
"DING!"
"Anda mendapatkan surat masuk! Apa anda ingin membukanya?" Bunyi sebuah notifikasi yang muncul dan menghidupkan layar hologram secara tiba-tiba.
"Surat? Seingatku, aku tidak berurusan dengan siapapun saat ini, kecuali...!" Pikir Ravettha mengingat kembali beberapa pihak yang pernah ia temui.
Dirinya sama sekali tidak berniat membukanya sehingga ia perlu bertanya terlebih dahulu untuk mengetahuinya.
Jika tidak menarik perhatiannya, maka ia tidak akan pernah menyentuh suratnya.
"Siapa pengirimnya?" Tanya Ravettha menatap tajam ke sebuah surat asing.
"Tidak tertulis nama pengenalnya, tetapi pengirimnya menulis 'Dari seorang partner hidup yang kamu benci'. Surat ini tak berasal dari dunia ini. Apa mungkin dari musuh?" Bunyi sebuah notifikasi justru bertanya-tanya siapa yang berani mengirimkan surat seperti ini kepada penggunanya.
"Jadwalkan saja setelah makan malam aku akan membacanya! Surat itu masih bisa kubaca lain kali, tidak dengan ide gila yang harus kita eksekusi." Ucap Ravettha akhirnya tidak perlu menebak lagi pengirim surat karena ia telah mengetahui bahwa ini ulahnya Vicenzo.
Sistem hologramnya langsung melaksanakan perintah penggunanya.
Ia menjadwalkan kegiatan Ravettha setelah makan malam untuk membaca surat tersebut.
Sementara Ravettha bangkit dari kursi makan siangnya, ketujuh partner terdiam dan sama sekali tidak ada yang berani mengatakan sepatah katapun mengenai hancurnya meja makan mereka.
"Huhu, beruntungnya 'Star Fruit Pudding' ku sudah masuk ke perutku!" Pikir Leonardo yang tidak tahu apakah dirinya harus senang atau kecewa.
"Apa yang membuat master marah? Tolong jangan katakan bahwa master marah tanpa sebab." Pikir Falext dan Tuan Glendy yang saling bertatapan penuh arti.
"Cari aku satu jam setelah kalian mempersiapkan diri! Kita akan menguji strategi pertama kita." Ucap Ravettha meninggalkan meja makan siang dan ketujuh partnernya di tempat.
Nafsu makannya telah menurun karena dua firasat buruknya tentang Vicenzo benar-benar terwujud.
Ia bahkan terus merasa kesal meskipun dirinya telah mengendalikan emosinya.
Secepat mungkin ia pergi menuju sebuah pohon berduri yang cukup besar dan sangat sempurna untuk menjadi pengganti samsak tinjunya.
"Cedric! Aku akan membuatmu menyesal telah terikat denganku!" Teriak Ravettha meninju pohon tersebut dalam satu kali serangan.
Dibandingkan hasil tinju yang acak-acakan, sebuah tinju miliknya berhasil melubangi sebesar target pohonnya.
__ADS_1
Tangan kirinya mengeluarkan darah dan hal itulah yang diinginkan dirinya.
"Ini baru benar! Kemarahanku harus tersalurkan langsung di situasi yang tepat." Ucap Ravettha tersenyum senang dan meminum darahnya sendiri.
"Salam, Nona Besar! Ketujuh partner anda mengantarkan hidangan baru dan harus anda habiskan." Ucap seorang pelayan membawakan pesan sekaligus makan siang majikannya.
"Nafsu makanku sudah...!" Ucap Ravettha yang belum menyelesaikan perkataannya justru terkejut mendapati seorang pelayan menyuapinya sesendok ikan bakar.
"Hamba tahu nona punya banyak kegiatan. Nona bisa mengandalkanku untuk makanannya!" Ucap pelayan tersebut bersemangat ingin melayani majikan berharganya.
"Mmm... Lezat!" Gumam Ravettha menginginkan makan lebih banyak lagi.
Kali ini ia menyerah dan mengakui kelezatan dari selera yang telah dipilih ketujuh partnernya ini.
Sementara dirinya menghabiskan hidangan yang disajikan, ketujuh partnernya diam-diam mengamati majikannya dari jendela besar di lantai kelima.
"Khihihi! Master memakannya dengan lahap! Benar kan yang kubilang?" Tanya Lartson lebih membanggakan dirinya.
"Kau bilang apa sebelumnya, hah?!" Tanya Nicholas merasa terganggu dengan kehadiran rekannya ini.
"Tidak tau. Anak ini hanya menunjuk ini itu tanpa berbicara apapun sebelumnya." Ucap Leonardo memukul kepala Lartson.
"Sshhht! Menyingkirlah dari kaca atau master akan melihat kita!" Ucap Rufino terus berfokus menyelamatkan diri hingga menarik mundur keenam rekannya.
Tepat seperti perkiraannya, Ravettha menatap ke jendela di lantai lima.
Disana ia melihat sayap Nicholas yang besar dan ekor Rufino yang panjang.
"Pft! Mengesankan! Kalian bahkan mampu menebak seleraku hanya dalam beberapa pertemuan." Pikir Ravettha menghabiskan secangkir minuman di tangannya.
Waktu terus berjalan dan satu jam yang telah ditetapkannya telah datang.
Ketujuh partnernya langsung menemui majikannya.
Semangat yang berapi-api terlihat jelas dari mata mereka dan hal ini membuat Ravettha semakin senang.
Mereka berdelapan langsung berteleport ke dalam kapal perang utama.
__ADS_1
"Kapal induk telah siap menjalankan perintah. Berikan kami perintah selanjutnya untuk menyerang, master!" Ucap Layla memberi hormat kepada majikannya.
"Tidak perlu terburu-buru dahulu, Layla. Seluruh pasukan kita akan dibagi menjadi tiga bagian per satu target penyerangan dunia. 3% kelompok pengintai dan peruntuh titik keunggulan, 12% kelompok pembantaian massal, 15% kelompok pengambil alih kekuasaan target dunia kita. Hari ini kita hanya akan mengambil alih 3 dunia sekaligus." Ucap Ravettha berjalan memasuki kapal tersebut.
"Sesuai perintah anda, master. 9% kelompok pengintai dan peruntuh dikirimkan ke medan perang dunia kesatu, kedua, dan ketiga." Ucap Falext sebagai pengatur sekaligus pengendali seluruh sistem dunia miliknya, rekan-rekannya, dan majikannya.
"Ingatkan di dalam otak mereka tentang 3 aturan ini, Falext! Bertindak senyap, perpaduan kasar-halus, serta hapus seluruh jejak." Ucap Ravettha meminta partner utamanya menambahkan program di masing-masing ingatan pasukannya.
"Laksanakan! Penambahan program diaktifkan." Ucap Falext mengatur tatanan para pasukannya sedemikian rupa.
Pasukan berdiri dengan tegap, ekspresi wajah tanpa rasa bersalah, dan aura pembunuh telah siap menunggu pintu kapal terbuka lebar.
Mereka tidak peduli apakah diperlukan jaminan atas nyawanya hanya untuk mengorbankan seluruh jiwa raganya kepada Ravettha, pemimpin utama sekaligus penyelamat hidup mereka.
"Pintu telah terbuka! Kemenangan adalah milik kita!" Ucap Falext memberikan semangat terakhirnya sebelum ada pasukan yang berguguran.
Berbagai kendaraan serbaguna tersedia tepat di depan pintu keluar.
Sesigap mungkin para pasukan tahap pertama itu mengambil kendaraannya, memasuki portal, dan tiba di masing-masing tujuan yang telah ditentukan.
"Itu mangsa kita!" Ucap seorang pemuda melalui telepatinya.
"JLEB!"
"Cih! Dia terlalu pantas jadi penjaga gerbang yang tak terpelajar!" Pikir pemuda tersebut memeriksa isi pikiran dan pentunjuk berharga sebagai data pengamatannya.
Mencari lagi dan lagi hingga tidak tersisa pun seorang petarung sejati ataupun petarung bayaran yang memiliki kekuatan besar.
Bagi para pasukan, mereka telah dimudahkan untuk membuat kematian para musuhnya menjadi nyata karena sebuah peta pemberian Pemandu Falext.
Semakin singkat waktu mereka, semakin cepat hasil yang mereka berikan.
"Master! 6.475.824 target musuh kita telah dilenyapkan. 99,99% pasukan kita selamat. Tahap pertama kita telah berhasil di 3 dunia." Ucap Falext menyerahkan data yang telah didapatkan oleh para pasukan tahap pertama ke majikannya.
"Ho! Aku senang mendengarnya! Kau sudah melakukan hal bagus karena tidak memberitahuku jumlah pasukan yang berguguran, Falext!" Ucap Ravettha mengangguk setuju dan mengakui kejernihan pemikiran partner utamanya ini.
Ia mengambil data tersebut dan membaca hasil kinerja pasukannya.
__ADS_1
Satu hal yang membuat dirinya kagum adalah pekerjaan mereka dilakukan dengan serius demi keberhasilan yang besar, meskipun harus menerima konsekuensi kegagalan.
BERSAMBUNG