
"Bagaimana? Kau sudah menyelesaikannya, bukan?" Tanya Pak Victor dengan mengerutkan dahinya.
Ia sama sekali tidak ingin Waldon mengerjakan tugasnya setengah-setengah.
Tidak ada rasa bersalah dan kali ini sebagai anggota baru, Waldon membalas pertanyaan sesuai keinginan ketuanya.
"Tugasku sudah selesai. Jika anda bersedia mengetahui laporannya, anda bisa mendapatkannya melalui adikku ini." Ucap Waldon dengan tersenyum hangat.
Kedua tangannya menggeser tubuh Levord dan mendekatkan ke tubuhnya.
Dari sanalah anggota kelompok 1001 mengakui kedekatan kakak beradik ini.
"Hei, kakak! Kenapa aku terlibat juga?" Tanya Levord begitu kesal mendapati pekerjaan yang baru saja ditugaskan langsung dari kakaknya.
"Yey! Kau menyebutku kakak lagi! Sini biarkan kakak tampanmu ini menciummu!" Ucap Waldon berlari mendekati adiknya dan menangkapnya hingga tidak bisa bergerak.
Levord yang telah kesal justru bertambah lagi.
Ia bahkan ingin menghukum Waldon tepat dihadapannya.
"Kau yang minta kubunuh, loh!" Ucap Levord dengan sinisnya.
Kobaran api terlihat jelas di kedua bola matanya.
Waldon yang mengetahui akan hal tersebut mendadak bulu kuduknya berdiri dan mengakui bahwa akan sangat mengerikan sisi lain adiknya.
"Uh, siapa bilang ku yang minta dibunuh? Seharusnya yang muncul untuk membunuhku adalah sisi yang satunya lagi!" Ucap Waldon yang dipenuhi keyakinan akan perkataannya.
Ia berjanji tidak akan menarik kembali perkataan yang baru saja dikatakannya.
Hingga akhirnya ia menyerah, adiknya sungguh tidak bisa ditebak, kecuali sifat pendendamnya.
Di saat yang sama, Levord membalikkan badan dari kakaknya.
Tanpa sadar ia tertawa kegirangan untuk kesekian kalinya.
Begitu kembali berbalik badan, sifatnya kembali ke semula, yaitu kekanak-kanakan.
Tidak ada yang tahu mengapa berubah sifat drastis dalam waktu singkat.
"Aku kembali!" Ucap Ravettha dengan sangat ceria, berjalan di depan Vicenzo, dan membiarkan partnernya bermain dengan pikirannya sendiri.
"Uwooowww! Apa yang barusan kalian lakukan disana? Kalau tidak salah, kalian berdua...!?" Tanya Sorayna berusaha tampil tenang dan menggoda sebanyak mungkin sahabatnya ini.
Pengamatannya tidak bisa diragukan lagi, ia benar-benar akurat.
Sedikit saja ada yang melakukan hal ceroboh, ia akan mengetahuinya tepat saat itu juga.
__ADS_1
"Tidak ada." Ucap Ravettha dengan menatap kedua mata Sorayna seperti biasanya.
"Oh ho! Benarkah? Lalu kenapa anak itu lengket terus padamu?" Tanya Sorayna setengah tidak percaya sekaligus menunjuk-nunjuk ke samping tubuh sahabatnya.
"Ha? Maksudmu... Cedric?" Tanya Ravettha yang langsung menoleh ke kanan tubuhnya.
Ia sungguh terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa mengenai kehadiran Vicenzo yang tampak tidak sesuai rencananya.
"Kau mencuri kunci dariku?" Tanya Ravettha dengan menyingkirkan Vicenzo dan menetapkan batasan ketat bagi keduanya.
"Mencuri? Sebagus apapun kamu menyimpannya, kamu tak bisa menyembunyikannya dariku. Lagipula kamu menggeletakkannya tepat di lantai, sa-...!" Ucap Vicenzo mengangkat kedua bahunya dan menghembuskan napas lega.
"Huh! Kau menang, sayang!" Ucap Ravettha dengan menarik kerah Vicenzo.
Tanpa banyak bicara, ia langsung memberikan kecupan tepat di bibir partnernya.
Vicenzo yang mendapati hal tersebut tiba-tiba justru menjadi lebih gembira.
Sementara ketiga sahabat Ravettha dibuat kagum melihat keberhasilan satu sahabatnya.
Hanya satu orang yang mengetahui apa yang telah terjadi pada Ravettha, tidak lain adalah gurunya sendiri, Pak Victor.
"Sialan! Sialan! Sialan! Guru mengetahuinya? Ku yakin dia sudah tau lebih awal. Dengan begitu kewaspadaan ini akan berguna!" Pikir Ravettha mengalihkan pandangannya dari Vicenzo menuju Pak Victor.
Keempat mata mereka saling bertemu dan ini bukanlah hal buruk bagi keduanya.
"Kerja yang bagus, para pesertaku! Kuucapkan selamat untuk semuanya! Kalian lulus di lantai 2 ini! Selanjutnya kalian hanya perlu masuk ke dalam tabung portal ini bersama satu tim." Ucap pemandu baru datang menyelesaikan tugasnya.
Seperti perintahnya, tabung portal muncul tepat dibawah kaki masing-masing kelompok.
Tabung portal itu hanya dapat diaktifkan oleh pelaksana acara dan berfungsi sebagai penentu level ke lantai 3.
Warnanya yang hijau berukuran kecil dengan cepat meluas seukuran dua kali tubuh anggota kelompok 1001.
"Jadi tabung ini yang ia maksud? Mengapa tidak langsung saja naik ke lantai 3?" Tanya Kalvetno dengan kesal.
Ia tidak sabar menunggu tantangan yang menunggunya di depan.
Jika saja Pak Victor menjelaskannya, ia mungkin mendapatkan hukuman Sorayna.
"Tabung portal ini bukanlah sekedar portal biasa. Alat ini akan menghitung total level dan poin setiap anggota. Jika pemikiranku benar, kita akan dikirim ke lantai 3 sesuai papan peringkat level dan poin." Ucap Pak Victor yang bersedia menjelaskan seringkas mungkin pada keenam anggotanya.
"BZERTTT!"
"Ding! Berikut status tim 1001! Total poin, yaitu 18.961 poin. Tuan Victor level 507, Kalvetno level 112, Levord level 168, Waldon level 375, dan Vicenzo level 94. Sementara Nona Ravettha level tidak diketahui, dan Sorayna level 243." Ucap sebuah sistem yang telah disediakan oleh pelaksana acara.
Setelah terdeteksi, tabung portal berubah warna untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Warna itu menjadi merah pekat.
"Duh...! Ada apa portal ini? Warna merahnya semakin memancar keluar!" Ucap Sorayna yang menahan amarahnya.
Rasa keingintahuan di dalam dirinya menimbulkan masalah baru.
"DOOMMM!!!"
Ledakan begitu keras sebagai efek kegagalan mendeteksi salah satu anggota saat menjalankan tugasnya ternyata mengharuskan lima penjaga turun tangan.
Mereka datang membawa bantuan dan mencari tahu keselamatan pesertanya.
"Jangan takut, nak. Berikan benda itu padaku dan biarkan kami merawatmu, ya?" Tanya para penjaga khusus penanganan medis dengan menunjuk ke sebuah tabung portal yang bermasalah.
"Benda menjengkelkan ini? Dia terus mengikutiku, bisa master menyingkirkannya?" Tanya Ravettha memberikan wajah penuh harap.
Ia sangat ingin segera tanda piring merah di atas kepalanya menghilang.
Mendengar Ravettha, seorang pasien yang antusiasnya tinggi, hal itu membuat penjaga khusus penanganan medis merasa senang.
"Tentu saja, manis! Kamu sangat bersemangat dan terimalah, ini hadiah dariku! Gunakanlah dengan bijak, ya!" Ucap penjaga khusus penanganan medis dengan memberikan sebuah bola kecil langsung tersimpan ke dalam tas penyimpanan Ravettha.
"Aku tak tau siapa, master. Bisakah suatu saat kita bertemu lagi?" Tanya Ravettha.
Kedua matanya langsung berkaca-kaca, kagum, dan terpesona akan master barunya.
Ia bahkan sangat yakin bahwa masternya jauh lebih hebat kemampuannya dan juga ia bisa belajar lebih banyak lagi.
"Ya, penyembuhan sudah selesai!" Ucap penjaga khusus penanganan medis tersenyum dan bertepuk tangan sekali.
"Diego! Tabung portal sudah diperbaiki!" Ucap satu dari keempat penjaga lainnya.
Mendapati berita terbaru dari rekannya, Diego, penjaga khusus penanganan medis menjadi penasaran akan penyebab masalah.
"Bagaimana hasilnya? Ini bukanlah hal biasa, Chiellini tidak pernah seperti ini sebelumnya!" Ucap Diego berjalan menjauhi Ravettha agar tidak terjadi kekhawatiran pada pasien.
"Bukan tidak pernah lagi namanya! Ini sudah kejadian!" Ucap rekan Diego dengan melirik ke arah Ravettha, pasien yang baru selesai dirawat oleh Diego langsung.
Ia justru tidak percaya temannya ini mau turun tangan langsung merawat seorang pasien lagi sejak terjadinya bencana 140 tahun yang lalu.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan ini, Diego. Lebih baik kita bicarakan ini nanti setelah mereka pergi kesana dulu. Bagaimana menurut kalian?" Tanya rekan Diego yang lainnya.
"Baiklah. Kalian semoga berhasil di lantai 3, ya?" Tanya Diego untuk memastikan perpindahan lantainya berhasil.
"Tentunya. Kami akan membalas jasamu kelak dan sampai jumpa lagi!" Ucap Pak Victor mewakili keenam anggotanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1