kita terlalu lambat!" Ucap Levord dengan menyiapkan teleportasi rahasianya.
"Ini benar-benar buruk! Tidak! Ini lebih buruk dari mimpi dikejar penjahat di dalam mimpiku!" Gumam Kalvetno dengan berusaha merelakan nyawanya, tetapi ia tidak berhasil lagi dan lagi.
Meskipun Levord telah mengerahkan tenaganya sekuat mungkin dan didasari perhitungan ingatan jangka panjangnya, sang Buruan yang telah terbang sesuai perkiraannya justru terlintas cara melarikan diri yang lebih efektif.
Ia membiarkan tubuhnya bergerak sesuai dorongan dan angin kencang yang mengarah kepadanya hingga pada saatnya ia melihat celah di antara dinding pertahanan kedua musuhnya.
"KHIKHIKKHI! Kalian telah membuat keputusan terburuk! Sayang sekali jalan keluarnya akan kupakai untukku sendiri!" Ucap sang Buruan Levord dengan menyeringai lebar bersamaan dengan terbang mendekati sebuah prima segiempat berukuran sangat kecil yang telah siap mengirim siapapun yang memasukinya agar dapat keluar dari tempat ini.
"Begitukah? Baik sekali anda!" Ucap Levord dengan menetapkan lokasi teleportasinya di dua tempat yang berbeda.
Ia tersenyum senang dan memberikan perintah kepada pesawatnya agar kembali ke wujud semulanya, yaitu tombak spiral.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari sang Majikannya, tombak spiral langsung membuat targetnya berlutut dan meminta pengampunan.
Ia mengetuk-ngetukkan ujung tombaknya dengan darah yang telah mengering ke punggung targetnya.
Tubuhnya yang lebih besar dibandingkan targetnya tidak membuat dirinya melihat perbedaan yang signifikan.
"Cih! Baiklah! Aku bersedia menjadi pengikut tuanmu dan mengabdikan seluruh aset milikku kepadanya dengan syarat, biarkan aku berada sejajar denganmu, tombak spiral!" Ucap sang Buruan yang telah yakin akan konsekuensi tanggungannya.
"Lepaskan dia, senjataku! Kita akan mengurus kontrakmu nanti setelah kau membuktikan kelayakanmu, calon senjata baruku!" Ucap Levord dengan memalingkan wajahnya dan memapah sahabatnya agar dapat memasuki pintu keluar yang sesungguhnya.
"Ayo kita pergi, Kalvetno!" Ucap Levord dengan berusaha mengurangi risiko melemahnya diri sahabatnya tersebut.
Hanya anggukan kecil yang dapat Kalvetno berikan untuk mengakhiri mimpi buruknya.
"Seharusnya aku tidak terlalu tegang saat terbang! Bodohnya aku hingga melewatkan hiburan gratis itu!" Pikir Kalvetno dengan melupakan penyesalannya.
Teleportasi yang telah disiapkan oleh Levord ternyata dapat dipadukan dengan pintu keluar dari dimensi hukuman permainan yang telah dibuat untuk para pemainnya.
Mereka berempat kembali ke lapangan permainan, tepatnya di persegi B2.
Luas setiap persegi kembali diperluas dua kali lipat dari yang sebelumnya.
"Kalvetno!" Ucap Levord dengan memanggil sehabatnya hanya untuk memastikan sesuatu.
"Apa lagi pertanyaannya?" Tanya Kalvetno yang telah siap menerima tantangan menarik lainnya.
"Kau ingat aku pernah menanyakan pendapatmu tentang arus barat, bukan? Apa kau menemukan pola baru dari sana?" Tanya Levord dengan menapakkan kakinya setelah sahabat dan dua bawahannya menginjakkan kaki dengan sempurna.
"Oh, kurasa kau harus berterima kasih padaku karena aku tidak mabuk di atas senjatamu! Aku menaruh curiga padamu saat kau ternyata tidak berbicara padaku, melainkan hasil tangkapanmu! Awalnya tidak ada masalah di saat kau mempertanyakan pendapatku. Itu sudah seperti kebanggaanku yang sangat membekas. Tidak mungkin kau menyimpulkan sesuatu tanpa bukti dan data yang benar-benar jelas! Seolah kau mengetahuinya dengan jelas, kau berniat membunuhku agar berhasil mengelabui si Bulat ini? Aku yakin itu bukanlah tujuanmu, bukan? Kau mengetahui bahwa pintu keluarnya ada di Barat karena kita dijatuhkan di arah yang sebaliknya, sedangkan udara dingin berasal dari Barat! Bukankah itu untuk memberi kesan pintu itu tidak ada atau hanya imajinasi belaka dan akhirnya peserta menyerah dari permainan ini?" Tanya Kalvetno dengan memperhatikan hal-hal kecil yang telah dilewatkan.
"Anggap saja itu begitu. Sekarang yang kita perlukan hanyalah melupakannya!" Ucap Levord dengan membuat persetujuan atas tindakan yang telah mereka rencanakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG